TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Mengikuti Pelajaran


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


"Kalian kenapa masih pada diluar? Cepat kalian masuk kelas!" Seru Ibu Maya meminta Mahasiswanya yang masih di luar kelas untuk masuk.


Sontak saja semua Mahasiswa didik Ibu Maya yang masih diluar kelas, langsung berhamburan masuk memenuhi ruang kelasnya.


Sekarang tinggalah Damar dan Ibu Dosen Maya yang sedang berdiri diluar kelas.


"Kamu mengantar calon istri kamu? Siapa nama calon istri kamu itu?" Tanya Tante Maya.


"Alya Mentari, Tante." Ucap Damar jujur.


"Apa? Alya Mentari anak murid Tante?"


"Iya, Tante Maya."


"Tante kira, Alya Mentari berpacaran dengan Andi Permana anak didik Tante."


"Bukan Tante, mereka hanya bersahabat saja."


"Mungkin juga, tapi kalau menurut kacamata Tante, Andi itu menyukai Alya. Tapi kalau Alya calon istri kamu, berarti mereka hanya bersahabat saja."


Hati Damar merasa cemburu, mendengar ucapan Tante Maya, yang merupakan sahabat Mama Ningsih.


"Tante, boleh tidak kalau saya ikut bergabung dikelas untuk menunggu Alya Mentari, sekaligus ingin belajar juga. Jurusan kuliah saya saat S1 adalah Arsitektur."


"Memangnya kamu tidak meneruskan, Pasca Sarjananya?"


"Mau Tante, tapi saya sudah telat hampir 4 bulan berjalan. Karena saat baru lulus S1, saya terkena musibah kecelakaan, dan membuat saya koma selama 3 bulan selesai operasi. Sampai detik ini, saya mengalami Amnesia."


"Astagfirulloh, tapi Mama kamu tidak mengabari Tante selama ini."


"Mungkin Mama tidak ingin membagi derita anaknya kepada orang banyak, Tante."


"Tapi, Tante Maya 'kan sahabat Mama kamu, sejak masih kuliah dulu. Masa masalah sepenting ini, tidak mengabari Tante."


"Maaf Tante Maya, mungkin Mama lupa, karena terlalu sedih dengan keadaan saya yang koma saat itu."


"Kamu sudah terlihat bugar dan sehat, seperti tidak pernah terjadi kecelakaan sama sekalih."

__ADS_1


"Iya, Tante Maya, tapi saya masih Amnesia."


"Kalau kamu Amnesia, kenapa masih mengenal, Tante?"


"Amnesia Damar itu, jenis Amnesia yang hanya mengingat masa lalu, tidak mengingat hal baru yang dilewati sebelum terjadinya kecelakaan."


"Ooh seperti itu, jadi kamu mengalami Amnesia jenis apa itu?"


"Amnesia Anterograde, menurut Dokter yang menangani penyakit saya, Tante."


"Ya Allah, yang sabar yah Nak Damar, semoga kamu lekas sembuh, dan ingatanmu kembali secepatnya. Jika kamu mau ikut bergabung di kelas, mari ikut Tante."


"Baiklah Tante Maya, terima kasih."


Akhirnya Tante Maya mengijinkan Damar, untuk ikut bergabung dengan anak Mahasiswa didiknya.


"Kamu duduk disana, kursi yang kosong di belakang." Ujar Tante Maya, seraya jari telunjuk tangan kanannya, menunjuk ke bangku kosong dibelakang.


"Baik Tante Maya, terima kasih." Ucap Damar senang, pasalnya dia tidak perlu menunggu Alya dikantin.


"Damar, kalau kamu bisa mengikuti pelajaran Tante sekarang, besok kamu boleh ikut melanjutkan kuliah Pasca Sarjana kamu. Nanti Tante yang akan bicara kepada Rektor langsung, untuk mengurus izin kamu kuliah di Universitas ini."


Alya yang mendengar berita bagus untuk calon suaminya itupun ikut berbahagia. Sebaliknya dengan Andi, dirinya merasa terancam, jika sampai Damar ikut kuliah bersama mereka. Pasalnya semakin hilang kesempatan berdua lagi, dengan Alya Mentari.


Damar menghampiri Alya kekasihnya, untuk meminjam buku dan ballpoint miliknya. Alyapun memberikan pinjaman buku cadangan kosong, dan ballpointnya.


"Aku pinjam dulu yah sayang, doakan aku bisa mengikuti pelajaran sekarang ini." Pinta Damar dengan penuh harap.


"Iya hubby, semoga kamu bisa, semangat.. !" Ucap Alya menyemangati calon suaminya.


"Terima kasih, sayang." Ucap Damar tulus.


Ibu Dosenpun memulai pembahasan materi mata pelajarannya, lalu meminta Mahasiswanya untuk mengumpulkan tugas kemarin yang sudah diberikan olehnya. Terkecuali Damar, yang tidak mungkin mengumpulkan tugasnya.


"Jika ada yang belum menyelesaikan tugas Ibu, silahkan berdiri di depan." Perintah Ibu Maya tegas.


Alya yang merasa dirinya belum menyelesaikan tugas Ibu Dosen Maya, sontak saja dirinya terkejut dengan ucapan Ibu Dosen.


Andi yang mengetahui jika Alya belum mengerjakan tugas Ibu Dosen, seketika dia langsung menukar buku tugasnya, dengan buku tugas Alya. Posisi duduk Andi, memang bersebrangan dengan posisi duduk Alya.

__ADS_1


"Apa maksud loe, Ndi? Kenapa loe tukar buku gue, sama buku loe?" Ucap Alya pelan, saat Andi menukar bukunya.


"Aku engga mau sampai kamu dapat hukuman dari Ibu Dosen Maya, biar aku saja yang menjalani hukumannya." Ucap Andi tampak bahagia, meski harus dihukum oleh Dosen yang terkenal galak itu.


Andipun langsung berdiri dan berjalan kedepan kelas, lalu menghadap Ibu Dosen Maya.


"Maaf Ibu Dosen, saya belum menyelesaikan tugas Ibu." Ucap Andi seraya menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu belum mengerjakan tugas dari Ibu? Tolong jelaskan! Jika kamu bisa menjelaskan, kamu tidak akan Ibu hukum." Tanya Ibu Dosen Maya, memberi kesempatan untuk Andi.


"Saya lupa Ibu Dosen, saya kira pelajaran Ibu Dosen besok, ternyata hari ini. Jadi saya lupa mengerjakan tugas Ibu." Jelas Andi berdusta.


"Iya sudah, kamu tetap Ibu kasih hukuman, silahkan kamu berdiri didepan kelas, sampai pelajaran Ibu berakhir." Jelas Ibu Dosen, seraya meminta Andi untuk menjalankan hukumannya.


Alya yang melihat Andi menjalani hukuman dari Ibu Dosen Maya, seketika hatinya merasa sedih. Karena dirinya, Andi harus menanggung hukuman, yang seharusnya dia yang menjalaninya.


"Maafin gue, Ndi.. maafin gue. Loe benar-benar sahabat gue yang paling the best. Loe mau berkorban demi gue, sungguh gue sangat beruntung punya sahabat seperti loe. Maafin gue, kalau gue engga bisa balas perasaan loe, Ndi. Karena cinta gue, sudah terikat dengan cinta Damar." Ucap Alya dalam hatinya.


Seketika air mata Alya lolos begitu saja, dari hati yang paling dalam, jika dirinya yang dulu mencintai Andi, sudah dipastikan dirinya akan memilihnya. Namun takdir berkata lain, ada hati yang harus dijaga dan di perjuangkan. Hati yang sekarang sedang tersasar, butuh jalan keluar untuk kembali yaitu melalui dirinya.


"Al.. tumben banget si Andi, belum ngerjain tugas Ibu Dosen Maya. Biasanya dia yang paling bersemangat, untuk mengerjakan tugasnya." Ujar Asyafa, yang merasa aneh dengan Andi.


Alya hanya menggelengkan kepalanya pelan, dan tersenyum masam.


"Kenapa loe, Al? Loe senang dong, sekarang Damar bisa dekat lagi dengan loe. Memangnya Amnesianya sudah sembuh?" Tanya Asyafa penasaran.


"Belum, Sya." Sahut Alya singkat, karena Alya tidak ingin Asyafa tahu, jika dirinya sedang menangisi Andi yang sedang dihukum oleh Ibu Dosen Maya.


Tapi bukan Asyafa, kalau dirinya tidak peka dengan sahabatnya yang satu itu.


"Al.. kenapa loe menangis? Apa yang sedang loe tangisi? Kalau loe mau cerita, gue siap jadi pendengar yang baik." Ujar Asyafa tulus, seraya menepuk jari tangan Alya pelan. Karena posisi Asyafa yang berada didepan Alya, maka Asyafa sangat jelas melihat Alya yang sedang menangis.


Ketika Alya baru saja akan menjawab pertanyaan Asyafa, tiba-tiba Ibu Dosen Maya memanggil namanya.


"Alya Mentari, maju kedepan." Panggil Ibu Dosen Maya.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2