
Beni darma menatap heran ucapan adiknya itu, diapun mencoba menunggu dewi melanjutkan kata - katanya. Akhirnya, dewipun meneruskan ucapannya setelah sekian detik terjeda.
"Namun beberapa tahun belakangan ini, kak' bari seakan lupa dengan keluarga kita kak'!." ungkapnya lirih seraya meluncur bebas air matanya, menetes dipipi wanita paruh baya itu. dewi terisak tangis, hik... hik... hik... ! benipun sontak memeluk adiknya itu untuk menenangkannya.
"Sudah dik, bersabarlah!." ucap beni seraya menepuk - nepuk punggung dewi pelan. seketika dewi berangsur - angsur tenang.
" Kak bari sudah tidak menghormati keputusan papa, saran dan kritikan dari dewipun di abaikan olehnya." jelas dewi. "Musibah yang menimpah papa itu, sepenuhnya karena kak' bari yang sudah membuat papa marah. Hingga sempat papa mengalami serangan jantung, tapi masih bisa diselamatkan oleh suamiku, mas dimas yang membawanya ke rumah sakit saat itu juga kak'!." ungkap dewi.
Benipun ikut meneteskan air mata namun tetap tegar, mendengarkan cerita adiknya itu seraya mengepalkan tangan kanannya kesal. "Lantas dik'?" tanya beni. dan dewipun melanjutkan kata - katanya.
"Akibat dari serangan jantung itu, papa jadi tidak boleh terlalu lelah, dan dilarang untuk bekerja terlalu capai." ujar dewi. "Bahkan papa memiliki riwayat darah tinggi juga." hik... hik... hik..., ungkap dewi seraya membasuh air matanya dengan tisu.
"Namun disaat papa sedang berada dirumah, aku dan suamiku serta sikembar sedang pergi." ujar dewi. "kak' bari datang kerumah, ungkap pelayan yang melihatnya, mereka berdua bertengkar hebat, entah apa yang dipertikaikan hingga papa terjatuh dan terjadilah kondisi papa sekarang ini. " sesal dewi ketika tidak ada di samping papanya saat itu.
"Lantas dik'!?" tanya beni seraya tersulut emosi.
"Lantas papa mengalami struk ringan. sudah dua tahun ini, papa jadi harus mengenakan kursi roda." jelas dewi menceritakan kronologinya.
Mata beni mulai menyulut kekesalan lagi, setelah apa yang dikatakan dewi, kalau bari penyebab papa jaya darma mengalami struk. Namun dia mulai bisa mengontrol emosinya kembali. Dilain waktu dia akan membahas masalah ini kedepannya, bersama asisiten pribadinya martin.
"Sudahlah dik', serahkan semua soal perusahaan sama kakakmu ini. Insya Allah kakak akan berusaha merebut apa yang menjadi hak milik kita." janji beni kepada adiknya. Namun dewi tetap melanjutkan ucapannya.
"Perusahaan yang ada dijogja bergerak di bidang tekstil, sepenuhnya suami dewi yang pegang kak'!." ungkap dewi. "Mas dimas sangat baik, menjalankan amanah dari papa dan selalu melaporkan masalah keuangan. Baik itu keuntungan ataupun kerugian perusahaan, tidak ada satupun yang ditutupi dari pengawasan dewi dan papa." jelas dewi kepada kakaknya itu.
"Semenjak kakak pergi ke belanda meninggalkan kami, yang masih berseragam sekolah, papa sudah mendidik kami agar menjadi anak yang kuat, disiplin dan cerdas juga berani. makanya dewi sekuat mungkin mempertahankan perusahaan ini yang sudah atas nama dewi oleh papa. " Ungkap dewi lagi.
"Perusahaan atas nama papa yang sebenarnya untuk kak' beni, berhasil kak' bari rebut dengan paksa. padahal awalnya kak' bari benar mejalankan perusahaan itu. namun seriringnya waktu, entah setan apa yang merasukinya hingga keserakahan bersarang di hatinya." tutur dewi masih terisak.
__ADS_1
"Kak' bari menggabungkan perusahaan dirinya dan perusahaan papa, menjadi perusahaan besar saat itu. Namun semenjak papa struk sampai sekarang, kak' bari seperti menghilang tanpa bersalah kepada papa." Ungkap dewi lagi.
"Iya dik'! kakak mengerti dengan kesedihan yang dialami kamu dan papa, seandainya kakak engga meninggalkan kalian, mungkin perihal ini takan pernah terjadi. Namun kakak lebih memilih wanita yang kakak cintai, ketimbang kalian, kakak minta maaf yah dik'." ungkap beni lirih, seraya menyeka air matanya.
*******
Asyafa baru bisa beristirahat dengan tenang dan damai, setelah dua hari kemarin dia menjaga damar dirumah sakit. asyafa merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangannya, dan menyambangi mimpinya dalam nirwana, terlelap hingga pagi menyapa.
"Ooh... akhirnya aku bisa terlelap tidur juga sekarang, sungguh tubuhku terasa segar setelah beristirahat." gumam asyafa bermonolog, seraya menyambar handuk untuk mandi.
Asyafa merampungkan mandinya 30 menit, selepas itu memakai pakaian rapih untuk pergi ke kampus. Tidak lupa diapun mulai mengeringkan rambutnya, yang terurai panjang sebahu dengan hair dryer. dia menyemprotkan tubuhnya dengan parfum, yang wangi feminim sangat lembut. Tidak lupa juga memoles wajahnya tipis dengan makeup. dan memakai lipbam dibibirnya agar terlihat segar.
Setelah menyelesaikan rutinitas yang biasa dia lakukan setiap hari, asyafapun bergumam didepan cermin. "Sudah cantik dan wangi, uummm..... harum." mencium aroma wangi tubuhnya sendiri. Dirasa sudah siap semua, buku makul pagi ini dan jadwal tes keabsahan layak skripsi, serta tugas - tugas ujian akhir. diapun pergi ke meja makan menemui ibu dan ayah.
"Pagi ibu dan ayah." sapa asyafa seraya mengecup pipi kiri dan kanan mereka bergantian.
Asyafa mulai menarik kursi, lalu duduk dengan cantik seraya mengambil dua buah roti tawar, dan mengoleskan selai strobery di atasnya, lalu di beri lelehan susu kental manis untuk menambah rasa manis di rotinya. dia menikmati sarapan paginya dengan ceria.
Melihat anaknya sudah rapih dan cantik, ibunya tersenyum dan seraya berkata. "Anak ibu sudah cantik pagi ini, apakah ada kuliah pagi nak?"
"Iya bu... ada jadwal makul pagi dan chek kelayakan skripsi oleh dosen penguji sebelum hari sidang di mulai." jawab asyafa seraya mengunyah rotinya pelan.
Ibu nurlaila pun tersenyum, melihat anak gadisnya, semangat untuk lulus tahun ini mencapai gelar S1 nya.
"Nak, kata ayah hari ini rayhan pulang dari jogja bukan?" tanya ibu nurlaila.
"Iya bu... !" jawab asyafa.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu jadwal penerbangan pesawat rayhan nak?" tanya ibu nurlaila.
"Sudah bu..., jam 07.00 menaiki pesawat lion air." jawab asyafa.
Asyafa merampungkan sarapannya, lalu diapun pamit undur diri, mencium punggung tangan ibu dan ayah bergantian, serta mengucap salam.
Asyafa melesat cepat dengan mobilnya, karena pagi ini jalanan agak lenggang dan tidak ada hambatan. dia memarkirkan mobilnya rapih di area parkir kampus, seperti biasa dia akan selalu menyapa pak satpam, yang berjaga dipos.
"Pagi pak satpam, titip mobil saya yah pak!" pesan asyafa seraya mengangguk kecil.
"Pagi juga neng, masih pagi sudah nyampe saja si neng geulis teh. rajin pisan." balas pak satpam seraya tersenyum. "Sudah pasti saya akan jaga, semua kendaraan yang parkir disini neng." ujar pak satpam.
"Terima kasih yah pak! saya ke kelas dulu." ucap asyafa seraya berlalu.
Di kelas asyafa mulai mengeluarkan buku tugasnya dan mengechek kembali materi apa saja yang akan di kerjakan serta tugas apa saja yang masih tertinggal dan masih banyak lagi hal yang harus di selesaikan olehnya. "Sungguh ini ujian terberat untuk mencapai kelulusan yang maximal dan memuaskan." gumam asyafa seraya bermonolog.
Melihat tingkah laku asyafa yang mengoceh sendiri, sahabatnya alya menggelengkan kepalanya heran seraya berkata, "ujian belum di mulai, itu muka kenapa sudah kusut begitu?" sindir alya seraya menarik kursi di sebelah asyafa.
"Eeh.. besty kangen gw dua hari engga liat loe!." selorohnya asyafa menjembel pipi alya gemas.
"Aaish... loe kangen sama gw atau sama pak dosen?" sindir alya memicingkan matanya.
"Sama dua - duanya. he... he... ! " ucapnya asal seraya terkekeh.
"Aiish... geli gw." he... he... ucapnya alya terkekeh berbarengan.
Happy Reading
__ADS_1
--BERSAMBUNG--