
Di kediaman Mension Ardi Prayoga, Siska dan Indra sedang berbincang-bincang santai di ruang keluarga. Siska mengatakan kepada Papa dan Mamanya, untuk memikirkan bagaimana caranya membebaskan Adik kesayangannya itu. Pasalnya, setiap dia menjenguk Adiknya ke penjara, sungguh dia sedih dan tidak tega melihatnya.
"Bagaima jika kita bayar uang tuntutan saja Pap, hanya 2 M bukanlah apa-apa buat Papa, bukan?" Usul Siska memberikan pendapatnya.
"Kalau masalah uang 2 M, Papa bisa saja bayar sayang. Tapi, Tuan Beni tidak ingin mencabut tuntutannya dengan mudah, hanya perkara 2M. Mereka itu bukan orang biasa sayang, mereka itu keluarga Pengusaha handal di Indonesia dan di luar negeri."
"Tapi Pap, mau sampai kapan? Damar akan ditahan di penjara?" Tanya Siska menggebu-gebu.
"Sampai menunggu Rayhan, anaknya Tuan Beni pulang berbulan madu." Jawab Papa Beni menepis kegalauan anaknya.
"Tahu dari mana Papa, mereka berbulan madu? Kapan Papa bertemu dengan mereka?" Tanya Siska penasaran.
"Semalam Papa bertemu dengan Tuan Beni di Restoran, saat mengadakan pertemuan klien bisnis. Kebetulan Tuan Beni pesaing Papa untuk Tender kerja sama dengan Perusahan baru, saat presentase di mulai, Papa sengaja langsung mundur dan memberikan tender itu kepada pihak Tuan Beni."
"Mengapa Papa langsung mundur?" Tanya Siska hampir tidak percaya, dengan apa yang di lakukan Papanya itu. Lalu Papa Beni hanya menggeleng pelan.
"Di saat kerja sama mereka sudah di sepakati, Tuan Beni menghampiri Papa, dan bertanya. Mengapa Papa begitu mudah memberikan Tender besar itu? Padahal Papa punya kesempatan untuk menang? Lalu Papa hanya menjawab untuk kebaikan hubungan kita ke depannya."
"Setelah itu, dia mengatakan apa?" Tanya Siska lagi.
"Tuan Beni mengatakan, hubungan kita ke depannya tetap terjalin baik, asalkan anak Papa tidak mengganggu hubungan anak dan menantunya itu. Lalu Papa meminta maaf sungguh-sungguh kepada Tuan Beni dan keluarganya, jika Papa menyesal atas tindakan anak Papa, dan memohon untuk Tuan Beni mencabut tuntutannya.
"Lalu?" Tanya Siska lagi.
"Lalu, Tuan Beni mengatakan, jika mereka akan mencabut tuntutannya setelah anaknya Rayhan pulang berbulan madu. Begitulah yang di katakan Tuan Beni."
"Oooh.. begitu rupanya. Tapi berapa lama menunggu mereka berbulan madu?" Tanya Siska penasaran.
"Entahlah, mungkin satu minggu atau lebih." Jawab Papa Ardi sambil menggidikkan bahunya.
"Ya sudah, kalau seperti itu, kita tunggu saja. Saat mereka pulang berbulan madu, kita langsung ke rumahnya Pap."
"Iya."
*******
Di Hotel, pagi ini Asyafa sudah terbangun, dan langsung membersihkan tubuhnya dengan mandi keramas. Dia membangunkan suaminya yang masih tidur dalam keadaan polos, di bawah selimut tebalnya. Mungkin efek pergulatan semalam, hingga tidurnya sangat lelap sekali.
"Sayang, ayo bangunlah. Cepat mandi dan keramas, kita sholat berjamaah dahulu. Katanya kita akan pergi berjalan-jalan ke taman rekreasi hari ini." Bisik Asyafa, di telinga suaminya dengan mengecup kening dan bibirnya lembut.
Rayhan menggeliat, mendapati sentuhan lembut dan bisikan halus dari istrinya. Seketika dia tersenyum menatap lekat istrinya, dan langsung memeluknya dengan erat.
"Heem.. cinta, kamu harum sekali. Kamu sudah mandi yah, kenapa engga ajak bareng suamimu ini?"
"Engga mau, nanti ada season lanjutan kalau mandi bareng." Ucap Asyafa seraya mengurai pelukan suaminya.
"Kamu pinter banget, cinta. Tahu saja apa yang suami kamu inginkan, he.. he.. he.." Ucap Rayhan terkekeh, seraya bangun dari tempat tidurnya.
"Jangan lupa keramas yah, suamiku." Pesan Asyafa seraya membawa bathrobe di tangannya
"Iya, cinta."
__ADS_1
Rayhan langsung melesat ke dalam kamar mandi, seraya mengambil bathrobe yang ada di tangan istrinya lalu memakainya. 20 menit Rayhan keluar dari kamar mandi sudah terlihat segar dengan rambut yang basah, makin terlihat ketampanan seorang Rayhan Darma.
"Sayang, sudah ambil wudhu?" Tanya Asyafa, seraya menyiapkan perlengkapan sholat.
"Sudah, cinta."
"Tunggu aku yah, aku belum ambil wudhu." Pinta Asyafa untuk menunggunya.
"Iya cinta, berwudhulah sana."
"Heeem."
Setelah Asyafa mengambil air wudhu, lalu dia memakai mukena berwarna putih, sangat cantik dia kenakan di tubuhnya. Mereka menunaikan 2 rakaat dengan khusu, setelah itu memanjatkan doa kebaikan untuk mereka dan keluarganya.
Asyafa mencium punggung tangan suaminya takzim, lalu Rayhan mencium kening istrinya lembut.
"Yang, sehabis aku bangun tidur, Ibu dan Ayah telepon. Katanya, jangan lupa mampir ke rumah Oma nanti. Setelah bertemu dengan Oma, mereka ingin berbicara dengan Oma lewat teleponnya." Ujar Asyafa, menjelaskan perihal maksud kedua orang tuanya.
"Iya.. cinta, mungkin besok lusa kita ke rumah Oma. Namun, hari ini kita akan habiskan waktu bersama untuk jalan-jalan." Ucap Rayhan.
"Drrrt... drrrt.. drttt... !" Ponsel Rayhan bergetar.
Rayhan melirik siapa yang menelpon, ternyata Papa Beni ingin melakukan Vidio Call, Lalu dia langsung menggeser layar ponsel tersebut.
"Assalamu'allaikum, Hallo Pap, Mom."
"Wa'alaikumsalam, Hallo juga anak Mama, dan Papa, ganteng dan cantik."
"Iya Mom, kami baru selesai sholat subuh."
"Disini jam 11 siang, berarti di sana jam 5 pagi yah, Nak?"
"Iya Mom."
"Hari ini, kalian mau rencana kemana?"
"Kami ingin berjalan-jalan mengelilingi tempat wisata di sini Mom, Pap."
"Ooh.. begitu, good son."
"Dude, kemarin malam, orang tua Damar meminta Papa lagi untuk mencabut tuntutan terhadap anaknya. Menurut kamu Papa harus bagaimana?"
"Iya.. sudah Pap, cabut saja tuntutannya. Aku juga tidak ingin ada permusuhan, dan dendam dalam diri Rayhan. Semoga dia jera dengan kejadian ini, dan bertobat akan dosa-dosanya."
"Ya sudah kalau begitu, Papa akan mengabari Tuan Ardi kalau begitu."
"Iya.. Pap."
"Happy holiday anak-anak Mama dan Papa."
"Iya.. Mom, Pap, by.. by... Assalamu'alikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, by.. by.."
Mereka mengakhiri Vidio Call, kemudian merapihkan perlengkapan Sholatnya. Setelah itu mereka merebahkan tubuhnya di kasur, dengan saling berpelukkan seraya bercumbu mesra.
"Sayang, aku lapar sekali." Rengek Asyafa mengeluh perutnya yang sudah lapar.
"Sama, cinta. Kakak juga sudah lapar. Kamu mau breakfast di sini atau kita ke bawah Restoran Hotel?" Tanya Rayhan tanpa melepaskan pelukkannya.
"Yang, coba tanya Aunty dan Uncle saja, mereka breakfast di mana?"
"Iya.. cinta." Jawab Rayhan, seraya mendial nomor telpon kabel ke kamar hotel Uncle Jonathan.
"Hallo.."
"Hallo.. Aunty ini Rayhan, kalian mau breakfast di kamar atau di bawah?"
"Kami mau breakfast di bawah Ray, barusan William mengajak kami turun."
"Ya sudah, Aunty kami akan ikut bergabung."
"Oke."
Rayhan langsung menutup telpon kabelnya.
"Cinta, ayo kita breakfast sekarang."
"Iya."
Merekapun meninggalkan kamar Hotel, sudah dengan berpakaian rapih dan couplean. Asyafa tampak cantik, dan anggun, meski hanya mengenakan riasan tipis, dan natural. Rayhanpun tampak ganteng, dan gagah, berjalan beriringan dengan istrinya, menuju meja makan di restoran hotel tersebut.
"Pagi Ray, Sya, mari duduk dekat Aunty."
"Pagi juga Aunty, Uncle dan Will. Oke Aunty." Ucap Rayhan dan Asyafa berbarengan, yang di anggukkan oleh mereka.
Rayhan dan Asyafa duduk di samping Aunty Stepani, sedangkan Uncle dan William duduk berhadapan dengan mereka.
William memandangi wajah Asyafa tanpa berkedip, sedari dia datang hingga duduk berhadapan dengannya. Rayhan merasa salah dengan penglihatannya, yang begitu aneh dengan sikap sepupunya itu. namun dia mencoba menepisnya.
"Hai.. Will, apa yang sedang kau pikirkan? Jangan memandangi wajah istriku terus, takut jatuh cinta nanti. Awas saja kalau itu sampai terjadi, he.. he... he.." Omel Rayhan, seraya terkekeh. Sontak saja mereka langsung tertawa, mendengar lelucon Rayhan.
"He.. he.. he.. apa kau cemburu Ray? Aku sudah bilang Ray, aku ingin cari istri seperti wanita di depanku, tapi bukan istrimu. Apakah kamu bisa carikan wanita seperti istrimu?" William terkekeh, seraya menantang Rayhan untuk memenuhi keinginannya.
"Haaaaah..."
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........