
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Hari ini Asyafa dan Rayhan kembali kerumah Papa Beni, mereka melepas rasa rindu yang sudah membuncah tak terbendung lagi. Dipeluk dan di ciumnya anak, dan menantu kesayangannya itu.
"Waaah pengantin baru ini, terlihat lebih segar, dan bugar yah Mom? Sepertinya mereka sungguh menikmati, hari libur mereka dengan bahagia." Ujar Papa Beni, mengolok anak dan menantunya.
"Iya dong Pap, I miss you Pap." Ucap Rayhan seraya memeluk Papanya erat. Begitupun yang di lakukan Asyafa, sedikit tersipu malu mendengar celotehan Ayah mertuanya.
"Anak-anak Mama, I miss you somuch." Ucapnya sayang memeluk erat, dan menghujani dengan ciuman hangat dipipi, dan kening anak dan menantunya.
"Iya Mom, kami juga kangen sama, Mom." Sahut Rayhan, dan Asyafa bergantian, seraya menerima pelukan, dan ciuman dari Mamanya itu.
"Kalian sudah sarapan, belum? Ayo kita sarapan, pagi-pagi itu harus dibiasakan untuk mengisi perut kalian, agar tidak mudah sakit." Tanya Mama Jovanka, seraya menarik Asyafa ke arah ruang makan. Asyafapun hanya pasrah, dan mengangguk kecil, untuk mengikuti kemauan Mama mertuanya itu.
"Belum Mom, aku sudah rindu dengan masakan Mom." Sahut Rayhan yang langsung menuju ruang makan.
Papa Beni tersenyum mengembang melihat tingkah istrinya yang terlihat sangat bahagia menyambut kedatangan anak, dan menantunya.
"Ayo di makan, jangan malu-malu sayang." Pinta Mama Jovanka, kepada anak menantu kesayangannya itu.
"Iya, Mom." Sahut Asyafa, seraya mengambil piring untuk dirinya, dan juga untuk suaminya.
Rayhan langsung mencegah istrinya, di saat mengambil dua piring di tangannya.
"Cinta, piringnya satu saja, kita makan sepiring berdua." Selorohnya tanpa malu, di depan kedua orang tuanya. Sontak saja Asyafa menunduk malu.
"Aaiish.. romantis banget anak Mama, maunya sepiring berdua terus. Pap.. kita sepiring berdua juga yah? Biar seperti anak-anak kita, Pap." Ujar Mama Jovanka mengerling nakal, kepada suaminya.
"Ha.. ha.. ha.. istri Papa cemburu melihat kemesraan kalian, malu sama umur sayang." Beni tertawa dengan kecemburuan istrinya kepada anak, dan menantunya. Sontak Mama Jovanka langsung berdecak sebal.
"Ciiih.. Papa mah gitu sih, bikin Mama malas." Ucapnya sebal, seraya mengerucutkan bibirnya.
"He.. he.. he.. engga apa-apa Pap, Mom, romantis itu engga mengenal umur, yang penting romantis sama pasangannya sendiri." Kekeh Rayhan melihat kedua orang tuanya, yang seperti anak kecil. Sedang Asyafa hanya tersenyum saja, melihat kedua mertuanya itu.
"Tuuh.. dengar Pap, apa kata anak kita, memang kamu itu, anak Mama yang terbaik." Selorohnya senang di bela oleh anaknya, seraya tersenyum puas, dan mengacungkan jempol tangannya keudara.
"Iya.. iya.. Papa kalah deh, diserang tiga lawan satu." Sahutnya menyerah.
__ADS_1
"Ha.. ha.. ha.." Tawa mereka pecah, melihat Papa Beni yang menyerah begitu saja.
Asyafa menyuapi suaminya dengan mesra, begitu sebaliknya Rayhanpun bergantian melakukan hal yang sama, saling menyuapi hinga nasi di piringpun tandas tak bersisa.
"Sayang, kalian tambah dong nasi, dan lauknya. Masa makan berdua tidak tambah, kalah sama Mama nih, biar makan sendiri tapi makannya banyak. Hi.. hii.. hii." Selorohnya senang, bisa menyindir suaminya yang makan sendiri, tapi sudah nambah dua kali, seraya tertawa kecil melirik suaminya.
"Engga Mom, kita sudah makan banyak, tadi Asyafa ambil nasi, dan lauknya untuk porsi dua orang." Tolak Asyafa halus, seraya mengatakan sejujurnya.
"Aaiish.. sayang, Papa tahu, Mama kalian itu menyindir Papa, he.. he.. he.." Ucapnya terkekeh melirik istrinya.
"Ha.. ha.. ha.. ternyata ada yang tersindir juga, sayang." Ucap Jovanka tertawa puas, lalu melirik suaminya sebal.
"Ha.. ha.. ha.." Merekapun seketika tertawa bersama.
Setelah sesi sarapan bersama, Asyafa membantu Mama Jovanka untuk membersihkan piring kotor bekas makan mereka. Lalu merapihkan sisa makanan dimeja, kemudian menaruhnya ke dapur.
Bi Mimin merasa tidak enak, melihat anak menantu majikannya yang sedang membawa piring kotor ke washtafel.
"Sudah Non, biar Bibi saja yang bersihkan." Tawar Bi Mimin ramah.
"Engga apa Bi, piringnya juga hanya sedikit saja, biar aku saja yang mencucinya. Bibi silahkan mengerjakan yang lain saja." Tolak Asyafa ramah.
"Siapa dulu dong, istrinya Rayhan, he.. he... he..." Ucapnya bangga seraya terkekeh, lalu memeluk pinggang istrinya, dari belakang dengan mesra. Sontak saja wajah Asyafa merona merah, menutupi rasa canggungnya di depan mertuannya itu. Lalu Asyafa mencubit sayang, lengan suaminya itu.
"Aawww.. sakit cinta, kenapa dicubit?" Aduh Rayhan manja.
"Lebay iich Kakak, orang engga sakit juga. Habis Kakak engga punya malu sih, ada Mama sama Papa juga." Omel Asyafa, seraya menuntaskan sesi cuci piringnya, yang terhenti oleh ulah suaminya. Seketika Mama tertawa mendengar celotehan anak menantunya itu. Sedangkan Bi Mimin hanya mengulum senyum.
Mereka meninggalkan ruang makan, dan langsung menuju ruang gajebo di belakang rumahnya. Papa Beni yang sedang duduk santai di sana, memutuskan tidak masuk kerja hari ini, karena melepas rasa rindunya kepada anak, dan menantunya itu. Terutama rasa bersalah kepada istrinya saat sarapan tadi.
"Papa tidak pergi ke kantor? Ini sudah pukul 09 pagi, nanti Papa engga kesiangan." Tanya Rayhan, seraya melirik jam tangannya, melihat Papanya masih bersantai.
"Engga Dude, Papa masih ingin melepas rindu sama kalian, ingin menghabiskan moment kebersamaan seperti ini." Selorohnya mengerling nakal, melirik istrinya yang sedang merajuk saat sesi sarapan tadi. Mama Jovanka tersipu malu, saat suaminya menatap intens.
"Aiishh.. kangen sama kami, atau sama Mama? Sepertinya ada yang sedang merayu biar engga ngambek lagi." Selorohnya Rayhan meledek Papanya.
"Ha.. ha.. ha.." Tawa Papa Beni pecah.
__ADS_1
"Hari ini kalian ada acara, atau tidak?" Tanya Papa Beni mengalihkan pembicaraan.
"Engga ada Pap, kami ingin menghabiskan waktu kami berdua di kamar seharian." Ucao Rayhan tanpa rasa malu sedikitpun. Sontak saja Asyafa geram dan langsung mencubit pinggang suaminya kesal.
"Aaawwhh.. sakit sayang, kenapa sih hari ini istriku hobbynya nyubit terus?" Aduh Rayhan seraya terkekeh, lalu mengeluh, padahal cubitan istrinya itu tidak terasa sakit sama sekali, bahkan terasa geli menurutnya.
"Habis Kakak, engga tahu malu." Omel Asyafa kesal.
"Kita harus terbiasa cinta, bukan begitu Pap, Mom?" Ujar Rayhan, seraya meminta dukungan orang tuanya. Jovankan, dan Beni hanya menggelengkan kepalanya seraya mengulum senyum.
"Drrt.. drrt.. drrt.." Bunyi getar Ponsel Papa Beni, lalu Beni melirik sekilas dan di lihatnya siapa yang mencalling.
"Hallo Asisten Martin, ada kabar apa sekarang?"
"Hallo Tuan, ada anak buah Adik Tuan yang datang ke kantor."
"Terus, apa yang mereka lakukan?"
"Mereka mencari Hans, lalu saya katakan Hans sudah di Jakarta, dan saya memberikan alamat Perusahaan Tuan, sesuai apa yang Tuan minta."
"Bagus, kita tunggu saja, apa yang akan mereka lakukan di Perusahaanku."
"Iya.. Tuan, hanya itu yang akan saya sampaikan."
"Terima kasih informasinya dan kerja kerasmu Asisten Martin."
"Sama-sama Tuan."
Mereka menutup Telepon secara bersamaan.
"Bari.. Bari.. mau sampai kapan kamu akan bertahan?"
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like, favorite, Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........
Jangan lupa mampir ke karyaku yang baru yah teman-teman. Terima kasih.
__ADS_1