
Pintu di buka pelan, Pelayan itu menyembul masuk ke dalam kamar Rayhan.
"Maaf mengganggu Aden, saya membawakan minuman teh manis dan camilan puding agar-agar ini." Ucap Pelayan itu, seraya menaruh di atas nakas sebelah ranjang Rayhan.
"Silahkan di minum dan di makan Aden, Nona.. saya undur diri." Ucap Pelayan itu lantas menutup pintunya kembali.
"Terima kasih Mba." Ucap keduanya bersamaan, yang sedang menahan malu, hampir kepergok oleh Pelayan itu, hendak melakukan dorongan hasrat yang sangat luar biasa menggebu, menelan salivanya kembali, dan merekapun tertawa bersama.
"Ha.. ha.. ha.. "
"Kakak sih, tadi mau apa coba? Mandangin aku kayak gitu, aku sampai gerah. Hampir saja jantung aku copot dibuatnya, bisa-bisa kita langsung menikah besok, kalau hal mesum tadi sampai kejadian. He... he...." Celoteh Asyafa sampai terkekeh.
"Aiiis.. sayangnya Kakak kenapa mikirnya mesum? Tadi itu Kakak gemes cuman kepingin cium pipi kamu, tapi bibir kamu sangat menggoda iman, jadi kakak hampir saja hilang kendali, untung ada si Mba, yang mengembalikan kesadaranku. He.. he.." Jelas Rayhan terkekeh.
"Iya deh, berarti kita jangan sering ketemu, biar engga terjadi hal-hal kayak gini lagi dong." Usulnya gadis itu penuh kemenangan.
"Habis kalau aku didekat Kakak, seperti ada sesuatu yang aneh gitu." Celotehnya gadis itu polos.
"Ya engga gitu juga donk sayang, masa jauh-jauhan jarang ketemu, Kakak engga mau, kalau kayak gitu." Ucapnya sebal seraya menyentil hidung gadisnya gemas.
"Jangankan jarang ketemu, sering ketemu saja Kakak bawaannya kangen terus." Rayu Rayhan.
"Aiish, gombal. Idih dasar Kakak bucin, makin-makin deh aku melumer. He.. he.." Ledek gadisnya itu seraya mencubit pinggang Rayhan yang terasa geli bagi Rayhan.
"Kak, ini minum tehnya, mumpung masih hangat." Ucap Asyafa seraya menyodorkan minuman ke tangan Rayhan.
"Iya sayang, terima kasih" Ucap Rayhan mengambil gelas dari tangan gadisnya lalu meminumnya pelan.
"Kakak mau makan camilan ini, pasti Kakak lapar 'kan?" Tanyanya Asyafa seraya menyodorkan camilan puding agar-agar dan menyuapinya kemulut Rayhan lembut, dan Rayhan hanya mengangguk senang disuapin calon istrinya itu, merekapun makan berdua sampai tandas tak bersisa.
"Sepertinya sudah terlalu malam kak." gadis itu melirik jam tangannya, menunjukan pukul 8 malam.
"Aku pamit pulang yah, Kakak istirahat dan cepat sembuh." Pesan Asyafa seraya mencium punggung tangan Rayhan lembut.
"Aku takut Ibu dan Ayah khawatir, kalau aku engga pulang-pulang sedari pagi." Ucapnya cemas.
__ADS_1
"Iya sayang, sini peluk dulu dong." Pinta Rayhan seraya merentangkan tangannya dan memeluk gadisnya itu, lalu mengecup kening Asyafa lembut tertahan sedikit lama, seperti enggan melepasnya. Asyafapun bergeming, menikmati pelukan Rayhan.
"Aiis.. lepasin dong Kak, sudah jangan lama-lama nanti keningku lecet, he.. he.." Ledek Asyafa terkekeh.
"Kalau gini bisa-bisa aku engga jadi pulang." Candanya Asyafa seraya menoel hidungnya Rayhan gemas.
"Iya sudah menginap saja, nanti Kakak kabarin Ibu dan Ayah di rumah" Ucapnya yakin, seraya mengerlingkan matanya genit.
"Iidih... itu sih, maunya Kakak, aku takut ah, nanti di terkam harimau. Auuum... he.. he.." Ledek Asyafa terkekeh seraya mengangkat tangannya menirukan gaya harimau, dan Rayhanpun ikut tertawa.
"Ya sudah Kak, Assalamu'alaikum..." Ucap Asyafa memberi salam.
"Wa'alaikumsalam sayang.. hati-hati di jalan berkah selamat, jangan lupa berdoa." Ucap Rayhan melantunkan doa keselamatan.
"Iya Kak, Aamiin." Ucap Asyafa mengamini.
Asyafapun meninggalkan kamar Rayhan dan menemui Mama dan Papa untuk pamit pulang, merekapun berangkulan melepas calon menantunya, Asyafa pulang diantar oleh Pak Supir pribadi keluarga Tuan Beni Darma. Sesampainya di kediaman Tuan Bernad, Asyafa langsung menjelaskan perihal keterlambatan dia pulang kerumah kepada Ibu dan Ayahnya. Merekapun sangat terkejut, dengan apa yang terjadi pada calon menantunya itu. Tetapi sekarang Rayhan sudah pulang kerumah, dan tidak sampai terluka parah.
"Syukurlah tidak ada luka yang serius Nak." Ucap Ibu Nurlaila untuk calon mantunya itu.
"Ibu, Ayah, aku mau mandi dulu, sudah lengket semua badanku." Ucap Asyafa yang merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.
"Iya Nak, sana cepat mandi, nanti selepas mandi langsung makan." Ucap Ibunya memerintah dengan tersenyum.
"Iya bu...." Asyafapun berlalu meninggalkan Ibu dan Ayahnya, yang sedang bersantai di ruang keluarga,
Asyafa bergegas mandi, dia berendam dengan air hangat, menyegarkan tubuhnya yang kelelahan mengurusi calon suami bucinnya itu. 20 menit sudah berendam, dia merampungkan kegiatan mandinya, lalu berganti pakaian tidur, Asyafa langsung merebahkan dirinya diatas kasur empuknya. Asyafa sudah sangat mengantuk tetapi dia tetap berkirim pesan dengan Rayhan dahulu sebelum tidur. Dan akhirnya dia menyambangi mimpinya.
*******
"Drrt... drrrt.... drrt...." Boss Damar calling.
"Hallo.. Boss Damar!" Ucap Asisten Romi.
"Iya hallo! Bagimana hasil penyelidikanmu? Apakah membuahkan hasil?" Tanya Damar penasaran.
__ADS_1
"Iya Boss, saya mendapatkan informasi, kalau gadis yang Boss cari itu, anak dari Tuan Bernad Dorman, dia seorang Pengusaha handal di bidang elektronik, yang berasal dari Belanda, tapi menikah dengan Nyonya Nurlaila asli Indonesia. Gadis itu masih kuliah di Universitas Guna Darma Depok, semester akhir, 3 sampai 4 bulan lagi setelah lulus, gadis itu akan melangsungkan pernikahan dengan Rayhan Darma, putra dari Tuan Beni Darma, Pengusaha kaya raya yang baru membuka perusahaan baru-baru ini." Jelas Asisten Romi panjang lebar.
"Okay, informasimu akurat 'kan? Lantas siapa nama gadis itu?" Tanya Boss Damar penuh penekanan.
"Akurat boss, gadis itu bernama Asyafa Dorman, usia 22 tahun, lahir di Belanda dan dia anak tunggal." Ucapnya Asisten Romi menjelaskan.
"Kalau begitu terima kasih Asisten Romi, atas informasinya. Kamu sekarang saya kasih bonus, atas kerja kerasmu hari ini." Ucap Boss Damar seraya tersenyum miring setelah mengetahui identitas gadis itu.
" Iya Boss, terima kasih juga bonusnya Boss." Ucap Asisten Romi senang.
"Sama-sama Asisten Romi." Ucap Damar seraya mematikan sambungan teleponnya.
"Asyafa Dorman, sepertinya kamu adalah wanita malam itu. Wanita yang membuatku berhasrat ketika aku mabuk, wajah yang cantik, anggun, matanya yang berwarna coklat, bulu mata lentik, bibir ranumnya, tubuh yang menggoda. Sepertinya aku sudah gila, aaarkh...." Gumam Damar mengagumi gadis itu seraya frustasi mengacak rambutnya.
*******
Keesokan harinya, seperti biasa Asyafa akan pergi kekampus mengendarai mobilnya sendiri, yang sudah terparkir cantik di garasi rumahnya, karena semalam Pak Supir pribadi Tuan Beni mengantarnya. Sebenarnya Pak Supir Dadang sudah sembuh, tetapi Asyafa ingin membawa mobilnya sendiri saja.
Sampai di kampus Asyafa memarkirkan mobilnya, dengan hati-hati dan teratur, berbaris rapi dengan kendaraan lainnya. Dia seperti biasanya menyapa Pak Satpam yang berjaga dan memberikan senyum seraya menitipkan mobilnya. Sambil berjalan gontai dia masuk kedalam kelas, dilihatnya sudah beberapa orang yang datang, dia mengedarkan pandangannya mencari sahabatnya, yang ternyata sedang tertidur pulas.
"Aduh-aduh, pagi-pagi anak manis masih bobo saja." Ledek Asyafa seraya menoel-noel pipinya alya.
"Aiish.. ganggu saja sih loe, Sya. Gue masih ngantuk, badan gue cape banget nih." Ucap Alya masih dengan mode tidurnya.
"Emang loe tidur jam berapa Al? Sampai tumben banget tidur disini! " Tanya Asyafa heran.
"Gue tidur malam, gue mau ngelarin skripsi, nanti gue mau cari Dosen Pembimbing biar cepat dan lancar." Ucapnya Alya seraya menunjukan buku-buku untuk bahan skripsinya.
"Yaaah.. gue lupa Al, gue juga mau cari Dosen Pembimbing hari ini buat skripsi gue. bahan-bahan buku skripsi gue tertinggal di rumah." Ucap Asyafa lesu seraya mendaratkan bokongnya diatas kursi duduknya.
"Loe mah enak Sya, Dosen Rayhan yang jadi Dosen Pembimbing skripsi loe." Ucap Alya.
"Masa sih Al, yang benar?" Tanya Asyafa tidak percaya.
Happy reading
__ADS_1
--BERSAMBUNG--