Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Tidak Bisa Menerima


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu dengan sangat baik untuk semua orang termasuk Johan dan Amanda.


Amanda sudah keluar dari pekerjaannya sebagai guru TK dan fokus mengurus Neisha dan Arsen seperti yang di minta oleh Johan saat awal mereka menikah.


Mereka menjadi tim yang baik dalam menjaga anak, bagaimana Amanda menerima baik Arsen, Johan juga menerima baik Neisha. Ia bahkan sekarang terlihat sangat dekat dan tulus menyayangi Neisha, anak berusia dua setengah tahun yang menyebutnya dengan panggilan Papa.


Arsen yang sekarang sudah duduk di bangku sekolah dasar semakin terlihat sikap dinginnya, kehadiran Neisha dan Amanda sama sekali tak mengubah kepribadiannya yang dingin, ia akan bersikap ramah dan bersahabat hanya pada orang-orang yang benar-benar dekat dengannya, tidak dengan orang luar.


Banyak yang bertanya-tanya dan ada juga yang merasa kagum dengannya di sekolah dasar yang menjadi tempat ia belajar. Usia Arsen yang belum genap tujuh tahun yang menjadi pertanyaan sebagian orang dan kekaguman mereka setelah mendengar tentang Arsenio.


Banyak sekolah yang membuat peraturan di mana anak masuk SD minimal berusia tujuh tahun, namun tidak untuk Arsenio ataupun Dilan yang memiliki kepintaran di atas rata-rata.


Mungkin untuk sebagian anak belum siap akan hal tersebut, namun tidak untuk Arsenio dan Dilan yang sangat siap dengan pendidikan mereka. Keduanya bahkan sudah bisa menulis dan membaca dengan benar.


Dalam teori perkembangan, anak mulai bisa berkonsentrasi dengan baik pada usia di atas 6 tahun. Semakin bertambah usianya, kemampuan konsentrasi meningkat dan semakin mampu memilah materi mana yang harus diperhatikan dan yang harus diabaikan.


Rentang konsentrasi untuk usia sekolah biasanya sekitar 30-45 menit. Anak yang terlalu dini masuk SD umumnya masih bermasalah khususnya di kelas satu, karena ia belum siap belajar berkonsentrasi.


Meskipun usia keduanya masih enam tahun, namun keduanya bisa mengikuti penerapan tentang aturan sekolah dengan baik, serta kepintaran yang mereka miliki membuat keduanya yang berada di kota yang berbeda itu, sama-sama bisa duduk di bangku sekolah dasar meskipun usia mereka belum genap tujuh tahun.


"Ma, sebentar lagi libur semester, kan?" tanya Asenio menghampiri Amanda yang tengah menyuapi Neisha makan.


"Iya Kak, kenapa?" ucap Amanda mengalihkan pandanganya pada Arsen yang bertanya.


Sejak setahun yang lalu, Amanda mulai terbiasa menyebut Arsen dengan panggilan Kakak dan Neisha–adik karena usia keduanya yang memang berbeda.


"Aku mau liburan ke rumah Dilan, liburan kemarin aku batal ke sana karena sakit, kali ini aku tidak mau batal lagi," jawabnya penuh semangat membayangkan hari-hari yang akan ia lewati saat liburan sekolah.


"Baiklah, tapi nanti bicarakan lagi sama Papa, ya!" titaah Amanda yang di anggukkan oleh Arsen.

__ADS_1


"Dek, kalau kakak pergi, Neisha jangan nangis ya?" ucapnya lagi pada Neisha yang terlihat berkaca-kaca mendengar jika ia akan pergi.


"Ma, bagaimana kalau Mama dan adik juga ikut, kita bisa menginap di rumah opa dan oma, bagaimana? Mama setuju, kan?" tanyanya lagi pada Amanda yang terdiam sejenak memikirkan apa yang di katakan Arsenio.


Jujur saja ia sangat merindukan kota Jakarta, tapi mengingat almarhum suaminya yang sama sekali belum ia percaya sudah pergi itu selalu membuatnya merasa sedih.


Amanda tau jika Alan sudah meninggal, namun hatinya tetap saja tidak bisa menerima fakta tersebut. Ia selalu merasa jika Alan masih hidup dan berada di sekitarnya, hal itu pula yang membuatnya selalu di selimuti rasa bersedih, karena merasa suaminya ada, namun kenyataanya tidak ada dan tidak dapat ia temui.


"Ma, ayo kita sama-sama ke Jakarta, kita liburan di sana! Apa Mama tidak bosan di sini terus?" ulang Arsen membujuk Amanda yang masih saja terdiam.


"Lihat nanti ya, Kak?" ucapnya, karena hanya itu yang dapat Amanda katakan, ia belum bisa memutuskan.


'Mas, aku sangat merindukanmu,' batinnya, saat rasa rindu selalu saja membuatnya teringat akan sosok Alan.


****


Di kota lainnya, Vani tersenyum menatap putra sulungnya yang terlihat begitu fokus dengan buku pelajarannya.


Jika Arsen tak suka kebisingan. Dilan justru sama sekali tidak merasa terganggu dengan kebisingan yang di ciptakan oleh Dara, dapat belajar sembari mendengar gelak tawa adiknya menjadi hal biasa untuknya bahkan sudah membuatnya terbiasa dengan hal tersebut.


"Ka-kak." Dara yang baru bisa berjalan terlihat berhati-hati membawa buku miliknya, yang bisa di jadikan mainan sekaligus buku pelajaran.


"Ini namanya kucing, bahasa inggrisnya cat Coba Ara ucapkan, Kakak mau dengar!" pinta Dilan lembut pada Dara.


"Tuting," ucap gadis kecil berusia satu tahun lebih itu.


"Bahasa inggrisnya?" tanya Dilan lagi.


"Cat," jawab Dara membuat Dilan maupun Vani gemas mendengarnya yang belum bisa berbicara dengan benar itu.

__ADS_1


Usai menjawab pertanyaan Dara, Dilan kembali fokus pada pelajarannya, mengerjakan tugas sekolahnya.


"Dilan! Ada yang bisa Bunda bantu?" tawar Vani setiap saat pada putranya ketika sedang belajar ataupun mengerjakan tugas sekolahnya.


"Makasih, Bunda, tapi aku masih bisa mengerjakannya sendiri, aku akan tanya jika ada yang tidak aku pahami," jawaban yang sama juga yang selalu saja dapat membuat Vani tersenyum bangga pada putranya.


Tak banyak yang perlu Vani ataupun Juna ajarkan pada Arsen , karena pria kecil itu selalu bisa menyerap setiap pelajaran yang ia dapat dari buku, dari sekolah ataupun dari guru les-nya, dan itu membuat Juna dan Vani merasa amat bangga dengan putra mereka.


Ponsel Vani berdering, mengalihkan fokusnya dari kedua anaknya, ia langsung menyambar ponselnya yang berada di atas meja, lalu menjawab panggilan yang tertera atas nama suaminya.


"Assalamualaikum... Halo Mas!" ucapnya lembut pada Juna di seberang sana yang tersenyum mendengar suara istrinya.


"Waalaikumsalam... Sayang, aku ingin mengabari jika hari ini aku bakal pulang telat," ucap Juna di seberang sana.


"Lagi?" tanya Vani mengerutkan dahinya.


"Iya sayang, maaf ya akhir-akhir ini aku selalu pulang telat," kata Juna.


"Baiklah, tidak apa-apa. Semoga pekerjaanmu cepat selesai, dan bisa kembali pulang tepat waktu seperti biasanya!" jawab Vani menenangkan Juna di seberang sana.


"Terima kasih, sayang. Titip salamku untuk Dilan dan Dara ya?" ucap nya sebelum mengucapkan salam dan mengakhiri panggilan.


"Kenapa, Bunda? Ayah pulang malam lagi?" sahut Dilan bertanya setelah Vani meletakkan kembali ponselnya.


"Ia, Ayah banyak pekerjaan. Kita doakan semoga pekerjaan ayah cepat selesai, ya!" jawab Vani tersenyum.


"Bunda tenang saja, nanti kalau aku besar, aku akan membantu ayah di kantor!" kata pria kecil itu membuat Vani tersenyum mendengarnya.


"Terima kasih sayang, Bunda bahagia memiliki kalian!" Vani mengecup pipi dilan dan Dara bergantian.

__ADS_1


"Kami juga sayang sama Bunda," balas Dilan tersenyum.


__ADS_2