Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Akan Jadi Bundaku


__ADS_3

Satu jam berlalu, mereka sudah cukup berkenalan dan membahas mengenai pernikahan. Sama seperti sebelumnya usaha Amanda untuk menolak, tidak pernah berhasil sebab kedua orang tua Johan jelas menyukainya.


Mereka yang tengah asik berbicara di kejutkan oleh suara teriakan Arsen yang berlari masuk ke dalam rumah.


"Bunda!" teriaknya menghampiri Amanda dan itu semua tertangkap jelas di mata Rizal dan Renata. Raut wajah bahagia dan sikap yang berbeda terlihat jelas dari cucu mereka.


"Bunda, Arsen sangat merindukan Bunda. Bunda kemana saja? Kenapa berapa hari ini tidak ke sekolah? Arsen merasa sepi tanpa Bunda di sekolah," ucap Arsen panjang, semakin mengejutkan Opa dan Omanya yang sama sekali tidak menyangka jika cucu mereka terlihat begitu menyukai dan bermanja pada wanita yang terpaksa di nikahi oleh putra mereka itu.


Mel, ini pertama kalinya Mama melihat putramu begitu ceria selain saat bertemu Vani. Batin Renata mengingat almarhum menantunya. Mama pikir semua ini adalah keputusan yang tepat, mama harap kamu juga setuju jika mereka menikah. Sambungnya.


Keduanya merasa terkejut, namun juga tak di pungkiri jika mereka merasa senang saat wanita yang akan menjadi ibu untuk cucu mereka adalah wanita yang di sukai oleh cucu mereka.


"Bunda juga merindukanmu. Bunda ada sedikit urusan makanya tidak ke sekolah. Arsen belajar dengan benar, kan?" ucap Amanda mengusap lembut kepala Arsenio, hal yang lagi-lagi mengejutkan Rizal dan Renata, pasalnya mereka juga tau jika Arsen sangat tidak suka siapapun menyentuh kepalanya.


"Iya, Bunda. Arsen belajar dengan baik meskipun Arsen sedih tidak ada Bunda. Tapi sudahlah, yang penting sekarang ada Bunda. Arsen sayang Bunda, jangan pergi lagi ya," ucap pria kecil tersebut yang duduk di samping Amanda.

__ADS_1


"Sepertinya keberadaan Oma dan Opa tak di hiraukan di sini," ucap Rizal mengalihkan fokus Arsen jadi menatapnya.


Arsen menoleh.


"Maaf Opa, kan kemarin kita sudah bermain bersama, aku merindukan Bunda!" jawabnya jujur pada Rizal.


"Oma, Opa, ini Bunda Amanda. Bundaku," ucap Arsen mengenalkan pada kedua pasangan paruh baya yang sedari tadi memperhatikannya.


"Oh ya? Bundanya Arsen?" ucap Renata yang di anggukkan oleh Arsen. "Bundaku dan Neisha–adikku," ucapnya.


"Neisha tinggal bersama ibu Yana!" jawab Amanda tersenyum. Amanda juga merasa senang setiap kali mendengar Arsen begitu menyukai putrinya–Neisha.


"Kenapa Bunda tidak ajak adik? Arsen juga ingin mengenalkan adik Arsen pada Oma dan Opa," ucapnya.


"Arsen, apa Arsen setuju jika Bunda Amanda menikah dengan Papa-mu?" tanya Rizal terang-terangan pada Arsen yang langsung menatap Johan bergantian menatap Amanda yang wajahnya memerah malu.

__ADS_1


"Tentu saja Arsen sangat mau, itu artinya Bunda dan adik akan menjadi keluarga Arsen dan tinggal bersama" ucap pria kecil tersebut terlihat begitu antusias dengan wajahnya yang terlihat begitu bahagia. "Aku juga tidak akan berbagi dengan murid lainnya. Hanya untukku dam Neisha," ucapnya lagi.


"Tapi, Opa tidak bercanda kan? Opa serius kan?" tanya Arsen menghampiri Rizal dan duduk di tengah-tengah antara Rizal dan Renata.


"Untuk apa Opa berbohong, tanya saja sendir pada mereka!" ucap Rizal menunjuk keduanya dengan isyarat mata.


Arsen kembali pindah dan duduk kembali di tempat semula di samping Amanda. "Bunda, apa yang di katakan Opa benar? Apa benar Bunda akan menjadi Bundaku?" tanya Arsen menatap penuh harap pada Amanda yang perlahan menganggukkan kepalanya.


Jika sebelumnya Amanda akan selalu menjawab tidak, dan mengatakan alasan penolakan. Namun melihat tatapan Arsen yang begitu berharap padanya membuat Amanda begitu sulit untuk mengatakan tidak.


"Hore.... Aku akan mempunyai Bunda dan adik, hore!" ucap Arsen terlihat begitu bahagia berlari mengelilingi rumah sembari mengatakan hal yang sama.


Rizal dan Renata yang melihat hal tersebut merasa amat bahagia saat melihat cucu kesayangan mereka telah menjadi anak kecil pada umumnya, tidak lagi terlihat seperti anak kecil yang dingin dan sombong, bersikap layaknya orang dewasa, di usianya yang baru lima tahun.


Berbeda dengan kedua orang tuanya yang merasa bahagia, Johan justru mencibir menatap sinis pada Amanda saat pikirannya masih saja berpikir buruk tentang Amanda.

__ADS_1


'Dasar munafik, dia mengatakan tidak ingin tapi sekarang justru terlihat sangat menginginkan pernikahan ini, kamu pikir bisa membohongiku? Tidak semudah itu, aku menikahi mu hanya karena Arsen menyukaimu,' batin Johan.


__ADS_2