
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Dua minggu sudah, setelah acara lamaran Damar dengan Alya berjalan dengan lancar, tepat hari ini adalah hari mereka melangsungkan Pernikahan.
Kediaman Alya sudah dihias secantik mungkin, untuk melaksanakan Prosesi Ijab Qabul. Dengan wajah berseri, Alya mematut dirinya di depan cermin rias di kamarnya.
"Kamu sangat cantik, Nak Alya." Ucap MUA itu kagum, dengan hasil riasan di wajah calon Pengantinnya.
"Terima kasih Mba, ini karena tangan Mba yang mahir, dan telaten dalam mendandani wajah saya, hingga saya sangat terlihat pangling." Ucap Alya memberikan pujian kepada Mba MUA, yang sudah mengerahkan keahliannya untuk hasil terbaiknya.
"Coba saya ingin melihat, pose Nak Alya jika sedang memejamkan mata, nanti saya akan ambil gambarnya untuk Nak Alya."
"Boleh deh Mba, ini ponsel saya, dan ini sudah mode camera, jadi tinggal ambil gambarnya saja."
"Cekrek.." Hasil photo sudah tersimpan.
"Ini Nak Alya, sudah langsung ke save di galeri photonya Nak Alya yah."
"Iya Mba, terima kasih yah." Ucap Alya dengan senang, saat melihat dirinya begitu berbeda di photo itu.
"Alya, loe benar-benar berbeda banget, sumpah gue engga sadar, kalau punya temen secantik ini." Puji Asyafa kagum, saat melihat sahabatnya selesai di Make Up.
"Aiisshh.. kenapa loe sekarang jadi lebay begini, Sya." Alya merasa heran, dengan eksfresi wajah Asyafa sahabatnya itu. Biasanya Alya yang sering memuji temannya itu, tapi hari ini sebaliknya, Asyafa yang memujinya.
"Bawaan baby kembar sepertinya, Al." Ucapnya telak, membuat Alya langsung menyunggingkan bibirnya sebal.
"Iichh.. nyebelin."
"Ha.. ha.. ha... engga Al, bohong gue. Loe memang cantik banget di hari special loe, benarkan yah Mba?"
"Benar banget Nak Alya, apa yang dikatakan temannya."
"Sudah dong senyum, jelek kalau ngambek gitu, si kembar jadi ikutan ketawa nih, di dalam perut lihat Tante cantiknya yang ngambek, he.. he.. he.."
__ADS_1
Alyapun lantas tertawa, saat Asyafa mengatakan si kembar dalam perut Asyafa ikut tertawa.
"Ha.. ha.. ha.. loe bisa saja bawa-bawa anak loe, Sya."
"Engga apa dong, yang penting loe bahagia." Ucap Asyafa, kemudian memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Sya, terima kasih yah, pagi-pagi begini loe sudah datang ke acara Pernikahan gue."
"Sama-sama Al, engga usah sungkan gitu. Loe juga sering temenin gue, kalau moment penting kayak gini."
"Loe masih suka mual-mual, Sya?"
"Masi, tapi sekarang lumayan jarang."
*******
Damar dan para rombangan besan, sudah memasuki area parkiran kediaman rumah Alya. Dengan gagah berani, Damar berjalan diapit kedua orang tuanya, dan didampingi dari belakang oleh para kerabat, dan tetangga yang menjadi rombongan para besan.
"Jangan gugup yah sayang, nanti saat pembacaan Ijab Qabul, kamu harus hapal dengan satu tarikan napas." Ucap Mama Ningsih, memberi wejangan kepada anak kesayangannya itu.
"Pasti dong, sayang." Ucap Mama tulus, yang dianggukkan oleh Papa Ardi Prayoga.
Setelah para besan disambut oleh Tuan Hendra, selaku Tuan rumah yang diwakili oleh ketua RT setempat. Para besanpun, dipersilahkan untuk menempati tempat duduk yang sudah disiapkan.
"Ayo para tamu, jangan sungkan untuk menduduki tempat kosongnya." Ucap panitia Pernikahan Damar dan Alya.
Damar diminta menduduki tempat duduknya, untuk melakukan Prosesi Ijab Qabulnya.
Papa Hendra sudah duduk berhadapan dengan Damar, dia menatap Damar dengan sigap dan gagah. Jangan ditanya keadaan jantung mereka saat ini. Berdebar hebat, dag dig dug menahan rasa gugup yang sedang mereka rasakan.
Alyapun diminta keluar oleh Panitia setelah nama Alya dipanggil, kemudian dirinya duduk disamping Damar calon suaminya.
Damar tidak berani menatap Alya calon istrinya, karena jika dia melihatnya, sudah dipastikan rasa gugupnya akan semakin besar. Maka dari itu, dia lebih baik memilih menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa denganmu, hubby? Kenapa kamu seakan tidak ingin memandangku? Padahal semalam telpon bilangnya kangen sama aku, karena seminggu di pingit, tidak bisa bertemu. Tapi sekarang malah kayak gitu, dasar Damar nyebelin." Hati Alya bermonolog.
Setelah pembacaan ayat suci Alqur'an, dan siraman rohani dari pemuka agama, tibalah saatnya Papa Hendra akan membacakan Prosesi Ijab Qabul.
Namun sebelum Ijab Qabul, Alya di minta untuk meminta izin kepada Papa Hendra untuk meminta restunya, dari Papa Hendra selaku wali nikah putrinya.
Setelah Alya meminta izin menikah kepada Papa Hendra, tetesan air mata Alya membasahi wajah cantiknya saat ini. Terdengar isak tangis bahagia, dari bibir pengantin wanita.
Damar ingin menoleh dan menghapus air mata Alya, namun dia tidak ingin membuyarkan konsentrasinya. Rasa gugupnya kini, sedang menguasai dirinya.
Kepada Tuan Hendra Baskara, silahkan disegerakan untuk melaksanakan Ijab Qabulnya." Pinta panitia sopan.
Papa Hendra, mengulurkan tangan kanannya, lalu disambut oleh tangan Damar yang sudah sangat gugup. Keduanya seketika mendadak dingin suhu tubuhnya,
"Saya nikahkan dan kawinkan, Damar Prayoga bin Ardi Prayoga dengan Alya Mentari binti Hendra Bagaskara, dengan Mas kawin perlengkapan alat sholat dan sepaket mas kawin sebesar 50 gram di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Alya Mentari binti Hendra Baskara dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Apakah SAH?" Tanya Bapak Penghulu.
"SAH..." Sahut para tamu undangan yang hadir.
"Alhamdulillah SAH, Barrakalloh yah, semoga pasangan pengantin ini jadi keluarga yang Sakinah, Mawahdah dan Warohmah, Aamiin." Doa dari Bapak Penghulu, seraya berjabat tangan dengan kedua Mempelai.
"Alhamdullilah, aku bisa juga melawan rasa gugup ini. Sekarang aku sudah menjadi suaminya Alya Mentari, wanita yang sangat aku cintai selamanya." Ucap Damar dalam hatinya, dengan senyum yang merekah.
Damar menyematkan cincin emas Pernikahan, yang berlapis berlian ke jari manis tangan kanan Alya, dengan senyum yang tidak pernah pudar, sedari tadi dia selesai membacakan Ijab Qabul.
Begitupun Alya juga melakukan hal yang sama, menyematkan cincin mas pernikahan ke jari manis tangan kanan Damar, dengan senyum mengembang. Setelah itu, Alya meraih punggung tangan Damar, dan menciumnya takzim, tanda bakti seorang istri kepada suaminya untuk pertama kali.
Damar mengecup puncak kepala Alya dengan mesra, dan sayang. "Terima kasih sudah memilihku untuk menjadi suamimu, aku akan mencintaimu selamanya. Jangan pernah tinggalkan aku meski dalam keadaan susah sekalipun, akupun akan demikian. Aku sangat mencintaimu, kamu wanita berharga untukku." Bisiknya di telinga istrinya untuk pertama kalinya setelah menjadi suami istri.
Alya seketika merasa haru, saat mendengar kata-kata romantis Damar di telinganya. "Iya suamiku, sayang." Merekapun tersenyum bahagia.
Di kursi para tamu, Andi melihat sahabat yang dia cintai, kini telah bersanding bahagia menjadi istri orang lain. Hati Andi hancur lebur tidak bersisa, air matanya sudah tidak terbendung lagi, membasahi wajah tampannya.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....