TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Naik Gunung


__ADS_3

Happy Reading


Di kediaman Tuan Ardi Prayoga, Damar sedang memanaskan mobilnya, dia sudah berencana berlibur naik gunung weekend ini, bersama teman-teman kampusnya.


Setelah tiga minggu dirinya sibuk, dengan mata kuliahnya yang seabrek. Alya membantunya dengan sabar dan telaten, karena harus mengejar ketertinggalannya selama tiga bulan.


Ibu Maya yang terkenal garang dimata Mahasiswa kampusnya saja, bisa begitu baik dan ramah kepada Damar. Ibu Maya memberikan kesempatan kepada Damar, agar bisa kuliah Pasca Sarjananya. Namun dengan catatan, harus bisa mengikuti kegiatan pelajaran materi dan soalnya.


Damar mempunyai otak yang cukup cerdas, hingga dia sangat mudah, mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Dosen pengajarnya.


"Mama, Papa, Damar berangkat dulu yah." Pamit Damar, seraya mencium kedua punggung tangan orang tuanya takzim.


"Sayang, kalian hanya berdua saja, naik gunungnya?" Tanya Mama Ningsih klhawatir.


"Engga Mam, kita ngadain kegiatan dari kampus, mengisi liburan saja. Hanya dua hari, besok minggupun kami sudah pulang." Ucap Damar menenangkan, agar Mama Ningsih tidak terlalu khawatir kepadanya.


"Tapi Mama khawatir, sayang." Ucap Mama Ningsih jujur, seraya mengusap punggung tangan Damar pelan.


"Kenapa Mam? Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Damar hanya ingin refresh the brain [menyegarkan otak] yang sudah 3 minggu ini dikuras untuk belajar." Ucap Damar gamblang, seraya tersenyum mengembang.


"Iya sudah hati-hati bawa mobilnya, sayang." Ucap Mama Ningsih, sepertinya kurang rela melepas anaknya, tanpa pengawalan Asistennya, Romi.

__ADS_1


Asisten Romi saat ini sedang pulang ke kampung halamannya, karena Ibunya sedang sakit keras. Selama ini Mama Ningsih tidak khawatir, karena Asisten Romi selalu ikut kemanapun Damar pergi.


Sekarang Damar pergi hanya sendiri saja, tanpa Asisten Romi yang menemani. Perasaan was-was menghantui Mama Ningsih, namun Papa Ardi hanya bersikap sewajarnya.


"Pap, apakah kita lebih baik ikut mereka saja? Jujur saja, Mama engga tenang Pap." Ungkap Mama Ningsih, dengan perasaannya.


Papa Ardi hanya tersenyum dengan perkataan istrinya, lalu diapun menenangkan istrinya. " Sayang, jangan khawatir, mereka sudah dewasa."


"Hemmm..." Mama Ningsih hanya bergumam pelan, tapi hatinya masih gamang.


"Assalamu'alaikum, Mama dan Papa." Salam Damar, saat beranjak pergi meninggalkan mereka.


"Wa'alaikumsalam sayang.." Ucap Mama dan Papa bersamaan.


Hanya satu jam perjalanan, akhirnya Damar sampai dikediaman rumah Alya Mentari kekasihnya.


Alya Mentari sudah menunggu Damar sedari tadi, hatinya cemas menanti kekasihnya datang.


Saat mendengar suara deru mobil Damar terparkir indah dihalaman rumahnya. Alyapun langsung bergegas menghampirinya.


"Hai.. sayang, maaf yah lama menunggu, cup." Salam Damar meminta maaf, seraya memeluk Alya erat, dan mengecup keningnya lembut.

__ADS_1


"Hai juga Bie, kenapa lama sekalih? Nanti kalau telat bagaimana?" Tanya Alya cemas, takut tertinggal rombongan.


"Kita tinggal menyusul sayang, 'kan tinggal cari di Map alamatnya." Ucap Damar, dengan entengnya, seraya mengurai pelukkannya.


"Okay.." Sahut Alya cepat.


"Pamit sama Mama dan Papa dulu, sayang." Pinta Damar kemudian.


Merekapun menghampiri Papa Hendra, dan Mama Mentari yang sedang sarapan pagi.


"Mam, Pap, kami berangkat dulu yah." Pamit Alya dan Damar bergantian seraya mengecup punggung tangan mereka.


"Hati-hati yah kalian, naik gunungnya." Ucap Mama Mentari mengingatkan, dan Papa Hendra mengangguk kecil.


"Siap, Mamaku yang cantik." Ucap Alya, dan Damar hanya mengangguk kecil.


Akhirnya merekapun meninggalkan mereka, setelah mengucap salam.


Sesampainya mereka di kampus, ternyata rombongan bus, sudah berangkat beberapa menit yang lalu. Karena Alya dan Damar terjebak macet, saat hendak menuju ke kampus.


"Yah.. kita ketinggalan rombongan, Bie!"

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih!...


__ADS_2