
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Alya langsung shock ketika mendengar namanya dipanggil.
"Iya, Bu Dosen." Sahut Alya, seraya berjalan kedepan dengan membawa buku tugasnya Andi.
"Mana buku tugasmu, Ibu mau lihat." Pinta Ibu Dosen Maya.
Alya memberikan buku tugasnya diatas meja Ibu Dosen Maya dengan tangan bergetar, dan wajah yang sudah terlihat sangat gugup. "I.. ini Bu Dosen." Ucap Alya gugup.
"Terima kasih, silahkan presentasikan tugasmu sesuai jawabanmu, yang tertulis di bukumu." Perintah Ibu Dosen Maya tegas.
Ibu Dosen terus memeriksa buku milik Alya, jawabannya bagus dan menarik sesuai yang Ibu Dosen Maya harapkan. Ibu Dosenpun sangat senang, membaca hasil jawaban Alya yang menurutnya begitu relevan.
"Ayo.. Alya Mentari silahkan dimulai." Ibu Dosen memberi kesempatan Alya, untuk segera bicara didepan kelasnya.
Alya masih bergeming, lalu dia menoleh kearah Andi yang sedang berdiri disamping kanannya. Andipun sama sedang menatap Alya sedari tadi, namun Alya tidak menyadarinya.
Disaat Alya akan memulai presentasinya. "Assalamu'alaikum, s.. saya Alya Mentari akan menjelaskan presentasi tugas dari Ibu Dosen Maya, mengenai Rancangan yang akan..." Ucapan Alya terhenti, disaat seisi ruangan memekik histeris, saat melihat Andi terjatuh pingsan kelantai.
"A.. aaaandi pingsan.... !"
Semua Mahasiswa tumpah riuh, melihat Andi yang tiba-tiba jatuh pingsan. Ibu Dosenpun langsung meminta para Mahasiswa laki-laki, untuk mengangkat Andi dibawa ke ruang UKS sementara.
Alya dan Asyafapun ikut menemani Andi keruang UKS, Damar juga tidak ingin ketinggalan mengikuti Alya dan Asyafa.
Sesampainya diruang UKS, ada seorang petugas disana yang langsung menangani Andi agar segera sadar dari pingsannya. Dia akan memberikan minyak angin, dan obat untuk Andi.
Alya yang melihat petugas itupun langsung menahannya. "Biar saya saja, yang berikan minyak anginnya, Pak." Pinta Alya, dengan cepat.
"Ini Minyak dan obatnya, tolong langsung di berikan yah. Saya akan ambilkan minumnya dulu." Ujar Bapak petugas UKS itu.
"Terima kasih yah, Pak." Ucap Alya tulus, seraya tersenyum mengembang.
__ADS_1
"Sama-sama, Nona." Ucap petugas UKS itu.
"Untuk teman-teman semua, terima kasih yah, sudah membawa Andi kesini. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas, biar saya dan Asyafa yang akan menemani Andi disini." Ujar Alya dengan ramah.
"Baikah.." Ucap anak Mahasiswa laki-laki itu semuanya.
Tinggallah Mereka berempat yang berada diruang UKS itu yang cukup sempit, kira-kira berukuran 3×3 Meter saja.
Damar memperhatikan Alya, yang begitu khawatir dengan keadaan Andipun sedikit cemburu dibuatnya. Damar merasa Alya terlalu berlebihan, memperlakukan Andi yang lebih mirip seorang kekasih, dari pada seorang sahabat.
Ketika Alya akan menempelkan minyak angin dihidung Andi, secara tiba-riba tangan Alya langsung dicekal oleh Andi.
"Jangan, Alya..!" Pekik Andi, yang kemudian merubah posisi tubuhnya dari tiduran menjadi duduk.
"Aaawwhh,... A.. andi, loe sebenarnya engga pingsan?" Tanya Alya, shock dibuatnya.
Begitupun juga dengan Damar, dan Asyafa ikut terkejut, saat Andi terbangun dan mencekal tangan Alya.
"Iya.. sorry, he.. he... he..." Ucap Andi terkekeh.
"Kenapa loe pura-pura pingsan, Ndi?" Tanya Asyafa heran, dengan wajah yang begitu kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Gue pingsan buat nyelametin Alya, dari hukuman Ibu Dosen, Sya." Sahut Andi santai tanpa beban.
"Haaah..? Maksud loe?" Tanya Asyafa, dan Damar terkejut bersamaan.
"Alya belum ngerjain tugas Ibu Dosen Maya, terus gue tuker buku tugas gue sama Alya, jadi gue yang dapat hukuman dari Ibu Dosen. Makanya gue berdiri didepan kelas, mana gue tega, kalau sahabat gue harus dihukum sama Bu Dosen. Tapi, gue engga nyangka Alya disuruh kedepan buat presentasiin tugasnya, sedang Alya tidak mengerti sama sekali soal isi tugasnya. Makanya dari pada Alya ketahuan Ibu Dosen, akhirnya gue pura-pura pingsan saja." Jelas Andi panjang lebar.
"Benar begitu Al..? Tanya Asyafa, mencari kebenaran dari ucapan Andi.
"I.. iya, Sya." Sahut Alya gugup.
Damar seketika langsung teringat, saat tadi dia dan Alya baru sampai di depan kelas. Saat itu, Andi menanyakan soal tugas Ibu Dosen kepada Alya. Ternyata, Alya belum mengerjakan tugas Ibu Dosen Maya, karena Alya semalam habis Video Callan sama dirinya.
__ADS_1
Damar langsung menarik tangan Alya, untuk berdiri dan menjauh dari tempat Andi. Lalu diapun mengajak Alya berbicara berdua, namun masih diruang UKS itu.
"Iya.. aku juga sudah ingat, waktu kita baru sampai depan kelas yah, sayang." Ujar Damar, menatap Alya dengan intens, hampir tidak ada jarak diantara keduanya.
"I..iya, Bie." Ucap Alya singkat.
"Eee... heeemmm..." Asyafa dan Andi berdehem bersamaan
"He.. he.. he..." Alya dan Damar terkekeh, karena mereka tampak begitu intens didepan mereka.
"Kalian sudah seperti tidak mengenal tempat yah, bermesraan didepan kami. Padahal Damar masih hilang ingatan, apa lagi kalau sudah ingatannya kembali. Bisa-bisa kita diusir saat ini juga yah, Ndi, he.. he.. he.." Ledek Asyafa terkekeh.
"Aissh.. Sya, bisa saja loe kalau menjatuhkan gue, mana ada gue kayak gitu. Gue mah anak baik-baik, pacaran saja engga pernah. Ini saja gue dijodohin sama Damar, makanya gue bucin banget sama ini cowok, he.. he.. he..." Celoteh Alya, tanpa ada rasa malu dan canggung sama sekalih.
"Ha.. ha.. ha.." Asyafa dan Damar tertawa puas.
Lain hal dengan Andi, dia hanya tersenyum kecut melihat kemesraan dan kebersamaan mereka yang semakin intens.
"Sayang, dia teman kamu juga, apakah aku mengenal dia sebelumnya?" Tanya Damar karena dirinya dari tadi melihat Alya akrab dengan gadis itu, dan gadis itupun seperti mengenalnya. Sedangkan dirinya, tidak ingat sama sekalih dengan gadis itu.
"Heemm.. kamu sangat mengenalnya, Bie. Bahkan kamu kenal Asyafa, lebih dulu dibanding dengan aku. Kamu pernah sangat menyukainya, malah kamu pernah dipenjara karena menculik suaminya." Ujar Alya dengan gamblang, hingga tanpa terasa Damar berkaca-kaca karenanya.
"Apakah sampai seperti itu, aku menyukai gadis yang bernama Asyafa, sayang?" Tanya Damar, sampai menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Heeemm.." Alya hanya bergumam pelan, dan tersenyum manis dalam tatapan Damar.
"Iya.. loe sampai nekat buat ngejar cinta gue. Tapi semua sudah berlalu, kami sudah maafin loe sejak lama. Hingga akhirnya loe sekarang bisa dapetin sahabat gue yang masih original, benar-benar beruntung deh loe bisa dapat calon istri kayak sahabat gue ini. Sudah cantik, engga pernah pacaran, pintar, tajir, baik, penyayang dan masih disegel original pula." Ujar Asyafa dengan gamblangnya.
Sontak saja wajah Alya langsung bersemu merah, dengan semua pujian Asyafa sahabatnya. Damar nampak terkagum dengan kekasihnya, yang sedang berada dihadapannya. Tanpa ragu, Damar langsung memeluk Alya dengan eratnya.
-BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1