
Beberapa saat kemudiaan, mereka selesai dengan acara makan mereka. Johan bangkit berdiri dari duduknya, siap pergi dari sana namun sebelumnya mengatakan pada Amanda jika ada yang ingin ia katakan dan ia meminta Manda untuk menyusulnya ke ruang kerjanya.
"Ma, aku dan Dilan kembali ke kamar ya!" pamit Arsen pada Amanda yang tengah membersihkan bekas makan mereka.
"Ia sayang, selamat malam!" ucap Amanda tersenyum.
"Selamat malam, Ma," jawab kedua pria kecil itu secara bersamaan lalu pergi dari sana.
"Nyonya, biar saya saja yang membereskan ini semua," ucap pelayan mendekati Amanda yang baru saja akan mencuci bekas makan mereka.
"Jangan panggil saya nyonya Bi, sebut nama saya saja. Saya Amanda," ucap Amanda merasa tak enak pada pelayan yang lebih tua darinya tersebut.
"Tidak apa-apa, Nyonya, biarkan kami tetap memanggil Anda seperti itu, Anda sekarang istri dari tuan kami, dan itu artinya Anda juga nyonya di rumah ini," sahut Maryam yang masuk ke dalam dapur dengan Neisha yang berada di gendongannya.
"Baiklah," ucap Amanda pasrah lalu menatap putrinya yang berada dalam gendongan Maryam.
"Eh, Neisha bangun ya, Bi?" Amanda mencuci tangannya.
"Bi, tolong ya, Bi. Maaf jadi merepotkan," ucapnya menunjuk piring kotor pada pelayan lainnya yang ada di sana.
"Iya Nyonya, ini sudah tugas saya, Anda tidak perlu sungkan," jawab pelayang di tanggapi dengan senyuman oleh Amanda.
Amanda mendekat pada Maryam yang membantunya menjaga Neisha. "Maaf ya Bi, merepotkan Bibi seharian ini," ucap Amanda merasa tak enak hati karena sedari tadi Maryam selalu membantunya menjaga Neisha.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nyonya, saya suka dengan bayi cantik ini," ujar Maryam mengecup wajah Neisha.
"Nyonya, Tuan Johan menunggu anda di ruang kerjanya. Pergilah, Neisha saya yang jaga!" ucap Maryam lagi-lagi membuat Amanda merasa telah banyak merepotkannya.
Amanda tersenyum canggung. "Makasih banyak, ya Bi," ucapnya. "Sayang, Mama ke atas sebentar ya," pamitnya mencium sebelah pipi Neisha.
Manda masuk ke dalam ruang kerja Johan setelah mendapat izin dari Johan yang berada di dalamnya. Amanda lagi-lagi mendapati foto Vani ada di ruang kerja Johan, foto yang sama seperti yang pernah dilihatnya.
'Ya ampun, dia cinta atau terobsesi pada Vani? Jika wanita lain yang berada di posisiku pasti akan merasa sakit hati saat suaminya menyimpan foto mantannya, untungnya aku hanya mencintaimu, Mas, jadi aku tidak akan merasa sakit, yang ada aku iba padanya!' batin Manda mengalihkan pandangannya pada Johan yang juga sedang menatapnya.
"Aku mencintainya," ucap Johan seakan menjawab pertanyaan yang ada di benak Manda.
'Apa dia bisa menebak pikiranku?' Manda membatin.
"Sebelumnya aku ingin kembali minta maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak padamu," ucap Johan.
"Seperti yang sama-sama kita ketahui, jika kita menikah karena sebuah kesalahpahaman yang telah terjadi saat di rumahmu. Aku tidak ingin menutupi semuanya darimu karena mulai sekarang kita akan tinggal bersama," ucap Johan membuat Amanda mulai kembali menduga-duga apa yang sebenarnya ingin Johan katakan padanya.
"Vani adalah cinta pertamaku. Aku mencintainya dan mungkin akan selalu mencintainya," ucap Johan lagi dengan begitu jujur dan tulus mengatakannya, terlihat jelas dari pancaran matanya saat menyebut nama Vani.
"Dia istri orang," ujar Amanda membuka mulutnya.
"Aku tau. Aku hanya mencintainya, tapi tidak ada berpikir untuk merebutnya. Aku ingin berterus terang kepadamu agar tidak terjadi yang tidak diinginkan di kemudian hari pada kita," ucap Johan membuat dahi Amanda mengerut tanda bingung dengan maksud ucapannya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Aku tidak ingin kamu sakit hati atau apa, aku harap kamu jaga hatimu agar tidak jatuh cinta padaku, karena aku tidak akan bisa membalasnya," terang Johan membuat Amanda tersenyum mendengarnya dan itu justru membuat Johan yang menjadi bingung dibuatnya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan jatuh cinta padamu, aku mencintai suamiku!" ucapnya membuat Johan terkejut.
"Suamiku Mas Alam, bukan kamu, karena aku sama sekali tidak bisa menganggap mu sebagai suamiku," sambung Amanda sebelum Johan salah paham dengan ucapannya.
"Kamu masih mencintai orang yang sudah meninggal?" tanya Johan membuat mata Amanda menatap tajam padanya.
"Setidaknya lebih baik dari pada mencintai, istri orang!" Sindir Manda membuat Johan terdiam.
"Meskipun dia telah pergi, tapi dia akan selalu ada di dalam hatiku, dia akan selalu hidup di hatiku. Jadi, untuk masalah hati, kamu tenang saja. Aku bisa menjaga hatiku," sambung Manda.
Meski apa yang tengah mereka bicarakan terdengar aneh untuk pasangan suami istri, namun baik Johan ataupun Amanda merasa tenang dengan apa yang mereka bicarakan, dengan begitu mereka bisa sama-sama menjalani kehidupan seperti biasanya.
"Aku senang jika kita bisa saling mengerti seperti ini. Mau berteman denganku!" Johan mengulurkan tangannya pada Amanda yang di buat tak percaya mendengarnya.
"Teman?" beonya.
"Lebih baik kita berteman dari pada musuhan saat kita akan tinggal di bawah atap yang sama." Johan memberi masukan pada hubungan mereka.
"Baiklah, aku setuju." Amanda balas berjabatan tangan dengan Johan.
__ADS_1
'Sepertinya kami berdua akan mendapatkan penghargaan sebagai pasangan teraneh,' batin Amanda menertawakan hubungan mereka.