
Sambutan ramah tamah kedua belah pihak antara Tuan Rumah dan Besan sudah aelesai, lalu di lanjutkan dengan pembacaan Ayat Suci Al-Quran dan Doa. Tidak ketinggalan, Bapak Ustad Abdul memberikan wejangan sepatah dua patah kata dalam ceramahnya.
Bapak Penghulu sudah datang bersama Asistennya, mereka dipersolahkan duduk di tempat yang sudah disediakan oleh panitia pernikahan. Ayah Bernad Dorman selaku Wali Nikah dari putrinya Asyafa Dorman sudah bersiap pula. Begitupun dengan para saksi, sudah bersiap duduk dengan tertib.
Rayhan berjalan di dampingi Papa Beni, dan Mama Jovanka menuju tempat duduk yang sudah disediakan. Rayhan duduk tepat di depan Ayah Bernad Dorman hanya berbatas meja, sedangkan Papa dan Mama duduk di belakang Rayhan turut menjadi saksi nikah.
Setelah itu Asyafa berjalan dengan anggun dan cantiknya, di dampingi Ibu Nurlaila dan Alya sahabatnya menuju tempat duduk disamping Rayhan.
Melihat calon Pengantin yang sungguh cantik dan anggun, membuat semua orang yang berada di ruang Akad Nikah terpana dan kagum. Terlebih lagi dengan Rayhan, matanya tidak berkedip memandangi kecantikan calon istrinya itu.
"Asaalamualaikum, Kak!"
"Kenapa, Kak?"
"Biasa saja kali, Kak!"
"Malah termangu gitu!"
"Awas, Kak! Nanti matanya loncat!"
"Memangnya Kakak baru melihat wanita cantik, bukan?" Salam Asyafa menegur calon suaminya itu, seraya mengulum senyum lalu duduk disebelah Rayhan. Seketika seisi ruangan itu tertawa, mendengar celotehan calon Pengantin tersebut.
Sontak saja Rayhan tersipu malu, mendapati dirinya tetangkap basah begitu lekat memandangi calon istrinya itu. Tak hayal Papa Beni, dan Ayah Bernad tertawa lepas menyaksikan tingkah anak-anak mereka. Ibu Nurlaila dan Mama Jovanka juga tidak ketinggalan ikut menertawakannya.
"E... ehem... !" Bapak Penghulu berdehem, seketika semua hening.
"Baiklah, karena Ananda Asyafa sudah berada ditengah-tengah kita, maka Ananda Asyafa Dorman dipersilahkan meminta izin kepada Ayah handa tercinta untuk memohon restu agar menikahkan mereka." Ujar Bapak Penghulu.
"Iya, Bapak Penghulu."
Akhirnya Asyafapun meminta izin dan restu dengan berderai air mata kepada Ayah handa tercinta, untuk di nikahkan dengan calon suami tercinta yang bernama Ananda Rayhan Darma Bin Ayah handa Beni Darma. Ayah Bernadpun, memberikan restunya kepada putri semata wayangnya itu dengan berderai air mata haru.
Semua yang hadir disana, ikut menangis terharu menyaksikan interaksi antara Ayah dan anak tersebut.
"Sekarang waktunya untuk mengucapkan Janji Suci Akad Nikah, antara Bapak Bernad Dorman dengan Ananda Rayhan Darma." Ujar Bapak Penghulu menerangkan.
__ADS_1
"Tidak usah tegang yah, Bapak Bernad dan Ananda Rayhan!" Ucap Bapak Penghulu, seraya menyatukan kedua tangan mereka. Rayhan dan Ayah Bernad mengangguk kecil tanda mengerti.
"Apakah Bapak Bernad Dorman, sudah siap menerima Ananda Rayhan Darma menjadi menantu Bapak?"
"Sudah siap! Bapak Penghulu."
"Apakah Ananda Rayhan Darma, sudah siap menjadi suami dari Ananda Asyafa Dorman dan menantu dari Bapak Bernad Dorman?"
"Sudah siap! Bapak Penghulu."
"Apakah Ananda Asyafa Dorman, sudah siap menjadi istri dari Ananda Rayhan Darma?"
"Sudah siap! Bapak penghulu."
"Karena semua sudah siap, silahkan kepada Bapak Bernad Dorman dan Ananda Rayhan Darma untuk melangsungkan Ijab Qobulnya." Ujar Bapak Penghulu, seraya menuntun jalannya Ijab Qobul. Ayah Bernad dan Rayhan mengangguk kecil dengan penuh percaya diri.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Rayhan Darma Bin Beni Darma, dengan Anak saya yang bernama Ananda Asyafa Dorman Binti Bernad Dorman dengan mas kawin seperangkat alat Shollat dan emas murni 100 gram dibayar tunai."
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Ananda Asyafa Dorman Binti Bernad Dorman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"SAH... !" Ucap para saksi yang hadir.
"Barrakalloh... Alhamdullillah. Ucap Bapak Penghulu, lalu dia membacakan Doa Pernikahan untuk kedua Mempelai Pengantin. Kemudian semua yang hadir berucap,
Aamiin... !
Aamiin... !
"Alhamdulillah, selesai sudah acara Akad Nikah ini dengan Ijab Qobul berjalan dengan lancar. Sekarang saatnya penandatanganan buku nikah antara kedua belah pihak, dan penyerahan Mahar kepada Pengantin Wanita." Ujar Panitia Pernikahan.
Rayhan, dan Asyafa menandatangani buku nikah sebagai tanda sahnya mereka menikah di atas Hukum dan Agama. Tidak ketinggalan juga tanda tangan dari wali dan para saksi nikah yang terlibat.
Setelah itu Rayhan menyerahkan mahar Pernikahan berupa seperangkat alat Shollat dan emas murni 100 gram ke tangan istrinya, Asyafa. Para juru Fhotografer, tiidak ketinggalan momen untuk mengabadikan mereka dari awal sampai akhir Prosesi Pernikahan.
"Sekarang waktunya Pengantin saling memasangkan cincin pernikahan dijari manisnya." Ujar panitia pernikahan.
__ADS_1
Akhirnya Rayhan memakaikan cincin di jari manis sebelah kanan istrinya, dan Asyafa juga memakaikan cincin di jari manis kanan suaminya. Kemudian Asyafa mencium punggung tangan suaminya takzim, lalu Rayhan mencium kening istrinya lembut agak sedikit tertahan lama seperti enggan untuk melepas.
"Kak, sudah! Malu... di lihatin orang."
"Iya, sayang! Kakak gemes." Rayhan terkekeh seraya menoel hidung istrinya yang bangir.
"Aiish... Kak! Mulai deh." Asyafa menggerutu pelan seraya mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut gitu! Nanti kakak cium bagaimana? Sudah halal ini! Boleh, bukan?"
"K.. kakak... !
Sontak semua tergelak tawa, yang melihat interaksi pasangan suami istri yang baru halal itu.
"Sekarang waktunya acara sungkeman, untuk kedua orang tua pasangan pengantin dan sesepuh dimohon menempati tempat duduk yang telah di persiapkan." Ucap panitia Pernikahan.
Kedua orang tua pengantin akhirnya menduduki tempat yang sudah disiapkan untuk acara sungkeman, dan Kakek Jaya Darmapun ikut menemani disana meski memakai kursi roda.
Pasangan Pengantin tersebut melakukan sungkeman dengan takzim, mencium satu persatu kedua orang tua mereka dan mertua mereka kemudian mencium Kakek Jaya Darma, seraya memohon maaf dan restu untuk menjalankan rumah tangga yang Sakinah, Mawahdah dan Warohmah dengan berderai air mata bahagia.
Setelah melakukan sungkeman mereka menjalankan ritual upacara adat pernikahan seperti menginjak telur, memecahkan kendi, rebutan bakakak ayam, potong tumpeng lalu suap-suapan nasi tumpeng, saweran yang berisi uang, beras dan permen yang tujuannya mengandung makna tertentu untuk kehidupan yang akan di jalani pasangan pengantin tersebut.
Puncak dari prosesi acara Akad Nikah dan upacara Ritual Adat Pernikahan ditutup dengan, ucapan selamat dari orang tua, saudara dekat dan jauh, dan para tamu undangan yang telah hadir dan menyaksikan langsung.
"Selamat yah, Sya! Sahabat gue, bahagia selalu yah! menjadi keluarga yang SAMAWA yah. Aamiin." Ucap dan Doa tulus dari Alya.
"Aamiin, Al! Makasih yah sahabatku." Jawab Asyafa, seraya memeluk sahabatnya itu.
"Selamat yah, Bapak Dosen Rayhan! Semoga bahagia dan SAMAWA Pak! Saya titip sahabat saya, jangan pernah bikin dia nangis apalagi menyakitinya yah pak. Tolong jaga sahabat saya dengan baik selamanya." Ucap bijak Alya yakin.
"Aamiin, akan saya jalankan perintahnya! Terima kasih Alya." Ucap Rayhan pasti.
Setelah semuanya mengucapkan selamat, akhirnya pasangan pengantin itu bisa beristirahat di kamar pengantin berdua. Melepaskan rasa capai, lelah, penat yang seharian telah mereka lalui.
Happy Reading
__ADS_1
--BERSAMBUNG--