
Setelah kepergian Tuan Ardi beserta istri dan anaknya, Tuan Beni dan keluarga menemui Kakek Jaya Darma dan adiknya Dewi berkumpul kembali di ruang keluarga.
Rayhan dan istrinya membantu Bulek Dewi untuk berkemas-kemas. Sedangkan Mama Jovanka menyiapkan oleh-oleh, yang sudah dia beli kemarin di pusat perbelanjaan. Lalu Papa Beni menghampiri Kakek Jaya yang sedang duduk sendiri, seraya menanton TV.
"Pap, penerbangan ke Yogyakarta hari ini pukul 13.00 siang. Sebentar lagi kita akan berkemas untuk menuju Bandara Soekarno Hatta." Ucap Tuan Beni berbicara dengan pelan dan lembut, seraya menyentuh tangan Papanya itu dengan menggenggam erat, menyamakan posisi tubuhnya dengan membungkuk di depannya.
Kakek Jaya Darma hanya tersenyum, dan mengangguk pelan seraya berucap terbata.
"B.. be.. ni.. a.. anak... ku... S.. sa.. yang.. !"
Mendengar ucapan Papanya yang seakan berat dan terbata-bata, Beni langsung memeluknya dengan erat, seakan tidak ingin berpisah lagi dengan Papanya itu. Tangisan Beni pecah, meraung sejadi-jadinya agar dia bisa mengeluarkan rasa sesak yang bersarang di dadanya.
Seketika suasana menjadi hening, ketika semua menoleh ke arah sumber suara tangisan yang terdengar sangat pilu dan menyayat hati. Mereka yang melihat Papa Beni menangis di pangkuan Kakek Jaya, ikut berhambur menghampiri keduanya. Begitu pula dengan Uncle Jonathan dan istrinya Stepani juga anaknya William turut menghampirinya.
"Ada apa Kakak? Mengapa kau menangis seperti itu?" Tanya Dewi yang bingung melihat Kakaknya menangis, seraya menyentuh punggungnya lembut.
Beni sontak terkejut dengan sentuhan yang terasa di balik punggungnya itu, lalu diapun menoleh ke belakang dan mendapati adiknya yang bertaya. Seketika Beni langsung memeluk adiknya yang masih menahan isak tangis derai air mata.
"Kakak tidak menjawab pertanyaanku? Jangan seperti ini dong Kakak, ayo katakan ada apa?" Tanya Dewi lagi yang masih penasaran, sama halnya dengan mereka yang mendekat ke arah Papa Beni.
"T.. tidak dik, Kakak hanya bersedih kalau harus berpisah lagi dengan Papa. Tadi Kakak mendengar Papa berbicara meski dengan terbata-bata." Jawab Papa Beni seraya mengurai pelukannya.
"Kita masih bisa berjumpa Kak, Kakak bisa berkunjung ke Yoyakarta, atau kami yang akan datang ke sini. Sekarang jaman sudah canggih, bisa dengan menelpon atau vidio call." Ucap Dewi menenangkan seraya menepuk-nepuk punggung Kakaknya lembut, lalu ikut mengurai pelukannya.
"Dik, apa boleh jika Papa tinggal di sini saja untuk sementara." Tanya Beni dengan wajah berbinar.
"Coba aku tanya dulu sama Papa.. !" Seru Dewi, seraya mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Papa Jaya.
"Pap, apakah Papa mau tinggal bersama Kakak Beni di sini?" Tanya Dewi lirih seraya menggenggam tangan Papanya dengan erat.
Papa Jaya mengangguk pelan, namun detik kemudian menggeleng. Membuat heran Dewi dan mereka yang sedang melihat ke arah Jaya Darma.
"Apa maksudnya Pap, sebentar ia lalu sebentar tidak?" Tanya Dewi bingung dengan ucapan Papanya.
__ADS_1
"M.. mau t.. tapi t.. tidak P.. papa i.. ingin p.. pulang." Ucap Kakek Jaya terbata.
"Jadi maksudnya, Papa ingin pulang ke Yogyakarta saja?" Tanya Dewi lebih yakin.
Papa Jaya mengangguk pelan, lalu berucap.
"B.. ba.. ri.. !"
"Maksud Papa, Kakak Bari?" Tanya Dewi lagi.
Papa Jaya menganguk pelan lagi, lalu tersenyum.
"Kak, sepertinya Papa ingin Kakak Beni membereskan masalah Kak Bari secepatnya. Bukan begitu Pap?" Ucap Dewi seraya bertanya kepada Kakek Jaya.
"I.. iya." Jawab Kakek Jaya seraya mengangguk kecil.
"Sepertinya apa yang aku pikirkan tidak salah Kak!" Seru Dewi meyakinkan.
"Secepatnya masalah Bari akan Kakak tuntaskan, namun akhir-akhir ini Kakak sibuk mengurusi Perusahaan yang baru di buka dan acara Pernikahan Rayhan. Ketika Rayhan akan menikah, Kakak coba mengundang Bari untuk datang, namun tidak ada jawaban dan tidak juga datang." Ujar Papa Beni panjang lebar.
Percakapan Kakak dan Adik itu membuat Rayhan dan Mama Jovanka bertanya-tanya, sedangkan Asyafa tidak ingin mencampuri masalah mertuanya. Keluarga Uncle Jonathan juga tidak ingin terlibat dengan masalah Kakak iparnya, jadi mereka hanya diam tanpa berkomentar.
"Sayang.. sudahlah, sebentar lagi pukul 11 siang, waktunya untuk mengantar mereka kembali ke Yogyakarta." Ucap Mama Jovanka mengingatkan.
"Iya.. sayang, maaf kalau Papa membuat kalian terkejut dengan masalah ini." Ucap Papa Beni menyesal.
"Tidak apa sayang, jika sudah tenang Papa bisa membicarakan masalah ini dengan kami." Ucap Mama Jovanka seraya menepuk-nepuk tangan suaminya pelan.
Akhirnya mereka bersiap untuk mengantarkan Kakek Jaya beserta keluarga Bulek Dewi ke Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan ditempuh dengan waktu kurang lebih satu jam, mereka sampai di Bandara.
Masih ada waktu satu jam untuk pesawat lepas landas, mereka melepaskan rasa perpisahan yang teramat sedih dan haru.
"Papa.. Beni akan secepatnya menyelesaikan masalah Bari. Papa tenang saja yah, Beni janji akan memberi yang terbaik untuk Papa dan waktu yang terlewatkan selama ini. Papa harus sehat dan bahagia selalu. " Janji Beni kepada Papanya seraya memeluk dan mengecup keningnya lembut.
__ADS_1
"I.. iya." Ucap Kakek Jaya seraya mengangguk kecil.
Mama Jovanka, Rayhan dan istrinya juga ikut melepas kepergian mereka dengan sedih dan haru. Demikian juga dengan Uncle Jonathan dan keluarganya, turut bersalaman melepas kepergian Kakek Jaya dan anak cucunya.
"Kakak cantik dan Kakak ganteng, kapan-kapan berkunjung ke Yogyakarta yah!" Seru Dira ketika berpamitan dengan mereka.
"Iya.. sayang, Insya Allah kita akan kesana nanti." Jawab Asyafa senang, seraya mengelus rambut si kembar lembut.
"Nanti, kalau Kakak cantik sudah punya Baby lucu kembar kayak kami, aku pingin gendong yah! He.. he.. " Ucap Dara berhayal dengan ekspresi lucu.
"Kamu sih kejauhan mikirnya! Baru juga nikah, masa sudah langsung punya Baby? Dasar Dara halu.. huuh... !" Sarkas Dira menatap Dara sebal.
"Memangnya kenapa? Bisa saja dong, Kakak cantik langsung punya Baby. Iya 'kan Kakak cantik?" Tanya Dara seraya menatap Asyafa dengan tatapan cerah di wajahnya.
Asyafa hanya tersenyum melihat tingkah si kembar, tanpa bisa berkata lagi.
"Sudah adik Kakak yang cantik, tidak usah berdebat lagi yah. Doa'kan yang terbaik untuk Kakak cantik dan Kakak ganteng saja yah." Ucap Rayhan menengahi kedua adiknya itu.
"Iya.. Kakak ganteng." Ucap Dara dan Dira bergantian.
"Terima kasih sayang, ini baru adik-adik Kakak yang cantik dan pintar." Ucap Rayhan seraya mengusap dan mengecup kening si kembar lembut.
Merekapun yang ada di sana seketika ikut tertawa melihat kelucuan si kembar, jika sudah berdebat tidak ada yang mau mengalah.
"Hati-hati di jalan, Kakek Jaya dan Bulek Dewi serta Paklek Dimas juga si kembar. Semoga selamat sampai tujuan yah semuanya. Aamiin.. " Ucap Rayhan seraya melambaikan tangan, yang di ikuti oleh Papa, Mama dan keluarga Uncle Jonathan.
"Aamiin.. Terima kasih, kami sayang kalian." Ucap Bulek Dewi berkaca-kaca.
Akhirnya Kakek Jaya, dan juga Bulek Dewi, beserta suaminya Paklek Dimas, dan anaknya si kembar Dara dan Dira masuk kedalam Bandara untuk melakukan check in terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam pesawat untuk lepas landas.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih......