TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Keluarga Besar Beni Darma


__ADS_3

Di kediaman keluarga besar kakek Jaya Darma, tepatnya di daerah Yogyakarta mereka sedang bercengkrama dan berkumpul melepas kerinduan. Keluarga Tuan Beni Darma memang berasal dari Indonesia. sedang Nyonya Jovanka berasal dari Belanda.


Tuan Beni Darma, hanya mempunyai seorang Ayah karena Ibu dari Tuan Beni Darma sudah lama tiada, sewaktu Beni Darma masih remaja. Beni Darma anak sulung dan mempunyai dua orang saudara, yaitu satu laki-laki dan satu wanita.


Kedua saudaranya berada di Indonesia, yang satu laki - laki benama Bari Darma dia tinggal di Bandung, dan yang satu wanita bernama Dewi Darma tinggal di Yogyakarta bersama ayahnya Jaya Darma. Semua anak dari keluarga besar Jaya Darma, masing-masing memegang satu perusahaan besar yang ada di Indonesia.


Tuan Beni sudah lama sekalih tidak mengunjungi Ayahnya Jaya Darma, dikarenakan dahulu Beni Darma tidak mau dijodohkan dengan wanita pilihan Ayahnya. Dia lebih memilih bersama teman kuliahnya Jovanka di Belanda, yang saat itu menjadi kekasihnya. Hingga saat menikah, Beni tidak mendapat restu dari Ayahnya Jaya Darma.


Tuan Beni Darma bersama istrinya Jovanka, dan anak semata wayangnya Rayhan Darma sedang berada di Yogyakarta. Mereka berencana menginap dua hari saja di sana. Beni memeluk ayahnya yang sudah sangat tua, mengenakan kursi roda karena struk, dan sudah sedikit pikun. Jaya Darma hampir tidak mengenali anaknya Beni Darma, yang sudah lama tidak bertemu.


Hampir 26 tahun mereka berpisah, tapi akhirnya bertemu kembali. Alhamdulillah masih ada umur bisa meminta maaf kepada ayahnya, Beni menangis meraung-raung sejadi-jadinya. "Maafkan saya ayah, yang sudah melupakan ayah selama ini, dan maafkan saya yang baru sekarang terlambat untuk pulang kesini. " Ucap Beni Darma lirih, dan menyayat pilu. Hik...hik... !


Kakek Jaya Darma, sedikit bergetar diusianya yang sekarang menginjak 78 tahun. mendengar suara anaknya. Meski dia struk, tapi pendengarannya masih jelas. Dia menyebut nama Beni terbata-bata, disudut matanya terlihat tetesan air mata kebahagiaan mereka yang sedang melepas rindu. Benipun mengurai pelukannya.


"Ayah ini anak Beni, namanya Rayhan Darma, dia sangat tampan bukan?" Ucap Beni terkekeh, seraya meminta Rayhan untuk memeluknya, dan meminta doanya.


"Kakek.. ini Rayhan cucu kakek, Rayhan sayang kakek." Ucap Rayhan, seraya memeluk kakeknya erat. Kakeknya menganggukan kepalanya, dan menyebut Rayhan terbata-bata.


"Ayah ini istri Beni, namanya Jovanka. Dia sangat cantik dan ibu terbaik untuk Rayhan dan Istri terbaik untuk Beni." Ucap Beni, seraya meminta Jovanka melakukan hal yang sama kepada ayahnya.


"Ayah... ini saya Jovanka, istri dari Beni anak ayah. Mohon maaf tidak meminta restu dulu waktu menikah, sekarang saya ingin mendapatkan restu dari ayah, semoga ayah sehat dan panjang umur." Ucap jovanka, seraya menangis terharu. Ayah Jayapun menyebut jovanka terbata-bata.


Setelah acara sungkem maaf-maafan, mereka akhirnya berkumpul di ruang tengah keluarga. Rumah yang Beni tinggali sewaktu remaja dulu tidak begitu jauh berbeda, hanya saja sekarang sudah banyak rumah-rumah baru, dan penghuni baru.


Adik Beni Darma yang bernama Dewi Darma, dia telah menikah dengan pria yang berasal dari Yogyakarta juga. Makanya Dewi tinggal bersama kakek Jaya, dan menjaga kakek dengan sangat baik. Dia mempunyai dua orang anak kembar yang cantik, dan pintar.


Keluarga besar sedang membicarakan perihal Rayhan yang akan menikah Dua bulan lagi. Mereka akan mengundang sanak keluarga yang berada di Yogyakarta, dan Bandung juga.


Rayhan merasa tubuhnya ada di Yogya, tapi hatinya masih seperti di Bogor, rasa rindu yang amat sangat besar meski hanya dua hari. Dia terus menatap ponselnya, yang tidak ada kunjung balasan dari calon istrinya Asyafa.

__ADS_1


"Sudah selarut ini ponselnya masih tidak aktif juga hah... ! Kemana anak itu? dari tadi siang sudah tidak aktif, hingga malam masih tidak bisa dihubungi. Apa yang terjadi dengan dia ya Allah?" Tanyanya lirih dalam hati. Akhirnya diapun memutuskan untuk menghubungi ayah Bernad.


Drrrt.... drrt.... drrt.... ! Ayah Bernad menatap ponselnya tertera nama Rayhan, lalu diapun mengangkatnya.


"Hallo.. Nak Rayhan ada apa selarut ini menelpon? Bukankah kamu masih berada di Yogyakarta?"


"Iya ayah, saya masih di Yogyakarta. Apakah Asyafa ada bersama ayah?"


"Ada nak! Tapi dia sedang menunggu adik dari temannya yang sedang di ruang Operasi nak."


"Pantas dari tadi ponselnya tidak aktif ayah."


"Iya... tadi siang kami pergi bersama anak kolega ayah, menonton bioskop dan pergi ketempat karaoke. Lalu merayakan ulang tahun anak kolega ayah itu, dan berakhir dengan tragedi. Hingga membuat adik dari teman Asyafa celaka, dan harus di Operasi sekarang juga."


"Memangnya, apa yang bisa membuat dia celaka ayah?"


"Mulanya ban mobil kami bocor, lalu kami ikut dengan mobil nak Damar! Dikarenakan jalanan macet, Nak Damar mencoba mencari jalan Alternatif untuk menghindari kemacetan. Tetapi jalan tersebut sangat sepi, dan tidak disangka ada dua pengendara bermotor berboncengan mengikuti mobil kami, dan terjadi baku hantam antara Nak Damar dan para Preman itu."


"Iya nak! Dia terkena tusuk sebilah pisau tepat di perutnya. Untung tidak begitu dalam, hingga nyawanya masih bisa di selamatkan. Damar hampir kehabisan darah, karena golongan darahnya sama dengan Asyafa maka Asyafa mendonorkan darahnya untuk Damar."


"Ooh... begitu ceritanya! Tapi Ayah, Ibu, dan Asyafa tidak apa-apa bukan?


"Alhamdulillah tidak Nak Rayhan. Apakah Nak Rayhan hendak berbicara dengan anak ayah?"


"Tidak untuk sekarang ayah! Biarkan Asyafa istirahat dulu, sudah larut malam. Terima kasih Ayah, saya tutup telponnya."


Tuuut.. !


*******

__ADS_1


Ibu Nurlaila, dan Asyafa masih menunggu di depan pintu Operasi, dia masih berharap - harap cemas dengan keadaan Damar di dalam sana. Ayah Bernad sudah menghubungi kedua orang tua Damar, namun mereka sedang berada di Turki perjalanan bisnis. Tidak bisa langsung pulang, jadi menitipkan nak Damar pada mereka.


"Sayang, tadi Nak Rayhan menelpon ayah, katanya ponsel kamu tidak aktif dan tidak bisa di hubungi." Ujar Ayah Bernad.


Asyafapun akhirnya mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya, dia tercengang mendapati ponselnya mati. "Astagfirulloh... " Hampir saja dia lupa sama ponselnya seharian ini.


Asyafa memutuskan untuk meminjam battray charger, kepada Suster jaga. Diapun diberi pinjam segera. "Terima kasih Suster, nanti kalau saya sudah selesai baru saya kembalikan." Ucap Asyafa jujur.


"Asyafa mulai mengechas battray ponsel yang lowbet itu. Setelah 10 menit berjalan, dia sudah tidak sabar untuk menghidupkan ponselnya. Asyafapun merasa tidak enak setelah membuka pesan, dan miscall dari Rayhan yang sangat banyak. Dia ingin menghubungi, tetapi waktu sudah hampir jam satu malam. Jadi dia urungkan niatnya.


Keesokan paginya, Asyafa terbangun dan mengerjapkan matanya yang masih terasa ngantuk. Dia memutuskan untuk segera menghubungi Rayhan.


Drtt... drrt... drrt... ! Menelpon calon suami.


Rayhan terbangun mendengar pekikan suara ponsel yang berada di atas nakas. Lalu dia meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelpon, "calon istri!" Seketika wajah Rayhan langsung berbinar cerah. Lalu langsung menerima panggilan telpon dari calon istrinya itu.


"Hallo sayang... apa kabar?


"Alhamdulillah baik Kak'. Kakak bagaimana kabarnya?


"Kabar Kakak tidak baik, kakak rindu berat. He.. he.. !


"Aiish... baru saja dua hari tidak ketemu sudah rindu! Hi... hi... Kak maaf yah kemarin aku tidak membalas pesan dan telpon Kakak."


"Iya engga apa-apa, Kakak mengerti." Sebenarnya siapa yang terluka sayang?


Deg....


Jantung Asyafa berdegup kencang, ketika Rayhan menanyakan siapa yang sudah terluka.

__ADS_1


Happy Reading


--BERSAMBUNG--


__ADS_2