
Happy Reading
Bernad, bersama istrinya, dan Sofia, berangkat ke Rumah Sakit meski tengah malam. Bernad yang mendapat informasi dari Rumah Sakit, langsung bergegas membangunkan istri, dan adik iparnya tanpa pikir-pikir lagi saat itu.
"Maaf yah, Kak Sofia jika tengah malam seperti ini saya harus bangunkan kamu." Ujar Bernad tidak enak hati, di sela menyetirnya menuju Rumah Sakit. Pasalnya dia ke Rumah Sakit harus menggunakan mobil Sofia, dan kunci mobilnya ada di kamar Sofia.
"Tidak apa-apa Adik, Charles adalah suamiku, jadi sewajarnya aku harus ikut menemani kalian ke Rumah Sakit, meski di saat tengah malam seperti ini." Sahut Sofia tenang, seraya menggenggam tangan Nurlaila dengan erat. Pasalnya baru kali ini, dia tengah malam harus datang ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung menemui Perawat yang berjaga khusus di ruang kamar Charles. Lalu menanyakan kondisi Charles saat ini.
"Maaf Suster, bagaimana keadaan pasien yang bernama Charles?" Tanya Bernad cemas sesuatu terjadi kepada Kakaknya, begitupun perasaan Sofia tidak jauh berbeda dengan Adiknya Bernad.
"Apakah ini Tuan Bernad?" Tanya Suster balik.
"Iya Sus, saya Bernad adik dari pasien Charles." Jawab Bernad, seraya mengangguk kecil.
"Maaf Tuan, sekarang Dokter Richard sedang menunggu Tuan di ruangannya. Mari ikuti saya." Jelas Suster, seraya mengantar mereka ke ruangannya. Dokter Richard adalah Dokter ahli sakit jiwa, yang bertugas menjaga dan merawat kondisi mental Charles, dari pertama dia masuk ke Rumah Sakit ini.
"Tok.. tok.." Bunyi ketukan pintu.
"Permisi Dokter Richard, ada Tuan Bernad sudah datang." Ujar Suster itu sopan.
"Silahkan masuk, pintu tidak di kunci." Sahut Dokter Richad, yang sedang duduk di kursinya dengan selembar kertas.
Suster itupun langsung mendorong pintu dengan perlahan, dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam. "Silahkan masuk Tuan, dan Nyonya. Dokter saya permisi dulu, mari Tuan dan Nyonya." Ucap Suster itu ramah, lalu mereka mengangguk kecil dan mengucapkan terima kasih bersamaan.
"Iya Suster, terima kasih." Jawab Dokter Richard juga, seraya tersenyum mengembang.
"Sama-sama, Dokter, Tuan dan Nyonya." Jawab Suster itu, seraya menutup pintu kembali.
"Selamat malam, silahkan duduk Tuan, dan Nyonya. Sebelumnya saya meminta maaf kepada Tuan, dan Nyonya, jika sudah mengganggu istirahat kalian." Salam sapa Dokter ramah dan sopan.
"Selamat malam juga Dokter, tidak apa-apa kami memakluminya." Ucap Bernad dan Anggukan kecil istri dan adiknya, lalu berjabat tangan, kemudian duduk di kursi depan Dokter dengan gusar.
"Maaf Dokter, sebenarnya ada apa Dokter menghubungi saya? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Kakak saya Charles?" Tanya Bernad penasaran, mewakilkan perasaan Sofia istri Charles.
__ADS_1
"Eeemm.. sebelumnya, saya mengucapkan selamat kepada Tuan Bernad dan istri, terutama Nyonya Sofia istri dari Tuan Charles." Ucap Dokter ramah, seraya tersenyum mengembang.
"Iya, Dok." Jawab mereka bersamaan, dengan tatapan gusar penuh tanya.
"Eeemm.. selama Tuan Charles di rawat di sini, saya belum pernah melihat beliau tidur selama ini, dari siang sampai malam dengan tenang, lelap dan damai. Sungguh saya sebagai Dokter turut bahagia, saat beliau terbangun, beliau mulai mengingat orang-orang di sekitarnya dahulu. Dia mulai menyebutkan nama Adiknya, ibunya, istri dan anaknya." Jelas Dokter panjang lebar.
"Sungguh benar begitu, Dokter?" Tanya Sofia, untuk lebih yakin.
"Iya.. Nyonya Sofia, ini hasil tes pasien yang baru saja saya chek, bersama team para Dokter di sini." Jawab Dokter itu ramah, seraya menyerahkan lembaran hasil uji tes kejiwaan.
Sofiapun mengangguk kecil, lalu mengambil selembar kertas itu dari tangan Dokter Richard. Lalu Sofia, Bernad, dan Nurlaila membacanya di dalam hati, dengan air muka bahagia yang terpancar di wajahnya. Ucap syukur tiada hentinya mereka lontarkan.
"Puji Tuhan.. suamiku bisa sembuh." Ucap Syukur Sofia dengan berlinang air mata.
"Alhamdullillah, Masya Allah Kak Charles bisa sembuh." Ucap Bernad bahagia, yang juga diikuti oleh Nurlaila.
"Sekarang kalian boleh menemui Tuan Charles, tapi secara bergantian. Yang di utamakan Tuan Bernad terlebih dahulu untuk menemuinya, karena semenjak dia bangun tidur tadi yang dia sebut hanya nama Adiknya Bernad. Kemungkinan dua hari lagi Tuan Charles bisa di izinkan kembali pulang ke rumah, jika tes yang ke dua telah kami lakukan, dan hasilnya memuaskan." Jelas Dokter Richard dengan gamblang, memberi harapan besar.
"Aamiin.. semoga saja Dokter, terima kasih banyak." Ucap Bernad bahagia, seraya berjabat tangan dengan Dokter itu, lalu di ikuti oleh istri dan Adik iparnya.
Akhirnya mereka berjalan meninggalkan ruangan Dokter tersebut, lalu pergi menemui Charles dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Bagaikan Oasis di tengah gurun sahara, dan bagaikan pelangi di saat hujan rintik-rintik. Ungkapan itulah yang bisa menggambarkan isi hati mereka.
"K.. kak Charles.." Panggil Bernad lirih, di saat memasuki ruang kamar yang berukuran kecil, dan pengap itu, kurang lebih 3×3 Meter saja.
Charles langsung melirik ke arah bunyi suara yang terdengar olehnya, lalu melepaskan sendok yang sedang dipegangnya. Pasalnya saat ini Charles sedang makan, karena merasa lapar, dan haus, ketika bangun tidur tadi.
Charles tertidur cukup lama hingga melewati makan siang dan malamnya. Apa lagi Dokter Richard, dan team Dokter yang lainnya baru saja melakukan serangkaian tes kejiwaannya.
"A.. adik..." Sahut Charles gugup, dengan wajah berbinar Charles langsung berdiri dari tempat duduknya.
Bernad yang matanya sudah berkaca-kaca, berjalan mendekati Charles yang sedang berdiri tidak jauh darinya, langsung memeluknya dengan perasaan senang, haru, iba semua bercampur aduk jadi satu. Pelukan yang sangat hangat, penuh dengan isak tangis dan derai air mata kebahagiaan.
"Hiiikk... hiiikk... hiiikk.." Keduanya menangis bersamaan, dalam pelukkan.
"Kak.. sekarang Kakak sudah sembuh, dan sudah sehat, jadilah manusia yang baru, dan lebih baik, di kehidupan yang akan kau jalani kedepannya." Nasehat Bernad bijak, seraya mengusap punggung Charles dengan lembut.
__ADS_1
"Iya.. Adik, m... maafkan Kakak banyak salah dan dosa kepadamu, Kakak yang selalu iri, selalu marah, selalu keras kepala, selalu mem..." Kata-katanya terputus oleh ucapan Bernad."
"Cukup... Kak, jangan kau ungkit cerita masa lalu, sekarang kita harus bahagia, untuk menata masa depan yang cerah, dan bersinar." Ucap Bernad berbisik di telinga Charles penuh harap, seraya mengurai pelukkannya.
Charles mengangguk kecil, lalu tersenyum mengembang.
"Iya, Dik." Ucapnya lirih, seraya menangis kembali. "Hikk.. hikk.. hikk..."
"Sudah Kak, jangan menangis lagi, hapus air matamu." Ujarnya, seraya mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan kedua tangan Bernad.
Charles tersenyum dalam tangisnya, kemudian memeluk adiknya kembali.
"Eeemmm... Kak, di luar ada Nurlaila, dan Kak Sofia, mereka menunggu Kakak, mereka ingin menemui Kakak. Kak Charles mau 'kan menemui mereka?' Tanya Bernad dengan behati-hati, takutnya Charles marah, atau tidak mau menemuinya.
Charles mengangguk kecil, lalu berucap. "Iya Dik, Kakak mau menemui mereka."
Sontak saja Bernad bersorak gembira dengan jawaban Charles itu.
"Yeeahh.." Ucapnya senang.
"Sebentar yah Kak, Adik panggil mereka." Pamit Bernad, seraya berjalan keluar kamar.
Nurlaila, dan Sofia masih setia menunggu, waktu sudah hampir pukul dua pagi. Namun rasa kantuk mereka kalah, dengan rasa rindunya kepada Charles. Seketika netra mereka saling bertemu, Sofia langsung bertanya tanpa ragu.
"Adik.. bagaimana? Apakah saya bisa menemuinya?" Tanya Sofia, yang sudah tidak sabar.
"Boleh Kak Sofia." Ucap Bernad sungguh-sungguh.
"Benarkah? Hikk.. hikk.. hikk.." Tanya Sofia lirih, dan dengan lancang air matanya lolos dari mata indahnya.
"Benar." Jawab Bernad singkat, seraya berjalan menuju kursi tunggu.
"Tapi.. temani Sofia yah Adik!" Pinta Sofia kepada kedua Adik iparnya itu.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........