Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Amelia Menemui Vani


__ADS_3

"Jadi benar kedua orang tua Johan sudah berdamai dengan orang tuamu?" tanya Juna yang hampir selalu terlihat bersama Vani.


"Ya, seperti yang aku ceritakan tadi. Beberapa hari sebelum kak Vivian menikah, mereka datang. Aku tahu pastinya sulit untuk Papa dan Mama memaafkan mereka karena permintaan maaf mereka tidak akan membawa tante Irene kembali. Namun setidaknya keluargaku mencoba memaafkan mereka dan mengikhlaskan yang sudah terjadi. Toh mereka percaya ketulusan keluarga Johan juga pasti mendapat maaf dari almarhumah tanteku," jawab Vani.


Beberapa hari sudah berlalu. Vani yang saat ini tengah bersantai di ruang keluarga bersama suaminya dikejutkan dengan kehadiran Amelia yang untuk pertama kalinya datang ke rumah Vani dan Juna.


"Vani, apa kita bisa bicara?" tanya Amelia pelan, merasa takut dengan tatapan Juna yang mengintimidasinya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan istriku?" sahut Juna bertanya dengan nada yang tidak bersahabat. Sikap Juna seperti itu bukan karena membenci Amelia, hanya saja Juna menjadi lebih berhati-hati pada setiap orang demi kebaikan Vani dan calon anaknya.


"Mas," tegur Vani mengusap lembut tangan suaminya.


"Aku keluar sebentar ya?" pamit Vani pada suaminya.


"Kenapa harus keluar? Bicaralah disini!" seru Juna mencoba untuk tidak memberi izin.


"Mas, dia ingin bicara denganku."


"Di sini saja. Atau boleh di luar, tapi aku ikut!" ucap Juna lagi.


"Tidak– "

__ADS_1


"Di sini saja tidak masalah, Van." potong Amelia.


"Baguslah jika kamu mengerti!" sindir Juna ketus, membuat Vani merasa semakin tidak enak pada Amelia.


"Mas, biarkan aku bicara berdua dengannya ya, kamu bisa mengawasi dari sini!" pinta Vani lagi, yang mau tidak mau disetujui oleh Juna.


"Ayo, Mel. Kita kesana!" ajak Vani menarik pelan tangan Amelia, agar sedikit menjauh dari Juna.


"Duduklah!" ucap Vani, mempersilahkan Amelia untuk duduk didepannya.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Vani penasaran saat Amelia hanya terdiam menatapnya.


"Van, sebelumnya aku ingin kembali meminta maaf padamu. Tolong maafkan atas semua kesalahan yang sudah aku dan kami perbuat selama ini padamu," ucap Amelia.


"Apa ada masalah?" tanya Vani cemas menatap Amelia.


"Setelah anak ini lahir, kami akan berpisah!" ucap Amelia membuat Vani begitu terkejut, hingga ia terdiam membeku.


"Kenapa? Bukankah semua baik-baik saja?" tanya Vani beberapa saat kemudian.


"Kami tidak mungkin bersama, Van. Bersama hanya akan menyakiti satu sama lain. Johan sama sekali tidak mencintaiku, bagaimana mungkin pernikahan ini bisa bertahan?"

__ADS_1


"Sebentar lagi kalian akan memiliki anak, Mel!"


"Kamu benar, Van, tapi dengan kami bersama kami hanya akan selalu terbayang dengan kenangan buruk yang sudah terjadi. Bagaimana kami bisa memulai kehidupan baru, jika keberadaan kami satu sama lain sama-sama membawa kami selalu teringat akan semua hal yang telah terjadi? Bagaimana mungkin kami bisa bersama dan bahagia saat dia sama sekali tidak menganggap ku ada? Ini semua tidak akan baik," ucap Amelia dengan mata berkaca-kaca berusaha menahan tangisnya.


"Jadi kalian sudah memutuskan untuk berpisah?" tanya Vani, yang diangguki oleh Amelia.


"Lalu bagaimana dengan anak kalian? Dia membutuhkan kasih sayang kalian berdua? Apa kalian tidak bisa membuang ego kalian demi dia?"


'Aku bisa, Van, tapi Johan yang tidak mungkin bisa. Melihatku, hanya akan membuatnya semakin terpuruk mengingatmu. Dia hanya ingin kamu,' jawab Amelia dalam hati.


"Anakku akan tinggal dan hidup bahagia bersama Johan. Aku akan melepaskan mereka!" ucap Amelia tak dapat lagi menahan tangisnya.


Vani yang posisinya sama-sama tengah mengandung sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Amelia. tidak ada orang tua yang sanggup berpisah dari anaknya, apalagi Vani sangat tau bagaimana dulu Amelia begitu bahagia dengan kehamilannya. Air mata Vani mengalir membasahi wajahnya, namun ia berusaha untuk tetap tenang agar tidak memancing amarah suaminya.


"Amelia, bagaimana mungkin kamu bisa berpisah dengan anakmu? Mungkin seorang wanita sanggup berpisah dengan siapapun, tapi tidak ada wanita yang sanggup berpisah dari anaknya, Mel. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti ini?" tanya Vani, dengan air mata yang masih menetes, membuat Amelia juga semakin menangis haru atas sikap dan ucapan Vani.


"Aku harus pergi, Van, aku harus pergi agar semua bisa kembali baik. Aku harus pergi agar semua bisa bahagia!" lirihnya.


"Dengan mengorbankan kebahagiaanmu, serta melepaskan anakmu?" sarkas Vani.


"Aku terpaksa, aku terpaksa Van. Percayalah ini yang terbaik untuk semua orang!"

__ADS_1


"Aku ingin meminta bantuanmu, Van. Anggap ini permintaan pertama dan terakhir dariku padamu!" ujar Amelia berusaha menghentikan tangisnya.


"Aku mohon, Van!" pinta Amelia lagi saat Vani tak menjawabnya.


__ADS_2