TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Meninggalnya Papa Thomas


__ADS_3

Setelah Bernad mengetahui kebenaran tentang berkas-berkas dan bukti-bukti biaya pengeluaran yang di lakukan di luar kebutuhan Perusahaan. Secepatnya Bernad menghampiri Kakaknya itu ke ruangan kerjanya.


"Kak Charles, bagaimana caranya untuk membuat Kakak sadar? Apa yang Kakak lakukan ini salah, Kak!" Seru Bernad marah dan geram dengan sifat Kakaknya.


"Apa maksudmu, Dik? Kakak tidak mengerti apa yang kau katakan?" Tanya balik Charles, berpura-pura menyangkal ucapan adiknya.


"Kakak masih tidak ingin mengakui kesalahan Kakak apa?" Tanya Bernad mulai bernada tinggi.


Charles bergeming, hanya menatap benci ke arah Bernad yang sedang marah kepadanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Kak, kalau terus begini.. maka masalah ini akan aku laporkan kepada Papa." Ancam Bernad, seraya meletakkan berkas dan bukti penggelapan anggaran biaya Perusahaan di atas meja kerja Charles.


"Ini apa, Dik?" Tanya Charles, seakan berpura-pura bodoh.


"Jangan bersandiwara, Kak? Aku tidak akan tertipu lagi dengan kata-katamu sekarang." Sarkas Bernad dengan telak.


Charles hanya tersenyum menyeringai, dia seakan tidak terima dengan tuduhan yang menyudutkannya. Meski ucapan adiknya bernada ancaman, namun dia tahu jika Bernad takan tega melakukannya.


Charles berpikir untuk mencari akal, agar dia terbebas dari tuduhan adiknya itu. Kali ini dia tidak bisa menganggap enteng masalah ini, Bernad adalah batu krikil yang bisa menghambatnya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Untuk apa aku bersandiwara, Dik? Aku memang tidak mengerti apa yang kau bicarakan dan tuduhkan kepadaku." Elak Charles seraya tersenyum hangat.


"Kak, ini sudah jelas tanda tanganmu, bukti kwitansi dan berkas ini yang menyatakan pengeluaran sebesar ini untuk biaya Operasional Perusahaan, namun barangnya tidak ada alias Nol besar." Jelas Bernad seraya menunjukkan kwitansi yang bertuliskan nominal harga dan jumlah barang yang di bayar.


Melihat Bernad dengan penuh amarah dan emosi, Charles mulai merayu Adiknya itu.


"Dik, sabar dulu lah, jangan emosi. Ini bisa di bicarakan dengan baik-baik." Ucap Charles bernegosiasi.


"Untuk apa Kak, uang sebanyak itu? Aku bertanya sekali lagi, Kak!." Tanya Bernad lebih lembut nada bicaranya.


"Untuk bersenang-senang dan menikmati hidup." Jawab Charles dengan entengnya tanpa dosa.


"Dengan wanita-wanita Ja *lang di luar sana hah..? Apa Kakak masih belum cukup dengan satu wanita saja, Kak? Kasihan istri dan anak Kakak." Ujar Bernad ingin menyadarkan Kakaknya itu.


"Ha.. ha.. ha.. ! Sok suci kamu, Dik." Hina Charles.


"Sadarlah Kak, apa yang kau lakukan akan mendapatkan balasan yang setimpal." Nasehat Bernad yang tidak di dengar oleh Charles sama sekali.


"Tidak usah menasehatiku, kau hanya seorang adik yang lemah, tidak bisa mengancamku dengan hanya satu bukti itu." Sarkas Charles merendahkan Bernad.

__ADS_1


"Ya sudah, jika Kakak tidak mau mengakui kesalahan dan tidak meminta maaf kepada Papa, biar aku saja yang akan mengatakan sebenarnya kepada Papa." Ucap Bernad pada akhirnya, lalu dia pergi meninggalkan Kakaknya dengan perasaan kecewa.


"Sebelum Kau mengatakan kebenarannya, aku yang terlebih dahulu akan menghancurkanmu, Dik." Gumamnya pelan.


Akhirnya Charles menghubungi Papanya lewat saluran telepon kabel, setelah tersambung, dia mulai melancarkan aksinya bersandiwara dengan kata-katanya.


"Hallo Pap, Ini Charles. Apakah Papa sedang sibuk."


"Iya.. Papa sedang sibuk. Ada perlu apa kamu menghubungi Papa?"


"Ini soal Bernad Pap... !"


"Kenapa memang dengan adikmu?"


"Sepertinya dia telah melakukan penggelapan Dana Perusahaan, selama ini, dia yang memegang langsung soal keuangan, bukan begitu Pap?"


"Kamu jangan asal tuduh, jika belum ada bukti yang menyatakan dia melakukan penggelapan dana."


"Aku sudah punya buktinya, namun Bernad menghancurkan bukti itu."


"Papa tidak percaya dengan ucapanmu. Bernad bukan orang seperti itu."


"Kamu tidak sedang berbohong, Charles?


"Tidak Pap, aku kasihan pada Papa, bagaimana jadinya jika Perusahaan Papa hancur dalam sekejap atas perbuatan Bernad."


Mendengar pernyataan Charles tentang Bernad, Papa Thomas Dorman merasakan sakit tepat di jantungnya. Dia menyentuh dadanya yang terasa sesak, seketika Papa Thomas terjatuh ke lantai.


Di saat Bernad masuk ke dalam ruangan Papa Thomas, dia melihat Papanya sedang terkapar di lantai, dengan sambungan telpon kabel yang masih menggantung. Lalu Bernad berlari menghampirinya.


"Papa.. Papa.. bangun, Pap!" Panggil Bernad untuk memastikan Papanya baik-baik saja, seraya mengechek urat nadinya.


"Innalillahi.... " Ucap Bernad seraya menangis sejadi-jadinya dengan berteriak memanggil Papanya.


"Papa... !"


Bernad mengambil gagang telpon yang masih menggantung, dan memeriksa siapa yang sedang berbicara lewat telpon tersebut, namun telpon itu sudah tidak tersambung.


"Siapa yang menelponnya? Apa mungkin teman Papa atau pesaing bisnis Papa?" Tanya Bernad dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya Bernad menghubungi Security untuk membawa Papa Thomas ke Rumah Sakit, untuk memastikan jika pikiranya salah.


"Semoga ada Keajaiban untuk Papa, semoga analisaku salah jika berpikir Papa telah tiada. Ya Allah, izinkan aku di beri kesempatan untuk bertemu dengan Papa, meski sebentar. Hik.. hik.. hik.." Ucapnya dalam hati.


Security datang dengan membawa tandu, lalu mengangkat Tuan Thomas ke atas tandu dan membawanya ke dalam mobil milik Perusahaan menuju Rumah Sakit. Bernad mengikuti Papa Thomas ke Rumah Sakit, lalu menghubungi Mama Merry dan Kakak Charles kemudian istrinya Ibu Nurlaila dan Asyafa.


Mereka semua berkumpul di Rumah Sakit, Mama Merry menangis sejadi-jadinya. Charles berpura-pura menangis dengan penuh sandiwara, sedangkan istri dan anaknya meangis tersedu-sedu, sama halnya dengan Ibu Nurlaila dan Asyafa menangis sedih.


"Sebenarnya apa yang terjadi, hingga Papa bisa serangan jantung seperti ini?" Tanya Mama Merry kepada Bernad.


"Saya tidak tahu pasti Mom, waktu itu saya masuk ke ruangan Papa, dan melihat Papa sudah terkapar di lantai dengan sambungan telpon yang masih menggantung. Tapi sewaktu saya chek telponnya sudah tidak tersambung Mom." Jelas Bernad jujur.


"Bohong Mom, Adik sudah membohongi kita Mom. Jangan-jangan Adik yang sudah merencanakan semua ini dan berniat untuk membunuh Papa, Mom." Tuduh Charles dengan keji.


"Tidak Mom, itu fitnah.... ! Mengapa kau tega menuduhku seperti itu, Kak?" Tanya Bernad menatap nanar wajah Kakaknya itu.


"Aku tidak menuduhmu, ini kenyataan. Karena kau yang terakhir bersamanya, dan bisa saja kau melakukan itu untuk mendapatkan harta warisan Papa." Ujar Charles, yang semakin menyudutkan Bernad.


"Ini fitnah Mom, jangan percaya perkataan Kak Charles, Mom." Ucap Bernad pasrah untuk meyakinkan Mamanya.


"Sudah-sudah, kalian mengapa jadi bertengkar? Kalian itu saudara sekandung, seharusnya kalian itu akur dan rukun." Ucap Mama Merry untuk menyadarkan anak-anaknya.


"Iya.. Mom." Jawab Bernad seraya menundukan kepalanya.


Sedangkan Charles tersenyum menyeringai, seakan belum puas untuk menjatuhkan adiknya itu.


Setelah selesai pemeriksaan Papa Thomas, Dokter keluar bersama Asistennya.


"Maaf, keluarga dari Tuan Thomas, apakah ada di sini?" Tanya Dokter ramah.


"Iya... kami di sini keluarganya, bagaimana Dokter keadaan suami saya?" Tanya Mama Merry dengan sopan, yang masih menyisakan air mata kesedihan.


"Nyonya harus tabah dan ikhlas, mungkin Tuhan lebih sayang suami Nyonya. Jadi saya turut berduka cita atas kepergian Tuan Thomas ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa." Ucap Dokter, seraya berjabat tangan dengan Nyonya Merry dan anak-anaknya.


Setelah berjabat tangan, Mama Merry jatuh pingsan, seakan tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar dari pernyataan Dokter.


Happy Reading


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih....


__ADS_2