TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Salah Tingkah


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Alya langsung melongo, saat Damar menyatakan cintanya, padahal belum satu hari dia bersamanya, dengan mudahnya dia jatuh cinta. Pikiran Alya terus terngiang ucapan Damar, dan wajah menggodanya itu.


"Kamu kenapa melongo gitu? Engga percaya atau masih shock dengarnya?" Tanya Damar seakan meledek wanitanya, yang begitu menggoda imannya, hingga dia memberanikan diri untuk menatapnya intens.


Sontak saja Alya langsung waspada, dia menutup bibirnya rapat-rapat dengan kedua tangannya, agar tidak kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya.


Damar yang melihat tingkah Alya yang seakan menjaga diri, langsung terkekeh geli karena wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Aiish.. jangan mentertawakanku, aku malu!" Seloroh Alya polos, hingga membuat Damar makin tertawa kencang. Sontak saja tangan Alya langsung membekap mulut Damar, agar berhenti tertawa.


"Eeeemmmm." Gumam Damar dalam bekapan tangan Alya, mata Damar menyorot tajam menatap Alya, dengan dahinya yang dikerutkan, sejurus kemudian, tangan Damar langsung mengangkat Alya dalam gendongannya.


Sontak saja Alya langsung melepaskan tangannya dari mulut Damar, kemudian melingkar indah dilehernya. Dengan kedua kaki, yang bertengker menyilang dipinggang milik Damar.


"Hubby.. turunin iih.. malu dilihatin orang... !" Seru Alya dengan berteriak. membuat orang yang baru saja melintas didekat mereka, seketika tersenyum dan tertawa. Namun ada juga yang menatap tidak suka, dan iri. Namanya juga netizen, pasti saja ada pro dan kontra 😅😅😅


"Tapi janji dulu kalau mau diturunin, kamu harus mau nonton filmnya!" Seru Damar, dengan dia mengajukan satu syarat.


"Iya.. iya.. kita jadi nonton filmnya." Ucap Alya cepat seraya mengangguk setuju.


"Baiklah kalau begitu, haap.." Ucap Damar seraya menurunkan Alya dengan perlahan.


Tanpa berbicara lagi, saking malunya Alya berjalan cepat menuju pintu gedung bioskop. Tanpa ragu dia melewati petugas yang berjaga dipintu masuk bioskop. "Maaf Mba, tolong tunjukkan tiketnya." Pinta Petugas itu tanpa ragu, sontak saja Alya menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan kearah Damar. Alya semakin malu dibuatnya, lalu menatap Damar kesal.


Damar yang melihat Alya begitu panik, Damar tertawa senang melihat tingkah calon istrinya itu. "Tingkahmu menggemaskan sayang." Ucap Damar dalam hati.


"Ini Pak tiket masuknya." Ucap Damar saat memberikan tiket itu ketangan petugas tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas.. ! Filmnya sudah dimulai beberapa menit yang lalu, selamat menonton." Ucap Petugas itu ramah, seraya mengembalikan tiket masuk bioskopnya, setelah dicap oleh petugasnya.


"Iya Pak, sama-sama." Ucap Damar ramah, seraya menerima tiket masuk tersebut, yang tertulis nomor bangku pengunjung. Lalu Alyapun mengangguk pelan.


Alya berjalan dengan mencari nomor urut bangku, yang tertulis di tiket masuk tersebut, karena lampu sudah dimatikan, cahaya hanya dari layar bioskop yang menyala, akhirnya diapun menunggu Damar masuk.


"Kenapa masih disini, sayang?" Tanya Damar tersenyum menggoda, pasalnya dia tahu jika film sudah diputar, pastinya ruangan akan dipadamkan. Sudah dipastikan Alya, akan kesulitan mencari tempat duduk.


"Kamu meledekku? Gelap gitu jalannya." Kata Alya sebal, langsung mengerucutkan bibirnya.


"Aiishh... ha.. ha.. ha... sudah aku bilang, bibir kamu jangan dimanyunin gitu, nanti aku benar-benar akan membungkamnya lagi." Tawa Damar pecah, seraya memberi ancaman mesra.


Sontak saja Alya langsung mendelik memutar matanya sebal, lalu menarik bibirnya yang tadi dia manyunkan.


Melihat itu, Damar menarik sudut bibirnya tersenym tipis, seraya menggelengkan kepalanya pelan. Dimatanya sekarang Alya begitu manis, menggemaskan dan meresahkan hatinya.


Tanpa menjawab pertanyaan Alya, dia langsung menautkan jari tangannya ke jari tangan Alya. Lalu dia menyalakan mode senter di ponselnya, untuk dia jadikan penerangan jalan mereka saat mencari nomor bangkunya.


Setelah mereka berjalan semakin masuk kedalam, Alya merasa senang melihat Damar yang menjaga dirinya dari kegelapan. Jari tangan mereka masih saling bertautan, tidak terasa nomor bangku mereka sudah ketemu.


"Ayo sayang, duduk disini." Kata Damar, seraya menepuk bangku yang akan diduduki oleh Alya.


"Terima kasih, hubby." Ucap Alya senang, kemudian duduk disamping Damar, tanpa niat melepaskan tautan jari tangannya.


"Iya sayang..." Bisik Damar ditelinga Alya dengan mesra, seraya mempererat tautan jari tangan mereka. Seketika wajah Alya memanas, merasakan hembusan napas Damar yang mampir ditelinga dan lehernya.


"Ceritanya sudah separuh jalan sayang, jadi engga tahu awal mulanya." Kata Damar, berbisik lembut disamping Alya.


Sedang Alya hanya bergumam pelan "Heeem.."

__ADS_1


"Kamu suka filmnya, sayang?" Tanya Damar masih berbisik di telinganya Alya, namun hal itu makin membuat Alya merasakan panas disekujur tubuhnya, dan bulu kuduknya ikut berdiri merasakan hembusan napas Damar yang sedari tadi mampir dilehernya.


"H.. hubby, bisa diam tidak? Jangan berbicara dan berbisik ditelingaku terus, hembusan napasmu membuatku merinding." Ujar Alya protes dengan suara bisikan Damar dengan hembusan napasnya yang membuat resah dirinya.


Sontak saja, Damar langsung tertawa nyaring hingga tidak sadar, depan, belakang, samping kiri, dan kanan, ada orang lain juga yang sedang menonton Film.


"Tolong jangan berisik kalau sedang menonton, kalau mau berisik kalian keluar saja." Kata seorang gadis di samping Alya, dengan wajah jutek yang dia tunjukkan untuk mereka.


"Iya Mba, kami minta maaf." Ucap Alya ramah, lalu Damar mengangguk kecil serta tersenyum kecut.


"Jutek banget simbanya, mirip kamu kalau sedang marah." Ledek Damar, seraya berbisik ditelinga Alya, sontak Alya langsung mencubit pinggang Damar kesal, dengan jari tangan kanannya, yang terbebas dari tautan jari tangan Damar.


Damar mengaduh manja, lalu menautkan jari tangan kanan Alya, dengan jari tangan kirinya tersebut, kemudian kedua jari tangan Alya langsung Damar kecup bertubi-tubi dengan mesra. Setelah itu Damar melepaskan tautan jari tangan mereka, namun dia menarik pundak Alya, untuk bersandar di dada bidangnya. Tangan kanan Damar, mengusap pundak, pangkal lengan kanan Alya lembut.


Tanpa penolakkan, Damarpun mengecup puncak rambut kepala Alya dengan lembut, dan menautkan kembali jari tangan kiri mereka. Keduanyapun terhanyut dalam pikiran masing-masing, karena mata mereka fokus menatap layar lebar didepan, yang menampilkan film action, sedangkan hati mereka merasakan desiran-desiran hasrat cinta yang membuncah.


"Apa kamu sudah mencintaiku juga, sayang?" Tanya Damar sangat hati-hati dengan suara lembutnya, terdengar degup jantung Damar dari punggung Alya, dan helaan napasnya yang memburu. Hati Alyapun menghangat seketika, ada benih-benih cinta mulai tumbuh.


Tapi Alya masih tidak ingin jujur kepada Damar, karena terlalu cepat pikirnya. Lalu Alya mendongak keatas, untuk melihat ekspresi wajah Damar, yang sedikit samar karena minimnya penerangan diruangan itu.


"B.. belum!" Kata Alya gugup, namun dia tersenyum manja kepadanya, dan salah tingkah dibuatnya.


"Iiish.. belum? Tapi senyum-senyum gitu! Salting 'kan jadinya? Jangan meresahkan hatiku, sayang." Ucap Damar gemas ingin rasanya, mencium bibir manis Alya sekali lagi, kalau tidak mengingat banyak pasang mata didekat mereka.


"He.. he... he.."


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2