
Tok.. tok.. ! Pintu di ketuk.
"Sayang.. ! Apakah kalian sudah bangun? Kita akan sarapan bersama sebelum Kakek pulang ke Yogyakarta. Ujar Mama Jovanka.
"Sayang.. ! Seru Mama Jovanka yang masih menunggu, karena belum mendengar jawaban dari anak dan menantunya.
"Apa mungkin mereka kelelahan karena semalam pulang sangat larut, atau mereka habis... ! Ya sudah biarkanlah." Bathin Mama Jovanka seraya tersenyum, memikirkan malam pertama anaknya yang belum mereka lewatkan, pasalnya semenjak menikah mereka baru malam ini tidur bersama setelah kejadian yang menimpa mereka.
Mama Jovanka akhirnya, meninggalkan kamar mereka menuju meja makan yang sudah terisi oleh keluarga besar.
Asyafa mengerjapkan matanya, ketika pendengaranya sedikit menangkap suara ketukan pintu dan suara dari luar. Namun hanya terdengar samar-samar karena dia merasa seperti bermimpi, tubuhnya yang kelelahan akibat ulah suaminya semalam. Akhirnya dia sulit utuk bergerak menahan sakit di pangkal pahanya, seperti ada yang masih tertinggal sesuatu di sana.
"Aaaawwwhh.. !" Rintih Asyafa terasa nyeri saat dia hendak berjalan ke kamar mandi.
Rayhan terjaga saat istrinya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, saat akan berjalan ke kamar mandi. Namun Asyafa tidak menyadari jika suaminya juga masih polos tanpa sehelai benangpun.
"Cinta, kamu kenapa meringis? Apakah sangat nyeri, sayang?" Tanya Rayhan yang langsung berdiri memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Iya, sayang! Seperti masih mengganjal dan sangat perih yang aku rasa di pangkal pahaku." Ucap Asyafa gamblang dan jujur apa yang dia rasakan, karena ini benar-benar sesuatu yang baru dia alami selama hidupnya.
"Mungkin ini baru pertama kali bagi kita! Jika sering melakukan ini, lama-lama mungkin terbiasa dan tidak akan terasa sakit lagi, cinta." Ujar Rayhan berasumsi tentang aktifitas yang di lakukan semalam.
"Aiish.. itu sih maunya Kakak.. !" Seru Asyafa masih posisi membelakangi suaminya.
"He.. he.. !" Rayhan terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Ya sudah, sini cinta... Kakak gendong saja." Ucap Rayhan yang langsung menggendong Asyafa ala bridge style, tanpa menunggu jawaban dari istrinya langsung menuju ke kamar mandi.
Asyafa seketika menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya karena malu dengan keadaan mereka yang polos tanpa penutup sehelai benangpun.
Rayhan yang melihat tingkah istrinya malu, langsung tersenyum hangat dan menurunkan dalam bathtub. Lalu Rayhan menyalakan water heater, agar istrinya rileks dan bisa mengurangi rasa nyeri yang sedang istrinya rasakan.
"Cinta, kenapa masih malu saja? Padahal sudah beberapa kali melihat seperti ini. He.. he.. !" Seru Rayhan terkekeh seraya ikut masuk ke dalam bathtub untuk berendam di belakang punggung istrinya.
"Sayang, tetap saja malu, aku belum terbiasa seperti ini." Ucap Asyafa seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Iya.. aku mengerti, cinta." Ucap Rayhan seraya menggosok punggung istrinya dengan sabun cair.
"Kakak sayang, sepertinya tadi aku mendengar suara Mama mengetuk pintu dan memanggil kita." Ujar Asyafa sedikit ragu namun hatinya berkata iya.
"Mungkin, sudah siang gini kita belum bangun dan turun untuk sarapan, cinta." Pikir Rayhan seraya mengecup-ngecup bahu dan tengkuk istrinya lembut.
__ADS_1
"Aiish.. sayang jangan gitu, geli iich." Ucap Asyafa yang merasa geli dengan tingkah laku suaminya yang mesum.
"Kenapa cinta, ini menyenangkan! Kaka suka menghirup harum tubuhmu yang membuat candu untuk Kakak." Ucap Rayhan tanpa dosa.
"Uucch... Kakak, jangan nakal.. ! Ucap Asyafa seraya menepis tangan suaminya yang sudah menjalar ke daerah sensitif miliknya.
"He.. he.. he.. ! Hanya sedikit, cinta." Bantah Rayhan seraya terkekeh ketika istrinya kesal.
"Sayang, kita harus cepat selesaikan ritual mandi sekarang, aku tidak enak dengan Mama dan Papa. Masa menantunya malas bangun pagi, dan tidak membantu mereka memasak untuk sarapan." Ucap Asyafa seraya menyudahi aktivitas mandinya.
"Tunggu, cinta.. kamu melupakan sesuatu." Ucap Rayhan seraya keluar dari bathtub, lalu menghampiri istrinya.
"Apa, sayang?" Tanya Asyafa seraya mengernyitkan keningnya heran.
"Bathrobe cinta, kita melupakannya, he.. he.. !" Jawab Rayhan terkekeh.
"Ooh iya, habis Kakak tadi langsung menggendong aku sih." Ucap Asyafa mengomel.
"Iya.. engga apalah, kita berjalan seperti ini saja, cinta! Engga ada yang lihat ini, selain kita berdua." Ucap Rayhan santai.
"Engga sayang, heem... tolong Kakak saja keluar ambil bathrobenya." Tolak Asyafa seraya mengulum senyum meminta tolong.
"Baiklah tuan Putri, cintaku!" Seru Rayhan seraya berjalan keluar kamar mandi untuk mengambil bathrobe itu.
Akhirnya merekapun bersiap untuk memakai baju ganti, yang sudah disiapkan oleh Mama Jovanka sebelumnya di dalam lemari pakaian Rayhan.
"Cinta, kamu cantik sekali." Ucap Rayhan seraya memeluk istrinya dari belakang dengan menghirup wangi tubuh dan rambut istrinya.
"Aiish... memang sudah cantik dari sananya, sayang." Ucap Asyafa bangga seraya mengurai tangan suaminya pelan.
"Ayo kita menemui mereka, cinta." Ajak Rayhan seraya menggandeng tangan istrinya mesra.
"Hallo semua, selamat pagi!" Sapa Rayhan dan diikuti oleh istrinya.
"Selamat pagi!" Jawab semua orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Waah.. pengantin baru habis keramas, sepertinya. He.. he.. !" Ledek Papa Beni terkekeh, yang melihat rambut anak dan menantunya masih basah.
Mendengar celoteh Papa Beni, Asyafa dan Rayhan hanya tersenyum canggung tanpa berkata sedikitpun.
"Sayang, kalian sarapan dulu sana! Mama sudah siapkan di meja makan." Ujar Mama Jovanka seraya menghampiri anak dan menantunya untuk menghindari suaminya yang sedang meledek mereka.
__ADS_1
"Iya, Mom." Jawab Rayhan, yang di ikuti pula oleh Asyafa.
"Yang lain sudah sarapan tadi, jadi kalian sarapan berdua saja. Nanti pukul 11 siang, Papa dan Mama akan mengantar Kakek Jaya dan Bulek Dewi ke Bandara. Kalian mau ikut atau tidak? Tanya Mama Jovanka, seraya duduk di hadapan mereka.
"Boleh, Mom! Nanti kita ikut antar 'kan cinta?" Jawab Rayhan seraya bertanya kepada istrinya, lalu di anggukan oleh Asyafa.
"Iya, Mom! Kita ikut mengantar." Ucap Asyafa.
"Ayo makan jangan sungkan, sayang. Mama menemui Papa dulu yah." Pinta Mama Jovanka pada menantunya seraya meninggalkan mereka berdua.
"Iya, Mom!" Seru Rayhan dan Asyafa bersamaan.
Asyafa menyendokkan nasi untuk suaminya dengan lauk dan sayur yang tersedia di meja, namun Rayhan ingin makan sepiring berdua. Lalu dituruti oleh istrinya, hingga mereka makan dengan lahap dan menambah sampai dua kali karena perutnya yang sangat lapar pagi ini. Mungkin efek dari aktivitas semalam tentunya.
Seusai sarapan, Rayhan dan Asyafa bergabung dengan keluarga besar. Ada canda tawa, serta obrolan serius menyelangi waktu kebersamaan mereka. Si kembar Dara dan Dira juga membuat kelucuan dan pertengkaran yang membuat semua gemas dengan tingkah mereka.
"Maaf Tuan Beni, ada tamu di luar yang ingin bertemu dengan Tuan, katanya." Ucap Bapak Satpam yang menjaga kediaman Tuan Beni.
"Kamu sudah tanyakan siapa beliau yang ingin bertemu dengan saya?" Tanya Tuan Beni dengan wajah serius.
"Katanya beliau adalah kolega bisnis Tuan Beni yang bernama Tuan Ardi Prayoga dan Nyonya Ningsih." Jawab Bapak Satpam menjelaskan.
"Mau apa lagi mereka hah... ? Katakan pada mereka saya tidak ingin menemui mereka!" Seru Tuan Beni penuh dengan amarah.
"T.. tapi Tuan, mereka sudah ada di depan rumah." Ucap Bapak Satpam gugup.
"Usir saja mereka kalau begitu!" Seru Papa Beni emosi.
"Baik, Tuan." Ucap Bapak Satpam seraya melangkah pergi.
"Tunggu... Bapak Satpam!" Seru Rayhan menghentikan langkah Bapak Satpam itu.
"Dude, mengapa kamu menghentikan Bapak Satpam?" Tanya Papa Beni heran.
"Papa tidak boleh seperti itu, kita harus menemui mereka dahulu. Terlepas apa yang akan mereka bicarakan kita harus menerima dengan baik." Ujar Rayhan bijak.
"Tapi dude, mereka orang tua Damar. Pasti mereka ingin meminta kita untuk mencabut tuntutannya terhadap anaknya Damar." Ujar Papa Beni emosi.
"Iya sudah Pah, kita harus temui mereka dulu." Sela Mama Jovanka memberi solusi.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Papa Beni pasrah.
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--