
Sejak jam sepuluh pagi, Arjuna beserta keluarga besarnya sudah tiba di kota kelahiran Vani dan satu jam yang lalu mereka telah tiba di kediaman Vani, dengan segala persiapan dadakan mereka yang tetap dapat dikatakan sempurna tersebut.
Terkejut tentu saja semua orang di rumah Vani terkejut atas kedatangan mereka, tetapi seperti Arjuna beserta rombongan yang dapat membuat acara dadakan itu terlihat sempurna, keluarga Vani juga dapat mengatasi semua itu, terlihat sekarang semua orang sudah berkumpul di ruang tamu keluarga Vani seakan acara tersebut sudah lama dipersiapkan.
Ukuran ruang tamu yang cukup besar itu tentu dapat menampung semua orang yang hadir di sana. Setelah sedikit perbincangan santai dan saling berkenalan, tibalah saatnya Arjuna mengatakan maksud tujuan yang sebenarnya.
"Kalian jelas merasa terkejut dengan adanya acara ini, oleh karena itu sekali lagi aku minta maaf. Namun, aku katakan jika aku tulus dan bersungguh-sungguh datang kemari dengan tujuan untuk meminta izin kalian agar dapat bersama Vani dalam ikatan yang lebih serius lagi. Seperti yang pernah aku katakan saat pertemuan awal kita di bandara, aku serius pada putri kalian. Aku menyukainya, aku mengaguminya, aku merasa nyaman bersamanya, dan aku ingin selalu bersamanya. Aku tahu kalian mungkin ragu padaku, tapi aku akan membuktikan jika semua keraguan kalian adalah hal yang tidak perlu dikhawatirkan.
Seperti yang pernah aku katakan juga jika aku tidak akan menyakitinya, aku masih memegang janjiku, aku tidak akan menyakitinya. Kalau pun suatu hari nanti kami tidak bisa terus bersama, aku berjanji aku akan membawa Vani kembali pada kalian seperti aku memintanya pada kalian. Tapi sepertinya semua itu tidak akan terjadi." Arjuna menjeda sejenak ucapannya.
"Aku akan membahagiakannya, memberikan semua yang terbaik serta memastikan dia tidak akan menyesal hidup bersamaku. Untuk itu, aku meminta izin kalian, aku berharap restu dari kalian semua, aku ingin melamar Vani. Apa aku boleh menjadikan Vani istriku? Pasangan dunia dan akhiratku?" ucap Arjuna dengan tegas dan lantang, membuat siapapun yang mendengar pasti akan merasa salut dan kagum dengan semua ucapannya.
Angga merasa begitu terharu dan bersyukur mendapat pinangan dari seorang pria seperti Arjuna. Dia sama sekali tidak peduli dengan semua masa lalu Arjuna, karena yang terpenting saat ini adalah seperti apa Arjuna di mata Vani dan keluarganya serta seperti apa niat pria itu pada putrinya. Angga tersenyum menatap pria yang saat ini berbicara dengannya dan mulai menjawab. "Terima kasih atas keberanian dan kejujuranmu. Apa yang kamu janjikan adalah apa yang kami harapkan dari siapa pun yang akan menjadi pendamping Vani. Kebahagiaan Vani adalah yang utama, tapi meskipun kami keluarganya, kami tidak bisa memberikan jawaban atas permintaanmu. Semua keputusan kami berikan pada Vani, jika Vani menerimamu, sudah bisa dipastikan kami juga akan menerimamu."
Semua orang tertegun mendengar jawaban dari ayah Vani. Sekarang pandangan mereka terlihat menerawang sebab Vani tidak ada di sana, mereka berpikir acara lamaran itu akan tertunda atau menggantung tanpa kehadiran Vani.
Aura yang duduk di samping orang tuanya mengela napas berat, dia kembali teringat akan perdebatan kecil mereka tadi pagi saat Arjuna berkata jika dia sama sekali tidak memberitahu Vani atas niatnya yang akan datang nenemui keluarga Vani. Lamaran tanpa kehadiran salah satu orang yang bersangkutan tentu saja adalah hal yang tidak biasa, tetapi itulah Arjuna, dia selalu melakukan semua hal dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Ditengah ketegangan yang terasa, saat semua orang bingung akan ketidakhadiran Vani. Arjuna justru meminta Vivian menelpon Vani, membuat semua orang-orang yang perlahan mengerti tersenyum dengan aksi lamaran yang tak biasa itu.
"Panggilan video? Melamar lewat telepon?" tanya Vivian memastikan.
"Ya, aku ingin semua menjadi berbeda agar semua proses ini tidak akan bisa fengan mudah dilupakan," jawab Arjuna tersenyum.
"Aku sudah melamar Vani kemarin malam, Vani sudah menerima lamaranku, menerima cincin dariku dan keberadaanku di sini juga untuk memenuhi syarat serta tantangan darinya," sambung Arjuna membuat Vivian tak lagi merasa ragu untuk menelpon Vani–adiknya.
"Halo," ucap Vani.
"Eh salah, ubah ke panggilan video!" ucap Vivian saat sadar dia salah melakukan panggilan.
Di tempat lainnya, Vani yang tengah bekerja tetapi tidak sungguh-sungguh bekerja itu tengah berbincang bersama Esi membahas tentang Arjuna.
Saat teleponnya berdering, Vani dengan semangat menjawab saat dia pikir itu Arjuna, tetapi saat sadar itu Vivian–kakaknya, Vani kembali terlihat lemas.
"Ada apa?" tanya Esi bingung melihat Vani mulai memposisikankan ponselnya di meja.
__ADS_1
"Keluargaku ingin video call," jawab Vani sebelum fokus pada ponselnya.
Vani dibuat amat terkejut saat melihat siapa yang ada di rumahnya. Esi yang melihat itu ikut terkejut, Esi dengan semangat berkata. "Wah, dia benar-benar melamarmu!"
Apa yang Esi katakan membuat semua orang yang mendengar bergegas menghampiri Vani dan dengan usilnya mereka turut menyaksikan panggilan video yang tengah berlangsung itu.
Di layar ponsel itu terlihat Arjuna tersenyum dengan sangat tampan menatap Vani, dengan gagahnya pria itu duduk berlutut di hadapan ponsel milik Vivian seakan tengah berlutut dihadapan Vani.
"Sayang, maaf atas semua ini. Maaf karena aku tidak memberitahumu, maaf juga mungkin seharian ini aku membuatmu kesal, aku hanya ingin membuat semua ini terlihat berbeda agar kita tidak akan mudah melupakan semua proses ini. Kamu mau memaafkanku?" tanya pria itu pada Vani yang tersenyum haru menganggukkan kepalanya. Mata gadis cantik itu bahkan terlihat berkaca-kaca, rasa malu karena tengah diperhatikan oleh orang-orang kantor sama sekali tidak Vani hiraukan lagi saat fokusnya hanya tertuju pada layar ponselnya.
"Terima kasih, sayang," ucap Arjuna. "Aku sadar, mungkin aku tidaklah sebaik pria-pria di luar sana, tidak seperti pria yang kamu harapkan. Namun, aku berjanji akan berusaha untuk menjadi pria terbaik dalam hidupmu. Aku akan memberikan hati dan hidupku hanya untukmu, aku tidak akan mengecewakanmu, aku hanya akan memusatkan perhatianku padamu, setia padamu, percaya padamu, dan ingin menghabiskan waktuku hanya bersama denganmu. Aku ingin memulai kehidupan yang sebanarnya bersamamu untuk itu aku ingin bertanya padamu. Stevani Putri Anggara, apa kamu bersedia menjadi pasangan dari Arjuna Lakeswara?" tanya Arjuan lantang dihadapan semua orang yang menyaksikan acara lamaran yang tak biasa itu.
Semua orang yang menyaksikan semua itu merasa sangat terharu, acara lamaran yang tak biasa itu menjadi sangat luar biasa bagi mereka yang menjadi saksi acara lamaran itu. Semua orang beralih menatap Vani bersorak gembira mendesak Vani untuk memberikan jawaban atas lamaran dari Arjuna.
"Jujur saja aku sama sekali tidak menyangka akan semua ini, benar semua ini sangat mengejutkanku, tetapi aku akui jika semua ini memang akan menjadi hal yang tidak mudah untuk dilupakan. Terima kasih sudah memilihku, terima kasih sudah berniat berusaha menjadi pria terbaik untukku. Aku juga bukanlah wanita yang sempurna seperti wanita-wanita di luar sana, tetapi bersamamu aku siap untuk saling melengkapi kekurangan kita agar dapat menjadi sempurna bersama-sama. Untuk itu, aku bersedia memulai semuanya bersamamu." Air mata Vani mengalir keluar sesaat setelah dia mengatakan jawaban atas lamaran Arjuna.
Semua orang yang menyaksikan bertepuk tangan serta bersorak gembira saat lamaran telah diterima. Hari ini, dihadapan keluarga dan teman kerjanya, Vani dan Arjuna telah resmi menjadi pasangan yang kelanjutan hubungan serta cerita tentang mereka akan sangat dinantikan oleh mereka semua.
__ADS_1
***
Hai kakak semuanya. Semoga kalian sehat selalu. Oh ya Kak, terima kasih banyak untuk semua yang masih mengikuti kisah ini. Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan atau alur yang tidak seperti harapan kalian. Mohon dukungannya selalu ya kak, berikan like, komen, vote, hadiah dan dukungan lainnya agar aku makin semangat up dan belajar agar bisa menghasilkan tulisan/cerita yang lebih baik lagi. Terima kasih.