
Dua hari sudah Rayhan di rawat Di Rumah Sakit, akhirnya dia sudah di izinkan pulang ke rumah karena kondisinya yang sudah cukup baik. Orang tua mereka sangat senang mendengar Rayhan sudah bisa pulang, merekapun membantu untuk berkemas-kemas.
"Terima kasih Dokter dan suster atas pelayanan terbaik yang di berikan." Ucap Rayhan dan istrinya serta para orang tua bergantian seraya berjabat tangan.
"Sama-sama Tuan dan Nyonya. Semoga lekas sembuh dan beraktifitas kembali." Jawab Dokter seraya menyambut jabatan tangan mereka yang di ikuti suster pula.
Akhirnya mereka kembali dengan menggunakan mobil keluarga masing-masing, sedangkan Rayhan dan istrinya menggunakan mobil Ayah Bernad.
Di sepanjang perjalanan menuju rumahmya, Rayhan tak henti-hentinya berucap Syukur karena bisa melihat dan menikmati udara segar kembali.
"Alhamdullillah, aku masih di beri kesempatan untuk hidup serta menyayangi istri dan orang tuaku, bahkan nanti calon anak-anak yang lucu dan menggemaskan." Bathin Rayhan, seketika senyum-senyum sendiri.
Melihat suwminya tersenyum sedari tadi, Asyafa ingin sekali menggodanya.
"Senang sekali sepertinya? Apakah ada yang lucu atau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Asyafa menggoda.
"Tidak, hanya sedang bersyukur dan memikirkan masa depan kita, sayang." Ungkap Rayhan.
"Iish.. so sweet suamiku ini." Ucap Asyafa seraya mengecup pipi kanan suaminya.
"Waah.. istriku mulai nakal yah? Sepertinya minta di hukum! Mau yang kecil atau yang besar hukumannya?." Tanya Rayhan seraya menangkup wajah istrinya gemas.
"Kakak, malu sama Pak Dadang." Sarkas Asysafa berkilah. Sedangkan Pak Dadang tersenyum secara namanya di bawa-bawa.
"Engga apa-apa non, saya pura-pura tidak melihat dan mendengar saja. He.. he.. !" Sergah Pak Dadang terkekeh.
Lalu Asyafa mendadak salting dengan ucapan Pak Dadang.
"Kamu sih Kak, malu 'kan jadinya." Ucap Asyafa sebal.
"Kata Pak Dadang juga engga apa-apa. Pak Dadang juga pernah muda, bukan begitu Pak? He.. he.. !" Seru Rayhan minta dukungan seraya terkekeh.
Pak Dadang hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya sedikit, melihat tingkah majikannya yang sedang di mabuk asmara itu.
Mendengar Rayhan berceloteh, seketika Asyafa mencubit pinggang suaminya itu gemas.
"Sakit sayang, jangan suka nyubit dong, nanti aku kelitikin kamu baru tahu rasa." Ancam Rayhan seraya mengelitiki pinggang istrinya tanpa ampun.
"Kakak sudah, aku geli... Hi.. hi.. ! Ampun sudah, aku minta ampun." Mohon Asyafa menahan geli yang tidak juga berhenti.
"Biarin saja, hayo ini.. rasakan sekali lagi.. !" Ancam Rayhan mengulanginya lagi.
__ADS_1
"Iya, Kakak ampun. Tolong.. sudah hentikan, Kakak... !" Pekik Asyafa terpingkal-pingkal menahan geli di pinggangnya.
Akhirnya Rayhan menghentikan aksi jahilnya itu dengan terkekeh, Pak Dadang juga ikut tertawa dengan kelakuan Rayhan mengerjai istrinya.
"Makanya, jangan suka cubit-cubit yah." Ancam Rayhan seraya menarik istrinya kedalam dekapannya.
"Aissh.. Kakak nyebelin." Ucapnya sebal.
"Tapi sayang dan gemas, bukan? He.. he.. !" Seru Rayhan seraya mengeratkan pelukannya.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai juga di kediaman Ayah Bernad. Tidak lama kemudian Ayah Bernad dan Ibu Nurlaila juga telah sampai. Mereka memasuki rumah bersama lalu duduk bersantai di ruang keluarga.
Mbo Ijah membuatkan minuman dan camilan untuk mereka, meski mereka tidak memintanya terlebih dahulu, namun Mbo Ijah hapal minuman kesukaan majikannya itu.
"Aden sudah sehat yah? Syukur Alhamdullilah yah aden." Tanya Mbo Ijah.
"Alhamdullilah, Mbo Ijah, saya sudah sehat dan bisa di rawat di rumah saja. Terima kasih minuman dan camilannya Mbo Ijah." Jawab Rayhan seraya mengangkat gelasnya ke udara untuk meminumnya.
"Iya Aden, saya pamit dulu." Ucap Mbo Ijah seraya meninggalkan ruang keluarga.
"Ibu dan Ayah, aku mau istirahat di kamar yah." Pamit Asyafa.
"Tidur di kamar kamu atau di kamar Pengantin kemarin sayang? Tanya Ibu.
"Bukan 'kah lebih luas kamar yang sudah Ibu siapkan untuk kalian?" Tanya Ibu lagi.
"Iya, lain kali saja." Jawab Asyafa lagi.
"Ya sudah, nanti minta tolong Mang Udin untuk pindahin barang-barang kamu ke kamar yang baru semuanya." Ujar Ibu.
"Iya, Ibu terima kasih." Ucap Asyafa seraya menarik suaminya beranjak dari tempat duduknya.
"Ibu dan Ayah, Rayhan juga pamit." Ucap Rayhan seraya bangun dari tempat duduknya.
"Iya, Nak." Jawab Ibu dan Ayah bersamaan.
*******
"Boss.. Apakah kita akan mendekam di penjara ini untuk waktu yang cukup lama?" Tanya Asisten Romi sendu.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Semua tergantung Papa dan Mama." Jawab Damar parau.
__ADS_1
"Boss.. Mengapa cinta bisa membutakan mata hati Boss? Karena besarnya cinta Boss kepada gadis itu, akhirnya kita masuk kedalam sell ini." Ucap Asisten Romi menyesali yang terjadi.
"Sudahlah, ini bukanlah yang pertama kali saya masuk sell penjara." Ucap Damar santai.
"Iya sih, tapi 'kan waktu itu hanya semalam, pagi-pagi Boss sudah bebas. Kalau sekarang sudah dua hari kita masih di sini belum ada yang menjenguk." Ujarnya.
"Tunggu saja, kau itu cerewet sekali." Omel Damar memutar bola matanya jengah.
"Iya Boss, maaf."
"Saudara Damar, ada yang ingin bertemu. Silahkan anda keluar!" Ucap sipir penjara memanggil.
"Terima kasih, Pak." Jawab Damar yang kemudian mengekori sipir itu.
Damar menghampiri tempat duduk Papa Ardi dan Mama Ningsih berada. Damar duduk disebrangnya hanya berbatas meja panjang.
Damar hanya tertunduk diam dan malu, sedangkan Mama hanya menangis pilu. Papa Ardi menatap Damar dengan penuh emosi dan kesal.
"Mengapa kamu lakukan ini, sayang? Ada apa sebenarnya terjadi?" Tanya Mama Ningsih lirih seraya menyentuh kedua tangan Damar erat.
Damar tidak menjawab hanya menggelengkan kepala dan menunduk.
"Sudah Ma, anak ini memang sudah melakukan perihal yang memalukan dan mencoreng nama baik kita sebagai Keluarga terpandang dan Pejabat di sini. Papa sudah malas mengurusinya." Ujar Papa menghardik Damar.
"Papa engga boleh seperti itu, bagaimanapun Damar anak laki-laki kita satu-satunya, pewaris kita, Pa." Bela Mama Ningsih untuk anaknya.
"Untuk apa Mama membela anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu di untung itu?" Tanya Papa Ardi yang menghardik anaknya.
"Sudah, cukup, hentikan!" Teriak Damar melerai pertengkaran orang tuanya.
Seketika mereka berhenti dan menoleh ke arah suara Damar.
"Memang aku anak tidak tahu diri, anak tidak tahu di untung, anak yang memalukan dan.. " Ucap Damar terhenti ketika dia melihat Kakaknya, Siska datang dan langsung memeluk adiknya itu.
"Sudah Ma, Pa, Damar seperti ini karena kurang perhatian dan kurang kasih sayang dari kalian sebagai orang tua." Ucap Siska yang langsung membela adik kesayangannya seraya mengurai pelukannya.
Papa Ardi dan Mama Ningsih sadar dengan apa yang di ucapkan anak perempuannya itu. Lalu mereka berhenti bertengkar.
"Mengapa Damar seperti ini Pa, Ma? Karena Damar sedang jatuh cinta, namun Papa dan Mama tidak perhatian dan tidak perduli dengan keadaannya. Maaf Ma, Pa, bukannya Siska ingin menyalahkan kalian tapi tidak 'kah kalian kasihan dengan Damar?" Tanya Siska menuturkan pendapatnya.
Mama Ningsih dan Papa Ardi seketika tubuhnya lunglai tak berdaya mendengar ucapan Siska.
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--