TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Permintaan Maaf Bari Darma


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Bari langsung menubruk Beni yang masih berdiri menatapnya, dia bersimpuh di kaki Beni seraya menangis sejadi-jadinya. Sontak saja Beni bergeming menatapnya, sedang Jovanka, Rayhan dan Asyafa masih merasa heran dengan pria di hadapannya, karena mereka tidak mengenalnya.


"K.. kakak.. maafin Bari Kak, maafin dosa-dosa Bari yang sudah menyakiti Papa, Kak Beni dan juga Adik Dewi. Maafin Bari yang sudah khilaf, dan serakah untuk menguasai harta Papa. Hikk.. hikk... hikkk.." Ujar Bari memohon ampun dengan tulus dan berderai air mata.


"Pap sayang, dia Bari Adiknya Papa, bukan?" Tanya Jovanka penasaran.


"Heeemmm." Bari hanya bergumam seraya mengangguk pelan.


"Oooh.. " Hanya itu yang keluar dari mulut Jovanka.


"Pap, kasihan Om Bari, sudah maafkan saja." Pinta Rayhan, yang sudah melihat ketulusan Adik Papanya itu untuk meminta maaf.


Papa Beni memandang Bari dengan perasaan haru, meski dirinya marah dan kesal selama ini, dengan apa yang dilakukannya kepada Papa Jaya dan Adik Dewi. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sungguh menyayangi Adiknya itu.


Tangan Beni terulur untuk menyentuh pundak Bari, kemudian direngkuhnya Bari kedalam tubuhnya seraya berucap. "Kakak sudah memaafkan kamu, asalkan kamu menyesali semua kejahatanmu, dan memohon ampun kepada Papa Jaya dan Adik Dewi."


Bari menatap nanar wajah Kakaknya itu, lalu memeluknya erat penuh kerinduan, seraya berucap. "Iya Kak Beni, saya sudah berencana akan ke Yogyakarta besok pagi, malam ini saya akan mencari penginapan dahulu, karena besok pagi langsung ke Bandara. Terima kasih Kak Beni, sudah mau memaafkan saya."


"Iya Bari, Kakak juga minta maaf jika sudah meninggalkan kamu, dan Adik Dewi juga Papa, selama bertahun-tahun lamanya." Ujar Beni, dengan mengingat kesalahannya dimasa lalu. Baripun lalu menganggukkan kepalanya pelan, seraya tersenyum dalam tangisnya.


"Bari.. kamu dan temanmu itu menginap disini saja, tidak perlu mencari penginapan. Kamar tamu kami kosong sudah lama semenjak Papa Jaya, dan Adik Dewi pulang setelah Pernikahan anak Kakak Rayhan dan Asyafa." Ujar Beni dengan menawarkan tempat istirahat sementara untuk mereka.


"Baiklah, terima kasih Kak Beni." Ucap Bari senang.


"Ooh.. iya, Bari, perkenalkan ini istri Kakak, namanya Jovanka, sedangkan mereka anak dan menantu Kakak yaitu Rayhan dan Asyafa." Jelas Beni memperkenalkan keluarga kecilnya. Kemudian Jovanka, Rayhan dan Asyafa memberikan salam dan senyum terbaik mereka lalu saling berjabat tangan.


"Senang bisa bertemu dengan kalian, Kakak ipar dan keponakan Om." Ucap Bari bahagia.


"Sama Adik Bari, saya juga senang bisa bertemu dengam Adik." Sahut Mama Jovanka.


"Kami juga Om senang bisa bisa kenal dan berjumpa dengan Om Bari." Jawab Rayhan dan Asyafa bersamaan.


"Mari Adik Bari kita keruang keluarga untuk beristirahat, bukankah perjalanan Bandung ke Jakarta cukup melelahkan?" Tanya Papa Beni seraya menggandeng Adiknya itu menuju ruang keluarga.

__ADS_1


"Iya Kak Beni." Sahut Bari senang.


"Ayo Asisten Yoga, bawa barang-barang kita." Ajak Bari kepada Asisten setianya itu.


Setelah mereka bersantai di ruang keluarga, merekapun berbincang-bincang dengan pengalaman, dari Adik dan Kakak itu selama ini. Terlihat raut kebahagiaan dari wajah Adik, dan Kakak itu yang sudah lama tidak bertemu, dan saling merindukan sosoknya.


"Papa sayang, Mama siapkan dulu yah, kamar tamu untuk Adik Bari dan Asistennya." Pamit Mama Jovanka, seraya berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan gontai ke kamar tamu.


"Iya sayang, mau ditemani tidak?" Sahut Beni perhatian.


"Aiish.. engga sayang, sebentar saja ditinggal, sampai tidak rela gitu mukanya." Tolak Jovanka heran, sontak saja mereka yang mendengar penolakan Jovanka membuatnya tertawa.


"Ha.. ha.. ha.." Tawa mereka diatas ketidak berdayaan Beni.


Beni yang merasa ditertawakan juga, akhirnya ikut tertawa bersama.


"Cinta, Kakak sudah mengantuk, kita tidur yah, besok pagi kita 'kan datang ke kampus." Ajak Rayhan menarik tangan istrinya.


"Iya sayang, padahal masih sore." Sahut Asyafa, dengan terpaksa mengikuti keinginan suaminya.


"Pap, Om, Asisten Yoga, kami hendak istirahat duluan yah. Maaf tidak bisa menemani lama-lama." Pamit Rayhan dan Asyafa, seraya meninggalkan mereka.


Rayhan tersenyum, memandangi istrinya saat mereka sudah di kamar sekarang, dan sedang berbaring di kasur bigsizenya.


"Cinta.." Panggil Rayhan seraya menatap intens istrinya.


"Apa sayang?" Tanya Asyafa waspada dengan tatapan suaminya.


"Apa kamu sudah mengantuk?" Tanya Rayhan, seraya menangkup wajah istrinya gemas.


"Belum." Sahut Asyafa sedikit takut.


"Boleh engga, kalau malam ini Kakak minta?" Tanya Rayhan, seraya mengedipkan mata sayunya dengan senyuman terbaiknya. Padahal setiap saat ada kesempatan mereka sering melakukannya.


"Aiish.. katanya tadi bilang Kakak mengantuk, makanya aku temani ke kamar." Omel Asyafa menutupi rasa gugupnya.

__ADS_1


"Belum mengantuk banget sih, he.. he.. he.." Sahut Rayhan seraya terkekeh.


"Sekarang, aku yang mengantuk sayang." Dusta Asyafa tersenyum malu, seraya menutup matanya.


"Tadi bilangnya kamu belum mengantuk, cinta?" Tanya Rayhan tidak percaya, seraya menarik dagu istrinya lembut, dan mengecup bibirnya sekilas. Sontak saja Asyafa langsung mendelikkan matanya.


"Iich.. Kakak ini engga percayaan." Ucap Asyafa sebal, dengan bibir yang mengerucut.


"Enggalah cinta, Kakak engga percaya." Sahut Rayhan gemas dengan kelakuan istrinya, yang setiap saat ada saja alasan untuk menghindarinya. Padahal Rayhan selalu ingin melakukannya terus, karena itu membuatnya candu dan menyenangkan.


"Aku sedang ada tamu, sayang." Jelas Asyafa memberi alasan kuat.


"Tamu? Maksud kamu apa, cinta?" Tanya Rayhan tidak mengerti. Pasalnya selama menikah dengan istrinya, baru kali ini dia mendengar kata-kata itu, saat dia menginginkannya.


"Iya, tamu bulanan sayang. Tamu yang datangnya satu bulan sekali, yaitu mestruasi." Jawab Asyafa seraya tersenyum mengembang.


"Ooh.. mestruasi? Berarti belum bisa ada baby dong diperut kamu, cinta?" Tanya Rayhan lagi kecewa, dengan raut wajah ditekuk.


"Belum dong, sayang." Sahutnya geli dengan pertanyaan suaminya itu, seraya tersenyum menatap suaminya yang nampak kecewa.


"Berarti malam ini aku puasa dong, cinta?" Tanya Rayhan dengan nada tidak terima.


"Heeem... iya Kakak sayang, untuk satu minggu kedepan, Kakak harus bersabar berpuasa. " Sahut Asyafa, seraya menggoda dengan memberikan kecupan dibibir suaminya.


"Aiish.. jangan menggodaku cinta, jika tidak bisa aku makan malam ini, he.. he.. he.." Omel Rayhan terkekeh, seraya mengelitiki pinggang istrinya gemas.


"He.. he.. he... iya... iya... jangan menyentuh itu, aku geli sayang." Kekeh Asyafa merasa kegelian.


*******


Dikamar, Alya Mentari menatap atap kamarnya dengan tatapan kosong, dia memikirkan kejadian tadi siang. Sepeninggalnya Alya bersama Damar dari kampusnya, Damar nampak lebih diam dan irit berbicara.


Alya masih bingung dengan sikap Damar yang tiba-tiba mendiamkannya, dan bersikap dingin terhadapnya. Biasanya ketika saat malam seperti ini, Damar sering mengirim pesan lewat WAnya, meski hanya menanyakan hal-hal biasa, seperti sudah makan atau belum, sedang ngapain saja, atau sudah tidur atau belum dan hal kecil lainnya.


"Mengapa hal kecil itu, bisa membuatku merindukannya? Apakah aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya saat-saat malam seperti ini? Apakah aku sudah menyukainya?" Bathin Alya bermonolog.

__ADS_1


-BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2