
"Oma.. ini Asyafa Oma." Panggil Asyafa lirih, masih bersimpuh di kaki Oma, dengan derai air mata bahagia, dan sedih jadi satu. Bahagia bisa bertemu dengan Omanya lagi setelah sekian lama, dan bersedih karena melihat keadaan Oma yang sedang sakit.
"Oma.. mengapa Oma bisa seperti ini? Asyafa tidak tega melihat Oma begini, Aunty Sofia." Tanya Asyafa kepada Oma, dan mengeluh kepada Aunty Sofia.
Oma hanya terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. Hanya air mata yang terlihat dari sudut bola matanya, lalu mengalir perlahan. Seakan tidak kuasa melihatnya, Asyafa langsung mengusap air mata Oma lirih, dengan tangannya sendiri.
"Bangunlah Sya, nanti Aunty ceritakan mengapa Oma bisa seperti ini." Ucap Sofia, seraya menyentuh pundak keponakannya itu dengan perlahan.
Asyafa akhirnya terbangun, lalu berdiri di samping suaminya dan memeluk Rayhan dengan begitu erat, seakan ada beban berat yang dia tahan dalam dadanya. Sakit, sesak, begitulah kiranya jika bisa di gambarkan.
"Sudah.. sudah.. cinta, jangan bersedih terus, kasihan Oma Merry jadi tambah sedih, jika melihat kamu menangis begini." Bisik nasehat Rayhan bijak, untuk menenangkan istrinya agar jangan berlarut dalam kesedihan.
Asyafa mengangguk pelan, mendengar bisikan suaminya tersebut, lalu mengurai pelukkannya.
"Suster Bella, tolong lanjutkan makannya Oma yah." Pinta Sofia sopan dan ramah.
"Baik, Nyonya." Ucap Bella sopan, seraya tersenyum ramah.
"Sya, Rayhan mari ikut Aunty sebentar." Ajak Sofia, seraya berjalan ke arah sofa besar yang tidak jauh dari tempat Oma berada.
Asyafa dan Rayhan mengekori Aunty Sofia, lalu duduk bersama saling berhadapan.
"Bagaima ceritanya, kalian hanya berdua datang kemari? Lalu bagaimana kabar Ibu dan Ayahmu, sayang?" Tanya Sofia membuka obrolan mereka.
"Kami baru saja menikah, lalu berbulan madu ke sini. Kabar Ibu, dan Ayah, Alhamdulillah sehat, dan baik. Ooh.. iya, ini ada titipan surat dari Ibu, dan Ayah, untuk Oma." Jelas Asyafa jujur apa adanya, seraya mengambil surat untuk Oma dari dalam tas slempangnya.
Sofia mengambil surat tersebut dari tangan Asyafa, lalu membaca tulisan dari luar untuk Oma Merry, dari Nurlaila dan Bernad. Melihat tulisan itu, seketika Sofia langsung berkaca-kaca.
"Aunty.. Aunty Sofia?" Panggil Asyafa seraya melambaikan tangannya di depan wajah Sofia.
"I.. iya, sayang" Jawab Sofia gugup, karena mendapati dirinya sedang termenung.
__ADS_1
"Apa yang sedang Aunty pikirkan?" Tanya Asyafa penasaran.
"T.. tidak, bukan apa-apa." Ucap Sofia ragu.
"Ooh.. begitu." Ucap Asyafa singkat.
"S... sebenarnya.. Aunty merasa bersalah kepada Ibu dan Ayahmu, Sya. Hikk.. hikk.. hikk.." Ucap Aunty lirih, seraya menangis pilu.
"Maksud Aunty? Asyafa tidak mengerti?" Tanya Asyafa minta penjelasan.
"Aunty tidak bisa melarang kalian dulu untuk tetap tinggal disini, karena sikap suami Aunty yang sudah jahat dan memusuhi kalian. Suami Aunty sudah mendapatkan balasannya, sayang. Sekarang dia ada di rumah sakit jiwa, karena defresi dan gangguan kejiwaan. Hikk.. hikk.. hikk.. " Jelas Sofia masih dengan tangisnya.
"Apa yang menyebabkan Uncle defresi hingga masuk rumah sakit jiwa, Aunty?" Tanya Asyafa dengan penasaran.
"Ceritanya begini sayang, semenjak kalian meninggalkan Negara ini, hidup kami seketika berubah. Uncle Charles sering bermimpi buruk, katanya bertemu dengan Alm. Opa Thomas. Setiap dia bermimpi selalu merasa ketakutan, dan berteriak-teriak histeris dalam mimpinya. Dia selalu mengatakan aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh, sampai Aunty bingung menghadapinya." Jelas Sofia seraya mengusap tangisnya dengan tisu.
Asyafa, dan Rayhan, masih menyimak cerita Aunty Sofia dengan tenang.
"Lalu, mimpi itu terbawa dalam kehidupan nyata, Unclemu semakin menderita dengan ketakutannya. Setiap dia bertemu orang lain, dia selalu melihat wajah Opa Thomas yang sedang berbicara dengannya. Hingga setiap itu terjadi, Unclemu berteriak histeris, dan menangis dengan berkata aku bukan pembunuh. Kata-kata itu yang selalu dia lontarkan. Hik.. hik... hik..." Ucapan Sofia terjeda sesaat, karena dia menangis mengingat hal itu.
"Aunty tidak tega melihat Unclemu seperti itu, akhirnya Aunty memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit. Setelah di periksa oleh Dokter, Unclemu ternyata mengalami gangguan defresi berlebihan dan psikis kejiwaan. Lalu kami membawanya ke Rumah Sakit jiwa, hingga sekarang Unclemu masih berada di sana." Ujarnya sendu, sesekali mengusap air matanya.
"Mengapa bisa seperti itu? memangnya Uncle punya kesalahan apa, Aunty?" Tanya Asyafa heran dengan apa yang menimpa Unclenya.
"Uncle Charles di bayangi rasa bersalah, karena dia yang menyebabkan kematian Opa kamu, Sya. Hik.. hik.. hik.." Jawab Sofia jujur tanpa menutupi kebenaran sedikitpun.
"What? Maksudnya, Uncle Charles yang sudah membunuh Opa?" Tanya Asyafa, dengan terperangah.
"Iya.. secara tidak langsung, dengan ucapannya yang membuat Opa serangan jantung mendadak, seketika Opa meninggal." Selorohnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Kasihan sekali Uncle Charles, harus menerima ganjaran seperti ini. Setelah semua kesalahan yang sudah di perbuatnya di masa lalu, mungkin ini balasan yang setimpal untuk membayar dosa-dosa Uncle Charles." Ucap Asyafa meratapi nasib Charles.
__ADS_1
"Iya sayang, maafkan semua kesalahan Unclemu yah, karena sikap Uncle yang tidak baik terhadap kalian, hingga kalian meninggalkan Negara ini." Ucap Sofia tulus menyesali perbuatan suaminya.
"Iya Aunty, kami akan memaafkan kesalahan uncle Charles." Ucap Asyafa ikhlas untuk memaafkan.
"Terima kasih, Asyafa keponakan Aunty tersayang." Ucap Sofia senang seraya menggenggam tangan Asyafa erat. Lalu Asyafa mengangguk pelan.
"Aunty, lalu bagaimana bisa Oma terserang struk seperti itu?" Tanya Asyafa penasaran.
"Sejak Oma tahu, bahwa Unclemu masuk Rumah Sakit jiwa, kesehatan Oma mulai menurun, dan selalu menangisinya hampir setiap saat, jika kami berkunjung ke Rumah Sakit untuk menemuinya." Ucapnya terjeda sebentar, lalu menyambung kembali.
"Suatu hari, kami mendengar teriakan Oma, lalu kami menghampirinya, dan ternyata Oma terjatuh di kamar mandi dalam keadaan pingsan. Sejak saat itu Oma mengalami struk, kondisinya seperti yang kalian lihat saat ini." Ujar Sofia, menceritakan kronologi Oma bisa mengalami struk.
"Ooh.. jadi seperti itu ceritanya Aunty, semua terjadi karena ada sebab dan akibatnya. Semoga Oma cepat sembuh dari kelumpuhannya, dan Uncle Charles bisa kembali normal jiwanya. Aamiin..." Ucap Asyafa mendoakan kebaikan, yang kemudian di Aamiinkan oleh Sofia dan Rayhan.
Sofia menatap surat yang diberikan oleh Adik iparnya itu dengan sendu. Lalu dia menghampiri Oma Merry dan ingin menyampaikan isi surat dari adik iparnya itu.
"Mom.. ini surat dari Nurlaila dan Bernad anak Mom, Sofia akan membacakannya, tolong Mom dengarkan yah." Pinta Sofia lirih.
Mendengar perkataan Sofia, Oma Merry hanya berkedip saja tanda dia mengerti.
Sofia mulai membuka surat tersebut dengan perlahan.
"Teruntuk My Mom tercinta dan tersayang. Mom, maafkan anakmu ini yang penuh dosa dan khilaf, maafkan anakmu yang telah pergi jauh dari sisimu, maafkan anakmu yang durhaka ini, maafkan anakmu yang tidak pernah mengunjungimu dan seakan melupakan keberadaanmu. Sudah bertahun-tahun lamanya kami memendam rasa rindu, suatu hari kami akan menemuimu. Mohon maaf hanya surat ini yang sampai ke tanganmu, Tolong maafkan anakmu. Dari orang yang selalu mencintaimu, Bernad dan Nurlaila."
Oma Merry, Sofia, Asyafa, dan Rayhan, menangis haru biru disaat surat itu di bacakan.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........
__ADS_1