TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Mengantar Alya Mentari


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Dikediaman Tuan Hendra Baskara, Alya sedang membaca WA dari Damar, sudah dua hari ini mereka sering berkirim pesan lewat aplikasi pintar tersebut. Meski awalnya Damar yang selalu memulai percakapannya, tapi Alya selalu berusaha membalasnya.


"Assalamu'alaikum... Alya Mentari yang cantik."


"Wa'alaikumsalam.. Damar."


"Kamu apa kabar? Sedang apa? Sudah makan belum?"


"Alhamdullilah baik, sedang rebahan, sudah tadi makan bareng Mama dan Papa.


"Oooh.. Syukur Alhamdullilah kalau begitu, kamu ada acara keluar engga hari ini?"


"Ada, mau ke kampus nanti siangan."


"Ooohh.. mau di anterin engga?"


"Emang loe engga ada kerjaan?"


"Ada sih sedikit, tapi bisa di handel oleh Asisten Pribadiku."


"Eeemmm... bagaimana yah?"


"Jangan banyak mikir cantik, nantinya aku resah."


"Aiish.. maksa."


"He.. he.. he.. engga apa dong, maksa sama calon istri?"


"Males.."


"Males jauh-jauh dari aku yah?"


"Iich.. PD banget."


"He.. he.. he.. engga apa-apa PD dari pada minder."


"Terserah loe."


"Ya sudah sekarang aku kerumah kamu yah, cantik."


"Iya."


"Terima kasih.. Asalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam..."


Setelah menutup WA diponselnya, Alyapun melirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Alya langsung saja bersiap-siap, untuk beranjak pergi ke kampus. Hari ini Alya pergi ke kampus, untuk menyelesaikan revisi hasil sidang kemarin yang masih belum sempurna.


Tidak berselang lama, suara deru mobil terparkir di halaman depan rumah Alya, Sang Mama yang menyambut kedatangan calon menantunya itu. Damar mengucap salam dan mencium takzim punggung tangan calon mertuanya itu.


"Nak Damar apa kabar? Tambah ganteng saja calon menantu Mama?"


"Alhamdullilah, Damar sehat, Mama. Ach.. bisa saja Mama memuji, Damar 'kan jadi ge'er, he.. he.. he.."


"Ha.. ha.. ha.." Mama Mentari tertawa.


"Silahkan duduk Nak, nanti Mama panggilkan Alya dulu."


"Iya Mam."


Mama Mentari berjalan ke dapur, meminta ART untuk membuatkan minuman. Setelah itu baru ke kamar Alya, untuk menemuinya.

__ADS_1


"Tok..." Pintu di ketuk


"Alya sayang, diluar ada calon suami kamu tuh, kamu sedang apa di kamar?"


"Iya Mam, sebentar lagi siap, Alya masih berkemas."


"Baiklah, jangan lama-lama, kasihan calon suami kamu, kalau kelamaan menunggu."


"Iya Mam."


Mamapun meninggalkan kamar Alya dengan berjalan gontai, lalu menemui Damar yang sedang memainkan ponselnya. Mama duduk berhadapan dengan Damar, dengan berbatas meja kaca panjang. Damar tersenyum mengembang, saat calon mertuanya sudah datang kembali.


"Nak Damar, sabar yah! Alya sedang berkemas, sebentar lagi selesai."


"Iya Mam, Damar sabar menunggu."


"Silahkan diminum dulu tehnya, Nak Damar, mumpung masih hangat."


"Iya Mam, terima kasih." Ucap Damar, seraya menyeruput teh hangat itu.


"Tuuh.. yang ditunggu sudah datang, aduh cantiknya anak Mama, pas banget sama dresnya. Warna baju kalian samaan, sudah janjian yah?" Ucap Mama Mentari, saat melihat anaknya yang sedang berjalan mendekat, dan tersenyum merekah.


"Apaan sih Mam, malu iich sama Damar. Engga ada janjian Mam, cuma kebetulan saja kali pass samaan." Ucap Alya, seraya melirik ke arah Damar yang sedang terpaku menatapnya. Sontak saja Alya jadi salting dibuatnya.


Damar bergeming menatap Alya, yang menurutnya sungguh cantik dimatanya. Baru kali ini dia bisa terpesona kepada gadis yang cantik alami, dan pembawaan yang sedikit girly, karena Alya, adalah gadis tomboy selama ini.


"Eeeheemm... maaf kalau loe nunggu lama." Alya berdehem, hingga membuat Damar tersentak dari lamunannya.


"He.. he.. he.. iya engga apa-apa Al, belum lama juga sih aku datangnya." Kekeh Damar, menutupi rasa groginya saat kentara sedang melamun menatap Alya. Lalu diapun berdiri dari kursinya.


"Kalian mau langsung berangkat, atau mau ngobrol dulu?"


"Kayaknya langsung berangkat saja Mam, habis takut Dosen Pembimbing Alya keburu pulang."


"Belum Mam, masih ada beberapa bab yang harus direvisi, agar lebih sempurna. Lalu Alya juga harus menyelesaikan Administrasinya juga."


"Ooh.. jadi seperti itu! Terus Wisudanya kapan?"


"Belum tahu, nunggu pengumuman dulu hasil sidangnya yang sudah sempurna semua, baru bisa Wisuda."


"Iya deh, Mama doakan yang terbaik untuk kamu, sayang."


"Terima kasih, Mama. Aku sayang Mama." Ucap Alya, seraya memeluk Mama Mentari senang.


"Sama-sama, sayang. Mama juga sayang Alya." Ucap Mama, seraya mengurai pelukkannya.


"Damar.. ayo, kita berangkat."


"Ayo."


"Mam.. kami berangkat dulu yah." Pamit Alya dan Damar bergantian, seraya mencium takzim punggung tangan Mama Mentari.


"Iya, sayang, hati-hati dijalan yah kalian." Ucap Mama mengingatkan, lalu dianggukkan oleh keduanya, dan mengucapkan salam perpisahan.


Damar dan Alyapun meninggalkan rumahnya. Damar membawa mobil menuju kampus Alya, dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan yang nampak lenggang. 45 menit, akhirnya sampai di parkiran kampus.


Ketika Alya hendak turun dari kursi jok mobil, saat membuka pintu, tangan Alya langsung di tahan ole Damar. "Tunggu." Ucap Damar.


"Kenapa?"


"Biar aku yang bukakan dari luar, princess."


"Aiishh.. engga usah, gue malu iich."

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa harus malu? Aku 'kan calon suami kamu, princess?"


"Pokoknya, kalau gue bilang engga usah, ya engga usah dong, ko maksa?" Omel Alya, seraya mengerucutkan bibirnya sebal.


"Okay.. okay.. jangan ngambek dong, itu bibir pengen aku kuncir rasanya, kalau kamu manyun gitu, he.. he.. he.." Rayu Damar, seraya terkekeh melihat calon istrinya yang ngambek tapi menggemaskan.


"Aiish.. nyebelin." Omel Alya yang langsung turun dari mobil Damar. Lalu Damarpun ikut turun menyusul Alya.


Alyapun langsung menghentikan langkahnya, disaat mendengar langkah kaki di belakangnya, lalu berbalik menatapnya. "Kenapa loe, ngikutin gue?"


"Aku 'kan pingin tahu suasana kampus kamu, princess."


"Untuk apa?"


"Untuk nemenin kamu lah, kenapa kamu banyak tanya?" Damar bertanya balik, lalu tersenyum devil.


"Aiish.. terserah loe deh." Ucap Alya sebal.


Disaat mereka berjalan di sepanjang lorong koridor, tidak sengaja netra Alya bertemu dengan netra Andi yang sedang melintas di hadapannya.


"Hai.. Alya Mentari!" Seru Andi.


"Hai.. Ndi."


"Al.. gue mau ngomong sebentar, bisa engga?"


"Ngomong saja, kenapa harus minta izin segala? Kayak baru kenal saja loe."


"T.. tapi, gue mau ngomongnya berdua saja."


"Deg.." Jantung Alya berdebar.


"Untuk apa?"


"Penting.." Ucap Andi, seraya menarik pelan tangan Alya, untuk mencari tempat lain.


"Tunggu Ndi." Ucap Alya, kemudian Andipun menghentikan langkahnya.


"Kenapa Al?"


"Gue minta izin dulu sama Damar." Pinta Alya, kemudian Andipun mengangguk pelan, lalu melepaskan tangan Alya.


"Damar.. loe engga apa-apa 'kan gue tinggal sebentar? Gue ada perlu sama teman gue dulu, loe tungguin disini sebentar yah." Pinta Alya, merasa engga enak karena harus meninggalkannya sendiri.


Damar menatap sendu wajah Alya, dan Andi bergantian. Ada rasa dihatinya, yang entah mengapa seperti tidak suka melihatnya. Namun dia mencoba untuk percaya kepada Alya, jika mereka tidak ada hubungan apa-apa. "Iya, princess aku akan tunggu di sini."


"Okay.. jangan kemana-mana." Pesan Alya, kemudian dia berjalan beriringan dengan Andi, mencari tempat untuk bicara berdua.


"Al?"


"Heeem.."


"Gue minta penjelasan."


"Penjelasan apa?"


"P.. perasaan loe?"


"Deg.."


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih......

__ADS_1


__ADS_2