
Akhirnya Rayhan pun menjelaskan kepada mama dan Papanya bahwa semalam dia bertemu Asyafa di rumahnya. Semalam dia mengajak Asyafa untuk menikah bulan depan, dan diapun mau menerimanya dengan senang hati. Kedua orang tuanya Asyafa menerima juga permintaan Rayhan tersebut.
Ayah Beni dan Mama Jovanka, seketika tersenyum bahagia mendengar tuturan anak semata wayangnya itu.
"Jadi anak papa sebentar lagi sudah siap menikah?" Tanya Papa Beni. "Bagus kalau begitu Papa hanya mendukungmu." Ujar Papa Beni. Mama Jovanka juga terlihat senang mendengarnya.
"Bagaimana jika besok papa yang akan membantu persiapan pernikahanmu Dude? Apakah kamu tidak keberatan? Dan Mama Jovanka juga ikut membantu persiapan pernikahan kalian?" Tanya Papa Beni, dan Mama Jovanka menimpali dengan mengangguk kecil.
"Tentu tidak keberatan dong! Papa, mama, Rayhan malah sangat berterima kasih, jika mama dan papa mau membantu persiapan pernikahan kami. Semoga semua berjalan lancar, Papa dan Mama Doakan kami yah. Rayhan sungguh sayang kalian berdua." Ujar Rayhan, seraya tersenyum merekah terpancar kebahagiaan.
"Nanti mama yang akan meminta teman mama, menyiapkan gaun pengantin khusus desain yang terbaik untuk Asyafa dan kamu Rayhan." Ujar Mama Jovanka terlihat antusias.
"Sedangkan Papa Beni yang akan menyiapkan dekorasi, dan gedung pernikahan untuk Resepsi kalian. Akad Nikah akan dilakukan di rumah keluarga mempelai wanita." Ujar Papa Beni memberi saran.
"Oke.. Papa dan Mama Rayhan siap saja! Ucapnya senang. Terima kasih atas bantuan dan waktu kalian untuk Rayhan." Ucapnya tulus.
Akhirnya mereka pun merampungkan sarapan paginya. Raihan bergegas untuk meninggalkan rumah menuju kampus, sebelum berangkat Rayhan berpamitan terlebih dahulu dengan kedua orang tuanya. Demikian pula dengan Papa Beni, dan Mama Jovanka siap untuk berangkat ke kantor bersama. Meski Papa Beni harus mengantar Mama Jovanka ke kantor butiknya, namun dia selalu menyempatkan waktunya terlebih dahulu untuk istrinya itu.
Sesampainya di kampus, Rayhan langsung mencari Asyafa ke ruang kelasnya. Namun dia tidak menemukan gadis itu, sepertinya Asyapa tidak ada jam kelas pagi hari ini. Akhirnya Rayhan pun kembali ke ruangannya, lalu dia mencoba menghubungi gadisnya itu.
"Tuut... tuut... ! Rayhan calling.
"Halo... Kak ada apa nelpon pagi-pagi! Ada yang bisa Asyafa bantu?"
"Halo... juga sayang! Apakah kamu tidak berangkat ke kampus?"
"Aku tidak ada jam pelajaran pagi Kak! Nanti siang baru aku berangkat sekitar pukul 10 saja."
"Oke baiklah kalau begitu! Kakak mau masuk ke ruang kelas Kakak dulu yah. Kakak ada kuliah pagi hari ini. Kakak akan melakukan percobaan seminar untuk ujian tesis Pascasarjana kakak, doakan kakak ya sayang! Semoga Kakak bisa menjalankan seminar itu dengan baik."
__ADS_1
"Iya.. Kak! Asyafa akan mendoakan kesuksesan Kakak Rayhan selalu."
"Terima kasih sayang, doamu sangatlah membuatku semakin semangat untuk mencapai semua cita-cita kakak."
"Iya... Kak! Sudah sana Kak, cepat masuk nanti kesiangan."
" Oke sayang! Iya Kakak segera masuk.. bye!"
" Bye... juga Kakak semangat!"
Tuut... ! Ponsel dimatikan.
Rayhan sudah masuk ke ruangan kelas nya, kemudian dia mempersiapkan berkas-berkas proposal untuk acara seminar pagi ini bersama rekan-rekan yang lainnya. Hari ini Rayhan sangat bersemangat dalam menjalankan tugas seminarnya. Hampir mendekati nilai sempurna, meski hanya percobaan. Dosen Rima sungguh takjub dengan presentasi seminar yang dibawakan oleh Rayhan dan rekannya itu.
Dua minggu sudah berlalu, setiap hari Rayhan sibuk menyiapkan dan menyusun proposal agar sempurna. Akhirnya dia pun sudah mendekati 90 % final.
Ujian tesis Rayhan sebentar lagi dilaksanakan, selain akan sibuk dengan acara persiapan pernikahannya. Rayhan pun sibuk dengan ujian tesis nya yang akan dilaksanakan tepat dua hari sebelum pernikahannya.
Akhirnya, acara pernikahan Asyafa satu minggu lagi akan dilaksanakan. Mereka sudah menyebarkan undangan ke semua kolega bisnis Papa, dan Mama Rayhan, juga Ibu, dan Ayah Asyafa.
Teman-teman dekatnya di kampus, dan para Dosen, juga Dekan pun di undang, meski awalnya dia sedikit ragu untuk mengundang. Namun Alya meyakinkan Asyafa, jika teman-temannya pasti menerima dengan lapang dada pernikahan kalian berdua.
Damar, memandangi surat undangan yang baru diterimanya dari Papa Ardi. Undangan itu bertuliskan nama Rayhan Darma, dan Asyafa Dorman. Hatinya terasa pilu seperti teriris-iris belati, sungguh miris nasibnya hanya bisa mencintai gadis itu sendirian tanpa terbalaskan.
"Pupus sudah harapanku untuk mendapatkannya! Hancur sudah seonggok daging ini, melihat kebahagiaan gadis yang kuinginkan bersama laki-laki lain." Bathin Damar menjerit.
Begitu pula keadaan Siska yang membaca surat undangan untuk suaminya, yang bertuliskan Rayhan Darma dan Asyafa Dorman. Dia sesungguhnya bahagia, melihat mantan kekasihnya itu menikah dengan wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya.
Namun di sisi lain Siska merasa kasihan, kepada adiknya Damar yang menyukai gadis yang akan menikah dengan Rayhan. Meski Siska sudah membantu keinginan Damar, namun jodoh dan garis takdir tidak bisa di rubah.
__ADS_1
"Andai saja dulu, satu tahun yang lalu dia menolak perjodohannya dengan pria pilihan orang tuanya yaitu Indra Wibowo. Mungkin, adiknya Damar akan bahagia saat ini. Namun nasib dan takdir berkata lain." Bathin Siska pilu.
Akhirnya telah tiba Rayhan Darma, untuk melaksanakan ujian tesisnya dengan semangat dan Doa dari Asyafa serta orang tuanya. Rayhan yakin, dia akan mendapatkan hasil terbaik dengan nilai sempurna.
"Semangat kakak Rayhan! Semoga kamu bisa." Asyafa memberi dukungan, sebelum Rayhan memasuki ruang sidang untuk ujian tesis.
"Iya.. sayang! Doa terbaik pasti akan mendapat hasil terbaik." Ucap Rayhan yakin.
Rayhan sudah memasuki ruang sidang ujian tesis. Sebelum dia memulai persentasenya, dia sudah mempersiapkan dengan lengkap segala sesuatu yang dibutuhkannya.
Semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Dosen Penguji satu, dan Penguji dua Rayhan bisa menjawab dengan baik dan tepat. Meski tidak bisa di bohongi perasaan nervous, dan tegang sedikit menghinggapi dirinya hingga keluar keringat dingin. Namun dia bisa mengatasi perihal itu dengan baik. Satu jam setengah, akhirnya ujian tesis Rayhan dinyatakan lulus dengan nilai terbaik.
"Alhamdulillah.. !" Rayhan mengucap syukur.
Rayhan mengucapkan terima kasih, kepada dosen penguji serta dosen pembimbingnya. Lalu para dosen itu pun memberikan ucapan selamat kepada Rayhan lulus dengan nilai terbaik. Rayhan pun senang dan bahagia, lalu mengucapkan terima kasih atas ucapan para dosen nya itu.
Rayhan keluar dari ruang sidang ujian tesis dengan air muka berbinar dan ceria. Melihat itu, Asyafa langsung berhambur mendekati Rayhan, seraya berucap.
"Sepertinya Kakak lulus ujian tesis! Terlihat dari air muka kakak yang berseri. Benar bukan tebakanku?" Tanya Asyafa menerka.
"Menurut kamu kakak lulus atau tidak?"
"Lulus dong pastinya!" Tebak Asyafa yakin.
"Alhamdullilah.. Kakak lulus dengan nilai terbaik! Ini berkat Doa dan semangat dari kamu sayang. Terima kasih yah!" Ujar Rayhan seraya berkaca-kaca merentangkan tangannya memasukkan Asyafa dalam pelukannya.
Asyafa tersenyum bahagia terukir di bibirnya.
Happy Reading
__ADS_1
--BERSAMBUNG--