TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Penangkapan Damar


__ADS_3

Rayhan tidak mengenal orang-orang yang berada di depannya, tetapi mengapa mereka memukuli dirinya dan menculiknya ke sini. Ini hari bahagianya bersama istrinya, namun mereka menghancurkannya.


"Siapa mereka?" Hatinya terus bermonolog.


"Rayhan Darma.. Rayhan Darma... ! Ha.. ha.. "


"Hei... siapa kau sebenarnya?"


"Kenapa kau menculikku?"


"Kau mengenal namaku, tapi kau tidak mau menampakkan wajahmu?"


"Dasar Pecund"ng!"


"Apa kau tidak tahu malu hah.. ?"


Rayhan terus melontarkan pertanyaan dan makian, terhadap orang-orang yang ada di hadapannya.


"Ha.. ha.. ha.. ! Bicaralah sepuasmu. Hari ini hari terakhir kau berbicara, karena esok hari kau sudah tinggal nama. Ha.. ha.. ha.." Ujar Pria itu.


"Siapa kau?"


"Apa yang akan kau lakukan terhadapku hah.. ?"


"Ada masalah apa kau denganku?"


"Kau salah orang?"


"Lepaskan aku."


"Dasar Breng**k."


Pertanyaan dan makian terus Rayhan lontarkan lagi, terhadap orang-orang didepannya dengan wajah memerah seperti kobaran api yang siap membakar apa saja di depannya. Mata yang menyala dan mendelik ingin rasanya mencekik mereka yang ada di sekitarnya.


"Sudah puas hah..?" Tanya Pria itu berteriak.


Pria itu memutar badannya menghadap Rayhan. Tanpa ragu Pria itu langsung mendaratkan tinjunya di area wajah dan perut Rayhan dengan murka.


"Buug.. buug... !" Mendaratkan bogem mentah ke wajah Rayhan.


"Aaawwwh.. !" Rayhan mengaduh.


"Dug... duug... !" Menghajar perut Rayhan.


"Ooowwh.. !" Rayhan meringis.


Belum puas mendaratkan bogem mentah dan menghajar, pria itupun menendang tubuh Rayhan sampai tersungkur.


"Heeg... Braak... !"


Alhasil Rayhan merintih kesakitan, tergolek lemah di lantai.


"Aaaww.. !" Menahan perih, darah segar keluar dari wajah dan bibir Rayhan.


"Masih ingin bicara lagi hah..?" Teriak Pria itu.


Tidak ada jawaban, Rayhan masih terdiam menahan sakitnya. Jika saja kaki dan tangannya tidak terikat, mungkin dia masih bisa melawan atau menghindar meski sudah lemah.


Pria itu duduk dikursinya kembali dengan tersenyum iblis, menyunggingkan bibirnya dan tertawa puas. Melipat kedua tangan didepan dadanya dan menyilangkan kakinya santai.


"Ha.. ha.. ha.. !"


"Angkat dia seperti posisi semula." Perintah Pria itu kepada anak buahnya, yang langsung dianggukan oleh mereka.

__ADS_1


"Kau belum kenal siapa aku, Rayhan Darma?" Tanya Pria itu mengejek.


Hening.. ! Sesaat.


"Jawab.. !" Pria itu berteriak marah di depan muka Rayhan.


"Tidak, aku tidak mengenal kau." Jawab Rayhan lemah.


"Ha.. ha.. ha.. !" Tawa Pria itu puas.


"Kau kenal Asyafa Dorman?"


Seketika, Rayhan terkejut dengan pertanyaan Pria itu.


"Apa maksud dari pertanyaanmu, itu nama istriku!" Ujar Rayhan menahan emosi.


"Jangan coba-coba kau menyakiti istriku, kepar*t."


"Ha.. ha.. ha.. !" Pria itu hanya tertawa.


"Aku tidak akan bisa menyakitinya, aku mencintainya.. ! Aku ingin merebut dia darimu. Jika kau mati, dia pasti mau menerimaku, bang""t." Sarkas Pria itu marah dan berteriak.


Seperti hujan disiang bolong, bagai petir menyambar ketubuh Rayhan. Hatinya sakit, mendengar pernyataan Pria yang berada tepat di depan wajahnya, meneriaki cinta untuk istrinya.


"Kau sudah tidak waras? Mencintai istri orang. Dasar Pria gila.. !" Sarkas Rayhan memaki pria itu.


"Ha.. ha.. ha.. !" Pria itu tertawa puas.


"Aku memang sudah gila... ! Gila... " Ucap Pria itu meneriaki Rayhan.


"Ha.. ha... ha... !" Tertawa puas lagi.


BRAAK... !


"Jangan ada yang bergerak!"


"Angkat tangan kalian keatas."


"Jika ada yang berani kabur, saya tidak segan untuk melepaskan timah panas ke tubuh kalian."


Para Polisi tersebut langsung meringkus Pria itu dan anak buahnya yang berjumlah 4 orang. Mereka langsung di gelandang dan di borgol ke mobil khusus tahanan.


Sedangkan Rayhan langsung di bebaskan dari ikatan tangan dan kakinya. Dia di bawa keluar oleh dua orang polisi menggunakan tandu, untuk di bawa ke Rumah Sakit terdekat karena kondisinya yang lemah akibat perlakuan para penjahat tadi.


Asyafa dan Tuan Bernad shok berat ketika melihat penjahat itu, ternyata mereka mengenalnya.


"D... damar?" Anak dan Ayah menyebut namanya bersamaan.


Damar dan anak buahnya hanya tertunduk malu, seraya berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun.


"Kalian mengenal mereka?" Tanya Tuan Beni penasaran.


"I.. iya, Pah." Jawab Asyafa gugup.


"Dia anak bungsu dari kolega bisnis kita, Tuan Ardi Prayoga." Ujar Tuan Bernad menjelaskan.


"Whaat.. ? Anak dari Tuan Ardi Prayoga?" Tanya Tuan Beni meyakinkan lagi.


"Iya, dia juga adik ipar dari Indra Wibowo." Jelas Tuan Bernad lagi.


"Kita tidak bisa anggap enteng masalah ini, saya terlibat kerja sama dengan Perusahaan mereka. Besok kita harus bertindak lebih tegas mengenai masalah ini." Pungkas Tuan Beni.


"Oke, Besan." Ucap Tuan Bernad.

__ADS_1


Asyafa melihat Rayhan di bawa memakai tandu oleh Polisi, dia langsung berlari menghampirinya dan memeluk suaminya dengan lirih. Di ikuti oleh Ayah dan Papa mertuanya menghampiri Rayhan.


"K.. kakak, sayang! Hik.. hik.. hik.. " Ucap Asyafa lirih menangis pilu.


" S.. sayang." Ucap Rayhan bergumam lirih.


"Maaf Nona, sebaiknya Tuan Rayhan harus secepatnya di bawa ke Rumah Sakit untuk di berikan perawatan." Jelas salah satu Polisi.


"Silahkan Pak Polisi, jika itu yang terbaik untuk Rayhan." Jawab Tuan Beni.


"Baik Tuan." Jawab Polisi tersebut.


"Terima kasih atas semua bantuannya. Tolong bawa anak saya ke dalam mobilnya saja." Ucap Tuan Beni, yang langsung di anggukan oleh Polisi tersebut.


Akhirnya, mereka mengikuti Bapak Polisi yang membawa Rayhan ke dalam mobil Asyafa untuk di bawa ke Rumah Sakit.


Tuan Beni dan Tuan Bernad kembali menuju mobilnya, dan mengikuti mobil Rayhan di belakangnya.


"Pak Dadang tolong lebih cepat sedikit." Pinta Asyafa, yang khawatir dengan kondisi suaminya.


" Iya Non, saya berusaha lebih cepat."


"Terima kasih Pak Dadang."


"Iya, Non."


Akhirnya, Pak Dadang sampai juga membawa Rayhan ke Rumah Sakit terdekat. Rayhan langsung di bawa ke ruang UGD, Dokter umum yang jaga malam itu langsung tanggap memeriksa Rayhan.


Asyafa, Ayah Bernad dan Papa Beni menunggu hasil pemeriksaan Dokter jaga. Setelah 15 menit kemudian, Dokter itu keluar menemui mereka.


"Bagaimana Dokter, keadaan suami saya?" Tanya Asyafa yang khawatir.


"Suami Nona harus dirawat dua sampai tiga hari ke depan, karena kondisi tubuhnya lemah dan butuh istirahat cukup." Jawab Dokter jaga itu.


"Tapi, tidak ada luka serius 'kan Dokter?" Tanya Papa Beni.


"Tidak ada Tuan, pisik pasien cukup kuat dan sehat." Ucap Dokter itu.


"Alhamdulillah, syukurlah." Ucap Asyafa yang diikuti oleh Ayah Bernad dan Papa Beni.


"Apakah suami saya sudah bisa di temui sekarang, Dokter?" Tanya Asyafa, penuh harap.


"Sudah, Nona! Silahkan." Ucap Dokter memberi jalan.


"Terima kasih, Dokter." Ucap Asyafa, seraya menjulurkan tangan untuk bersalaman.


"Sama-sama, Nona." Ucap Dokter, menyambut uluran tangan Asyafa.


Asyafa mulai masuk kedalam ruang UGD yang di ikuti oleh Ayah Bernad dan Papa Beni.


"K.. kakak." Ucap Asyafa lirih, dan langsung berjalan mendekat di samping suaminya.


"Sayang, I miss you so much." Ucap Rayhan, seraya membuka tangan lebar untuk memeluk istrinya, lalu mengecup kening istrinya lembut. Mencium pipi istrinya bertubi-tubi dan mengecup bibirnya singkat.


"Ee... heeem... !" Papa Beni berdehem.


"Ha.. ha.. ha... !" Ayah Bernad tertawa.


Asyafa dan Rayhan seketika tersenyum menahan malu tertangkap basah oleh orang tua mereka.


Happy Reading


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


__ADS_2