
Asyafa membatu! Entah apa yang ada dalam otaknya, dia berpikir keras.
"*J**angan-jangan memang benar dia, pria yang akan dijodohkan* dengan aku." Bathin Asyafa bermonolog.
"Hei.. kamu bisa dengar engga? Atau kamu tuli?" Mengibaskan tangannya, didepan muka gadis itu.
"T... tidak! Aku dengar Pak, enak saja mengatakan aku tuli, huh... Bapak! Seenaknya saja kalau ngomong!" Omel gadis itu.
"Lalu, kalau engga tuli apaan dong? Saya tanya engga dijawab. Malah membatu begitu." Dosen itu menimpali.
"Iya, iya!" Jawab gadis itu jengah.
"Maksud kamu! Kamu benar anak gadis dari Tuan Bernad Dorman?" Dosen itu terperangah.
Akhirnya, Asyafa menganggukan kepalanya pelan.
"Emang kenapa Pak? Kalau saya anak dari Tuan Bernad?" Tanya Asyafa, mencoba tenang pura-pura tidak mengerti dan masa bodah.
"Jadi benar, kamu anak dari Tuan Bernad Dorman?" Dosen itu memastikan.
"Sepertinya, Bapak ragu dan tidak percaya sama saya." Balas Asyafa, seraya tersenyum kecut.
"Bukan, bukan seperti itu! Maksud saya, kamu benar-benar anak gadis yang akan dijodohkan sama saya?" Pertanyaannya, meluncur begitu saja dari mulut Dosen itu tanpa ragu.
Sontak, Asyafa membekap mulutnya tidak percaya. Bahwa pria di depannya itu, benar-benar yang telah dijodohkan oleh orang tuanya.
"Kamu kenapa?" Dosen itu menatap heran.
"Engga... ! Aku engga kenapa-napa!" Asyafa membuang muka.
"Jangan-jangan, kamu sudah mengetahuinya! Dan mengenalku yah? Atau kamu seorang penguntit, atau.."
"Sudah hentikan!" Asyafa, memotong pernyataan Dosen itu. Sontak Dosen itu kata-katanya menggantung di udara, menguap begitu saja.
"Waaah.. berarti benar dugaanku yah! Kamu sudah tahu semuanya." Dosen itu hanya menebak-nebak.
"Iish.. Bapak itu sok tahu!" Sontak Asyafa, mendorong Dosen itu sampai jatuh kelantai.
"M.. maaf Pak! Saya engga bermaksud mendorong Bapak sampai jatuh." Sesal Asyafa.
"Sial... !" Umpat dosen itu.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya menyesal sudah mendorong Bapak terlalu kuat, jadi Bapak sampai jatuh!" Seru Asyafa dengan muka memelas, seraya melipat kedua tangannya didepan Dosen itu.
"Simpan saja maafmu! Aku paling benci kotor, dan tidak suka sifatmu yang ceroboh dan bodoh!" Maki Dosen itu.
Keduanya terdiam, hening. Kemudian Dosen itu terbangun dan membersihkan celananya yang terkena lantai. Meskipun, tidak terlihat kotor sama sekali.
Tampak ke dua mata Asyafa, menggenang air matanya yang berkaca-kaca hampir saja tumpah, tapi Asyafa menahannya.
"Kenapa sesakit ini! Padahal sebelumnya, banyak orang mengumpatnya. Bila tidak suka, aku biasa saja."Bathin Asyafa.
Lamunannya terhenti, ketika ketukan pintu terdengar oleh ke duanya!.
Tok.. tok.. tok.. ! Pintu di ketok.
"Apakah, ada orang didalam?" Tanya seorang laki-laki terdengar.
"Masuk saja Pak! Tidak dikunci." Perintah Dosen itu.
"Permisi, Bapak Dosen! Ini ada paket makanan, atas nama Bapak Rayhan Darma! Mohon diterima." Ucap Mang Ujang, penjaga Sekolah Universitas.
"Ia Pak, terima kasih! Ini uang buat Bapak, ambil saja buat anaknya." Ucap Dosen itu, seraya menyodorkan uang 100 ribuan ketangan Mang Ujang, dan mengambil paket makanan itu
"Alhamdullilah, Bapak Dosen teh bageur pisan atuh." Ucap Mang Ujang, yang sumringah mendapat uang dari Dosen itu.
"Aduh si Bapak Dosen! Panggil saja saya Mang Ujang atuh, bageur itu teh artinya baik banget Bapak Dosen." Jelas Mang Ujang Sambil tertawa kecil, dia sangat senang.
"Eeh.. ada neng geulis juga disini?" Tanya Mang Ujang melihat ke arah Asyafa, yang sedang duduk disofa berdiam diri saja.
"Iya.. Mang Ujang!" Asyafa menjawab seraya tersenyum tipis.
"Ya sudah, saya pamit dulu. Saya mau beberes diruang TU, terima kasih yah Pak Dosen, uangnya saya terima." Ucap Mang Ujang, seraya menutup pintu pelan.
"Sama-sama Mang Ujang." Jawab Pak Dosen.
Dosen itu berjalan ke arah Asyafa, kemudian menyodorkan sebungkus paket makanan yang sudah dipesannya.
"Ambillah! " Pinta Dosen itu.
Lalu dia menarik meja, yang letaknya tidak jauh dari sofa itu.
"Terima kasih." Jawab gadis itu pelan.
__ADS_1
"Ya.. makanlah! Jangan di lihatin saja. Itu nasi Padang pesananmu." Perintah Dosen itu, seraya membuka bungkusan nasi Padangnya sendiri.
Mereka akhirnya makan dengan lahap dan hening, seraya sesekali Dosen itu melirik gadis itu makan menggunakan tangan. Sedangkan Dosen itu menggunakan sendok dan garpu lantas diapun penasaran.
"Hei.. Nona! Kamu itu jorok sekali. Kenapa kamu makan menggunakan tangan? Untuk apa ada sendok dan garpu, hah.. !" Dosen itu bergidik jijik.
Asyafa diam saja, hanya mengangkat bahunya keatas sedikit. Tanpa perduli tatapan Dosen itu menyeringai kearahnya.
"Kalau ditanya itu jawab!" Umpat Dosen itu ketus.
"Eem.." Baru mau menjawab, ponselnya gadis itu berbunyi.
Dret.. dret.. dret.. " Alya Calling
"Hallo, Kenapa Alya?"
"Kamu dimana? Aku dan anak-anak sudah menunggu kamu di Basscamp. Sedari tadi engga datang-datang." Suara Alya disebrang telpon.
"Iya.. nanti aku susul, tunggu saja oke!" Jawab Asyafa.
Tuut.. ! Ponsel dimatikan.
"Pak, saya mohon izin mau bertemu dengan teman saya, karena sudah berjanji sedari tadi Pak." Asyafa meminta izin.
"Habiskan makananmu dulu, sesudah habis baru boleh pergi." Ucap Dosen itu, seraya mengambilkan air hangat.
"Terima kasih Pak!" Asyafa tersenyum manis.
"Tapi, saya minta nomor HP kamu! Berapa, sebutkan? Ujarnya, seraya mengeluarkan HP milik Dosen itu dan mulai membukanya.
"U.. untuk apa, Bapak minta nomor HP saya?" Tanya Asyafa kikuk.
"Untuk menghubungimu dong!" Jawabnya cepat.
Kemudian tangan Dosen itu mengambil tisu, untuk membersihkan nasi yang menempel di bibir Asyafa.
Asyafapun terkesiap dan matanya melotot, tidak percaya apa yang dilakukan Dosen itu.
Deg...
Jantung Asyafa berdebar tak karuan.
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--