
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Maurin, dan Asyafa, sangat terkejut dengan pertemuan mereka hari ini. Mereka saling berpelukkan melepas kerinduan yang sudah lama berpisah, akhirnya bisa berjumpa kembali.
"Asyafa Dorman, kamu beda banget sekarang. Kamu sangat cantik dan feminim, beda banget saat kecil dulu. Kamu sangat tomboy dan galak, apalagi kalau si jahil Willyam sudah beraksi. Kamu selalu bertengkar dengannya, dan aku yang selalu melerai kalian. Sungguh perubahan yang sangat signifikan, Sya." Ujar Maurin mengingat masa kecilnya dulu dengan Asyafa dan Willyam.
"Engga juga Maurin, aku masih sama dengan Asyafa yang dulu, tomboy dan galak, tapi tetap cantik dan baik hati. He.. he.. he.." Ucap Asyafa sedikit narsis seraya terkekeh.
"Ha.. ha.. ha.. satu lagi Sya, yaitu lucu." Tawa Maurin pecah.
"Hi.. hi.. hi.." Keduanya lalu tertawa bersama. Mereka bernostagia saling berbagi pengalaman mereka selama ini, dan akhirnya mereka sudah saling mengenal lebih dekat lagi.
"BTW, selamat yah Sya, atas pernikahan kamu dengan Kak Rayhan." Ucap Maurin tulus seraya saling berpelukkan.
"Sudah belum kalian, kangen-kangenannya?" Tanya Willyam heran dengan para wanita kalau sudah ketemu, para pria di cuekin.
"Belum dong, baru juga sebentar. Iya 'kan Maurin?" Sahut Asyafa seraya minta pembenaran Maurin.
"Iya tuh benar kata Asyafa." Sahut Maurin kompak sependapat dengan Asyafa.
"Huuh.. dasar wanita." Gerutu Willyam pelan, namun masih terdengar oleh mereka.
"Aiish.. Will.. Will.. dari dulu, sifatmu tidak jauh berbeda." Ujar Asyafa heran, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Iya.. nih, kamu selalu begitu hubby. Dari dulu engga pernah akur sama kita-kita yah Sya, tapi sekarang malah jadi calon suamiku. He.. he.. he.." Ledek Maurin seraya terkekeh.
Willyam tersenyum kecut kepada mereka berdua, dia merasa disudutkan dan di lecehkan oleh teman-teman kecilnya itu. Lalu dia beakting sedih.
"Ray, Apa kamu engga mau membela sepupumu ini? Apa kamu engga kasihan dengan nasibku ini? Sungguh teman-teman yang kejam." Ucap Willyam mendramatisir.
"Lebay.." Ucap ketiganya kompak.
"What? Kalian seperti anak kembar saja, kompak sekalih. He.. he... he..." Ucap Willyam terkekeh.
"Bukankah kamu minta aku, cariin istri yang mirip dengan istriku, Will?" Tanya Rayhan mengingat saat dia salah paham, sewaktu breakfast di Hotel.
"Iya, tapi aku sudah dapat yang mirip dengan istrimu." Jawab Willyam, seraya meraih tangan Maurin lalu digenggamnya dengan erat, dan dikecupnya punggung tangan Maurin dengan mesra.
__ADS_1
"He.. he... he..." Asyafa, dan Rayhan, terkekeh mendengar ucapan Willyam. Sedangkan Maurin menatap mereka heran, tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Hubby.. maksudnya apa sih? Aku engga ngerti." Tanya Maurin bingung.
"Engga sayang, hanya becandaan mereka berdua saja, bukan begitu Sya, Ray?" Ucap Willyam, seraya bertanya kepada kedua Saudaranya itu.
Asyafa, dan Rayhan saling melirik, lalu keduanyapun langsung tertawa lepas.
"Ha.. ha.. ha.."
Maurin semakin bingung di buatnya. "Kamu bohong Hubby, mereka hanya tertawa, tidak menjawab pertanyaanmu." Tuduh Maurin kesal dengan calon suaminya itu. Maurin merajuk, dia langsung menarik tangannya dari genggaman Willyam.
"Benar sayang, aku engga bohong iich. Kamu jangan marah." Ucap Willyam jujur seraya merayu calon istrinya.
"Sya.. Ray.. ngomong dong kalian, jangan sampai kalian aku usir sekarang juga." Omel Willyam dengan wajah kusutnya.
"Ha.. ha.. ha.. Iya.. iya.. Will." Sahut Rayhan tertawa.
"Maurin, sebenarnya Willyam minta carikan seorang gadis kepadaku, untuk di jadikan istri. Tapi dengan syarat, gadis itu harus mirip dengan Asyafa istriku. Aku berpikir mana mungkin ada yang mirip dengan istriku, kecuali istriku kembar. Lalu dia berkata jika mirip bukan berarti kembar wajahnya, tapi juga bisa sifat dan kelakuannya. Dan sekarang aku baru mengerti, gadis itu adalah kamu yang mirip dengan istriku." Jelas Rayhan panjang lebar.
"Ooh.. seperti itu, ngomong dong Hubby dari tadi kalau begitu. Aku 'kan jadi engga akan salah paham, dan marah kepadamu." Ujar Maurin mengerti.
"He.. he.. he... aku juga minta maaf Hubby." Kekeh Maurin meminta maaf, lalu dia langsung memeluk Willyam erat. Sontak Willyam terkejut dengan tindakan Maurin yang menggemaskan itu, tanpa ragu Willyam langsung mengecup puncak kepala Maurin lembut.
"Uuuhh.. so sweet." Ledek Asyafa tersenyum mengembang, sama halnya juga dengan Rayhan, dia ikut bahagia sepupunya bertemu dengan jodohnya.
"BTW, bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu, dan bisa memutuskan untuk menikah?" Tanya Asyafa penasaran, begitupun dengan Rayhan.
"Dijodohkan." Jawab mereka kompak.
"Aiish.. kompak banget kalian, he.. he.. he..." Ledek Asyafa terkekeh.
"Ha.. ha.. ha.." Mereka juga ikut tertawa.
"Kenapa cerita kalian sama dengan cerita kami, sama-sama di jodohkan?" Tanya Asyafa, seraya melirik suaminya dengan tersenyum mengembang.
"Beda Sya." Sahut Willyam dengan senyuman mautnya.
__ADS_1
"Maksudmu, Will?" Tanya Asyafa heran.
"Iya beda, kamu 'kan di jodohkan dari kecil dengan Rayhan. Sedangkan kami di jodohkannya dadakan." Ungkap Willyam jujur.
"Ooh.. gitu, apa benar yang dikatakan olehnya Maurin?" Tanya balik kepada Maurin untuk memastikan.
"Iya Sya, semua yang di katakan Willyam benar, semua ini dijodohkan dadakan. Kedua orang tua kami sudah berteman semasa remaja dulu, lalu mereka bertemu dan melakukan perjodohan dadakan untuk kami. Kebetulan aku mengenal Willyam lebih dulu, hingga akhirnya kami seperti yang kalian lihat." Jelas Maurin panjang lebar.
"Jadi seperti itu ceritanya, berarti kalian baru beberapa hari bertemu, ketika kami sedang berada di rumah Oma dan Uncle." Ujar Asyafa mengerti.
"Iya.. Sya." Sahut Willyam singkat.
"Apakah kalian ada acara malam ini? Secara kalian 'kan pengantin baru dan sedang Honeymoon." Tanya Willyam antusias.
"Entahlah, aku sih ikut kata suamiku." Ucap Asyafa seraya melirik kearah Rayhan.
"Ayo cinta, kalau kamu ingin jalan-jalan malam, kita pergi ke pantai saja. Bagaimana kamu mau engga, cinta? Tanya Rayhan dengan penuh senyuman cinta.
"Okay.. sayang." Jawab Asyafa bersemangat.
"Kalian ikut juga yah!" Ajak Asyafa, seraya menatap mereka dengan penuh harap.
Willyam dan Maurin saling memandang, lalu sorot matanya seakan memberikan jawaban.
"Baiklah.. kami ikut." Jawab keduanya bersamaan.
"Yeaa.. asik kita bisa double date yah sayang." Ucap Asyafa senang, sedang Rayhan hanya tersenyum tipis.
"Sekarang ayo kita bersiap-siap pergi, kita pakai satu mobil saja." Usul Rayhan seraya menyerahkan kunci mobilnya ke tangan Willyam.
"Maksud loe apa ini, Ray?" Tanya Willyam curiga.
"Loe yang bawa mobil Will, gue 'kan yang punya acara. He.. he.. he.." Ucap Rayhan seraya terkekeh.
"Sial loe Ray, loe kira gue supir loe, hah..?" Umpat Willyam jengkel dengan sepupunya itu.
"He.. he.. he.." Semua tertawa mendengar umpatan Willyam, yang kesal dirinya harus menjadi supir mereka.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........