
"Anak Mama... !" Seru Mama Ningsih, seraya berjalan cepat ke arah Damar dan langsung menangkup wajah anaknya nanar.
"Mam, Pap.. !" Panggil Damar lirih.
"Iya... sayang!" Jawab Mama dan Papa bersamaan.
"Mengapa bisa seperti ini sayang? Mama tidak tega melihat ini, tubuh kamu makin kurus seperti ini." Tanya Mama Ningsih, seraya menelisik keadaan anaknya itu.
"Aku tidak apa-apa Mam, hanya kecapean dan kurang cairan saja kata Dokter." Jawab Damar jujur.
"Kamu harus banyak minum air putih, kalau begitu sayang. Makan makanan bergizi dan sehat, nanti Mama dan Papa akan segera berusaha membebaskan kamu." Nasehat Mama Ningsih seraya menepuk-nepuk tangan Damar pelan.
"Iya.. Mam, Pap, Kak Siska dan Kak Indra, terima kasih atas perhatian kalian dan nasehatnya Mam, aku akan sabar dan bertahan." Ucap Damar yakin, tanpa di sadari matanya berkaca-kaca.
"Maafkan Mama dan Papa, yang selama ini sudah tidak perduli kepadamu, dan sudah menyia-nyiakan waktu berharga bersamamu. Jika kamu sudah bebas, Mama berjanji akan lebih memperhatikanmu dan menyayangimu lebih dari apapun. Mama akan berhenti bekerja mulai hari ini, cukup Papa saja yang bekerja, bukan begitu Pap?" Ujar Mama Ningsih, seraya bertanya kepada suaminya untuk meminta pendapatnya.
"Iya.. sayang, mulai hari ini biar Mama berhenti bekerja dan menjadi Ibu Rumah Tangga saja." Ucap Papa Ardi yakin, lalu Mama Ningsih menganggukkan kepalanya sedikit dan tersenyum merekah.
"Kak Siska juga akan sering-sering berkunjung ke Mension, untuk bertemu dengan adikku tercinta dan juga Mama, Papa tersayang." Ucap Siska, seraya merangkul Damar beserta Orang Tuanya.
Damar yang mendengar celoteh Kakaknya itu, seketika langsung berbinar cerah terpancar di wajahnya.
"Kamu aku suapi makannya yah, dik?" Tanya Siska tanpa menunggu jawaban dari Damar, langsung di ulurkan sendok berisi nasi dan sayur di depan mulut Damar.
"Aaaaa... buka dong, mulutnya dik!" Seru Siska tersenyum merekah.
Akhirnya Damar mau makan dengan di suapi oleh Kakaknya, sampai habis tanpa sisa. Melihat itu, Mama dan Papa seketika langsung lega.
"Semoga Damar sayang, lekas sembuh dan kembali pulang ke rumah. Aamiin... " Ucap Mama Ningsih tersenyum bahagia.
"Aamiin... !" Di ucapkan oleh Papa Ardi haru, dan di ikuti oleh Damar dan Siska juga.
"E... heeem... ! Maaf Tuan dan Nyonya, jam besuk anda sudah habis, silahkan untuk kembali besok hari. Saudara Damar masih dalam penjagaan dan pengawasan kami dari pihak Kepolisian, terima kasih atas kerja samanya." Ucap Sipir penjara dengan lantang dan sopan.
"Baik Pak, terima kasih atas informasinya. Kami akan segera meninggalkan Damar secepatnya." Ucap Tuan Ardi sopan, lalu di anggukan oleh Sipir penjara tersebut.
"Damar sayang, besok Mama dan Papa akan datang membesuk kembali. Cepat sehat, jangan pernah melupakan makan dan minum yah." Nasehat Mama tulus, seraya mengecup puncak kepala anaknya lembut.
__ADS_1
"Iya Mam, terima kasih." Ucap Damar bahagia.
"Kakak juga pulang dulu yah, adikku sayang." Ucap Siska seraya mengusap pucuk rambut Damar pelan.
"Iya.. Kakak, he.. he.. he.. !" Ucap Damar seraya terkekeh.
Akhirnya mereka meninggalkan Damar seorang diri dengan perasaan tenang, karena kondisi Damar sudah lebih baik.
*******
Di kediaman Tuan Beni, saat ini Mama Jovanka sedang berbincang bersama keluarga adiknya, dan suami juga anak dan menantunya. Mereka membahas soal bulan madu Rayhan dan Asyafa.
"Sayang, apakah kalian mempunyai rencana berbulan madu?" Tanya Mama Jovanka antusias seraya tersenyum merekah.
"Iya.. Mom, kami punya rencana bulan madu, namun belum tahu tujuannya kemana, bukan begitu cinta?" Ucap Rahyan, seraya bertanya juga kepada istrinya.
"Kalau aku, ikut kata Kakak saja, Mom! Aku pasti setuju." Jawab Asyafa patuh seraya tersenyum hangat.
"Kalau Mama boleh usul, bagaimana kalau kalian bulan madu ke Belanda sayang, bisa mengenang masa kecil kamu, sayang." Usul Mama Jovanka, seraya menatap wajah anak dan menantunya penuh harap.
"Tapi istri kamu sudah lama tidak ke sana, bukan?" Tanya Mama Jovanka, meminta dukungan menantunya.
"Iya.. Mom, aku rindu suasana di Belanda." Ucap Asyafa jujur, memancarkan rasa bahagia.
"Ya sudah cinta, kalau kamu mau bulan madu ke Belanda." Ucap Rayhan sedikit ragu, namun dia mencoba menerima apa yang Mama dan istrinya inginkan.
"Okay, jadi kalian bulan madu ke Belanda, bareng Uncle Jonathan saja sekalian yah?" Usul Mama Jovanka.
"Yes.. my dear nephew, kalian bisa bareng kami berangkat besok pagi. Kami akan memesan tiket pesawat malam ini sekalian, jika kalian sungguh-sungguh akan pergi ke Belanda. Soal Hotel atau penginapan, kalian bisa menginap di Hotel kami dan Hotel Papa kamu juga, Ray." Ucap Uncle Jonathan.
"Okay, Uncle Jonathan.. kalau begitu saya pesan tiket pesawat ke Belanda malam ini." Ucap Rayhan tersenyum simpul.
"Aduh.. Mama jadi ingin ikut kalian sayang." Ucap Mama Jovanka senang, seraya menatap anak dan menantunya lekat.
"Kalau Papa mengizinkan, boleh saja Mom!" Seru Rayhan mengerling nakal.
Papa Beni yang mendengar namanya di bawa-bawa langsung saja menyela.
__ADS_1
"Tidak bisa Dude, Papa banyak pekerjaan di sini. Apa lagi Papa akan pergi ke Bandung untuk menemui adik Papa Bari Darma, untuk menyelesaikan masalah Perusahaan Kakek Jaya, Dude." Tolak Papa Beni seraya menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Pap, kalau boleh tahu sebenarnya Bari Darma itu siapa, dan apa hubungannya dengan Kakek?" Tanya Rayhan yang sedari kemarin sudah penasaran, namun belum ada waktu untuk membahasnya.
"Sebenarnya ini salah Papa semua, karena Papa tidak bisa menjaga adik Papa dengan baik selama ini. Akhirnya, sekarang adik Papa Bari sudah menjadi tamak, kejam dan jahat kepada Kakek Jaya juga kepada Saudaranya sendiri." Ujar Papa Beni panjang lebar.
"Ooh... jadi begitu masalahnya, Pap!" Seru Rayhan yang diangguki oleh Papa Beni.
"Mama kira, Bari sangat baik selama ini sayang!" Seru Mama Jovanka tidak menduga.
Asyafa dan Uncle Jonathan, serta istri dan anaknya William tidak mencampuri masalah Papa Beni, karena tidak menahu asal muasal duduk permasalahannya.
"Maafkan Papa yah, Dude dan mantu Papa sayang, kalau Papa dan Mama tidak bisa menemani kalian berbulan madu." Ucap Papa Beni penuh penyesalan, yang di ikuti oleh Mama Jovanka. Kemudian Asyafa dan Rayhan mengangguk kecil seraya berucap.
"Tidak apa-apa Pap, Mom... kami mengerti dengan kesibukan kalian." Ucap Rayhan pengertian seraya mengerlingkan matanya nakal.
"Aiis.. Son, sepertinya kamu lebih senang jika pergi berdua saja, tidak ada yang mengganggu. Ha.. ha.. ha.." Tuding Mama tanpa beralasan, seraya tertawa puas.
"He... he... he... ! Mama pengertian sekali." Ucap Rayhan menggoda, seraya terkekeh.
"Kak, kita pulang ke rumah Ibu dan Ayah untuk memberi kabar, keberangkatan kita ke Belanda besok hari." Ucap Asyafa.
"Okay.. cinta, sekarang juga kita ke sana." Ucap Rayhan seraya berpamitan.
"Mom, Pap, Uncle, Aunt and Brother, kita pamit dulu untuk pulang ke rumah Ibu dan Ayah dahulu, besok pagi kita kembali ke sini untuk berangkat bersama ke Bandara." Ujar Rayhan berpamitan seraya bersalaman dengan takzim, lalu di ikuti oleh istrinya.
"Baiklah Son, hati-hati di jalan, salam buat Ibu dan Ayah mertua kamu, Son." Ucap Mama Jovanka tulus.
"Iya.. Mom." Jawab Rayhan seraya di anggukkan oleh Istrinya.
Mereka akhirnya meninggalkan kediaman Papa Beni dengan hati senang.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih......
__ADS_1