
Sepulangnya Kakek Jaya Darma, rumah mulai terasa sepi kembali. Tidak ada pertengkaran kecil yang di lakukan si kembar Dara dan Dira selama 5 hari belakangan ini di kediaman Papa Beni. Tingkah mereka yang lucu dan menggemaskan seakan membuat semua orang sangat merindukannya.
Papa Beni mulai istirahat di kamarnya, dan teringat dengan misi untuk mengembalikan Perusahaan Kakek Jaya yang direbut oleh Bari secara paksa, yang notabennya memang itu sebenarnya hak untuk Beni yang di berikan oleh Papanya. Namun bukan itu yang terlintas di pikiran Beni, tetapi dia ingin mengembalikan sifat Bari yang seperti dulu yaitu baik, penyayang dan tidak tamak.
Jika Bari tidak tamak, meminta haknya dengan cara baik-baik dan tidak menyakiti Papa Jaya Darma, mungkin saja Beni akan ikhlas memberikan Perusahaan itu untuk Bari adik laki-laki tunggalnya itu.
Rayhan dan Asyafa beristirahat di kamar karena lelah dan ngantuk setelah kepulangannya dari Bandara. Mereka berdua menyambangi mimpinya terlelap dalam damai. Mungkin efek semalam yang bergadang hampir sampai pagi, dan pukul 7 pagi mereka sudah bangun untuk sarapan pagi, lalu mengantar Kakek Jaya ke Bandara.
Keluarga Uncle Jonathan juga beristirahat di ruang keluarga dengan berbincang hangat, obrolan-obrolan kecil menghiasi gelak tawa antara Mama Jovanka dan keluarga adiknya itu. Jujur saja hubungan Mama Jovanka sangatlah dekat dengan adik satu-satunya itu. Semenjak Mama Jovanka memutuskan tinggal di Indonesia bersama suaminya yang asli Indonesia, hubungan mereka sedikit menjauh. Mungkin karena jarak dan waktu yang memisahkan mereka, hingga rindu yang teramat besar yang mereka rasakan.
"Sister, When Rayhan and Asyafa honey moon?" Tanya Uncle Jonathan.
"I'am not know, brother." Jawab Mama Jovanka.
"Will they come with us for honey moon?" Tanya Uncle Jonathan.
"May be, brother. I'II ask them later." Jawab Mama Jovanka ragu, karena bulan madu anak dan menantunya itu hak mereka, dan dia tidak ingin memaksakan mereka untuk pergi kemana yang mereka mau.
"Day after tomorrow, we will be back soon to Belanda." Ucap Uncle Jonathan, seraya tersenyum sendu karena harus berpisah dengan Kakak tercintanya.
"Brother, can't stay any longer?" Tanya Mama Jovanka yang juga menatap sendu adiknya, karena sebentar lagi akan berpisah.
"I can't because there's a lot of work there, sister!" Jawab Uncle Jonathan dengan tatapan serius.
"Okay than." Ucap Mama Jovanka pasrah dan tersenyum masam, karena kecewa adik tercintanya akan segera pulang ke Negaranya.
Uncle Jonathan, Stepani dan William akhirnya masuk ke kamar mereka untuk beristirahat dan membersihkan diri.
*******
Siska mengunjungi Damar di penjara bersama suaminya Indra Wibowo. Perasaannya tidak baik-baik saja saat Sipir penjara mengatakan, jika Damar tidak ingin di temui oleh siapapun termasuk Orang Tua dan Kakaknya sekalipun.
"Mengapa Pak? Adik saya tidak ingin menemui saya? Tolong tanyakan kepada adik saya, apa masalahnya jika kami tidak boleh menjenguknya?" Pinta Siska kepada Sipir penjara dengan memohon.
"Baik Nona, saya akan tanyakan kepadanya." Ucap Bapak Sipir penjara itu.
"Satu lagi, tolong katakan padanya jika Siska Kakaknya ini membawa berita baik. Terima kasih Pak!" Seru Siska seraya tersenyum hangat.
__ADS_1
"Iya.. Nona." Ucap Sipir penjara itu seraya berjalan menuju ruang penjara Damar.
Damar duduk termenung dengan memangku dagu di kedua lutut kakinya yang digunakan untuk menopang. Tubuhnya menjadi lebih kurus, semenjak dia masuk ke sell penjara karena napsu makannya yang hilang. Hatinya mulai rapuh dan kesehatannyapun menurun drastis.
"Saudara Damar, Nona Siska bertanya, mengapa kamu tidak ingin menemuinya? Lalu dia berkata, jika ada kabar baik yang dia bawa saat ini." Ujar Bapak Sipir penjara menjelaskan.
Seketika tubuh Damar menerima reaksi atas ucapan Bapak Sipir itu, lalu manik matanya menyorot nanar kepadanya.
"A.. apa sungguh-sungguh yang Bapak katakan itu?" Tanya Damar gamang.
"Iya.. silahkan anda menemuinya." Ucap Bapak Sipir itu, kemudian mengantar Damar untuk menemui Siska.
"Adik.. Maaf, Kakak baru sempat menemuimu." Ucap Siska lirih seraya memeluk adik kesayangannya itu.
"Iya.. Kak." Ucap Damar lemah, seketika tubuhnya lunglai langsung merosot ke lantai.
"Dik.. adik.. kamu kenapa? Badan kamu panas sekali? Sepertinya kamu sedang sakit." Ucap Siska lirih langsung menangis.
"Hik.. hik.. hik.. !"
"Mas Indra, tolong panggil Pak Sipir." Panggil Siska lirih meminta pertolongan, seraya memangku Damar dengan kedua pahanya.
"Pak Sipir, tolong adik saya di sana pingsan." Mohon Indra yang langsung bergerak cepat disusul oleh Bapak Sipir dengan mengambil tandu, untuk membawa Damar ke ruang rawat sementara yang ada di Pos Polisi.
Kemudian Damar pun di bawa oleh petugas Polisi dengan menggunakan tandu, karena kondisi Damar yang pingsan. Lalu Damar di tidurkan di ranjang berukuran untuk satu orang, dan mendapatkan perawatan dari Dokter jaga yang ada di kepolisian tersebut.
"Bagaimana Dokter? Apa yang terjadi dengan adik saya?" Tanya Siska penasaran.
"Pasien hanya dehidrasi dan demam, sepertinya kurang asupan makanan dan cairan, jadi tubuhnya lemas. Itulah yang menyebabkan pasien pingsan." Jawab Dokter jaga itu menjelaskan.
"Ooh jadi seperti itu Dok! Lalu adik saya harus di rawat Dokter?" Tanya Siska lagi.
"Iya.. Nona, pasien mungkin butuh perawatan impus dua hari, untuk mengembalikan cairan yang kurang serta asupan makanan yang lengkap dan bergizi." Ujar Dokter jaga itu menerangkan.
"Terima kasih, Dokter untuk informasinya." Ucap Siska seraya berjabat tangan dengan Dokternya, yang di ikuti oleh suaminya Indra Wibowo.
"Sama-sama Nona, semoga pasien lekas sembuh." Jawab Dokter, seraya menerima jabatan tangan Siska dan Indra.
__ADS_1
Setelah itu, Siska memberi kabar kepada Orang Tuanya, perihal yang telah terjadi dengan kondisi Damar saat ini. Lalu Siska mendatangi ruang rawat Damar, untuk melihat kondisinya.
Siska menatap nanar adiknya yang sedang terbaring lemah, dengan selang impusan di lengannya. Dia menyentuh tangan adiknya lembut dan mencoba memberi kekuatan untuk tetap bertahan dan berusaha sehat kembali.
"Dik... bangun sayang, jangan lama-lama tidurnya." Ucap Siska lirih, di dampingi suaminya Indra, dengan menenangkan istrinya agar selalu berdoa dan bersabar, untuk kesembuhan adiknya.
"Dik... Kakak akan berusaha agar kamu secepatnya bisa keluar dari penjara." Janji Siska untuk adiknya, seraya tersenyum masam.
Setelah mereka menunggu beberapa menit, akhirnya Damar terbangun dari tidurnya.
"Kak Siska.. Kak Indra.. ! Apa yang sebenarnya terjadi dengan aku? Mengapa lenganku di impus, Kak?" Tanya Damar bingung.
"Iya.. dik, kamu tadi tidak sadarkan diri ketika Kakak baru datang memelukmu." Jawab Siska menjelaskan.
"Lalu apa kata Dokter, Kak?" Tanya Damar lagi.
"Kamu demam dan dehidrasi dik, makanya kamu harus istirahat yang cukup, konsumsi makanan yang sehat, dan bergizi juga banyak minum air putih." Ucap Siska menasehati.
Papa Ardi dan Mama Ningsih datang dengan tergesah-gesah untuk menemui anaknya yang sedang di rawat.
"Maaf pak, saya mau bertanya dimana tempat anak saya yang bernama Damar Prayoga dirawat?" Tanya Mama Ningsih, kepada petugas Polisi yang sedang berjaga di sana.
"Maaf... Kalau boleh saya tahu, anda siapanya Saudara Damar?" Tanya Bapak Petugas tersebut dengan sopan.
"Kami Orang Tuanya Damar, Bapak Polisi." Ucap Tuan Ardi Prayoga.
"Baiklah, mari saya antar ke ruangan Saudara Damar." Ucap Bapak Polisi itu, seraya memberi hormat sedikit menunduk ketika mendengar nama Tuan Ardi Prayoga, yang seorang Pejabat di kota Bogor tersebut.
"Terima kasih, Pak Polisi." Ucap Tuan Ardi.
Akhirnya Pak Polisi itu mengantar Tuan Ardi dan istrinya ke ruangan Damar.
"Anak Mama... !"
Happy Reading
-BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih......