
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
"Eeeeheeemm." Mama Mentari berdeheem, hingga keduanya menoleh kearah suara yang terdengar.
"Tuuh 'kan apa aku bilang? Mama pasti sudah melihat kita." Gumam Alya pelan, namun masih terdengar oleh Damar.
"Iya.. sayang, engga apa-apa juga, emangnya salah cium kening kamu. Kita 'kan sudah dijodohkan, sudah pasti Mama engga akan marah hanya karena masalah ini." Sahut Damar pelan, hampir mirip berbisik namun masih terdengar oleh Alya.
"Kalian kenapa? Kenapa malah berdiskusi berdua? Mama hanya ingin menyapa calon menantu Mama saja." Ucap Mama Mentari santai, sebenarnya dia melihat apa yang sedang anak dan calon menantunya lakukan.
Seketika Damar dan Alya saling menatap lalu tertawa. "Ha.. ha.. ha..." Tawanya, menutupi rasa canggung mereka. Sedangkan Mama Mentari berpura-pura tidak tahu, dengan keduanya yang tertawa tiba-tiba, agar mereka tidak malu saat tertangkap basah olehnya.
"Iya Mam, maaf yah Mam, saya baru mampir kesini lagi, masalahnya kemarin saya su.." Kata-kata Damar terhenti, ketika Alya memotong ucapannya.
"Damar sibuk kerja Mam." Ucap Alya, yang seketika membuat Damar mengernyitkan dahinya heran.
"Iya sayang, Mama sudah tahu kamu sibuk kerja satu minggu ini, bukan? Alya sudah kasih tahu Mama, setiap Mama menanyakan kamu." Ujar Mama Mentari seraya tersenyum senang.
"I.. iya Mam, saya sibuk bekerja." Ucap Damar gugup, seraya melirik kearah Alya. Lalu Alyapun tersenyum canggung, karena sudah menutupi masalah yang sebenarnya terjadi.
Damarpun akhirnya mengerti apa yang dikatakan Mama Mentari, karena Alya tidak ingin Mamanya tahu masalah anaknya. Kemudian Damar mencium punggung tangan Mama Mentari dengan takzim.
"Nak Damar, karena kamu sudah datang sekarang, mari kita makan sekarang saja, tidak usah menunggu malam." Ajak Mama Mentari senang, Damar dan Alyapun, mengikuti kemauan Mama Mentari.
Sekarang mereka sudah duduk bersama di meja makan, Papa Hendrapun sudah ikut bergabung untuk menikmati masakan istrinya, yang tidak pernah bosan baginya. Menurut Hendra masakan istrinya adalah makanan terlezat dan ternikmat setiap saat. (Maaf yah Autor lebay😅😅😅)
"Sayang ayo dicoba masakan Mama, jangan dilihatin saja." Tawar Mama Mentari kepada calon menantunya.
"I.. iya Mama Mentari, saya pasti akan memakannya." Sahut Damar tampak malu.
"Alya sayang, ambilin dong nasi dan lauknya buat calon suamimu." Pinta Mama Mentari.
"Baik, Mam." Sahut Alya cepat, Alya langsung tersenyum kearah Damar yang berada tepat disampingnya. Kemudian Alya mengambil nasi dan lauk serta sayur secukupnya.
__ADS_1
"Damar, ini makan yah." Pinta Alya, dengan menaruh piring didepannya.
"Iya Alya, terima kasih." Ucap Damar tersanjung, karena sikap Alya yang sudah terlihat baik dari sebelumnya, yang agak ketus dan jutek.
"Heeemmm... sama-sama Damar." Sahut Alya senang.
"Kalian kenapa masih panggil nama saja, padahal kalian tidak lama lagi akan menikah? Panggil dong dengan nama kesayangan kalian mulai dari sekarang, benar begitu 'kan Pap?" Tanya Mama Mentari untuk anak dan calon menantunya itu, seraya meminta pembenaran kepada suaminya.
"Iya sayang, kalian harus biasakan memanggil pasangan kalian dengan nama kesayangan kalian, misalkan.. " Kata Papa Hendra menggantung, ketika Alya memotong pembicaraannya.
"Stop.. ! Nanti kita akan cari, nama panggilan yang tepat buat kami, Papa." Sela Alya, menghentikan ucapan Papa Hendra, sedang Damar mengikuti saja kemauan Alya.
"He.. he.. he.. anak kita malu, sayang." Ledek Papa Hendra terkekeh.
"Aish.. Papa, sudah tahu anaknya malu, masih diledekin saja." Omel Alya sebal.
"Ha.. ha.. ha.. Pap, anaknya sudah ngambek itu." Ujar Mama Mentari.
Merasa Damar ikut mentertawakannya, Alyapun langsung menginjak kaki Damar, yang tepat disamping kakinya dibawah meja makan. Sontak saja, wajah Damar meringis kesakitan, padahal sakitnya yang tidak seberapa.
"Aawwwh.. sakit my love." Aduh Damar dengan panggilan barunya untuk Alya.
"Aiish.. lebay.. masa iya sakit? Coba aku lihat!" Seru Alya tidak percaya, kalau belum membuktikannya kaki Damar tidak baik-baik saja.
"Iya.. iya... my love, becanda iich, jangan panik gitu dong mukanya." Ledek Damar gemas.
"Ha.. ha.. ha.." Tawa Mama dan Papa pecah melihat kemesraan mereka. Damar dan Alya hanya tersenyum canggung, setelah sadar kelakuan mereka dilihat Papa Hendra dan Mama Mentari.
"Ya sudah, kalau begitu lebih baik kita makan saja, sayang." Usul Papa Hendra, seraya menyuap nasi kedalam mulutnya.
"Iya Pap." Sahut Alya dan Damar bersamaan.
Akhirnya mereka merampungkan moment makan bersamanya, dengan melahap hidangan lezat yang disiapkan oleh Mama Mentari.
__ADS_1
"Masakan Mama, memang terbaik." Puji Alya dengan mengacungkan jempol tangannya keudara, begitu juga dengan Damar dan Papa Hendra ikut memuji masakan Mama Mentari.
Wajah Mama Mentari seketika berseri-seri, mendapatkan pujian dari suami, anak dan calon menantunya. "Iya sayang, terima kasih pujiannya, tapi Mba Diah juga yang punya andil loh, membantu Mama menyiapkan makanan ini." Ujar Mama Mentari, pasalnya tanpa Mba Diah ARTnya, masakannya belum tentu bisa seenak yang mereka katakan.
"Ooh.. iya, Mba Diah terima kasih yah, masakannya enak banget, pokoknya the best." Ucap Alya, memuji masakannya Mba Diah.
"Sama-sama Non, Mba Diah hanya membantu saja, semua resep bumbu nyonya yang siapkan." Sahut Mba Diah jujur.
Seketika Mama Mentari tertawa renyah mendengar kejujuran ARTnya. "Ha.. ha.. ha.." Lalu semuapun ikut tertawa, karena Mama Mentari yang selalu saja merendah jika dipuji masakannya.
Setelah beberapa saat, mereka sekarang sedang berbincang-bincang, mengenai hubungan Alya dan Damar kedepannya.
"Kapan kalian akan meresmikan hubungan yang lebih serius? Misalkan bertunangan dahulu, atau langsung menikah juga boleh." Tanya Papa Hendra antusias.
Damar dan Alya saling bersirobak dan melempar senyum, keduanya hanya menggelengkan kepalanya pelan, dan mengangkat bahu keatas, tanda belum tahu arah hubungan mereka.
"Kalian kompak sekalih memberi tanda isyarat? Apa kalian belum saling mencintai?" Tanya Mama Mentari, tepat sasaran.
"Belum Mam, butuh proses dong kitanya. Penjajakan dulu baru saling mengenal satu sama lainnya, terus kalau sudah dapat kemistri baru ketahap yang lebih serius." Ujar Alya dengan gamblang, lalu Damarpun mengiyakan ucapan Alya.
"Bagus kalau kalian penjajakan dahulu, untuk saling mengenal satu sama lainnya." Ucap Papa Hendra sepemikiran dengannya.
"Terima kasih atas pengertiannya Pap." Ucap Alya dan Damar bersamaan.
"Malam minggu kalian tidak ada acara jalan gitu? Nonton bioskop, jalan ke Mall, atau nongkrong di kafe?" Usul Mama Mentari, untuk mengeratkan hubungan mereka berdua.
"Usul Mama boleh juga tuh my love, kamu mau nonton, ke Kafe atau ke Mall gitu?" Tanya Damar serius.
"Nonton bioskop saja." Sahut Alya malu-malu, pasalnya ini pengalaman pertama, nonton bioskop dengan Pria.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1