
...Marhaban ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi semua umat muslim yang menjalankan. Semoga selalu sehat dan di limpahkan rezeky yang barokah. Mohon maaf Lahir dan Bathin....
🥰🥰 Happy Reading🥰🥰
"Yang... sayang... bangun iich.." Asyafa mengelus-elus pipi suaminya dengan lembut dan mencapit hidungnya dengan gemas.
"Eeemmmm... iya, cinta. Wangi sekali istriku." Rayhan bergumam, menghirup wangi tubuh istrinya tanpa membuka matanya.
"Yang... ayo dong bangun. Aku tinggal ke luar nih..." Ancam Asyafa dengan jurus jitu.
"Aiiish.. istriku ini." Rayhan sontak langsung membuka matanya, dan terduduk bersandar di sandaran kasurnya lalu bergeming.
"Hi.. hi.. hi.." Asyafa hanya tertawa kecil, melihat suaminya yang termangu menatapnya.
"Cinta.. kamu sudah mandi saja, engga ajak-ajak Kakak. Sudah rapih, dan cantik pula. Mau kemana sih istriku ini? Gemes iich." Rayhan menarik istrinya ke dalam pelukkannya, lalu menciumi seluruh wajahnya, dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. Lalu mengomentari penampilannya yang sudah rapih dan wangi.
"Kaaaak.. lepasin iich, aku sudah rapih nanti bajuku kusut lagi." Omel Asyafa, seraya merapihkan dresnya yang sedikit kusut ulah suaminya.
"He.. he.. siapa suruh engga bangunin Kakak dari tadi, malah bangun sendiri, dan mandi sendirian engga ajak-ajak Kakak." Kekeh Rayhan protes dengan ulah istrinya.
"Aiiish.. engga gitu sih ceritanya, saat aku bangun tadi, aku sudah bangunin kamu sayang. Tapi Kakak susah banget di banguninnya, ya sudah aku bangun sendiri. Karena badan aku sudah lengket semua, jadi aku langsung mandi." Jelas Asyafa panjang lebar.
"Masa iya.. begitu, sayang? Kakak engga ngerasa!" Seru Rayhan bertanya.
"Iya iich.. engga ngerasalah, orang Kakak tidurnya nyenyak banget, seperti orang mati. Hi.. hi.. hi..." Ledek Asyafa terkikik.
"Huuus.. engga boleh ngomong gitu, kalau kata orang tua jaman dulu itu, PAMALI." Rayhan mengingatkan istrinya, jangan mengucapkan perihal yang tidak baik.
"Uups... Astagfirullohallazim.. maafin aku yah sayang, khilaf aku becandanya." Sesal Asyafa seraya beristigfar.
"Iya.. cinta, Kakak juga ngerti, Kakak hanya mengingatkan saja. Sudah, jangan melamun gitu! Apa mau mandi lagi sama Kakak?" Ucapnya mengerti, seraya meledek istrinya.
"Eeehh.. engga iich, enak saja ngajak mandi lagi. Sudah sana mandi Kak, lengket gitu iich.. cepetan engga pake lama yah." Omel Asyafa, seraya menarik lengan suaminya agar berdiri, dan memberikan bathrobe ke tangannya, untuk menutupi tubuh polosnya itu.
"He.. he.. he... iya.. iya.. Kakak mandi dulu yah cinta, yakin... engga mau mandi lagi?" Kekeh Rayhan dengan aksi jahilnya, menaik turunkan alisnya genit, seraya menerima bathrobe dari istrinya kemudian memakainya.
"Yakin.. dong, sudah sana pergi." Sahut Asyafa, seraya mendorong tubuh suaminya untuk berjalan ke kamar mandi.
Rayhanpun mau tidak mau harus mandi sendiri, hanya 15 menit saja Rayhan mandi keramas hadas besar, karena habis pergulatan mereka tadi. Setelah itu dia mengambil wudhu, untuk menyempurnakan mandi hadas besarnya.
"Sayang, pakai baju ini atau yang ini?" Tanya Asyafa, yang melihat suaminya sudah keluar dari kamar mandi, dengan memegang dua buah baju satu di tangan kanan, dan satu di tangan kiri.
"Yang mana saja boleh, cinta." Sahut Rayhan seraya menghampiri istrinya.
"Yang ini saja yah lebih cocok sepertinya, Kakak jadi lebih ganteng keliatannya." Celotehnya, seraya menyocokkan baju itu di tubuh suaminya.
__ADS_1
"He.. he... apapun baju yang Kakak pakai, sudah pasti cocok dong, sudah ganteng dari sananya." Kekeh Rayhan dengan sombongnya, seraya mengedipkan satu matanya genit.
"Aiish.. sombong banget suamiku ini." Gumam Asyafa, seraya menggelengkan kepalanya jengah.
"Ha.. ha.. ha.." Tawa Rayhan pecah, melihat istrinya kesal di buatnya.
Rayhanpun langsung memakai baju yang sudah di pilihkan oleh istrinya, lalu memakai celana jeans levis, dan sepatu sneakersnya. Penampilannya sungguh sangat terlihat keren, Asyafa sampai melongo dibuatnya.
"Sudah keren belum, cinta?" Tanya Rayhan, seraya melambaikan tangan di depan wajah istrinya.
"Sudah." Jawabnya singkat, saking terkejutnya ketahuan Rayhan jika dirinya termangu menatapnya.
"Ha.. ha.. ha.. segitunya menatap Kakak. Baru sadar yah, kalau Kakak ganteng dan keren." Tawa Rayhan, dengan PD nya menilai dirinya sendiri.
"Aiish.. PD banget suamiku." Gerutunya kesal, meski Asyafa akui pesona suaminya memang ganteng dan keren.
"Sekarang kita mau kemana, cinta?" Tanya Rayhan, seraya menatap istrinya lekat, dengan jurus senyuman memikatnya.
"Kita ke Mension Uncle Jonathan, bagaimana?" Usul Asyafa, seraya tersipu malu saat di tatap suaminya, dengan wajah bersemu merah seperti buah tomat.
"He.. he.. he.. okey..! Tapi kita makan siang dulu yah, kita sudah melewatkan jam makan siang." Sahut Rayhan terkekeh, seraya menggandeng istrinya keluar kamar Hotel.
Rayhan, dan Asyafa, bejalan dengan mesranya di saat sampai di restoran. Banyak pasang mata yang melihat kagum, dengan pasangan muda ini, dan penampilan mereka yang sangat keren.
"Waitres, tolong buatkan saya sup ercis 2, dan stamppot 2, lalu minumnya orange juise 1, dan Avocado juise 1. Terima kasih." Pinta Rayhan sopan dan ramah.
"Baik Tuan, dan Nona, tolong ditunggu sebentar, saya segera kembali." Ucap waitres dengan sopan dan ramah. Lalu Asyafa dan Rayhan mengangguk kecil tanda mengerti.
Tidak butuh waktu lama, pesanan mereka akhirnya jadi. Mereka menyantap makanan itu dengan lahap, seraya menikmati panorama alam sekitar restoran tersebut, yang banyak di tanami bunga-bunga tulip nan indah berwarna-warni.
"Yang, coba hubungi Aunty Stepany atau Willyam, untuk kabari kalau kita akan berkunjung kesana." Pinta Asyafa.
"Okay." Jawab Rayhan, seraya membuka ponselnya, dan mencari no kontak Aunty Stepany. Lalu Rayhan menghubunginya, dan ponselpun tersambung.
"Hallo Ray, apa khabar?"
"Fine, Aunty."
"Aunty, kami akan berkunjung ke Mension, Apakah Aunty ada di sana atau sedang di luar?"
"Aunty sedang di luar Ray, tapi ada Willyam di Mension."
"Baiklah, kami akan kesana Aunty."
"Okay.. ! By... "
__ADS_1
"By.. Aunty."
Sambungan telepon mereka dimatikan secara bersamaan. Setelah mereka selesai dengan makan siangnya, lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju Mension Uncle Jonathan. Tidak butuh waktu lama, hanya 20 menit saja mereka sampai di gerbang Mension itu.
Mension yang cukup nyaman, dan terawat terlihat jelas dari mata memandang meski sekilas.
Rayhan memasuki halaman parkir Mension itu, setelah meminta izin kepada Security terlebih dahulu. Kemudian Rayhan memarkirkan mobilnya di samping mobil Willyam.
Rayhan, dan Asyafa langsung berjalan ke pintu depan, pintu itu di jaga oleh dua orang diluar, dan satu orang di dalam. Para Penjaga Mension itu sudah mengenal Rayhan sejak lama, jadi mereka tidak akan bertanya identitas ataupun yang lainnya. Mereka hanya akan menanyakan keperluan apa, dan mau bertemu siapa saja. Pintu itu di buka oleh salah satu penjaga Mension tersebut, dengan ramah mereka mengucapkan.
"Silahkan masuk Tuan, dan Nona. Tuan Willyam sedang ada di dalam."
"Terima kasih banyak." Ucap Rayhan sopan dan ramah.
"Iya, Tuan." Jawab Penjaga itu.
Rayhan, dan Asyafa, di sambut oleh Penjaga Mension yang bertugas di dalam.
"Selamat sore, Tuan Rayhan dan Nona. Maaf Tuan, mau bertemu dengan siapa?" Tanya Penjaga tersebut dengan ramah.
"Sore, saya mau bertemu dengan Willyam." Jelas Rayhan, tujuannya datang ke Mension tersebut.
"Ooh.. silahkan, mari saya antar." Ajak Penjaga itu ramah. seraya menunjukkan keberadaan Willyam, lalu mereka mengekori Penjaga tersebut.
"Tuan Willyam ada di ruangan sini, saya mohon undur diri." Pamit Penjaga itu sopan.
"Iya.. terima kasih banyak." Ucap Rayhan dan Asyafa bergantian.
Rayhan dan Asyafa memasuki ruangan Willyam, di saat itu sepasang mata indah saling menatap dengan penuh tanya.
"Ray.. Sya..." Panggil Willyam seraya berdiri. Lalu Rayhan dan Asyafa menghampiri Willyam dan wanita di sampingnya.
"Hallo.. Will.. eeemmm.. siapa wanita ini, tumben di bawa ke Mension?" Bisik Rayhan di telinga Willyam, menanyakan status wanita di sampingnya.
"Ooh.. ini Ray, sya.. kenalkan ini Maurin, calon istriku. Teman masa kecil kita dulu, Sya. Kalian masih ingat atau sudah lupa?" Ujar Willyam, membahas masa lalu mereka.
"Asyafa." Panggil Maurin dengan keterkejutannya.
"Maurin." Sahut Asyafa juga tidak kalah shoknya.
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........
__ADS_1