
Amanda memejamkan sejenak matanya, mengusap air matanya, mencoba untuk tenang sebelum akhirnya mulai bercerita.
Flashback On
Hap!
Seorang pria mengangkat tubuh mempelai wanitanya ke dalam gendongan. Sontak saja wanita tersebut mengalungkan tangannya pada leher si pria agar tidak terjatuh.
Alan dan Amanda baru saja tiba di kediaman baru mereka setelah melangsungkan resepsi pernikahan yang panjang. Pasangan yang saling mencintai tersebut memasuki rumah baru mereka dalam keadaan suka cita.
“Alan, aku bisa jalan sendiri,” ucap Amanda, memprotes tindakan Alan.
Alan menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. “Mulai hari ini, kau adalah ratuku, Amanda. Tentu saja aku akan memperlakukanmu selayaknya seorang ratu. Jadi, terima saja jika sewaktu-waktu aku ingin menggendongmu karena aku tidak mau kau kelelahan,” balas Alan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah barunya.
Kata orang, setiap rumah adalah istana bagi pemiliknya. Begitu pula rumah yang akan ditinggali oleh Alan dan Amanda mulai hari ini. Alan sangat bersyukur karena Amanda lah yang akan menjadi ratu di rumahnya. Pria itu sangat bahagia karena telah berhasil mempersunting pujaan hatinya.
“Aku sangat senang karena kita akhirnya menikah,” ucap Alan seraya menurunkan tubuh Amanda usai mereka tiba di kamar.
“Aku juga senang, Mas,” balas Amanda sambil tersenyum malu-malu.
“Apakah kau ingin aku membantumu melepaskan gaun yang kau kenakan?” tanya Alan.
Wajah Amanda memerah, membayangkan jika malam ini, Alan akan melihat tubuh polosnya. Jujur saja, Amanda merasa sangat gugup saat ini sebab sebentar lagi, ia akan menyerahkan seluruh dirinya kepada pria yang paling dia cintai.
“Tidak perlu, Mas.” Amanda menggelengkan kepalanya. “Aku bisa melakukannya sendiri. Kalau begitu, aku ke kamar mandi dulu,” ucap Amanda lalu berlarian kecil menuju ke kamar mandi, membuat Alan terkekeh geli melihat tingkah lucunya.
Setelah selesai bergantian membersihkan diri, Amanda dan Alan duduk di tepi tempat tidur sambil memandang satu sama lain. Amanda menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepala. Sementara Alan, memandang bingung ke arah Amanda.
“Amanda, ada apa?” tanya Alan bingung.
__ADS_1
“Mas Alan, aku minta maaf. Tapi, sepertinya malam ini kita tidak bisa melakukan itu,” ucap Amanda penuh sesal.
“Melakukan apa?”
“Malam pertama kita,” lirih Amanda. “Ternyata aku sedang datang bulan.”
Tawa renyah Alan menyembur saat dia mendengar hal tersebut. Sementara Amanda justru mencebikkan bibirnya.
“Alaaaaan, kenapa kau malah tertawa?” gerutunya kesal.
Alan menggelengkan kepalanya. “Aku menikah denganmu bukan semata-mata untuk melakukan malam pertama saja, Amanda. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu dan ingin kau menjadi satu-satunya wanita di dalam hidupku. Aku tidak masalah jika kita tidak bisa melakukan malam pertama hari ini, kita masih punya banyak malam ke depannya,” jelas Alan, membuat Amanda tersentuh dengan ucapannya.
Pria itu pun naik ke atas ranjang, kemudian menepuk-nepuk bagian di sampingnya untuk Amanda. Amanda pun melakukan seperti apa yang Alan inginkan. Kini, mereka berbaring bersisian sambil memandang satu sama lain.
“Kenapa malam ini kita tidak membicarakan tentang bagaimana perjuangan kita hingga kita sampai berakhir di titik ini? Bukankah itu semua pantas diapresiasi?”
Amanda mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tentu saja. Kita sudah berjuang keras demi mendapatkan restu dari kedua orang tuamu. Aku bahkan masih tidak menyangka kalau mereka akhirnya mau merestui pernikahan kita,” balas Amanda.
Alan meraih tangan Amanda, kemudian mengecup punggung tangan wanita itu. “Aku berjanji kalau aku akan selalu membahagiakanmu dan menjagamu meskipun orang tuaku tidak menyukaimu,” ucap Alan.
Amanda tersenyum lembut. Ia merasa tersentuh tatkala mendengar ucapan pria yang tak lain adalah suaminya. “Kau tidak perlu berjanji karena aku percaya kalau aku pasti akan selalu bahagia asalkan aku bersama denganmu,” balas Amanda.
Bagi Amanda, menghabiskan waktu bersama dengan orang yang ia cintai sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia. Wanita tersebut yakin kalau kehadiran Alan di dalam hidupnya akan membuatnya merasa kuat dan dia tidak akan perlu menghiraukan segala keraguan di hatinya mengenai arti bahagia.
Malam itu, Amanda dan Alan menghabiskan malam pernikahan mereka dengan menghabiskan waktu untuk mengobrol sepanjang malam. Tak hanya membicarakan tentang apa yang terjadi hari ini, mereka juga membicarakan tentang perjuangan mereka untuk bisa bersama.
*****
Keesokan harinya, Amanda tengah menyiapkan sarapan ketika Alan mendapatkan telepon dari seseorang.
__ADS_1
“Halo, apakah kau tidak tahu kalau aku sedang bulan madu saat ini?” gerutu Alan kepada sekretarisnya. Bagaimana dia tidak kesal jika dia sudah izin tidak akan bekerja selama beberapa hari namun panggilan dari kantor masih tak terelakkan juga?
“Maaf, Pak. Tapi, ada sesuatu yang harus saya bicarakan.”
Alan menghela napas. “Baiklah. Ada apa?” tanya Alan pada akhirnya.
“Ada masalah di kantor cabang dan membutuhkan Anda untuk langsung turun ke lapangan untuk memeriksanya, Pak,” ucap sekretaris Alan.
“Apakah tidak bisa digantikan dulu oleh pegawai lain?” tanya Alan seraya memijat pelipisnya.
“Maaf, Pak. Tapi, keadaan benar-benar mendesak.”
“Baiklah, baiklah. Aku akan berangkat,” ucap Alan lalu mengakhiri panggilan tersebut.
Tatapan penuh sesal Alan tunjukkan kepada Amanda yang tengah menatapnya bingung.
“Amanda, aku minta maaf sekali. Tapi, aku harus ke luar kota karena ada desakan dari kantor. Apakah aku boleh pergi?” tanya Alan.
Amanda tersenyum. “Tentu boleh, Mas. Lagi pula, bulan madu kita juga harus tertunda karena aku sedang datang bulan, ‘kan?’ gurau Amanda.
Dengan izin Amanda, Alan pun pergi ke luar kota untuk menangani masalah di kantor cabang.
Di rumah, pikiran Amanda tiba-tiba saja menjadi tidak tenang. Terlebih lagi, pesan singkat dari Amanda sama sekali tidak dibalas oleh Alan. Saat Amanda mencoba menelepon, nomor Alan justru sedang tidak aktif. Namun, Anda tetap tenang dan berpikir kalau mungkin Alan terlalu sibuk hingga tak sempat membalas pesan singkatnya.
Esok harinya, Amanda kembali bekerja sebagai guru PAUD. Ia tetap bekerja meskipun perasannya sama sekali tak tenang. Bahkan sampai hari ini Alan masih belum ada kabar juga padahal biasanya, Alan selalu memberinya kabar jika sedang berada di luar kota.
Sepulang bekerja, Amanda tak sengaja bertemu dengan salah satu tetangga mertuanya yang baru saja pulang dari pasar.
“Amanda, ibu turut berduka cita, ya?” ucapnya. “Semoga kau diberikan ketabahan.”
__ADS_1
Amanda bingung saat mendengar hal tersebut. Untuk apa wanita tadi memberikan bela sungkawa kepadanya di saat dia saja tidak sedang berduka?