TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Menantu Idaman


__ADS_3

Asyafa menggidikan bahunya, merasa aneh dengan dirinya setiap dia berada di dekat Dosen Rayhan, jantungnya selalu berdesir hebat, seketika tubuhnya merasakan hawa panas, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.


"Kenapa aku ini, perasaan apa ini? Apakah aku jatuh cinta kepada dia, hah..? Sepertinya itu takan terjadi!" Gadis itu mencoba menepis pikirannya.


Dosen Rayhan beranjak pergi, mencoba menetralisasikan pikirannya! Yang entah kenapa, seperti ada dorongan untuk melakukan hal diluar kendalinya. Setiap didekat gadis itu, selalu ada perasaan yang sulit di tepis. Senyumannya, kemarahannya, egonya terhadap gadis itu terasa berbeda.


"Aku rasa aku sudah menyukainya." Ucap Bathin Rayhan.


"Heem.. kamu mau pulang sekarang?" Tanya Rayhan, yang sontak membuyarkan lamunan gadis itu.


"Iya, aku mau pulang Pak!" Ucapnya kikuk.


"Ya sudah, ayo saya antar pulang!" Ajak Rayhan bersemangat.


"E.. engga usah Pak, nanti merepotkan! Aku naik Taxi saja Pak." Tolak Asyafa sedikit malu.


"Jangan sungkan donk! Saya calon suami kamu, masa ia saya biarkan kamu pulang sendiri." Rayhan tersenyum manis.


"Kamu pasti lapar, bukan? Nanti dijalan kita cari makan dulu yah." Ajak Rayhan senang.


"Baik, Pak!" Sahutnya singkat.


Keduanya meninggalkan ruang Dosen Rayhan menuju parkiran. Rayhan membukakan pintu mobil untuk gadis itu, kemudian gadis itu masuk ke mobil dan langsung memasang seatbelt nya. Dia takut terjadi seperti tempo hari, yang Dosen itu lakukan. Jarak yang begitu dekat, hingga dia sulit bernapas.


Dosen Rayhan sudah masuk ke dalam mobil, lalu memasang seatbelt nya. Ketika melihat gadis itu sudah memasang sendiri seatbelt nya, seketika dia mengernyitkan dahinya.


"Sudah siapkah Nona?" Tanya Rayhan.


"Ya, Pak! Seperti yang Bapak lihat." Meski nervous, gadis itu tetap bersikap tenang.


Rayhan mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, sambil sesekali melirik kearah gadis itu. Dia bingung dengan hatinya, padahal belum lama dia mengenal gadis itu.


"Kenapa perasaan aneh selalu muncul, meski di dalam mobil sekalipun aku merasakan hal yang tidak terduga. Namun aku akan coba menepisnya." Bathinya berbicara.


"Kamu mau makan dimana Nona?" Tanyanya sambil tetap fokus menyetir.


"Makan dirumah saja Pak! Saya sepertinya kurang enak badan, agak sedikit pusing." Jawabnya lemah.


Sontak Rayhan meminggirkan mobilnya ke tepi jalan, lalu berhenti. Tiba-tiba dia hendak mengulurkan tangannya kearah Asyafa, tetapi langsung ditahan oleh tangan nya. Mata mereka bersitatap sekian detik, terhanyut perasaan mendesir, hawa panas menyeruak, lagi dan lagi setiap mereka bersentuhan fisik.


"B.. bapak mau ngapain?" Tanya Asyafa, menepis rasa yang bergejolak di dalam dadanya. Seraya melepaskan tangan yang sedari tadi memegangi tangan Rayhan.


"Saya mau chek kening kamu, panas atau tidak? Hanya itu saja, jangan berpikir mesum!" Jawabnya ketus.


"A.. ku memang sedikit pusing Pak!" Jelasnya tidak kalah ketus.


"Ya sudah, kita langsung pulang saja." Rayhan melajukan mobilnya kembali.

__ADS_1


Gadis itu, menganggukan kepalany.


Rayhan berhenti tepat didepan rumah Asyafa kemarin turun, lalu dia menanyakan.


"Dari sini kemana lagi Nona?"


"Heem... ! Masih lurus Pak! Nanti ada gang masuk sedikit, belok kiri Pak." Jawab gadis itu jelas.


"Benar? Yang ini engga bohong, bukan? Tanyanya menyeringai.


"Ya, Pak! Yang ini beneran, jangan mulai lagi deh Pak." Jawabnya kesal.


"Oke, jangan sewot dong, nanti cantiknya luntur loh!" Canda Rayhan.


Rayhan mulai menjalankan mobilnya, dan berhenti tepat di depan gerbang rumah gadis itu, setelah gadis itu menunjuk arah rumahnya. Dia sedikit kagum, dengan pagar rumah yang menjulang tinggi, yang terbuka secara otomatis. Semakin masuk kedalam, dia melihat pekarangan penuh dengan bunga, yang tertata rapih dan bersih. Dia memarkirkan mobilnya di garasi rumah.


"Pak.. Bapak mau turun engga?" Ajak Asyafa sopan.


"Ya, rumah kamu nyaman sekali, saya terasa terhipnotis, melihat bunga-bunga ditaman rumahmu yang tertata rapi dan bersih." Ungkap Rayhan kagum.


"Itu semua Ibu yang merawat, dibantu tukang kebun disini. Ibu suka sekali bunga dan taman." Jelasnya Asyafa.


"Ooh.. pantas bisa seindah dan senyaman itu!" Ucapnya tersenyum manis.


Merekapun masuk rumah, yang disambut oleh pelayan rumah itu. Seperti biasa Asyafa menaruh tas selempangnya ditangan Mbo Ijah, dan mencari keberadaan Ibunya.


"Ibu diruang keluarga Non, sedang menonton TV sepertinya."


"Tolong bikinin minuman buat teman saya Mbo, terima kasih."


"Baik Non." Ucap Mbo Ijah seraya mengangguk kecil.


"Selamat siang Aden, mau dibuatkan minuman apa Aden? Dingin atau hangat? Jus atau kopi Aden?" Tanya Mbo Ijah.


"Siang juga Mbo! Tidak usah repot-repot Mbo. Cukup air putih hangat saja, terima kasih." Ujar Rayhan meminta.


"Baik Aden. Sebentar saya ambilkan."


Mbo Ijah menyiapkan dua gelas air hangat, dan camilan kue dari dapur. Serta buah apel yang sudah dipotong, kesukaan Nona mudanya itu. Lalu di taru di meja tamu.


"Silahkan diminum Aden, dan dimakan camilannya." Pinta Mbo Ijah.


"Ya, Mbo, terima kasih."


Diruang keluarga, Ibunya sedang asyik menonton TV di sofa. Asyafa sengaja menutup mata Ibunya dengan tangan dari belakang, yang langsung bisa di tebak oleh Ibunya.


"Anak ibu, sudah pulang? Tumben masih siang." Tanya Ibunya penuh selidik. Kemudian Asyafa melepaskan tangannya, dari mata Ibunya yang dia tutupi.

__ADS_1


"Ya, Bu!" Jawab Asyafa, seraya mengangguk kecil.


"Hari ini Ibu masak apa? Aku lapar sekali." Tanya Asyafa antusias.


"Masak udang saus tiram, sama soto Betawi sayang." Jawab Ibunya.


"I.. ibu, ada teman aku di depan."


"Siapa? Nak Alya bukan?"


"Bukan, Ibu. T... tapi Dosen Rayhan Darma." Jelas Asyafa.


"Rayhan Darma, seperti nama Pria yang dijodohkan denganmu, Nak? Ucapnya ragu.


"Memang dia, Bu." Asyafa menjelaskan perihal Dosen Rayhan Darma, yang menjadi Dosen Pengganti dan yang membuat mobilnya berada di bengkel sekarang ini.


"Kenapa bisa kebetulan yah, Nak? Kamu bisa satu kampus dengan jodohmu, padahal sebelumnya tidak pernah bertemu. Siapa yang menyadari duluan, kalau kalian di jodohkan sedari kecil, Nak?"


"Dosen Rayhan, Bu." Jawabnya jujur.


"Lalu.. bagaimana dia bisa tahu, nak?" Tanya Ibu Nurlaila.


"Dia pernah melihat foto aku dan nama aku Bu, tapi dia sedikit ragu, hingga akhirnya dia bertanya sama aku."


"Apakah nama Ayah kamu Bernad Dorman? Tanyanya padaku, Bu."


"Yah aku kaget dong Bu, dia bisa tahu nama Ayah. Begitu ceritanya, Bu."


"Ya sudah, Ibu akan temui calon mantu Ibu dulu." Ucapnya, seraya meminta Pelayan menyiapkan sajian makan siang di meja.


"Waduh.. Nak Rayhan calon mantu Ibu apa kabar?" Sapa Nyonya rumah.


Rayhan terkesiap, sedikit kagum dengan penyambutan Nyonya besar pemilik rumah, yang memanggilnya calon mantu.


"Assalamu'alaikum, Bu! Alhamdullilah baik kabar saya! Gimana dengan kabar Ibu juga?" Sapa Rayhan sopan.


"Wa'alaikumsalam, baik juga kabar ibu, Nak. Ibu senang bisa melihat Nak Rayhan sekarang, sudah ganteng, pintar, seorang Dosen, dan baik sekali." Ucapnya, seraya merneluk Rayhan sayang dan mengusap bahunya lembut.


"Terakhir bertemu kamu masih kecil sekali dulu di Belanda, Nak. Sekarang sudah tumbuh menjadi hebat, dan menjadi mantu idaman ibu." Ucapnya tertawa senang. Rayhan pun tersipu malu.


"Ayo keruang makan, kita makan siang Nak Rayhan." Ajak Nyonya Nurlaila, seraya menggandeng lengan Rayhan ke meja makan.


Sontak Asyafa mengernyitkan dahinya.


"Cepat sekali mereka akrab." Gumamnya gadis itu pelan.


Happy Reading

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2