
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Setelah selesai menghabiskan jagung bakar, dan teh manis, serta gorengan, merekapun beranjak pergi dari tempat istirahat tersebut. Mereka berjalan santai, sembari menikmati suasana kebun teh yang asri, dan semilir angin yang menerpa rambut dan wajah mereka.
"Ndi, terima kasih yah, traktirannya dan curhatannya. Terima kasih loe sudah mau mendengar cerita gue, dan sudah membuat gue jauh lebih baik, dari sebelum datang kesini." Ujar Alya, dengan sekilas senyum manisnya yang membuat jantung Andi berdegup kencang.
"Ada apa dengan gue? Jantung gue sudah engga normal. Hanya dengan melihat senyuman manisnya, hati gue seakan loncat kegirangan. Sadar Ndi, dia sahabat loe, dan dia sudah tidak mencintai loe lagi." Bathin Andi bermonolog.
"Woi.." Panggil Alya dengan berteriak di depan Andi, seraya menjentikkan jarinya.
"Eehh.." Ucap Andi kaget, saat Alya membuyarkan lamunannya.
"Loe ngelamun? Gue panggil engga nyahut-nyahut." Tanya Alya, seraya tersenyum miring.
"E.. engga Al, cuma sekilas doang." Dusta Andi menutupi rasa groginya.
"Sekilas apa?" Tanya Alya lagi penasaran, seraya menatap intens.
"Senyum manis loe." Sahut Andi keceplosan, saking groginya ditatap Alya intens. Padahal selama ini memang gaya bicara Alya seperti itu terhadapnya, namun kali ini ada perasaan lain dihati Andi untuk Alya.
"Ha.. ha.. ha.. senyum manis gue? Bukankah dari dulu, memang manis bukan senyuman gue?" Tawa Alya pecah, seraya menyatakan kebenaran tentang senyumannya selama ini.
"Iya.. iya.. senyuman loe pokoknya yang termanis deh!" Ucap Andi jujur, karena baru kali ini dia menyadari, senyuman Alya yang bisa menghancurkan benteng pertahanannya, atas nama seorang sahabat.
"Sudah sore Ndi, kayaknya sudah mendung, gue mau pulang sekarang, takut kemalaman di jalan, nanti Bokap dan Nyokap gue khawatir." Ucap Alya, seraya berjalan lebih cepat.
Namun baru saja Alya berucap mendung, tiba-tiba suara petir menggelegar "Duuaaarrrr..." bunyi petirpun sampai berkali-kali. Sontak saja, Alya refleks langsung meloncat kedalam pelukkan Andi sahabatnya, dengan menutupi kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.
Andi yang mendapat pelukkan Alya tiba-tiba, dengan refleks juga, menerima pelukkan Alya secara suka rela. Lalu Andipun menenangkan Alya, yang sepertinya sangat ketakutan.
"Tenang Al, nanti juga petirnya berhenti." Ucap Andi tenang, seraya menepuk-nepuk punggung Alya lembut dalam dekappannya.
__ADS_1
Selama Andi berteman dengan Alya, baru kali ini dia menemukan sisi lain yang berbeda dari diri Alya. Gadis tomboy, sering berpetualang dialam bebas, mudah marah, ketus, ceplas-ceplos, galak, pokoknya sebelas dua belas dengan sahabatnya Asyafa. Ternyata dia begitu takut dengan suara petir yang menggelegar.
Hujan mulai turun rintik-rintik membasahi bumi, Andi dan Alyapun terpaksa mencari tempat berteduh dari terpaan air hujan. Nasib baik sedang menghampiri keduanya, mereka menemukan gubuk-gubukan kecil, tempat untuk menyimpan sementara hasil teh, yang mungkin habis dipanen oleh para petani teh disitu.
"Ayo kita menunggu hujan reda dulu Al di gubuk ini, sebelum tubuh kita basah karena diterpa air hujan." Ajak Andi, seraya merapihkan tempat duduk itu, dari tumpukkan daun teh yang berserakkan.
"Iya, Ndi." Sahut Alya singkat, seraya menurunkan bokongnya ditempat gubuk itu.
Hujanpun sedikit alot, membuat Alya dan Andi sedikit kedinginan. Andi yang tidak tega melihat Alya menggigil kedinginan, diapun langsung sigap memberikan jaket yang memang sedang dia kenakan.
"Pakai ini Al, biar loe engga masuk angin." Ujar Andi, seraya memakaikan jaketnya ketubuh Alya.
"Eeeh.." Ucap Alya tersentak, saat tangan Andi melingkarkan jaketnya ketubuh Alya yang memang sudah kedinginan.
"Maaf Al, jika membuatmu sedikit kaget." Ucap Andi tulus, dengan tersenyum simpul.
Andi hanya tersenyum mendengar ucapan Alya, lalu dia meraih kedua tangan Alya dengan lembut lalu berucap."Kalau telapak tangan loe sama telapak tangan gue digosok seperti ini, rasa dingin akan berkurang Al, pasti akan timbul rasa hangat." Kedua telapak tangan mereka saling digosokkan.
"Iya Ndi, loe tahu saja soal kayak gini." Sahut Alya senang, bisa merasakan hangat ditubuhnya sekarang, sedang Andi merasakan hangat juga ditubuhnya. Namun hawa panas ditubuhnya, bukan sekedar telapak tangan yang dia gosokkan, tetapi ada getaran cinta yang sedang dia rasakan.
"Sepertinya gue engga sanggup lagi menyembunyikan perasaan ini terhadap loe, Al. Gue engga tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh semakin besar, Al. Tapi gue terlalu takut untuk membuat loe kecewa, jika loe sampai tahu gue menyukai loe, Al. Karena cinta dihati loe saat ini, hanya untuk Damar." Bathin Andi berucap.
"Ndi.. Andi..!" Pekik Alya, yang hampir membuat Andi hilang keseimbangan. Pasalnya Alya menggoyang-goyangkan bahu Andi, agar tersadar dari lamunannya.
"Eeehh.. aaawwwh..." Ucap Andi kaget, tubuhnya hampir limbung saat merasakan bahunya bergoyang.
"He.. he.. he... maaf Ndi, habisnya baru kali ini seorang Andi selalu melamun saat bersama gue, kayaknya raga loe ada disini, tapi hati loe ada ditempat lain, Ndi." Kekeh Alya tidak habis pikir dengan Andi yang sangat berbeda, dengan Andi yang dia kenal selama ini.
Andi hanya tersenyum canggung, seraya berucap dalam hatinya. "Andai saja loe tahu, kalau hati gue ada dipenjara hati loe. Apakah loe akan tetap bersikap seperti ini, Al? Apakah loe akan membalas cinta gue, Al? Beginikah rasa cinta sendirian, yang selama ini loe pendam, Al? Ternyata menyakitkan, Al".
__ADS_1
"Aiishh.. benarkan apa yang gue ucapin barusan, Ndi?" Tanya Alya serius, sedang Andi hanya menggelengkan kepalanya pelan, serta matanya yang sudah berkaca-kaca, seakan hampir jatuh membasahi pipinya.
"Loe kenapa, Ndi? Ko loe seperti mau menangis?" Tanya Alya penasaran, mencari kebenaran dalam matanya.
"E.. engga kenapa-napa, Alya Mentari." Ucap Andi berdusta, mengedarkan matanya kearah lain, lalu menghapusnya pelan dengan jari tangannya. Lalu Alya akhirnya mengangguk percaya.
"Ndi, sepertinya hujannya mulai reda, tapi baju gue sedikit basah ini. Loe bawa kaos lebih, buat gue ganti engga, Ndi?" Tanya Alya, tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
"Ada Al, tapi di tempat penginapan gue, bagaimana?" Ucap Andi jujur.
"Ya sudah gue mampir dulu sebentar kepenginapan loe, Ndi." Ujar Alya pada akhirnya, seraya berjalan meninggalkan gubuk tersebut.
"Ayo, ikutin gue." Ajak Andi yang berjalan di depan Alya.
Setelah berjalan cukup lama hampir 20 menit, mereka sampai juga dipenginapan Andi yang begitu bagus.
"Nyaman banget Ndi, tempat penginapannya! Loe berapa hari sewa tempat ini?" Tanya Alya kepo.
"Dua hari saja, hari ini gue mau balik. Loe mau balik bareng gue Al?" Ujar Andi jujur seraya mengajak Alya pulang bareng.
"Ee..engga Ndi, gue 'kan bawa mobil." Tolak Alya logis.
"Mobil loe biar besok gue yang ambil, biar gue bisa main kerumah loe lagi nantinya." Ujar Andi tanpa ragu.
"Eeemmm..." Alya termenung.
"Jangan melamun, cepat ganti kaosnya, gue tunggu dimobil.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....