
Prosesi siraman telah selesai dilaksanakan, Asyafa mengganti kain selendang yang basah dengan selendang yang baru. Setelah itu Ibu Dina melakukan luluran di seluruh tubuh Asyafa. Lalu, Asyafa melakukan Ritual Ungkep Pengantin, yang artinya mengeluarkan keringat yang banyak. Tujuan Ritual tersebut, agar ketika menjadi pengantin tidak banyak mengeluarkan keringat.
Asyafa merasa kepanasan setelah duduk diatas air yang berisi beraneka rempah-rempah, tubuhnya mengeluarkan keringat yang sangat banyak. Alya yang berada di dekatnya merasa lucu, lalu tertawa kecil melihat Asyafa mendes@h kepanasan. Namun dia tidak meledeknya sama sekali, karena melihat Ibu Dina yang begitu tenang dan telatennya merawat Asyafa seperti Tuan Putri Keraton.
Ibu Dina hanya mengulum senyum, karena adab dalam menjaga calon pengantin, tidak boleh banyak berbicara perihal yang kurang penting menurut pilosofi.
Asyafa sudah seperti mandi keringat rasanya. Setelah dirasa cukup, Asyafa akhirnya selesai melakukan Ritual Ungkep Pengantin, dia membersihkan tubuhnya dengan handuk yang sudah dibasuh air hangat. Seketika tubuhnya seperti terasa lebih ringan dan lebih halus ketika di sentuh, mungkin efek dari luluran dan Ungkep tersebut yang barusan dia jalani.
Sementara diruangan keluarga besar Tuan Bernad, diadakan Pengajian dan Syukuran untuk calon Pengantin. Semua berkumpul dalam satu ruangan dengan melantunkan Ayat Suci dan Doa-doa yang dipimpin oleh Bapak Ustad.
Asyafa, juga Alya ikut bergabung dalam acara Pengajian tersebut. Disitu juga, sudah hadir Ibu dan Ayah. Bapak Ustad memberi Nasehat kepada calon Pengantin dalam menjalankan kehidupan berumah tangga, dan Doa untuk kelancaran Acara Pernikahan besok agar tidak terjadi perihal jelek yang tidak diinginkan.
Mendengar Nasehat dan Doa dari Bapak Ustad, banyak diantara orang yang hadir merasa tersentuh dan terharu juga menangis. Terlebih lagi Asyafa, tidak terasa dia menangis dan tersentuh merasa tertampar dengan kata nasehat dari Bapak Ustad yang isinya, Menikah adalah Ibadah yang dianjurkan dan diwajibkan bagi yang sudah baliq dan berakal. Jangan pernah menolak Takdir yang sudah diberikan dan Syukuri apa yang sudah diterima.
*******
Sementara di kediaman Rayhan, mereka juga melakukan prosesi siraman untuk calon pengantin di sana. Menggunakan tema adat Jawa, tidak jauh berbeda dengan Prosesi Siraman yang dilakukan di kediaman rumah Asyafa.
Rayhan terlihat tampan, berbalut kain batik yang di pakai dari dada sampai bawah mata kaki. Aura ketampanan Rayhan semakin bertambah setelah prosesi siraman berlangsung dengan khidmat. Banyak tamu undangan dilingkungan sekitarnya yang terpesona dengan Rayhan apalagi anak gadis muda.
Setelah acara Ritual Prosesi Siraman sudah selesai, Rayhan langsung di gandeng oleh Mama Jovanka, dan Papa Beni ke dalam rumah menuju kamar Rayhan.
Di dalam rumah, mereka juga membuat Syukuran dan Pengajian sama halnya dengan dirumah calon Pengantin wanita.
Seusai acara Syukuran Pengajian di kediaman rumah Rayhan, sore hari mereka sudah bersiap untuk membawa barang seserahan acara malam Midodareni. Barang tersebut berupa uang tunai, barang keperluan pribadi untuk calon pengantin, makanan mentah, bahan pokok, sayuran, buah-buahan, binatang peliharaan seperti ayam, angsa dan kambing juga memberikan Mahar berupa perhiasan, dan masih banyak yang lainnya.
Akhirnya, Rayhan beserta rombongan keluarga Tuan Beni Darma berkunjung ke rumah kediaman calon Pengantin wanita. Mereka tiba pukul 06 sore, langsung di sambut hangat dan di jamu oleh Keluarga Besar Tuan Bernad Dorman. Mereka menempati tempat duduk yang sudah dipersiapkan oleh Tuan rumah, lalu mengumpulkan dan menaruh bawaan seserahan di satu tempat yang berada di meja besar.
Prosesi Midodareni itu sendiri adalah Rangkaian upacara adat sebelum acara Pernikahan, yang mana calon Pengantin Pria mendatangi rumah calon Pengantin Wanita, untuk bertemu dengan kedua orang tua calon Pengantin Wanita tersebut. Dimana prosesi itu dimulai dari pukul 06 sore sampai dengan selesai malam hari.
Larangan di malam Midodareni adalah calon Pengantin wanita tidak boleh menemui calon Pengantin Pria. Pengantin Wanita hanya berdiam diri di kamar hingga Prosesi Midodareni selesai.
Prosesi Midodareni sendiri, mencakup empat tahap yaitu,
__ADS_1
Jonggolan yaitu, calon Pengantin Pria membawa seserahan dalam jumlah ganjil, yang kemudian di berikan kepada calon mertua. seperti uang tunai, makanan, buah-buahan, dan lain-lain.
Tantingan yaitu, calon Pengantin wanita akan ditanyakan kemantapan hati oleh orang tuanya, untuk menerima calon Pengantin pria dengan ikhlas. Namun calon Pengantin Wanita tidak boleh menemui calon Pengantin Pria karena dalam masa di pingit.
Penyerahan Catur Wedha yaitu, Pemberian wejangan kepada calon Pengantin Pria dari orang tua laki-laki dan calon mertua laki-laki.
Itulah rangkaian acara Prosesi Midodareni, yang secara garis besar dijalani oleh kedua Calon Pengantin dan calon mertua. Akhirnya mereka menutup acara dengan makan-makan bersama keluarga besar, terkecuali calon Pengantin Pria yang hanya minum air putih saja.
Setelah selesai semua rangkaian acara Midodareni, akhirnya Keluarga Besar Tuan Beni Darma berpamitan meninggalkan kediaman Tuan Bernad Dorman dengan rasa lega dan bahagia.
Asyafa ditemani Alya di kamar penuh dengan haru biru, karena malam ini adalah, malam terakhir dia untuk melepaskan masa lajangnya. Esok hari setelah Akad Nikah berlangsung, dia sudah menjadi Nyonya Rayhan.
Malam ini, sepertinya Asyafa belum bisa tidur seakan rasa kantuk itu menghilang begitu saja. Hampir pukul dua malam, Asyafa masih stay ditempat tidur sesekali memainkan ponselnya. Sedangkan Alya sudah menyambangi mimpinya satu jam yang lalu, dia tertidur lelap dan damai.
__ADS_1
Asyafa mencoba membayangkan hal indah bersama Rayhan.. ! Semakin dalam... dia tersenyum dan lambat laun akhirnya Asyafa terlelap dalam tidurnya.
*******
Dikediaman Keluarga Tuan Beni Darma, pagi hari ini adalah hari yang paling bersejarah untuk Rayhan. Di mana hari ini merupakan hari pernikahannya dengan Asyafa, gadis cantik yang sedikit galak namun menggemaskan menurutnya. Rayhan tersenyum sendiri jika mengingat hal konyol itu.
Rayhan bercermin mengenakan pakaiannya untuk acara Akad Nikahnya, dia tampak gagah dan tampan dengan baju yang dikenakannya.
Para pelayan rumah, sudah sibuk mengatur barang bawaan yang akan dimasukkan kedalam mobil. Bapak RT, dan Bapak Ustad Abdul juga beberapa orang tetangga turut serta mengantar acara besanan.
Mama dan Papa sudah bersiap didalam mobil bersama Kakek Jaya Darma dan Asisten Martin. Sedangkan Bulek Dewi bersama suaminya Palek Dimas dan sikembar dalam satu mobil. Keluarga dari Bari Darma, tidak ada yang datang dalam acara Pernikahan Rayhan meski sudah di undang lewat telepon.
Keluarga dari Belanda yaitu Uncle Jonathan dan istrinya Aunt Stepani beserta anak laki-lakinya yang bernama Wiliam juga sudah bersiap dengan mobilnya.
Rayhan menaiki mobil yang sudah dihias khusus untuk Pengantin, dia duduk santai di bangku penumpang dengan wajah berseri.
Semua sudah menjalankan mobilnya masing-masing dengan beriring-iringan.
Mobil yang dinaiki Rayhan, melaju lebih cepat dibanding dengan yang lain. Namun, entah mengapa mobil yang dinaikinya seperti ada yang tidak beres. Firasat Rayhan mengatakan jika remnya blong.
Ciiit....!
Ciit.... !
"A... awas Pak Supir... ! Banting stir Pak.. !"
Ciit... !
BRAAK.... ! Menabrak pohon.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1