
Sesampainya di rumah kediaman Papa Thomas, Bernad merilekskan tubuhnya di dalam Bathtub dan memejamkan matanya untuk sekedar menghilangkan rasa penat, kecewa, lelah dan sedih seharian ini.
30 menit berendam dengan air hangat, Bernad merasa badannya sudah segar lalu berganti pakaian tidur. Bernad menghampiri istrinya yang sedang berbaring di atas ranjang dengan perlahan, lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
"Sayang, kamu baru selesai mandinya?" Tanya Nurlaila yang menatap suaminya lekat.
"Heem.. sayang mengapa belum tidur?" Bernad hanya mengangguk lalu bertanya, seraya membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Belum mengantuk, sayang." Jawab Nurlaila seraya tersenyum, dan menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Sayang, tadi Kak Sofia telepon, katanya Mama ingin tinggal di rumahnya. Tadi sepulang dari Rumah Sakit, Mama Merry langsung ke sana." Ujar Nurlaila mengatakan perihal Mama mertuanya.
"Sampai seperti itu, Mama membenciku." Ucap Bernad sedih.
"Sudahlah, mungkin suatu hari Mama akan menyadari jika anaknya ini tidak bersalah." Ujar Nurlaila menenangkan.
"Iya.. sayang semoga saja, Mama menyadarinya." Ucap Bernad menyemangati hatinya yang sedang bersedih.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu sayang, di kantor Papa?" Tanya Nurlaila penasaran.
"Hasilnya nihil sayang, rekaman CCTV yang ada di ruang kantor Papa hilang, atau lebih tepatnya ada yang sengaja menghapusnya. Sepertinya ada orang dalam yang sabotase CCTV kantor, sebab Joan sebagai saksi melihat rekaman itu." Ujar Bernad panjang lebar.
"Ayah yakin, ada orang di balik kematian Papa?" Tanya Nurlaila gamang.
"Yakin sayang, tidak mungkin Papa mengalami serangan jantung tiba-tiba tanpa sebab." Jawab Bernad pasti.
"Ya sudah, Ibu hanya mendukung keputusanmu, sayang." Ucap Nurlaila mengiyakan.
"Makasih sayang, kamu dan Asyafa adalah kekuatan Ayah untuk bertahan hingga detik ini." Ucap Bernad sendu menitikan air mata.
"Sayang, kamu menangis?" Tanya Nurlaila sedikit mendongak ke wajah suaminya.
"Tidak, sayang." Jawab Bernad dengan mengulum senyum.
"Ayo kita tidur, sayang." Ajak Nurlaila seraya merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap suaminya.
"Baiklah, selamat tidur mimpi indah, cup.. cup.. " Ucap Bernad seraya mengecup kening, mata, pipi, dan bibir istrinya sayang.
"Selamat tidur juga, sayang." Ucap Nurlaila seraya tersenyum manis.
*******
__ADS_1
Sofia menyiapkan sarapan pagi, untuk suami, anak dan mertuanya. Setelah itu dia menyiapkan pakaian kerja di atas nakas untuk suaminya yang biasa di lakukan sebelum berangkat bekerja. Sofia adalah istri dan menantu yang sangat baik dan perhatian. Meski selama ini suaminya masih suka mabuk-mabukan dan bermain wanita, namun Sofia bertahan demi Billy anaknya.
Tok.. tok... ! Pintu diketuk.
"Mom, apakah sudah bangun?" Tanya Sofia memastikan.
"Iya.. Sofia, Mama sudah bangun." Jawab Mama Merry, seraya membuka pintu kamarnya. Rupanya Mama baru saja menyelesaikan mandi paginya, hinga terlihat segar dan cantik meski umurnya sudah menginjak 55 tahun.
"Mom, sudah mandi? Mom, cantik sekali. Mari kita sarapan Mom, Sofia sudah siapkan di meja makan." Puji Sofia seraya mengajak Mama Merry untuk sarapan.
"Iya.. sayang." Ucap Mama Merry senang, seraya menggandeng menantunya berjalan ke arah ruang makan.
Di meja makan Billy sudah duduk menunggu di sana dengan tenang.
"Hallo cucuku sayang, mana Papa kamu?" Sapa Mama Merry hangat dan lembut.
"Tidak Tahu, Oma." Jawa Billy seraya mengangkat bahunya sedikit.
"Mom, silahkan di santap sarapan paginya." Ucap Sofia seraya menyiapkan piring dan sendok garpu di depan Mama Merry.
"Iya.. sayang, kamu bangun jam berapa Sofia? Bisa masak sebanyak ini." Tanya Mama Merry kagum dengan hidangan yang ada di depan matanya.
"Bangun pukul 4 pagi, Mom. Sofia masak di bantu oleh ART mom." Jawab Sofia jujur seraya menyendokkan nasi secukupnya untuk anak dan mertuanya itu.
"Suami kamu tidak di ajak makan, sayang? Masakan kamu enak, sayang. Tanya Mama Merry, seraya menikmati sarapan paginya dengan memuji masakan menantunya.
"Iya.. Mom, saya panggilkan dulu." Ucap Sofia seraya berlalu.
Ketika sampai di ruang kamarnya, ternyata suaminya sudah tidak ada di dalam kamar, dan baju yang Sofia sudah siapkan juga sudah di pakainya.
"Kemana suamiku? Apa ada kepentingan mendadak, hingga lupa berpamitan denganku?" Sofia bermonolog dalam hatinya.
Sofia bejalan kembali ke meja makannya dengan tampang tidak bersemangat.
"Sofia, mana suamimu? Kenapa belum turun juga?" Tanya Mama Merry yang tidak melihat anaknya itu.
"Sepertinya, suamiku sudah pergi Mom. Di kamar tidak ada, baju yang aku siapkan sudah di pakainya." Jawab Sofia seraya duduk kembali melanjutkan sarapannya.
"Ooh.. ya sudah kalau begitu." Ucap Mama Merry pasrah.
"E... emm Mom, bolehkah Sofia bertanya? Mengapa Mama tinggal di sini, bukan di rumah Papa? Tapi Mama jangan tersinggung dengan pertanyaan Sofia." Tanya Sofia tidak enak hati kepada mertuanya itu, karena selama ini Mama Merry hanya mau tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Mama ingin tinggal di sini, karena Mama tidak ingin bertemu dengan Bernad dan istrinya yang sudah membawa sial. Karena Mereka, suamiku meninggal, hik.. hik.." Jawab Mama Merry dengan wajah memerah dan menangis sedih.
"Tapi.. Mom, jangan menangis. Sofia tidak bermaksud, menyakiti Mama dengan pertanyaan ini. Sudah Mom, berhentilah menangis dan bersedih." Pinta Sofia dengan wajah memohon, seraya berdiri lalu mengusap punggung mertuanya lembut.
Mama Merry berhenti menangis dan melanjutkan sarapannya.
Akhirnya Sofiapun tidak berani lagi bertanya masalah Mama Merry, dengan Adik iparnya Bernad dan Nurlaila. Pada dasarnya Sofia yakin, jika adik iparnya itu bukan penyebab kematian Papa mertuanya. Apa yang di tuduhkan oleh Mama Merry itu adalah kesalahfahaman semata menurutnya.
*******
Bernad terbangun dari tidur lelapnya, dia mencari sosok istrinya sekitar kamarnya yang sudah menghilang dari pandangannya. Lantas dia beranjak ke kamar mandi, setelah itu Bernad memakai pakaian kerja yang sudah di siapkan istrinya diatas nakas dengan rapi.
Bernad menghampiri istrinya yang sedang memasak di dapur, seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Hidungnya menghirup wangi tubuh istrinya dan bibirnya mengecup lembut tengkuk istrinya.
"Heeem.. harum sekali masakanmu sayang, aku ingin cepat memakannya." Puji Bernad, yang membuat perutnya terasa lapar.
"Sebentar lagi sayang, tunggu sekitar 5 menit lagi di meja makan." Ucap Nurlaila, seraya mematikan kompor gas, mengurai tangan suaminya yang nakal.
"Iya.. sayang." Ucap Bernad menurut, seraya duduk di meja makan dan memainkan ponselnya.
Di media sosial, Bernad membuka berita-berita teraktual. Lalu dia terhenti menatap layar ponselnya, terkejut dengan berita yang di lihatnya.
"Apaaa.. ?" Teriakan Bernad menggema.
Berita itu menyatakan bahwa, Karyawan PT. DORMAN GLOBAL Corporation Elektronik Industries, yang bernama Andre Luis, telah melakukan tindakan bunuh diri, dengan cara menggantung diri di balkon rumahnya. Andre Luis di temukan pagi hari tadi pada pukul 5 pagi, dalam keadaan tewas. Di perkirakan kematiannya sekitar tengah malam, menurut informasi yang kami terima dari kepolisian.
"Ada apa, sayang? Mengapa Ayah berteriak?" Tanya Nurlaila yang heran dengan suaminya.
"I.. ini sayang, ada karyawan Papa Thomas yang melakukan bunuh diri tadi malam, dan di temukan tewas pagi ini pada pukul 5 pagi." Jelas Bernad gugup, dengan bibir bergetar membaca berita tersebut.
"Astagfirulloh... siapa namanya? Apakah Ayah mengenalinya?" Tanya Nurlaila, seraya menaruh sayur dan lauk di atas meja makan.
"Namanya Andre Luis, dia orang yang sangat baik dalam bekerja selama ini, yang Ayah kenal seperti itu." Jelas Bernad menurut yang dia tahu.
"Ooh... Apa penyebab dia bunuh diri?" Tanya Nurlaila penasaran.
"Ayah belum tahu, di sini belum ada tertulis beritanya." Jawab Bernad seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........