
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Tubuh Alya tiba-tiba mere *mang, saat Damar mulai meremas gundukan milik Alya, yang sudah terbuka sedikit. Hal itu membuat Alya tersadar, lalu memekik. "Stop!"
Damar yang mendengar Alya mengucapkan kata tersebut, seketika kembali kesadarannya. Damar menatap nanar wajah Alya, yang seakan sedang menahan marah terhadap perbuatannya.
"S.. sayang, aku minta maaf, aku khilaf terbawa suasana. Maafkan aku Alya Mentari, sungguh aku khilaf. Kalau kamu memang marah, kamu boleh pukul aku semaumu, kamu boleh maki aku sepuasmu, asal satu yang aku minta, kamu jangan pernah membenciku, dan meninggalkanku." Ucap Damar lirih, seakan menyesali perbuatan bodohnya, yang hampir merusak masa depan calon istrinya sendiri.
Alya masih terdiam, tetesan air mata mulai mengalir dari mata indahnya Alya, membasahi pipinya yang putih dan mulus. Suara isak tangis mulai terdengar, hingga tangan Damar terulur untuk menenangkanya. Dibawanya Alya dalam dekapannya, dan dikecupnya puncak rambut kepala Alya dengan lembut dan sayang. Namun Alya tidak menolak, saat Damar memeluknya.
"Maafkan aku.. sayang, maafkan aku.. sayang, aku akan nenikahimu besok juga, kalau kamu mau memafkanku." Ucap Damar sepenuh hati, tanpa dia sadari, air matanya meluncur bebas diwajah tampannya Damar, hingga akhirnya mereka berpelukkan dengan menangis berdua.
"Hikkks.. hikkks... hikkks.." Tangis keduanyapun cukup lama, hampir pukul 11 malam mereka masih dijalan.
Damar menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi Alya, lalu membelai sayang rambut panjang Alya, dan menautkan kancing baju Alya, yang tadi dia buka saat berciuman. Merapihkan anak rambut Alya yang sedikit berantakan, dan membenahi bajunya yang sedikit kusut.
Rasa penyesalan yang begitu dalam, dari ciuman hangat, hingga dorongan napsunya telah membutakan keduanya, walaupun pada akhirnya salah satu dari mereka tersadar. Damar sungguh menyesali perbuatannya tadi, hingga dia berjanji dalam hatinya, tidak akan melakukan hal bodoh tadi lagi, sebelum menikahinya.
[POV : AUTHOR...🥰🥰"Bahwasannya awal dari sebuah kesalahan besar itu adalah, berciuman bibir dengan lawan jenis yang belum sah, menjadi istri atau suaminya. Dari berciuman bibir, bisa membawa kita terhanyut dalam buaian napsu, yang meminta lebih, dan terus-menerus semakin dalam, hingga akhirnya terperosok dalam jurang kehancuran, yang namanya rusaklah sebuah keperawanan dan keperjakaan seorang insan. Pesan saya, bukan untuk menggurui, atau sok pintar dan sok tahu. Tapi hanya ingin saling mengingatkan, bahwa berhubungan diluar nikah itu, sungguh azab yang sangat pedih. Maka dari itu, hindarilah yang namanya bersentuhan fisik sebelum menikah. Salam hangat dari Author Recehan ini✌✌✌🥰🥰]
Kembali ke cerita!
"Sekarang kamu sudah lebih tenang, sayang? Apa kita bisa melanjutkan perjalanan pulang, sayang?" Tanya Damar hati-hati, dia takut menyakiti calon istrinya lagi. Dia tidak ingin membuat Alya ketakutan, dengan sifat liarku lagi.
"Heemmm..." Alya bergumam dan menganggukkan kepalanya pelan.
Akhirnya Damar mengantarkan pulang Alya, sepanjang perjalanan mereka lebih banyak terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Rasa penyesalan menghantui keduanya, hingga tidak terasa sampai juga dihalaman parkir rumah Alya.
Damar membukakan seatbelt yang menempel ditubuh Alya, dengan hati-hati sambil meminta maaf. Semua yang berhubungan dengan menyetuh fisik Alya, dengan otomatis Damar akan selalu mengucapkan kata maaf.
__ADS_1
"Bie.. kamu janganlah terlalu berlebihan seperti itu, kesalahan tadi bukanlah sepenuhnya kesalahan kamu. Aku juga turut andil melakukan kesalahan itu, karena rasa penasaran aku, yang belum pernah berciuman bibir, dengan seorang pria dewasa sepertimu." Ujar Alya pengertian kepada Damar, agar tidak terlalu berlebihan dengan rasa bersalahnya.
"T.. tapi sayang, aku hampir saja merusakmu malam ini, jika kamu tidak mengingatkanku untuk menghentikannya." Kata Damar, menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudahlah Bie, kita akan benahi semuanya, kita akan bersikap seperti biasa saja, seakan tidak terjadi apa-apa. Kalau kamu ingin menikahiku, tunggu sampai kita Wisuda S1, kamu juga tinggal menunggu Wisuda, bukan?" Ujar Alya bijak seraya memikirkan masa depan mereka.
"Iya sayang, aku ikuti kemauanmu. Kita akan menikah, sehabis Wisuda. Pengumuman Wisudaku satu minggu lagi, jadi setelah itu aku akan datang melamarmu, sayang."
"Memangnya kamu sudah yakin banget mau menikah denganku?" Tanya Alya ragu, pasalnya mereka belum lama bertemu, dan baru merasakan benih cinta.
"Yakin sayang, mana ada pria yang menolak dengan pesona seorang Alya Mentari." Ucapnya yakin, seraya memuji wanitanya itu.
"Iiishh.. lebay, he.. he.. he... sudah ach Bie, aku mau turun, sudah hampir jam 12 malam. Kamu mau langsung pulang atau mampir dulu?" Tanya Alya cepat.
"Mampir dulu dong, sayang! Perginya pamitan masa pulangnya kabur gitu saja, he.. he... he..." Kata Damar terkekeh.
Mereka akhirnya turun dari mobil bersama, untuk menemui Papa Hendra dan Mama Mentari. Damar merasa bersalah kepada kedua calon mertuanya, karena hampir menghancurkan masa depan calon istrinya.
"Andai saja saat dimobil terjadi sesuatu, yang hampir merenggut kesucian calon istriku. Sudah dipastikan besok hari, aku akan langsung menikahimu tanpa berpikir lagi. Bathin Damar bermonolog.
"Bie.." Panggil Alya, dengan menjentikkan jari tangannya di depan wajah Damar, karena dia sedang melamun.
"I.. iya sayang." Sahut Damar terkejut.
"Kamu melamun Bie? Sudahlah Bie, kalau kamu terus merasa bersalah, baiknya besok kamu lamar aku kerumah, dan sekarang bilang sama Papa dan Mama aku." Tantang Alya, karena dirinyapun merasa ikut bersalah, semua itu dilakukan karena suka sama suka.
"Baiklah, kalau itu yang kamu minta, aku akan mengabulkannya, sayang." Sahut Damar mantap.
"Engga begitu ceritanya Bie, aku ini hanya becandain kamu, habis kamu melamun terus dari tadi." Jelas Alya, bahwa ucapannya itu tidak serius.
__ADS_1
"Engga apa sayang, emang aku sudah berniat untuk menikahi kamu, cepat atau lambat kita pasti akan menikah, bukan? Jadi tidak apa dong kita menikah secepatnya?" Ujar Damar dengan gamblang.
"Tapi Bie, kata kamu habis Wisuda?"
"Wisuda masalah gampang, buktinya teman kamu Asyafa saja sudah menikah. Kalau kita juga menikah bukan masalah 'kan? Aku sudah tidak tahan, jika berdekatan denganmu! Aku takut khilaf lagi, sayang."
"Haah.. kamu mah mesum Bie."
"Bukan mesum, tapi cinta. Makanya aku pinginnya dekat-dekat kamu terus. Kamu engga tahu saja, seminggu kemarin itu pikiranku dipenuhi oleh wajah kamu dan senyuman kamu. Hanya aku tidak bisa jujur saja sama kamu, gengsiku terlalu besar saat itu, ditambah lagi kesalahpahaman kita." Jelas Damar jujur dari hati yang paling dalam.
"Iya deh.. ya sudah kalau itu yang terbaik untuk kita, ayo kita bicarakan masalah lamaran besok, dengan Papa dan Mamaku."
Damar dan Alyapun masuk kedalam rumah, yang sudah dibukakan oleh Mba Diah ARTnya.
"Mba, Mama sama Papa sudah tidur?"
"Belum Non, masih di ruang keluarga."
"Oooh.. begitu, terima kasih Mba Diah."
"Sama-sama Non."
Damar dan Alya berjalan menuju ruang keluarga, betapa terkejutnya mereka saat melihat Papa Hendra dan Mama Mentari.
"Wooow.."
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1