
Asyafa bergeming, menatap layar ponselnya sedari tadi. Dia takut Rayhan akan nekat datang ke Kafe, tempatnya berada sekarang. Bila perihal itu terjadi, maka sudah tidak ada lagi yang bisa ditutupi, dari teman - temannya termasuk Andi.
Sejujurnya, dia belum siap untuk mempublikasikan hubungannya dengan Dosen Rayhan. Dan dia juga masih menjaga hati teman - temannya yang akan kecewa dan cemburu kepada dirinya. Mengingat betapa banyak anak cewek kampus, yang menyukai dan menginginkan Dosen Rayhan. Terlebih Asyafa takut, akan hubungan baik yang selama ini bersama genknya akan merenggang.
Mungkin... jika situasi dan kondisinya sudah tepat, maka dia akan mengungkapkan hubungannya dengan Dosen Rayhan. Untuk sekarang ini dia hanya pasrah, jika benar Dosen Rayhan menyusulnya ke Kafe.
Alya melihat Asyafa yang sedikit muram, terlihat dari raut wajahnya. Dia langsung menghampirinya seraya berkata. "Kamu kenapa Sya? Habis telponan sama Dosen Rayhan? Kenapa wajah loe, terlihat tidak senang? " Alya membrondong pertanyaan penasaran.
"Itu.., anu Al." Asyafa gugup tidak bisa meneruskan ucapannya. Lalu dia menatap hambar, Alya didepannya.
" Sya, kalau bicara yang jelas! Loe itu kenapa?" Tanya Alya lagi, sedikit ngegas.
" Dosen Rayhan ingin kesini ngejemput gue Al." Ujar Asyafa berkaca - kaca. "Gue belum siap anak - anak tahu, gue bisa dibuli sama anak cewek sekampus besok. Gue takut Al, Apa yang harus gue lakuin? " Tanya Asyafa, seraya menangis sesegukan di pundak Alya bestynya.
Mendengar penjelasan Asyafa, Alya mengerti dengan apa yang ditakutkan oleh Asyafa. Mungkin jika posisi dia, sama dengan Asyafa. Pasti diapun akan melakukan, perihal yang sama. Namun kembali kepada Rayhan, semuanya memang berat menerima. Tapi suatu hari, pasti akan terbongkar juga.
Akhirnya Alya mencoba menenangkan Asyafa, yang sedang menangis. Agar tidak menaruh curiga, dengan temannya yang lain. Namun siapa sangka Andi melihatnya, lalu dia menghampiri mereka.
"Kalian sedang apa disini? Kenapa tidak bergabung dengan yang lain? Lalu itu kenapa Asyafa menangis? Bukankah ini hari bahagia kalian!" Tanya Andi penuh selidik dan penekanan, seraya ikut duduk disamping mereka.
Mendengar beberapa pertanyaan Andi, tanpa ragu Alya yang langsung menjawabnya.
" Engga ada apa - apa Ndi. Asyafa sama gue cuma ada someting, yang hanya kita berdua yang tahu. Maaf yah Ndi, kita engga bisa cerita sama loe." Ujar Alya menjelaskan secara tersenyum kikuk.
" Ooh.., begitu yah! Baiklah, saya undur diri. Maaf yah sudah mengganggu." Ucap Andi bernada kecewa dengan jawaban Alya.
__ADS_1
Keduanyapun mengangguk pelan, namun merasa tidak enak hati dengan sikapnya terhadap Andi.
Melihat keadaan sudah cukup membaik, dan Asyafapun sudah berhenti menangis. Alyapun menyarankan Asyafa untuk menghubungi Rayhan, dan menjelaskan dengan jujur. Lalu Asyafapun menyetujuinya.
Akhirnya Asyafapun mencoba menghubungi Rayhan, namun tidak ada jawaban darinya. Sampai berulang kali tetap masih tidak ada jawaban, dan akhirnya diapun menyerah.
Melihat Asyafa yang masih kecewa dan menggelengkan kepalanya, Alya langsung mengajak Asyafa bergabung kembali dengan yang lain. Namun Asyafa menolaknya, dan ingin bergegas pulang saja ucapnya.
"Sepertinya Dosen Rayhan tidak jadi kesini Sya." Ucap Alya, seraya melirik jam tangannya. Alyapun akhirnya pulang juga, karena memang sudah hampir petang.
Mereka akhirnya berpamitan kepada teman - temannya, untuk pulang lebih dulu. Namun temannyapun sama hendak pulang juga, dan semuapun meninggalkan Kafe tersebut.
Asyafa dan Alya datang ke kasir untuk membayar tagihan semua anak - anak, namun sudah di bayar oleh seorang pria. Ujar seorang Kasir wanita itu.
Rasa penasaran membuat Asyafa, menanyakan siapa nama pria itu yang membayar BIL nya. Namun Kasir wanita itu, tidak mengetahuinya. Lalu Asyafapun menanyakan, ciri - ciri dari pria itu. Kasir wanita itu menjawab. "Dia tinggi ideal, kulitnya putih kemerahan, namun dia mengenakan kaca mata hitam, dan topi. Jadi dia, tidak bisa mengenali wajahnya."
"Mungkin saja Sya! Coba loe tunjukin foto Dosen Rqyhan pada kasir itu." Ucap Alya memberi saran.
Asyafapun mengeluarkan ponselnya, dan menunjukan Foto Rayhan kepada Kasir wanita itu. Namun Kasir itu, sedikit mengernyitkan dahinya. Kemudian diapun menganggukan kepalanya kecil.
Melihat pergerakan Kasir tersebut, mereka memang yakin kalau itu adalah Rayhan.
"Terima kasih yah Mba, saya mohon maaf mengganggu waktunya." Ujar Asyafa, seraya tersenyum ramah.
"Tidak apa - apa, saya senang bisa membantu." Ucap Kasir itu tulus.
__ADS_1
Akhirnya, merekapun bergegas meninggalkan Kafe tersebut. Namun waktu sudah menunjukan pukul 18.15 WIB, tiba saatnya untuk mereka menunaikan Ibadah tiga Rakaat. Setelah menunaikan kewajibannya sejenak, merekapun menuju parkiran mobilnya sendiri. Sebelum berpisah mereka berpelukan, dan mengucapkan selamat jalan dan berhati - hati.
Asyafa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia membelah jalanan dengan hati senang dan bahagia. Apa yang di lakukan Rayhan hari ini, sangatlah manis menurutnya. Namun dia merasa heran, mengapa Dosen Rayhan datang menyamar, dan tidak ada satupun orang yang mencurigainya. Asyafa menggelengkan kepalanya, sesekali tersenyum sendiri.
Sesampainya didepan rumah, seperti biasa Bapak Satpam membukakan pintu pagar otomatisnya. Dengan ramah, Asyafa mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Pak Satpam sangatlah senang, dengan perlakuan anak Tuannya itu. Karena keluarga Tuan Bernad Dorman, tidak membeda - bedakan orang dari Statusnya.
Asyafa memarkirkan mobilnya, tepat di dalam garasi rumahnya. Namun dia sedikit heran, sepertinya ada mobil Rayhan terparkir di sampingnya. Lalu Asyafapun penasaran, seraya berucap. "Apa mungkin, Rayhan ada di dalam rumahnya." Hatinya bergumam.
Setelah memasuki kedalam rumah, seperti biasa Mbo Ijah selalu menyambut Nona mudanya itu, dengan ramah dan senang. Demikian juga, Asyafa sudah menganggap Mbo Ijah, seperti Neneknya sendiri. Dari kecil dia tidak mengenal sosok seorang Nenek, dari Ibunya sudah tidak ada kakek dan neneknya. Hanya tinggal Paman dan Bibi yang ada di Bogor, tersisa sanak saudara Ibu. Sedangkan di Belanda, tersisa Grandmother (Omah) itupun terakhir kali sewaktu masih kecil melihatnya.
Dia menanyakan kepada Mbo Ijah. "Apakah ada Rayhan, datang kesini Mbo?" Lalu Mbo Ijah hanya mengangguk kecil, tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Terima kasih Mba." Ucap Asyafa, lalu meninggalkan Mbo Ijah, untuk mencari keberadaan Rayhan, dan Ibunya.
Asyafa mengedarkan pandangannya kesemua isi rumah, ruang tamu tidak ada, ruang makan tidak ada, ruang keluarga tidak ada. Sampai di dapurpun, masih tidak ada. Lalu diapun menanyakan kembali kepada Mbo Ijah, dimana Ibu dan Rayhan berada.
"Mereka ada di lantai paling atas Non, Asyafa." Jawab Mbo Ijah.
"Baik Mbo, terima kasih! Saya kesana dulu yah Mbo." Pamit Asyafa, seraya berjalan cepat.
Sesampainya di lantai paling atas, dia langsung ingin membuka pintu jalan, kearah ruangan GAJEBO. Namun dia tampak ragu, hatinya mulai bertanya. "Mengapa mereka ada di sini." Begitulah isi hati Asyafa kira - kira saat ini. Perlahan Asyafa membuka pintu tersebut.
"Kreek.. !
"Surperise..!" Pekikan Ibu, Ayah dan Rayhan.
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--