TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Geger Otak


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Mama Mentari dan Papa Hendra, sontak saja langsung menengok kearah Alya, yang sedang memekik kaget.


"Kenapa, sayang? Ada apa?" Tanya Mama Mentari dan Papa Hendra penasaran, seraya memegang pundak Alya yang hampir terkulai lemas kelantai.


"D.. damar... Mam, Pap!" Ucap Alya lirih, seketika air mata mulai tergenang disudut mata Alya, lalu meluncur dengan cepatnya.


"Iya, ada apa dengan Damar, sayang? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" Tanya Mama Mentari, seraya memeluk dan menenangkan anak cantiknya itu. Sedangkan Papa Hendra, langsung menghubungi calon besannya.


"D.. damar kecelakaan, di tabrak pengendara motor Mam." Ucapnya Alya parau dan lirih karena menangis.


"Haaah.. ? Astagfirulloh.. ? Ayo kita ke Rumah sakit sekarang juga." Ajak Mama Mentari tanpa pikir-pikir lagi.


"Iya.. Mam." Ucap Alya, seraya mengangguk kecil, dan menghapus sisa air mata yang masih mengalir dipipinya.


"Pap.. ayo kita kerumah sakit, kita jenguk calon menantu kita." Ajak Mama Mentari cepat.


"Iya, sayang. Papa sedang mengabari Tuan Ardi sebentar." Sahut Papa Hendra, yang masih menunggu jawaban telpon dari calon besannya.


"Bagaimana, Pap?" Tanya Mama Mentari gelisah.


"Belum di angkat, sayang." Sahut Papa Hendra seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Iya sudah nanti saja kabarinnya, sekarang lebih baik kita ke Rumah Sakit saja, dahulu." Ujar Mama Mentari memberi saran.


"Baiklah." Ucap Papa Hendra mengikuti saran istrinya, seraya mematikan sambungan ponselnya.


*******


Diruang UGD, Damar sedang terbaring lemah, dirinya sedang ditangani secara intensive, oleh beberapa Dokter dan Suster. Damar masih tidak sadarkan diri, karena benturan yang terjadi di kepalanya cukup keras.


Setelah Damar dipindahkan keruang ICU, dengan hasil yang didapatkan oleh para Dokter ahli dan Suster handal, mereka menyimpulkan Damar terkena geger otak.

__ADS_1


Pasien harus segera dilakukan operasi, namun pihak Rumah Sakit harus meminta persetujuan terlebih dahulu, dari pihak keluarga pasien.


Alya dan kedua orang tuanya, sedang menunggu dan cemas diruang tunggu, di depan ruang ICU. Lalu Papa Hendra mendapatkan telepon, dari Tuan Ardi calon besannya. Kemudian Papa Hendrapun, menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada Damar saat ini.


Alya terus menangis tanpa henti, sedang Mama Mentari, menenangkan anak kesayangannya itu, dengan merengkuhnya dan mengusap-usap pundak anaknya sayang.


Papa Ardi dan Mama Ningsihpun dibuat shock, dengan informasi yang didapatkan dari Papa Hendra. Apalagi Siska sang Kakak yang sangat menyayangi Adiknya itu, hampir tidak percaya dengan apa yang menimpa Adiknya saat ini. Pasalnya belum lama Adiknya itu berpamitan kepadanya, untuk membeli cincin yang mirip dengan cincinya. Bahkan cincinyapun dibawa oleh Adiknya itu.


Akhirnya merekapun langsung berangkat menuju Rumah Sakit, yang sebelumnya diberikan alamatnya oleh Papa Hendra. Dengan perasaan gamang, Papa Ardi dan istrinya, nampak terlihat sedih dari raut wajahnya. Siska bersama suaminya Indrapun, ikut menyusul ke Rumah Sakit.


Salah satu Dokter dan Suster, keluar untuk menemui mereka. Papa Hendra dan Mama Mentari juga Alya, sontak langsung saja berdiri untuk bertanya kepada Dokter, dan Suster tersebut tentang keadaan Damar saat ini.


"Maaf Dokter, bagaimana keadaan pasien yang berada diruang ICU itu?" Tanya Papa Hendra resah.


"Maaf, apakah anda keluarga dari pasien di ICU, tersebut?" Tanya Dokter itu ramah.


"Bukan Dokter, tapi dia calon suami anak saya." Jelas Papa Hendra.


"Baik Dokter, keluarga pasien sedang dalam perjalanan kesini." Ucap Papa Hendra jujur.


"Baiklah kalau begitu, jika keluarga Pasien sudah datang, harap langsung datang keruangan saya, terima kasih." Pinta Dokter itu, dengan wajah yang sangat serius.


"Siap Dokter, terima kasih kembali." Ucap Papa Hendra ramah.


Papa Hendrapun kemudian menghubungi lagi Tuan Ardi, untuk memastikan jika mereka sudah sampai dimana. Ternyata mereka sudah sampai diparkiran Rumah Sakit. Lalu Papa Ardi beserta Mama Ningsihpun berjalan cepat untuk menemui anaknya.


Sesampainya didepan pintu ruang ICU, Mama Ningsih seketika jatuh pingsan, melihat anaknya yang sedang terbaring lemah, dan terpasang alat-alat medis di ruang ICU.


"Mama." Pekik Siska, yang berada tidak jauh disamping Mama Ningsih. Mama Ningsihpun kemudian diangkat oleh Papa Hendra, dan Indra suaminya Siska. Mereka membawa Mama Ningsih ke ruangan UGD, untuk ditangani oleh Dokter dan Suster jaga disana.


Alya dan Siska juga Mama Mentari menemani Mama Ningsih di UGD, sedangkan Papa Ardi dan Papa Hendra juga Indra menemui Dokter diruangannya.


"Permisi Dokter, saya keluarga dari pasien yang berada di ICU saat ini." Ujar Papa Ardi, seraya berjabat tangan dengan Dokter yang menangani pasien Damar, yang diikuti oleh Papa Hendra dan Indra.

__ADS_1


"Iya.. silahkan duduk Tuan-tuan." Ucap Dokter itu ramah, seraya menerima jabatan tangan mereka.


"Baik, Dokter." Ucap Papa Ardi seraya menarik kursi depan meja Dokter, sedangkan Papa Hendra dan Indra duduk diruang tunggu. Lalu Dokterpun tersenyum ramah.


"Maaf, Dokter sebenarnya bagaimana kronologisnya anak saya bisa seperti ini?" Tanya Papa Ardi, dengan raut muka yang sudah kacau.


"Anak Tuan mengalami tabrak lari oleh seorang pencopet, menurut saksi mata, beliau sedang menolong seorang Ibu paruh baya yang sedang dicopet, tanpa terduga pencopet tersebut membawa temannya, lalu menabraknya dari belakang." Jelas Dokter.


"Astagfirulloh, pencopetnya itu sekarang kabur, Dokter?" Tanya Papa Ardi, gusar dengan pencopetnya.


"Sudah tertangkap katanya, dan mereka sudah berada disell penjara, oleh orang-orang yang menangkapnya." Ujar Dokter itu.


"Syukurlah, tapi bagaimana keadaan anak saya, kenapa bisa sampai di ICU, Dokter?" Tanya Papa Ardi penasaran.


"Anak Tuan terkena geger otak, karena terkena benturan benda yang cukup keras. Maka dari itu, saya akan melakukan tindakan operasi sekarang juga. Saya mohon Tuan untuk menandatangani surat ini, sebagai tanda setuju atau tidaknya melakukan tindakan operasi kepada Pasien tersebut." Ujar Dokter itu jelas panjang lebar.


"Baik Dokter, lakukan yang terbaik untuk anak saya. Berapapun biayanya tidak masalah, yang penting anak saya bisa lekas pulih dan kembali sehat seperti sedia kala." Kata Papa Ardi, meminta usahakan Dokter yang terbaik.


"Insya Allah, kami akan mengerahkan kemampuan para Dokter, untuk melakukan yang terbaik menjalankaan operasi ini. Semoga semua berjalan lancar, hanya Doa dari keluarga yang akan menguatkan Pasien." Kata Dokter itu, memberi kekuatan mental kepada keluarga pasien.


"Terima kasih Dokter, saya sangat berharap banyak dengan kemampuan Dokter. Namun saya juga tetap berharap, kepada Sang Maha Pencipta, yang akan menyembuhkan anak saya." Ujar Papa Ardi tulus, seraya berjabat tangan dengan Dokter tersebut.


"Sama-sama, Tuan. Sebaiknya Anda menunggu di ruang tunggu dahulu, saya akan mengerahkan team saya, untuk melakukan operasi kepada pasien sekarang juga." Jelas Dokter itu seraya menerima jabatan tangan Papa Ardi.


Dokter bersama teamnya itupun, langsung masuk ke ruang ICU, dan memindahkan Pasien ke ruangan operasi secepatnya.


Papa Ardi tidak kuasa melihat anaknya Damar, saat didorong menggunakan brankar menuju ruangan operasi. Papa Hendra menenangkan sahabatnya itu, dengan mengusap pelan pundaknya dan menepuk-nepuknya.


"Sabar, temanku! Saya percaya Damar calon menantuku, akan baik-baik saja dan sehat kembali." Kata Papa Hendra yakin. Sedangkan Papa Ardi sudah menangis pilu di pelukkan sahabatnya.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2