
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Papa Hendra dan Mama Mentari, sontak saja terkejut dengan kedatangan anak dan calon menantunya. Pasalnya mereka sedang asik menonton drama korea, yang menampilkan adegan hot, yaitu sitokoh pria sedang berciuman mesra dengan sitokoh wanita. Kemudian Papa Hendra dan Mama Mentari, terbawa dalam cerita drama korea tersebut. Hingga akhirnya nereka seketika, ikut melakukan adegan tersebut, saat Alya dan Damar baru saja sampai.
"Eeh.. kalian sudah pulang?" Tanya Mama Mentari, menutupi rasa canggung dan malunya.
"Sudah Mam, baru saja sampai, t.. tapi.." Ucapan Alya tidak dilanjutkan, karena wajah Mama Mentari dan Papa Hendra sudah sangat malu dibuatnya.
"Engga jadi deh, he.. he.. he.." Ucap Alya terkekeh.
Papa Hendra dan Mama Mentari kemudian merapihkan baju mereka yang sedikit berantakan dan terbuka, lebih tepatnya baju Papa Hendra, yang sudah bertelanjang dada.
Meski usia sudah menginjak 50 Tahun, namun Papa Hendra masih terlihat awet muda. Begitupun dengan Mama Mentari nampak masih cantik meski usianya sudah tidak muda lagi.
"Ayo sayang kalian duduk dulu, kenapa sudah malam begini kalian baru pulang?" Tanya Papa Hendra tegas.
"I.. itu pap, tadi dijalan ada insiden kecil, jadi agak telat pulang kerumahnya. Tapi baru jam 12 ko Pap, jadi Damar masih menepati janjinya sama Papa, bukan?" Jelas Alya membela calon suaminya.
"Iya.. untuk kali ini Papa maafkan."
Mba Diah ARTnya membuatkan minuman hangat untuk mereka berempat.
"Terima kasih, minumannya Mba Diah." Ucap Alya ramah.
"Sama-sama Non."
"Papa, Mama, ada yang mau dibicarakan soal penting, sama Mama dan Papa, sama Damar malam ini juga." Ujar Alya.
"Iya, soal apa? Mama jadi kepo?" Sahut Mama Mentari antusias, dan Papa Hendrapun mengangguk kecil.
"Maaf Mama, Papa, Damar mau jujur tentang perasaan Damar. Semenjak Damar ketemu Alya, sebenarnya Damar langsung suka sama Alya. Seminggu berlalu Damar sudah bisa jatuh cinta sama Alya, walaupun Alya belum bisa cinta sama Damar. Tapi sekarang, sepertinya Alya sudah mau mencintai Damar, jadi Damar ingin malam besok kita melakukan lamaran saja, biar pernikahan kami bisa dipercepat." Ungkap Damar dengan jujur.
"Woow.. sungguh begitu, sayang? Benarkah calon menantu Mama ingin langsung melamar besok?" Tanya Mama Mentari bersemangat.
"Iya Mam, benar Mam, Damar serius." Kata Damar yakin tidak ada keraguan sekalih diwajahnya.
__ADS_1
"Kalau Mama sih senang, sudah pasti setuju saja, tapi engga tahu sama Papa."
"Papa juga setuju Nak Damar, tapi kembali ke anak cantik Papa."
"Alya setuju Mam, Pap, habis bahaya kalau dekat-dekat sama bukan mukhrimnya, bisa kebablasan." Sahut Alya polos.
Sontak saja Mama dan Papa langsung tertawa mendengarnya. "Ha.. ha.. ha.." Lalu Alya dan Damarpun hanya tersenyum canggung.
"Benar juga kamu sayang, tapi kalian 'kan sudah dewasa, pasti sudah mengerti mana yang boleh, dan mana yang tidak boleh, sayang." Ujar Mama dengan gamblang.
"He.. he.. he.. iya sih Mam."Alya hanya terkekeh.
"Nak Damar, apakah sudah dibicarakan dengan papa Ardi dan Mama Ningsih masalah ini?" Tanya Papa Hendra.
"Belum Pap, Damar sengaja minta izin Papa Hendra dan Mama Mentari dulu, baru orang tua Damar besok pagi."
"Kalian sungguh-sungguh, sudah mengambil keputusan bulat ini? Masih banyak waktu untuk berpikir, dan pendekatan dahulu. Padahal tadi sore, kalian sebelum pergi nonton ke bioskop, katanya belum saling mencintai, baru tahap menyukai. Tapi kenapa sekarang, tiba-tiba mau melamar saja. Sungguh ajaib sekalih kalian, Mama seperti mimpi, he.. he.. he..."
"Iya Mam, Pap, Damar sungguh-sungguh dan Alyapun mau menerima keputusan Damar yang mendadak ini."
Akhirnya mereka berbincang-bincang cukup lama, untuk membahas persiapan acara lamaran besok malam. Tidak terasa waktu begitu cepat, hampir dua jam mereka mengahabiskan waktu bersama.
"Mama, Papa, Alya sayang, sepertinya Damar harus pulang sekarang juga. Sudah hampir pagi, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi saja." Jelas Damar untuk pamit pulang, seraya mencium punggung tangan kedua calon mertuanya itu dengan hormat.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati yah Nak Damar." Ucap Mama Mentari dan Papa Hendra bergantian
Alya mengantar Damar, sampai depan pintu. Lalu dia mencium punggung tangan Damar dengan takzim.
"Belajar jadi istri yang soleha yah, sayang?" Canda Damar tersenyum simpul.
"Aiish.. emangnya engga boleh yah, cium tangan calon imam aku?" Sahut Alya, yang membuat Damar senang saat dirinya disebut calon imam oleh Alya.
"Aku makin yakin, kamu akan menjadi istri dan calon Ibu yang baik, dan pintar untuk anak-anak kita sayang."
Alya tersenyum bahagia saat Damar mengatakan hal itu, semakin dirinya hanyut dalam rayuan cinta Damar, yang semakin kuat dia rasakan.
__ADS_1
"Aku tidak sanggup berjauhan dengan kamu sayang, meski hanya satu hari saja." Ucap Damar jujur dengan perasaannya.
"Gombal kamu, Bie."
"Engga sayang, beneran. Dekat-dekat dengan kamu, tubuhku seperti terkena sengatan listrik terus." Ungkap Damar dengan polosnya.
Bahkan seorang Damar bisa begitu polos, bila menyangkut masalah cinta, padahal selama ini dia sangat dikagumi banyak wanita dan mantan pacar-pacarnya. Namun baru kali ini dia sangat takut, untuk kehilangan cinta dari seorang gadis yang bernama Alya Mentari.
"Ha.. ha.. ha... sama hubby, aku juga kalau dekat sama kamu, dag dig dug terus jantungku, dan tubuhku berdesir hebat." Ungkap Alya sangat polos, tanpa ada rasa canggung diantara mereka.
Damarpun tertawa, mendengar ucapan polos dari calon istrinya itu.
"Iya sudah, hati-hati yah, hubby, i love you."
"Terima kasih sayang, i love.. leve.. love.. you too somuch." Ucap Damar, seraya mencium kening Alya lembut.
"Sama-sama, hubby, jangan lupa mimpiin aku yah!"
"Sudah pasti sayang, tiap malam aku mimpiin kamu, kadang sampai mimpi basah gara-gara mimpiin kamu." Ungkap Damar benar-benar polos, saking polosnya sudah tidak ada yang ditutup-tutupin lagi.
"Ha.. ha.. ha..." Alya tertawa puas, saat Damar mengatakan hal sensitif seperti itu. Lalu Damarpun ikut tertawa bersama Alya calon istrinya.
"Kamu juga mimpi indah yah sayang, jangan lupa juga mimpiin aku." Ucap Damar seraya beranjak pergi meninggalkan kediaman keluarga Alya Mentari.
"Pasti, hubby." Ucap Alya yakin.
"Assalamu'alaikum..." Salam Damar, saat akan pergi menaiki mobilnya.
"Wa'alaikumsalam.." Sahut Alya, kemudian melambaikan tangannya kearah Damar. Alya tidak menyangka, hari ini banyak sekali hikmah dan pelajaran yang dapat dia petik. Kesalahan beberapa jam yang lalu, bisa mengantarkan dirinya untuk segera menikah.
Damarpun tersenyum mengembang, saat meninggalkan halaman rumah Alya, terasa berat berpisah dengan pujaan hati. Baginya, cintanya untuk Alya, ibarat bunga yang sedang mekar-mekarnya.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1