
Pagi-pagi sekali para orang tua sudah menjenguk Rayhan dan Asyafa di rumah sakit, mereka berkumpul disana untuk melihat keadaan anak dan menantunya.
Pertanyaan demi pertanyaan mereka lontarkan bertubi-tubi, hingga Rayhan kewalahan menjawabnya dan akhirnya mereka mengerti dengan masalah yang sebenarnya.
"Sayang, sekarang kalian sarapan dahulu. Mama bawakan makanan banyak untuk kalian." Ucap Mama Jovanka, seraya membuka bekal makanan yang di bawanya.
"Ibu juga membawa makanan dan camilan, semuanya bisa bergabung untuk sarapan bersama." Ucap Ibu Nurlaila, seraya membuka bekal yang di bawanya.
Para Ibu sibuk dengan makanan dan camilan sedang para Ayah sibuk dengan meledek anak dan menantu yang belum melewatkan malam pertama.
"Waah.. dude, malam pertama jadi tertunda? He.. he.. " Ledek Papa Beni, seraya terkekeh. Sontak seisi ruang rawat VIP itu menjadi ramai dengan gelak tawa mereka.
Rayhan dan Asyafa tersipu malu dengan pertanyaan Papa Beni.
"Kakak aku mandi dulu yah, mau ganti pakaian juga." Izin Asyafa pada suaminya.
"Iya, sayang." Jawab Rayhan.
"Bagaimana jika minggu depan, kalian pergi berbulan madu? Kalian boleh pilih diluar atau di dalam negeri, nanti Ayah yang akan belikan tiket keberangkatan kalian." Usul Ayah Bernad.
"Kalau Rayhan terserah istri saja mau bulan madu di mana saja, di luar negeri atau di dalam negeri yang penting selalu bersama. Hi.. hi.. " Jawab Rayhan tertawa kecil.
"Aissh.. anak Papa sepertinya benar-benar bucin, ha... ha...! Engga salah memang kita menjodohkan mereka yah besan." Ledek Papa Beni seraya mengerlingkan matanya dan tertawa jenaka.
"Iya, meski awalnya Asyafa ingin berteman saja, tetapi lama-lama akhirnya mau juga menikah dengan pilihan kita." Ayah Bernad menimpali.
"Sudah-sudah kita sarapan dahulu." Ajak Mama Jovanka yang sudah menyiapkan bekalnya di atas nakas.
"Menantu Mama mana? Tadi ada di sini." Tanya Mama Jovanka.
"Sedang berganti baju di kamar mandi." Jawab Ibu Nurlaila.
"Ooh, begitu. Rayhan sayang kamu mau makan pakai apa? Ada Opor ayam dan ikan gurame, lalu ini Ibu mertuamu bawa soto Betawi kesukaanmu. Kamu mau makan yang mana?" Tanya Mama Jovanka menawarkan makan untuk anak kesayangannya.
"Tunggu istriku saja, Mom. Biar dia yang mengambilkan." Jawab Rayhan.
"Aissh.. manis sekali anak Mama ini, jadi ingat masa dulu waktu Mama baru menikah dengan Papa Beni." Ucap Mama Jovanka, terbayang masa-masa indah pengantin baru yang begitu manis dan romantis.
"Mama masih ingat? Ha... ha... ha.. !" Tanya Papa Beni, yang sontak membuyarkan lamunan istrinya.
"Iya dong Pah, kalau Papa pasti sudah lupa. Huuh.. !" Ucap Mama Jovanka merengut ngambek. Seketika semua ikut tertawa.
__ADS_1
"Ha... ha... ha... !"
Seusai mandi dan berganti baju, Asyafa terlihat segar dan cantik dengan rambut basah yang terurai panjang.
"Sayang, kamu sudah mandi? Aku jadi ingin mandi juga." Pinta Rayhan manja.
"Kakak, jangan mandi dulu. Nanti saja aku lap pakai air hangat yah." Cegah istrinya.
"Baiklah, istriku sayang." Jawab Rayhan menurut.
"Cie.. pengantin baru mesra banget, bikin iri kita yah Ayah." Ledek Ibu Nurlaila.
"Ha.. ha.. ha... !" Gelak tawa semua pecah.
"Mantu Mama sayang, suami kamu mau makan jika kamu yang suapin katanya." Ujar Mama Jovanka meledek anaknya.
"Aiish.. Kakak sok manja banget yah Mah?" Ucap Asyafa seraya melirik suaminya.
"Emang, lagi bucin sayang. He.. he.. " Ledek Mama Jovanka terkekeh.
"Biarin saja, Mama dan Papa sama saja nih, bisanya menggoda Rayhan. Namanya juga Pengantin baru, wajar dong minta di manja." Ujar Rayhan merengut sebal.
"Aiish... anak Mama ngambek. He.. he.. " Sindir Mama Jovanka.
"Iya, besan. Damar anak Tuan Ardi Prayoga yang seorang Pejabat kota Bogor, dan juga Presiden Direktur beberapa Perusahaan di Negeri ini. Bahaya kalau kita hanya diam saja." Ucap Ayah Bernad menanggapi.
"Jeng Nur, mau ikut engga? Kalau saya mau ikut ke kantor Polisi hari ini." Tanya Mama Jovanka.
"Saya tidak ikut jeng Jovan, mau menemani mereka saja. " Jawab Ibu Nurlaila menolak ikut.
Akhirnya mereka merampungkan sarapannya dan segera pergi meninggalkan Rumah sakit, untuk menindak lanjuti perkara hukum Damar beserta anak buahnya itu.
"Hati-hati di jalan Mama, Papa dan juga Ayah. Semoga semua keadilan bisa ditegakkan dan berjalan lancar." Ucap Rayhan yang diikuti oleh istrinya.
"Aamiin.. " Jawab Papa Beni dan yang Lainnya.
Asyafa menghampiri suaminya, lalu dia menawarkan untuk sarapan.
"Kakak, mau sarapan pakai apa?" Tanya Asyafa Ramah.
"Mau sarapan kamu." Ledek Rayhan mengulum senyum.
__ADS_1
"Kakak, jangan becanda deh, malu sama Ibu." Ucap Asyafa sebal.
"Engga apa sayang, Ibu mengerti. He.. he.. " Sela Ibu terkekeh.
"Ya sudah, kalian sarapan dulu. Ibu mau keluar sebentar ada yang mau Ibu beli." Pamit Ibu Nurlaila seraya beranjak pergi.
"Sekarang Kakak mau makan pakai apa?." Tanya Asyafa lagi.
"Kakak mau mandi dulu baru sarapan. Maksud Kakak di lap air hangat gitu." Pinta Rayhan.
"Baiklah kalau mau Kakak begitu." Jawab Asyafa mengikuti.
Asyafapun menyiapkan air hangat di ember lengkap dengan waslapnya, sabun, sikat gigi dan pasta gigi. Lalu dengan telaten membuka kancing baju Rayhan satu persatu hingga terlepas dari tubuhnya. Di basuhnya tubuh Rayhan dengan perlahan-lahan, banyak sekali memar tubuhnya akibat pukulan yang menghujani tubuh Rayhan.
"Apakah ini sangat sakit, Kakak?" Tanya Asyafa yang ngeri melihat memar disekitar tubuh Rayhan.
"Sedikit sayang, aku sudah tidak merasa sakit jika sudah bertemu dengan kamu. Obatnya adalah kamu sayang." Gombal Rayhan merayu.
"Aiish.. gombal, dasar bucin. Rasain ini Kak, heep... " Hardik Asyafa seraya menekan kuat memar tubuh Rayhan gemas.
"Aaww.. sakit sayang. He.. he.. " Ucap Rayhan terkekeh.
"Biarin. He.. he.. he... " Ucapnya tertawa bersama.
Akhirnya Asyafa menyelesaikan sesi mandi Rayhan menggunakan waslap dengan perlahan, dan diselangi sesi jahil tangan Rayhan yang membuat Asyafa meringis sebal. Lalu berganti baju yang lebih santai, baju yang di bawa oleh Mama Jovanka tadi ketika datang.
"Terima kasih, sayang. Kakak sudah segar dan merasa sehat." Ucap Rayhan yang terlihat senang.
"Iya Kakak, 'kan sudah tugas aku sebagai istri." Jawab Asyafa menatap lekat suaminya.
"Sekarang kita sarapan yah Kak?" Tanya Asyafa.
"Sebentar dulu, mumpung lagi berdua boleh engga Kakak minta ini?" Tanya Rayhan seraya menunjuk jari telunjuk di bibir istrinya.
"Tumben, nanya dulu? biasanya langsung serang saja." Ledek Asyafa mencibir.
"Aiis.. itu kalau sudah tidak tahan merindu sayang." Jawab Rayhan merayu.
"Jadi boleh sayang?" Tanyanya lagi.
"Heem... !" Asyafa memejamkan matanya menerima pagutan suaminya yang begitu lembut, tangan Asyafa mengalungkan di tengkuk suaminya, Rayhan mendaratkan bibirnya rakus dan membelit satu persatu rongga mulut istrinya dengan lembut, saling menukar salifa, napas mereka menderu dan dada mereka bergemuruh merasakan sensasi ciu*an panas mereka.
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--