
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Damar terus memandangi wajah cantiknya Alya dari layar ponselnya, Alya yang ditatap seperti ingin menerkam, jadi salah tingkah dibuatnya. Meski hanya lewat layar ponselnya, tetapi mereka merasakan getaran-getaran cinta yang tidak bisa mereka tutupi.
"H.. hubby, kenapa diam saja? Kamu video call sama aku, tapi kamunya engga mau ngomong! Aach.. lebih baik aku matiin saja yah?" Bibir Alya mengerucut gemas nampak dilayar ponselnya, seketika Damar resah dengan tingkah Alya.
"J... jangan sayang!" Terlihat Wajah Damar yang panik, saat layar ponsel Alya akan dimatikan.
"A.. apa? Aku engga salah dengar 'kan? Kamu panggil aku sayang, Bie?" Alya mencari kebenaran, dari wqjah Damar yang nampak tidak rela kalau Video callnya harus berakhir.
"Heeemm.." Damar nampak bergumam dilayar ponselnya namun sedikit kepalanya mengangguk kecil.
"Kamu sekarang sudah ingat sama aku bukan, Bie?" Nampak wajah Alya yang berbinar senang.
"Belum." Damar menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau belum, kenapa bisa telpon aku?" Wajah Alya nampak kecewa, di layar ponselnya.
"Aku hanya ingin tahu saja, gadis yang akan aku nikahi itu seperti apa?" Nampak wajah Damar yang sedikit ketus, dan tidak bersahabat.
"Aiish.. biasa saja kali, wajah kamu jelek kalau ketus gitu." Alya meledek Damar dengan tersenyum menghina terlihat di layar ponselnya.
"Kalau wajah aku jelek, kenapa kamu mau menikah denganku?" Damar menaik turunkan alisnya, dilayar ponselnya.
Alya hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanpa berbicara lagi.
"Sudah kehabisan kata-kata yah? Sudah terpatri cintamu untukku yah?" Damar dengan wajah percaya diri, menggoda Alya seraya tersenyum menyeringai.
"Weeee.. nyebelin." Alya menjulurkan lidahnya, dan berdecak sebal.
"Ha.. ha.. ha.." Nampak Damar tertawa puas melihat Alya yang sedang marah kepadanya.
"Tertawa saja sesukamu, biar puas." Alya mengomel gemas nampak dilayar ponselnya, Damarpun lantas tersenyum melihat tingkal Alya yang mudah marah.
"Aku engga habis pikir, bisa menyukaimu dalam satu minggu saja!" Nampak wajah Damar yang menggoda, dengan menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Jelas dong, dalam satu minggu saja kamu bisa langsung menyukaiku, dan langsung mengajakku menikah, karena...!" Ucapan Alya terhenti, saat mengingat ciuman panasnya malam itu. Nampak wajah Alya berubah pucat, terlihat dilayar ponselnya.
"Karena apa? Kenapa engga diterusin kata-katanya." Damar nampak penasaran dengan kata-kata Alya yang terhenti, karena wajah Alya, seketika nampak pucat dilayar ponselnya.
Alya hanya menggelengkan kepalanya, lalu nampak air mata sudah menggenang dipelupuk matanya.
"Kamu menangis? Kenapa? Maaf jika ada kata-kataku yang salah." Nampak wajah merasa bersalah Damar, terlihat jelas oleh Alya.
"Engga, kamu engga salah, Bie." Alya menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum canggung.
"Tapi aku masih ingin dengar, kata terakhir kamu tadi." Nampak wajah Damar yang kecewa, saat Alya tidak ingin meneruskan kata terakhirnya.
"Kamu ingin tahu banget, Bie?" Tampak wajah Alya dengan senyuman yang menggoda, dan wajah yang sangat imut.
"Heemm.." Damar menampilkan senyuman terbaiknya.
"Besok kerumahku berani, engga?" Alya menantang Damar, dengan tersenyum menyeringai.
"Memangnya harus yah? Kamu dong yang datang kerumahku, mau engga?" Nampak wajah Damar yang berbinar, karena bisa membalikkan keadaan.
"Aku belum pernah kerumahmu, Bie." Nampak wajah malu-malu Alya namun menggemaskan terlihat diponsel Damar.
"Lagian baru seminggu juga kita dekatnya, itu juga seminggunya kamu salah paham sama aku." Terlihat wajah Alya yang merengut, dan kecewa.
"Salah paham? Maksudnya?" Damar mengernyitkan dahinya heran.
"Kamu salah paham sama sahabatku, dikiranya aku pacaran saat itu sama dia, padahal tidak." Nampak wajah serius Alya saat mengatakannya dilayar ponselnya.
"Ooh.. begitu yah?" Nampak wajah Damar tanpa ekspresi.
Alya hanya menganggukkan kepalanya kecil, lalu tersenyum canggung.
"Aku ingin bertemu denganmu, agar lebih cepat mengingat kembali dirimu." Tampak wajah Damar yang serius, dengan tatapan tajamnya seperti elang.
"Baiklah kalau begitu, siapa takut? Asal kamu tidak menolakku, seperti saat di Rumah Sakit, saat aku menjengukmu bersama Mama dan Papa." Nampak terlihat wajah sendu Alya, saat mengatakan hal itu dilayar ponselnya.
__ADS_1
"Iya.. iya.. maaf waktu itu, aku masih belum sembuh sakit kepalanya. Akupun belum tahu, kebenaran cerita dari Mama dan Papaku." Nampak wajah menyesal Damar, terlihat di layar ponselnya.
"Heemm.. aku sudah maafin kamu, Bie." Terlihat wajah ceria Alya dilayar ponselnya.
"Sampai ketemu besok yah, bantu aku untuk mengingatmu." Tampak senyuman manis, terukir di wajah Damar.
"Iya, hubby." Alya tersenyum mengembang membalas senyuman manis Damar.
Merekapun mengakhiri percakapannya, yang dilakukan melalui Video Callnya.
"Aku engga mengira gadis itu bisa membuatku jatuh cinta dengan mudah, apa lagi dengan hatiku? Mengapa terus berdebar-debar, saat melihat wajahnya dilayar ponsel? Apa benar yang dikatakan Mama, jika aku memang jatuh cinta dengan anak Om Hendra dan Tante Mentari? Sungguh aku penasaran dengan gadis itu." Hatinya Damar, terus bermonolog.
*******
Dikediaman rumah Alya Mentari, pagi-pagi sekalih Alya sudah bersiap diri dengan penampilan yang cukup styles.
Rambut dikuncir kuda, mengenakan kaos lengan panjang warna pink, celana levis panjang dan sepatu sneakersnya yang berwana senada dengan warna celana levisnya.
Mama Mentari tersenyum, melihat anak gadisnya, yang wajahnya nampak ceria, dan berseri hari ini.
"Sayang, kayaknya hari ini senang banget yah? Biasanya kalau mau berangkat ke kampus, wajahnya engga secerah ini?" Ledek Mama Mentari seraya tersenyum.
"Habis dopat asupan Vitamin rindu, Mam." Ucap Alya asal.
"Ooh.. jadi kamu sudah merasakan rindu sama Andi, walau tiap hari ketemu antar jemput? Apa engga bosen, sayang?" Ujar Mama Mentari salah tebak.
"Bukan Mam, bukan Andi yang Alya rindukan, tapi Damar Mam, hubbynya Alya yang selalu kurindukan." Jelas Alya dengan senang.
"Apa? Benarkah sayang? Kamu merindukan Damar? Memangnya kamu masih mengharapkannya, setelah penolakkannya saat itu?" Tanya Mama Mentari yang merasa ikut sedih, saat Damar menolaknya saat itu. Meski Damar hilang ingatan, tapi tidak sepantasnya dia mengucapkan kata-kata pedas saat itu.
Semenjak kejadian saat itu, Papa Hendra sebenarnya sudah tidak simpatik lagi dengan Damar. Meski mereka tahu Damar hilang ingatan tapi, setidaknya jangan mengatakan hal-hal yang kurang pantas didengar. Padahal sudah dijelaskan Alya anaknya Om Hendra dan Tante Mentari, dan mereka dijodohkan. Namun jawaban Damar sangat menyakitkan hati Kedua orang tua Alya.
"Damar semalam menghubungiku, lewat Video Call Mam. Ya sudah yah Mam, aku pergi dulu." Ucap Alya jujur seraya meninggalkan Mama Mentari yang masih shock dibuatnya.
"Kalian?"
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....