
Amelia berjalan mengarah kepada Vani, lalu saat tubuhnya sudah sangat dekat dengan Vani, Amelia menabrak tubuh Vani, tetapi justru dia yang meringis sakit seolah-olah Vani yang telah berjalan tanpa melihat sehingga menabraknya.
"Aw..."
Vani dan Amelia saling tatap. Vani menatap terkejut, begitu juga Amelia yang juga pura-pura terkejut menatapnya. "Kamu?" Amelia menatap kesal Vani.
"Kamu wanita jahat itu bukan? Kamu wanita yang berniat menghancurkan pernikahanku?" sarkas Amelia , mengundang perhatian semua orang yang berada disana termasuk Karin yang berada tak jauh dari Vani.
"Maaf, tolong jaga ucapan anda!" ucap Vani terdengar tegas.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku? kamu merebut pria yang jelas-jelas ingin merebut suamiku. Lihat ini, apa kamu tidak punya hati. Aku sedang mengandung anak Johan," ucap Amelia dengan lantang membuat semua orang yang mendengar mulai menatap sinis pada Vani.
"Berhentilah bersikap sok polos menutupi semua kelakuan buruk mu, dasar wanita munafik. Kamu wanita paling jahat yang pernah aku kenal. Aku mohon. Jika kamu masih punya hati, tolong jauhi suamiku. Hubungan kalian sudah lama berakhir, suamiku tidak mencintaimu. Berhenti mengusik pernikahan kami," sambung Amelia memancing emosi Vani yang sudah berusaha di tahannya.
Vani yang mendengar semua ucapan Amel, dengan santai melangkah menghampiri Amel yang masih berkacak pinggang menatapnya.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan? Aku peringatkan untuk berhenti jika tidak ingin malu karena ulahmu sendiri," ucap Vani balik bertanya, membuat Amel bungkam.
Melihat tatapan orang-orang beralih padanya, Amelia mulai merasa malu. Amel yang tidak ingin kalah, kembali berbicara. "Bukan aku, tapi kau lah yang akan malu," balasnya.
__ADS_1
"Benarkah?" Vani kembali bertanya dan Amelia dengan sombong menatap angkuh padanya.
"Baiklah. Sekarang aku ingatkan kembali kejadian yang sebenarnya jika mungkin kamu lupa. Juga agar semua orang dapat tahu kebenarannya," Vani menjeda sejenak ucapannya.
"Wanita ini adalah istri dari mantan kekasihku. Kami berpacaran selama tiga tahun, lalu tiba-tiba mantanku itu dijodohkan dengannya. Mereka bertunangan dan aku pikir hubungan kami harus berakhir. Aku berusaha menerima semua itu, tapi mantanku justru berkata jika dia terpaksa menikahi wanita ini karena desakan keluarganya. Dia memohon padaku agar aku tetap bersamanya karena dia sangat mencintaiku, tapi aku menolak karena aku sadar statusnya sudah menjadi calon suami wanita ini.
Aku datang ke pernikahannya sebagai bukti jika aku menerima semua itu, dan turut mendoakan kebahagiaannya, tapi suaminya justru terus mengejar ku dan berkata dia mencintaiku. Bahkan sampai hari ini aku tahu dia masih mencintaiku.
Wanita ini mengarang cerita dengan mengatakan aku ingin merebut suaminya, karena kenyataannya suami nya lah yang mengejar ku karena masih mencintaiku."
Penjelasan Vani benar-benar membuat Amelia terdiam. Wajahnya memerah antara malu dan marah. Namun, saat teringat akan kandungnya, Amelia memanfaatkan semua itu.
Vani mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan foto pernikahannya dengan Juna. "Kalian mungkin kenal suamiku. Dia Arjuna Lakeswara. Apa menurut kalian aku akan menyakiti suamiku demi mendapatkan suaminya? Apa itu masuk akal?" ucap Vani kembali membuat Amelia terdiam terlebih saat melihat tatapan orang-orang mulai balik menatap sinis padanya.
"Satu lagi. Kalian bisa dengar ini," Vani yang kebetulan masih menyimpan beberapa bukti percakapan Johan padanya, dengan sengaja menghidupkan pesan suara dari Johan agar semua orang dapat mendengarnya.
{"Sayang. Dengarkan aku, pernikahan ini bukan keinginanku. Dia menjebakku, mama dan papa juga mendesakku untuk menikahinya. Aku sama sekali tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu, sampai kapan pun hanya kamu yang ku cintai. Tolong jangan menghindariku, aku mohon."}
{"Aku sangat mencintaimu, Van. Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku mohon maafkan aku. Aku berjanji akan menyelesaikan semua masalah ini secepatnya, kita akan hidup bahagia bersama. Aku mencintaimu dan hanya kamu, aku tidak pernah sedikitpun mencintai Amelia. Tolong beri aku waktu, tolong percaya padaku, aku terpaksa melakukan semua ini."}
__ADS_1
Amelia yang mendengar semua itu bergegas pergi dari sana saat pesan suara Johan benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata untuk membalas Vani. Terlebih orang-orang mulai berbisik mencibirnya.
Vani yang melihat itu sejujurnya merasa bersalah, Vani tidak berniat mempermalukan atau pun menyakiti siapa pun. Namun, sikap Amelia sudah sangat keterlaluan menurutnya karena itu Vani membalas Amelia.
Maafkan aku, Tuhan. Batinnya.
"Van, kamu tidak apa-apa?" tanya Karin yang merasa cemas. Sebelumnya Karin sempat ingin melerai Vani, tapi Vani memberi isyarat untuk tetap diam.
"Aku baik-baik saja!" jawab Vani tersenyum.
"Maaf semuanya. Maaf karena sudah membuat keributan disini!" ucap Vani membungkukkan sedikit tubuhnya, menatap semua orang yang masih berada disana menatapnya.
"Tidak apa-apa Nak, wanita seperti itu memang harus dilawan!" jawab salah seorang ibu-ibu pada Vani yang tersenyum menanggapinya.
****
4 Bab untuk hari ini. Like, komen dan hadiahnya dibantu ya kakak semua. Agar cinta halu ini makin semangat updatenya.
Oh ya kak. Bantu ramaikan juga cerita cinta halu yang lain ya kak. Judulnya Penghangat Ranjang Casanova. Dijamin pasti suka. 🙏🤭
__ADS_1