
Happy Reading
Bernad dan Nurlaila terus menangis di pangkuan Mama Merry, bersimpuh dan mencium tangannya lalu memeluk tubuhnya bergantian.
"M... mom, maafkan kami.. hikk.. hikk.. hikk..." Ucap Bernad lirih, seraya menangis sesegukkan melepaskan rasa rindu dan bersalahnya, yang di ikuti juga oleh istrinya Nurlaila.
Mama Merry biasanya hanya berkedip, untuk merespon jika dia mengerti, namun aneh tapi nyata, hari ini dia bisa menggerakkan tangan, dan bibirnya meski sangat pelan, dan lambat. Perlahan tangan Mama Merry terulur untuk terangkat, dan mengusap rambut kepala anaknya Bernad, yang sedang menyandarkan kepalanya di pangkuan Mama Merry di kursi rodanya, lalu bibirnya mulai bisa bergerak bahkan berbicara meski terbata-bata.
"A.. a.. anak.. ku.. "
Sontak Bernad, dan Nurlaila, yang sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya perlahan, dan menatap Mama Merry pilu, dan menghentikan tangisannya.
"M.. mom." Panggil Bernad dan Nurlaila bersamaan.
Seketika, Sofia, Asyafa dan Rayhanpun terperangah, saat melihat, dan mendengar suara Oma Merry yang keluar meski lirih, dan terbata-bata.
"M.. mom, benarkah ini suaramu?" Tanya Sofia spontan, dan gugup, merasakan hal luar biasa, selama ini tidak pernah sekalipun dia mendengar suara mertuanya itu, semenjak jatuh sakit dan struk.
Oma Merry langsung tersenyum kecil, dan dia juga bisa mengangguk pelan meski lambat, lalu perlahan dia berucap terbata, dengan air mata yang sudah menetes sedari tadi.
"S.. so.. fia.."
Betapa bahagianya Sofia, mendengar suara mertuanya lagi. Sofia adalah menantu yang sangat baik, meski Charles anak dari mertuanya itu selalu bersikap kurang baik, dan senang untuk menyakitinya, namun Sofia tidak pernah membenci Ibu mertuanya itu, dan selalu setia menjaganya.
"Syukurlah, terima kasih Tuhan atas kebaikanmu, hikk.. hikk.. hikk.. " Ucap Sofia lirih, dan menangis haru, lalu memeluk Ibu mertuanya dengan erat, dan sayang.
Asyafa, dan Rayhanpun, langsung berhambur menghampiri Oma Merry, dan memeluknya bergantian.
"O.. oma, oma sudah bisa bergerak dan berbicara lagi? Ooh.. bahagianya kami Oma." Ucap Asyafa jujur dengan perasaannya saat ini, begitupun Rayhan yang meski baru mengenalnya, dia ikut merasakan kebahagiaan istri, dan keluarganya.
"C.. cu.. cu..ku.." Ucap Oma lirih, kemudian tersenyum hangat terlihat dari bibirnya.
__ADS_1
"Iya.. Oma, Asyafa sayang Oma." Ucap Asyafa tulus, seraya memeluk kembali Omanya itu.
Suara deru mobil memasuki area parkir halaman rumah Sofia, ternyata Billy pulang siang khusus hari ini. Billy ingin bertemu secepatnya dengan Uncle, dan Auntynya yang sangat dia rindukan. Billypun langsung bergegas keluar pintu mobil, dan berjalan menghampiri Bernad, dan Nurlaila, yang sudah di lihatnya dari dalam mobil tadi.
"Uncle Bernad, dan Aunty Nurlaila, kalian apa kabar? Aku sangat merindukan kalian, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian dalam keadaan seperti ini. Hik.. hik.. hik.." Ujar Billy bahagia seraya memeluk mereka dengan erat dan menangis haru.
"Kabar kami baik, dan sehat. Kalau tidak salah, apakah ini Billy keponakan Uncle?" Tanya Bernad, menyakinkan lagi penglihatannya, seraya mengurai pelukkan Billy.
"Iya uncle, aku Billy keponakan Uncle." Jawabnya riang, seraya tersenyum merekah.
"Masya Allah sudah besar, dan sangat tampan sekali, hampir Uncle tidak mengenalimu, Nak." Ungkap Bernad takjub melihat perubahan fisik, dan wajah Billy saat ini. Begitupun juga perasaan Nurlaila, yang tidak jauh berbeda dengan Bernad suaminya.
"He.. he.. he.. kalian bisa saja, kalau memuji. Dari dulu aku 'kan memang tampan Uncle." Ucap Billy terkekeh, tersipu malu. Lalu semuapun ikut tertawa mendengar ucapan Billy.
"Ha.. ha.. ha.."
"B.. bi... ly.." Panggil Oma lirih.
Oma mengangguk kecil, lalu tersenyum dan mengangkat tangannya ke atas pundak Billy dan berkata. "I.. iya... cu.. cu... ku.. Bi.. ly.."
"Syukurlah Oma, terima kasih Tuhan maha baik. Akhirnya Oma sedikit lebih baik sudah bisa bicara, dan bergerak lagi. Setelah sekian lama tidak mendengar suara Oma, Billy sungguh bahagia Oma. Hikk.. hikk.. " Ungkap Billy lirih, dan menangis haru di pangkuan Oma Merry.
"Ini sungguh mukzijat dari Tuhan, setelah sekian lama baru bertemu dengan Uncle, dan Aunty, sakit Oma langsung berangsur pulih." Ucap Billy tanpa sadar, hingga membuat Oma menangis sejadi-jadinya.
"Hiikk.. hikkk... hikkk.." Tangis Oma semakin menjadi.
Sontak saja semua orang di sana merasa aneh dengan sikap Oma, yang mendadak menangis kembali. Namun Billy langsung menyadari ucapannya, yang membuat Oma menangis. Billypun langsung menatap Oma Lagi, lalu menyentuh tangan Oma dengan lembut.
"Oma.. sudah Oma, hari ini adalah hari yang sangat bahagia. Jangan ada kesedihan lagi, mari kita sambut kebahagiaan." Ucap Billy, menenangkan Oma agar berhenti menangis. Lalu akhirnya Omapun berhenti menangis, dan berganti tersenyum bahagia.
Tidak berselang lama, merekapun memasuki ruangan keluarga rumah Sofia, untuk bersantai sejenak melepas rindu, dengan berbincang-bincang akrab.
__ADS_1
"Uncle, dan Aunty, dari dulu wajah kalian tidak jauh berubah masih tetap cantik, dan tampan serta awet muda." Selorohnya Billy, di sela obrolan mereka.
"Ha.. ha.. keponakan Uncle sudah bisa memuji sekarang. Beda banget sama yang dulu waktu kecil, sangat pendiam dan dingin." Ledek Bernad dengan candaan kecil.
Sofia baru saja selesai menyiapkan hidangan makan malam, yang di bantu oleh ART di rumahnya. Lalu sofia menghampiri mereka, yang sedang berbincang-bincang di ruang keluarga.
"Ayo kita makan malam, kalian pasti sudah lapar, bukan?" Ajak Sofia seraya menanyakan kondisi perut mereka.
"Oke.." Jawab Billy, yang langsung di ikuti oleh yang lainnya.
Hidangan istimewa sudah tersaji di meja makan, dengan menggugah selera mereka yang sudah lapar. Akhirnya merekapun menyantap makan malam, dengan penuh suka cita, dan bahagia.
Setelah selesai makan malam istimewa mereka, Sofia meminta Adik iparnya untuk beristirahat di kamar yang sudah dia siapkan sebelumnya. Karena setelah perjalanan mereka yang sangat panjang dan melelahkan, Adik iparnya belum sempat beristirahat.
"Terima kasih Kak Sofia, kami istirahat dahulu. Besok siang kita akan pergi ke Rumah Sakit Jiwa, untuk menemui Kakak Charles." Ucap Bernad sopan, seraya mengajak semua orang untuk ikut dengannya besok. Pasalnya Bernad, dan Nurlaila sudah tahu kondisi Charles saat ini, ketika mereka berbincang-bincang tadi.
"Iya Adik, sama-sama." Sahut Sofia ramah, seraya mengangguk kecil.
*******
Keesokan harinya Bernad, dan yang lainnya ikut berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa untuk menjenguk Charles. Oma Merrypun, tidak ketinggalan untuk ikut menjenguknya juga.
Di saat Charles berada di satu ruangan kamar yang sangat sempit, dan pengap, dia duduk termenung, seraya menyangga kedua kakinya menggunakan kedua tangannya.
Bernad, dan yang lain, meminta izin untuk menemui Charles, namun sebelumnya Dokter mengatakan untuk berhati-hati, karena pasien bisa saja menyerang saat dia merasa terusik. Bernad, dan yang lainpun mengangguk kecil tanda mengerti.
Bernad masuk ke ruangan itu seorang diri, karena Dokter tidak mengizinkan banyak orang yang menemui pasien. Akhirnya semua menunggu di luar ruangan itu dengan gugup, pasalnya sesuatu yang buruk takut menimpah Bernad di dalam sana.
"K.. kakak.. C.. charles.." Panggil Bernad lirih, seraya menghampirinya perlahan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........