
Happy Reading
Sofia ditemani Bernad dan istrinya masuk ke dalam ruangan itu lagi, setelah sekian lama Sofia tidak pernah berani untuk masuk ke ruangan ini, ketika kala itu dia di serang oleh suaminya.
"Deg.. " Jantung Sofia semakin berdentum lebih keras, dan lebih cepat dia rasakan.
Dengan penuh derai air mata, sorot mata keduanya saling bersirobak melempar pandang. Wajah yang pucat, tubuh yang kurus, mata yang sembab, terlihat di mata Sofia sungguh menyedihkan. Sofia memberanikan diri untuk mendekatinya, perlahan dia ingin merengkuhnya, namun Charles seakan menolak, dia memundurkan tubuhnya ke belakang dua langkah.
"S.. sa.. yang..." Ucap Sofia gugup, seraya mencoba lebih dekat dengan suaminya itu.
Charles bergeming, seakan tubuhnya mati rasa, karena dia tidak bisa mundur lagi karena tubuhnya sudah menyentuh dinding kamar.
"Deg.." Jantung Charles merasa berdebar di saat istrinya itu mendekatinya, namun hatinya merasa sakit, melihat istrinya yang selama ini dia sakiti ada di hadapannya.
"My.. love.. my... husband.." Panggil Sofia lirih, seraya ingin mencoba masuk ke dalam pelukkannya.
"My.. wife..." Ucap Charles gugup, seraya menerima pelukkan istrinya dengan membuka tangannya lebar.
Kemudian merekapun menangis haru biru, memecahkan semua masalah yang selama ini mereka lewati.
"Hikk.. hikk.. hikkk..." Tangis keduanya pecah, di iringi dengan senyuman hangat mereka. Lalu mereka tertawa dalam tangisnya.
"Hi.. hi.. hi.." Tertawa, "hiikk.. hiikk.. hikk.." Menangis.
"I miss you my love and my husband." Bisik Sofia di telinga Charles, dengan sapuan bibirnya yang menggoda. Sontak saja, Charles yang sudah lama tidak merasakan sentuhan istrinya itu, tubuhnya langsung mere **mang nikmat.
"I miss you too my wife." Ucapnya sayu menahan hasratnya, namun mata Sofia seperti mengisyaratkan sesuatu, hingga Charles tidak tahan lagi, dan akhirnya Charles mencium bibir istrinya dengan rakus, saling melu **mat dan masuk lebih dalam lagi, mengabsen keseluruh rongga mulut istrinya, bertukar saliva dan memainkan lidahnya menari-nari di sana. Semakin panas ciuman mereka semakin dalam lalu..." Adegan mereka terhenti, ketika terdengar suara deheman Bernad dan Nurlaila. Wajah mereka bersemu merah menahan malu, karena tidak menyadari keberadaan Adiknya di situ.
"Eeeeheeemmm.." Bernad dan Nurlaila bedehem lalu tersenyum menatap mereka.
"Hee.. he.. he... sepertinya adegan itu, bisa di lanjutkan nanti jika kalian sudah di rumah." Bernad terkekeh melihat kelakuan mereka, lalu menyidirnya dengan halus.
"Ayo kesini Adik." Ajak Sofia kepada Bernad, dan Nurlaila agar lebih dekat. Merekapun mendekat, dan duduk di pinggir tempat tidur Charles.
"Kak Charles, syukurlah Kakak sudah kembali seperti dulu." Ucap Nurlaila bersyukur, seraya tersenyum mengembang.
"Tidak.. Adik, Kakak tidak ingin seperti dulu. Kakak ingin menjadi manusia baru yang lebih baik, dan penyayang untuk keluarga besarku, Mama Merry, istriku Sofia, anakku Billy dan Adikku kalian serta keponakkanku Asyafa." Ujar Charles, penuh dengan harapan yang lebih baik.
"Aamiin..." Sahut mereka semua.
"Terima kasih, kalian telah menyadarkanku kembali, berkat kalian aku bisa sembuh, dan kalian adalah keluargaku." Ungkap Charles dengan menangis bahagia, saling berpelukkan mereka berempat.
"Hiikk.. hiikkk.. hikk"
__ADS_1
Akhirnya mereka berbincang-bincang dengan gelak tawa bahagia, tidak terasa waktu begitu cepat, hampir pagi mereka meninggalkan Charles dan Sofia berdua.
"Kami pamit pulang yah Kak, nanti kami akan menjemput kalian, jika Kak Charles sudah diizinkan oleh Dokter untuk pulang ke rumah." Ujar Bernad pamit, seraya memeluk Kakaknya bergantian.
"Iya Adik, terima kasih." Ucap Charles, seraya menerima pelukkan adikknya itu, yang di ikuti oleh istrinya.
Akhirnya mereka meninggalkan Charles, dan Sofia di Rumah Sakit, Bernad, dan Nurlaila akan pulang ke rumah, untuk mengabarkan kabar gembira ini kepada yang lainnya.
*******
Di kediaman Mension Jonathan, William dan Momie Stepany berencana makan siang di restoran favorite mereka. Stepany menghubungi suaminya Jonathan, agar janjian bertemu di sana. Setelah itu, Stepany sudah bersiap untuk pergi bersama William.
"Mom, Dadie sudah setuju ketemuan di tempat biasa?" Tanya William, untuk mengingatkan Momienya lagi.
"Sudah.. Son, kenapa?" Tanya Stepany aneh.
"Engga.. cuma ngingetin saja." Jawabnya jujur, seraya masuk ke dalam mobil. Lalu Willyam menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju restoran favoritenya.
Sesampainya di sana mereka langsung mencari tempat duduk yang sudah di siapkan oleh pelayan restoran, karena mereka sudah booking tempat sebelumnya. Pelayan restoran itu langsung mengarahkan mereka, ke tempat yang sudah di booking tersebut.
"Terima kasih, Nona." Ucap Stepany sopan, begitu juga Willyam, seraya mengangguk kecil.
"Iya.. Nyonya." Jawab Pelayan wanita tersebut, lalu meninggalkan mereka berdua.
"Entahlah, nanti Momie coba hubungi lagi." Jawabnya santai, yang kemudian di angguki oleh Willyam.
"Momie, sudah berapa hari Asyafa, dan Rayhan menginap di rumah Omanya?" Tanya Willyam khawatir.
"Sudah hampir 3 hari ini sepertinya, oooh iya, kemarin Rayhan menghubungi Momie, jika mertuanya menyusul ke sini." Jelas Momie mengabarkan.
"Ada apa Momie mereka menyusul ke sini? Apa yang terjadi?" Tanya Willyam penasaran.
"Momie tidak tahu menahu soal itu, mungkin masalah keluarga sepertinya." Pikir Stepany, seraya mengangkat bahunya ke atas sedikit.
"Bisa jadi, Mom." Ucap willyam cepat, seraya memainkan ponselnya kembali.
Setelah hampir 30 menit, akhirnya yang di tunggu sudah datang. Namun Jonathan tidak datang sendiri, melainkan datang dengan seorang pria yang sepertinya seumuran dengannya, dan seorang gadis muda yang cukup cantik, dan anggun, berjalan beriringan ke arah meja yang sudah di arahkan oleh Pelayan restoran itu.
Momie Stepany tertegun sejenak menatapi gadis muda yang sudah berdiri di hadapannya, bersama suami dan temannya.
"Siang, my wife." Sapa Jonathan manis seraya mengecup kening istrinya mesra.
"Siang juga, my husband." Jawab Stepany sedikit malu, pasalnya di depan orang yang baru pertama bertemu, suaminya bersikap manis.
__ADS_1
"Sayang, kenalkan ini Jodhy Alfonso, kawan baik Dadie waktu sekolah dulu, dan ini putrinya yang cantik bernama Maurin." Ujar Jonathan, seraya memperkenalkan mereka bergantian.
Sontak Willyam langsung mengalihkan tatapannya dari ponselnya kearah wajah gadis cantik itu.
"Apa, Dad? Maurin? Namanya Maurin?" Tanya Willyam, seraya memandang wajah gadis itu dengan penuh penasaran.
"Aiish.. kamu Son, orang Momie yang di kenalin, kenapa kamu yang kaget gitu? Ada-ada saja kamu, Son." Selorohnya membuat telak anaknya tidak bisa berkutik lagi, seraya berdiri dari tempat duduknya.
"He.. he.. he... Momie, malu iich.. masa anaknya di ledekin gitu." Ucap Jonathan terkekeh.
"Iya Aunty, Wilyam, perkenalkan nama saya Maurin Alfonso, putri dari Jodhy Alfonso." Ucap Maurin memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
"Iya cantik, saya Stefany istri dari Jonathan, dan Momie dari anak saya yang bernama Willyam Artur." Jelas Stefany memperkenalkan diri kepada Maurin, dan papanya, seraya menerima jabatan tangan mereka.
Seketika wajah Willyam terlihat panik, ketika namanya di sebut oleh gadis yang baru di lihatnya itu.
"Kau mengenalku?" Tanyanya, hanya itu yang keluar dari mulut Willyam.
"Iya kenal dong, kamu Willyam teman SD aku dulu. Terus ini tangan aku pegal tahu, dari tadi kamu cuekin." Selorohnya kesal, dengan Willyam yang tidak peka terhadapnya.
"Eeeh.. iya, m.. maaf yah, pegal dong tangannya." Ucap Willyam gugup, seraya menerima jabatan tangan Maurin, dan tertahan di sana, seperti enggan melepasnya.
"Eeeheeem..." Suara deheman Jonathan, mengagetkan keduanya, hingga berdecak kesal dari bibir Willyam.
"Dad.. kenapa kau mengganggu saja?" Bisik Willyam di telinga Jonathan, hingga membuat Jonathan terkekeh mendengarnya.
"He.. he.. he.. anak Dadie."
"Kenapa, sayang? Apa yang kalian bicarakan dengan berbisik tadi?" Tanya Stefany penasaran.
"Urusan seorang pria, Mom." Ucap Willyam, seraya tersenyum ramah, lalu berjabat tangan dengan Tuan Jodhy Alfonso.
"What? Urusan Pria?" Tanya Stefany merasa heran, dengan kedua pria yang begitu penting baginya. Sedang mereka, hanya senyum-senyum engga jelas menurutnya.
"Silahkan duduk Tuan Jodhy, dan Nona Maurin." Tawar Stefany dengan ramah.
"Terima kasih Nyonya." Ucap Jodhy, yang di ikuti oleh Maurin seraya mengangguk kecil.
"Momie, Willyam, sebenarnya Dadie dan Tuan Jodhy berencana menjodohkan Willyam dengan Maurin, tapi.." Ucapnya terhenti, dengan teriakan Maurin dan Willyam.
"What... ? Di jodohkan?" Tanya mereka bersamaan.
-BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........