
Asyafa, masih merasa bingung, apa yang harus ia katakan lagi! karena sejujurnya dia belum siap, untuk menikah. Selesai mematikan telponnya, kemudian dia bergegas makan, setelah itu dia melaksanakan ibadah sholat, lalu dia pergi tidur.
Keesokan harinya, pagi sekali Asyafa sudah terbangun, tanpa ragu dia langsung mandi dan melakukan ibadah seperti biasanya. Lalu dia ke luar kamar dengan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Di chek ponselnya ternyata ada satu mesage belum dibaca, sambil menggeser layarnya melihat mesage dari calon suami.
"Aish... apa sih tuh orang, pagi-pagi buta sudah ganggu saja. Apa maunya coba hah.. ?" Gerutu Asyafa malas.
"Coba aku lihat apa isi chatnya." Gumam Asyafa pelan.
"Hai.. calon istri mau saya jemput tidak? Nanti pukuk 7 pagi, saya sudah dirumah kamu yah." Menambahkan emotion senyum, begitulah kurang lebih isi pesannya.
Asyafa tersenyum iblis, dia mulai berpikir lebih baik sekali-kali ngerjain Dosen Rayhan.
"Engga apa-apa deh, hihi... hii... hii.." Ucapnya senang.
Akhirnya dia membalas chatnya.
"Jemput saja, aku tunggu Pak, di tempat kemarin saya turun"
"Tunggu saja sampai jamuran, hi.. hi.." Ucap Bathin Asyafa tertawa puas.
Asyafa, keruang makan untuk sarapan, ternyata sudah ada Ayah dan Ibunya disana, mereka saling mengobrol, sambil mengoleskan selai coklat di rotinya, Asyafa menanyakan soal Pak Dadang semalam. Akhirnya Asyafa, memutuskan untuk membawa mobil sendiri kekampus, dan Ayah mengizinkan.
"Terima kasih Ayah, ibu, aku pamit mau berangkat yah!. Ada kuliah pagi jam 8 harus sudah sampai di sana." Pamit Asyafa seraya salim, cium pipi kiri dan kanan Ibu dan Ayahnya, tak lupa juga membawa tas selempangnya.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut nak!" Seru Ibu seraya berdoa.
"Baik Ibu! Asalamu'alaikum.. " Ucap salam Asyafa.
"Wa'alaikumsalam.. ! Jawab Ibu dan Ayah bersamaan.
Asyafa, mengeluarkan mobilnya dari garasi, yang berwarna hitam, salah satu mobil favoritnya. Mobilnya kecil tetapi nyaman, harganya tidaklah begitu mahal, yang terpenting dia suka dengan modelnya. Mobil itu jarang dipakai, karena dia selalu diantar jemput oleh Pak Supir Dadang.
Pak Satpam, membukakan pintu pagarnya otomatis, dia hanya duduk di poss, seraya melihat Nona Asyafa keluar dan berkata.
"Hati-hati di jalan Non!" Seru Pak Satpam Kodir.
Lalu Asyafapun menganggukkan kepala sedikit, seraya tersenyum manis.
Mobilpun melesat, meninggalkan rumahnya, dengan kecepatan sedang. Jalanan pun lancar karena masih pagi, belum begitu banyak aktifitas. Setibanya dikampus, baru pukul 7.15 pagi. Dia parkirkan mobilnya dengan rapi, kemudian turun seraya berjalan santai menuju ruang kelas.
Diruang kelas, baru beberapa gelintir orang yang datang.
"Waaah.. mungkin aku berangkat terlalu pagi, jadi agak sepi. Biarlah aku tidur dulu." Kicaunya Asyafa seraya mencari posisi tidur yang nyaman, tangannya sebagai bantalan kepalanya.
Lain hal dengan Dosen Rayhan, dia malah kesal dengan kejadian hari ini. Dia jemput Asyafa kerumahnya, setelah dia menanyakan perihal Asyafa, tapi yang dia dapati bukan rumah gadis itu, melainkan rumah orang yang tak dikenalnya. Berkali-kali dia menelponya, tapi tidak ada jawaban, lalu ponselnya mati.
"Sial.. ! Gadis itu, menipu saya." Maki Rayhan. "Awas nanti dikampus, engga ada ampun.." Ancam Rayhan.
__ADS_1
Rayhan akhirnya meninggalkan tempat itu. Kemudian, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak butuh waktu lama Rayhan membawa mobilnya, hampir saja telat pukul 7.50 pagi dia sampai kampus. Dia memarkirkan mobilnya tergesah-gesah dan akhirnya.
"BRUUK... !"
Mobilnya menyenggol salah satu mobil yang terparkir.
"Shiiit.. " Umpat Rayhan memaki dirinya yang ceroboh.
"Ini mobil siapa? Saya baru melihatnya, coba saya bertanya sama security, mengapa hari ini benar-benar sial." Maki Rayhan kesal.
"Ini semua gara-gara gadis itu." Gumam Rayhan seraya menghampiri pos satpam.
Akhirnya, Dosen Rayhanpun bertanya, perihal kepemilikan mobil dengan Flat nomor F 43** itu, miliik siapa? Kepada kepala Satpam itu.
"Sepertinya, itu kepunyaan anak Mahasiswa Pak Dosen." Jawab Satpam itu.
"Sebentar saya akan informasikan, lewat intercom Pak." Ucap Pak Satpam meminta izin.
"Baiklah saya tunggu Pak." Jawab Rayhan, seraya berjalan kembali ke area parkir.
"Pengumuman, untuk pemilik mobil berwarna hitam, dengan Flat mobil bernomor F 43** , di mohon datang ke area parkir sekarang juga, terima kasih! "
Diruang kelas, Asyafa fokus dengan materi yang sedang berlangsung, karena materi ini sangatlah penting baginya, untuk masa depan dan kelulusannya, harus dapat nilai terbaik. pendengarannya, dikagetkan dengan pengumuman lewat intercom, masalah mobil yang Flatnya sama percis dengan miliknya.
"Alya, sepertinya itu nomor Flat mobil gue! Ada apa yah, kenapa sampai di umumin lewat intercom segala? Tanya Asyafa penasaran.
"Ya sudah, loe lihat saja dulu sana!." Saran Alya.
Akhirnya gadis itu memohon izin, heeem.. Bapak Dosen Aris, saya mohon izin mau ke area parkir, sepertinya tadi suara intercome itu, Flat mobil saya yang di maksud, terima kasih." Ucap Asyafa sopan.
"Ya sudah, kamu datangi sana." Ujar Dosen Aris.
"Baik Pak! Terima kasih." Ucap Asyafa senang.
Kedua sahabat itu, berjalan ke area parkir, mereka melihat Satpam dan seorang Pria, menghadap kearah mobilnya yang terparkir, dari belakang punggung Pria itu, Asyafa seperti mengenalnya.
"Ada apa dengan mobil ku?" Tanya Asyafa dalam hati.
"Permisi Bapak, ada apa yah, dengan mobil saya?" Tanya Asyafa penasaran, seketika dia terkejut saat matanya saling bersirobak, dengan Dosen Rayhan.
"Kamu.. !" Ucap Rayhan terkejut
"Bapak... !" Ucap Asyafa terkejut, seraya keduanya kompak menyerukan nama bersamaan.
Hening... !
Seketika, Satpam itu menjelaskan perihal apa yang terjadi dengan mobilnya, dan Asyafa, mendengarkan penjelasan Bapak Satpam dengan tenang.
__ADS_1
"Terima kasih Bapak Satpam atas informasinya." Ucap Asyafa, seraya menganggukkan kepalanya sedikit.
"Sama-sama Nona." Jawab Satpam itu, lalu balik ke posnya semula.
"Oooh... kamu ternyata, pemilik mobil ini hah... !" Ucap Rayhan sinis.
"Waduh... Bapak, kenapa mobil aku bisa seperti ini? Bapak apakan mobil aku?" Tanya Asyafa heran.
"Ini memang ulah saya!" dlDosen Rayhan mengakuinya.
"Ini gara-gara kamu semuanya," Tuduh Rayhan seraya menunjuk ke arah Asyafa.
"Laah... kenapa gara-gara aku? Bukankah ini mobil aku yang penyok kayak gini, mana ini mobil kesayangan aku lagi huuh... menyebalkan." Maki Asyafa kesal.
"Iya... gara-gara kamu sudah bohongin saya. Alamat rumah palsu, dan telepon yang sengaja dimatiin oleh kamu, sehingga saya engga bisa telepon kamu hah.... !" Ucapnya ngegas.
"Tadi saya kesiangan, nyampe sini terburu-buru dan berakhir seperti ini." Sesal Rayhan.
"Soal i.. itu. " Jawab Asyafa gugup.
"Bukan 'kah Bapak aku suruh mampir, tapi Bapak engga mau. Kalau ponsel saya mati, karena lowbat Pak." Dusta Asyafa cari aman.
"Sudahlah Asyafa, Bapak Dosen, engga usah ribut terus, sekarang cari solusinya gimana? Ini mobil Asyafa, Bapak yang nabrak sampai penyok, dan mobil Bapak juga sedikit lecet." Alya melerai keduanya, agar berhenti bertengkar.
"Ya sudah, saya yang akan bayar ganti rugi, nanti saya panggil tukang bengkel terdekat. Sekarang kalian kembali ke kelas." Perintah Dosen Rayhan.
Asyafa dan Alyapun pergi meninggalkan area parkir tersebut.
"Nona Asyafa... " Panggil Rayhan.
"Mau apa lagi Pak?" Sahut Asyafa.
"Pulang dari kampus bareng saya, jangan lupa batrai ponsel di chas dan jangan di matiin." Ancam Rayhan.
"Iya, Pak! Insya Allah." Jawab Asyafa cepat.
"kenapa ini Dosen, bikin orang bringsutan saja." Gumam Asyafa pelan.
"Cie.. cie... gue ketinggalan berita besar sepertinya!." Ledek Alya.
Membekap mulut Alya, seraya menaruh telunjuk kanannya di depan mulutnya.
"Diam loe... jangan berisik bisa-bisa yang lain dengar." Pinta Asyafa kesal.
"Gue butuh penjelasan kayaknya." Ucap Alya menyeringai.
"Iya... nanti kalau sudah istirahat, dasar kepo! Punya sahabat satu ini." Ucap Asyafa kesal seraya mencubit pipi Alya gemas.
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--