TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Salah Paham


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Setelah terakhir Alya mengirim pesan WAnya, namun tidak ada penjelasan, Akhirnya Alya memutuskan untuk menghubunginya lewat Vidio Call.


WA Vidio Call tersambung, lalu Damarpun mengangkatnya.


"Hallo Alya.. Asaalamu'alaikum... tumben Vidio Call sama saya? Nanti pacar kamu marah kalau tahu kita Vidio Call kayak gini." Alya mengerutkan dahinya, ketika Damar dengan gamblangnya, mengatakan dirinya memiliki pacar.


"Wa'alaikumsalam.. Damar, loe sepertinya sudah salah paham sama gue." Alya tersenyum simpul.


"Salah paham?" Wajah Damar nampak bingung, terlihat jelas didepan layar ponselnya oleh Alya.


"Ha.. ha.. ha.." Damar makin bingung, melihat Alya yang sedang tertawa.


"Kenapa denganmu Al? Kenapa Kamu malah tertawa? Aneh." Damar mengerutkan keningnya, melihat Alya yang sedang mentertawakannya, padahal tidak ada yang lucu baginya.


"Iya Damar, loe sudah salah paham, selama ini gue itu engga pernah pacaran. Bagaimana bisa pacar gue marah, sedang gue sendiri engga punya pacar? Jadi gue tertawa mendengar ucapan loe." Damar melihat ekspresi wajah Alya, sepertinya jujut tidak ada kebohongan disana.


"T.. tapi saat kamu dikampus, kamu diajak pacar kamu bicara, bukan? Terus aku lihat kamu berpelukkan dengannya cukup lama, dan saling menatap dengan intens. Kalau bukan pacar, terus harus dibilang apa kalau posisi seperti itu?" Raut wajah cemburu dan sedih Damar nampak terlihat jelas di layar ponsel Alya.


"Loe cemburu sama Andi, Damar? Andi itu sahabat gue, dari awal gue kuliah. Andi satu genk club PALAGRI, dan gue itu memendam cinta begitu dalam kepadanya. Namun Andi engga pernah tahu hal itu. Baru kemarin dia tahu dari sahabat gue Asyafa, makanya dia narik gue untuk minta penjelasan. Namun semua sudah terlambat, gue sudah menerima perjodohan ini dengan loe dan memutuskan memilih loe." Alya nampak bersedih di layar ponsel Damar, namun Damar tersenyum melihatnya.


"Kenapa senyum-senyum? Loe puas dengan penjelasan gue?" Alya nampak berpura-pura marah, namun tersenyum bersemu merah diwajahnya, lalu menatap intens dalam layar ponselnya.


"Aku Rindu sama kamu, Alya. Aku boleh kerumah kamu sekarang, engga?" Nampak Damar dengan serius, mengucapkan kata rindu kepada Alya.


"Boleh." Alya tersenyum, dan mengangguk pelan terlihat di Vidio call.


"Sampai jumpa yah Alya, dirumah kamu." Damar tersenyum bahagia terlukis diwajahnya.


"Iya Damar." Alya membalas senyuman terbaiknya untuk Damar.


Merekapun mengakhiri sambungan Vidio Callnya. Damar bersiap-siap untuk mendatangi rumah Alya. Sedangkan Alya masih tidak percaya, dengan hal manis yang baru saja dia rasakan.

__ADS_1


"Apa gue sudah jatuh cinta sama Damar? Mengapa hati gue begitu senang, saat mendengar dia mengatakan rindu? Aach.. loe manis sekalih Damar, gue juga merindukan loe." Gumam Alya pelan, dengan wajah berseri-seri.


Setelah Alya berdandan rapi, dengan pakaian casualnya. Dia mematut dirinya didepan cermin, wajahnya terlihat bahagia tanpa sadar dia tersenyum sendiri.


"Aacch.. begini ternyata rasanya jatuh cinta, tidak ingin jauh-jauh dan selalu rindu untuk bertemu." Ucap Alya pelan, seraya tersenyum teringat Vidio Call tadi dengan Damar.


Setelah mematut dirinya yang berlama-lama di depan cermin, Alyapun langsung menghampiri Mama Mentari di dapur yang sedang menyiapkan makan malam untuk kedatangan calon menantunya.


"Eeeh.... sayang, anaknya Mama sudah cantik banget, mau kemana?" Tanya Mama Mentar perhatian, seraya memuji anak gadisnya.


"Engga pergi kemana-mana Mam, sebentar lagi Damar akan kesini." Sahut Alya jujur.


"Tuuuh.. 'kan benar kata Mama, Damar pasti akan datang untuk makan malam bareng kita, sayang!" Seru Mama Mentari, yakin dengan tebakannya.


"He.. he.. he.. iya Mam." Kekeh Alya menutupi rasa bersalahnya membohongi Mama Mentari selama satu minggu ini.


"Sudah sana, kamu jangan di dapur, nanti bau kompor. He.. he.. he.." Ujar Mama terkekeh.


"Iich.. Mam, Alya mau bantu Mama masak." Ucap Alya manja, seraya meneliti apa yang sedang dikerjakan oleh Mamanya dan ARTnya.


"Iya deh Mam, lain kali Alya akan membantu memasak sama Mama." Ucap Alya berjanji seraya tersenyum simpul.


"Iya sayang! Sudah.. tunggu calon suami kamu saja sama Papa di depan." Ujar Mama Mentari.


"Iya Mam." Alyapun berjalan mencari keberadaan Papa Hendra, tidak lama berselang ternyata Damar sudah datang beriringan dengan Papa Hendra. Kedua tangan Damar disimpan dibelakang punggungnya, lalu tersenyum saat melihat Alya menyembul dari ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum.. Alya cantik." Salam sapa Damar, penuh dengan binar-binar cinta.


Alya nampak malu-malu, saat Damar mengatakan dirinya cantik. Hingga tanpa sadar, sampai bibirnya tidak bisa menjawab salam dari Damar.


"Alya.. Alya.. hallo kamu kenapa?" Tanya Damar, seraya melambaikan satu tangannya di depan wajah Alya.


"E.. engga Damar.. Wa'alaikumsalam... tampan." Ucap salam Alya gugup.

__ADS_1


"He.. he.. he.. tumben kamu panggil aku tampan? Walaupun memang benar adanya, tapi ini benar-benar membuatku melayang, saat kamu bilang saya tampan." Kekeh Damar lebay.


"Aiish keluar deh lebaynya, he.. he.. he.." Ledek Alya terkekeh.


"Sayang, kalian Papa tinggal dulu yah, Papa mau periksa laptop sebentar, takut ada email dari klien, dan Papa ingin memberikan waktu, untuk kalian berdua saja." Pamit Papa Hendra pengertian.


"Iya Pap, terima kasih." Sahut Alya dan Damar kompak dengan tersenyum simpul.


"Kompak sekali kalian? Papa suka lihat kalian yang seperti ini, he.. he.. he.." Ledek Papa Hendra terkekeh, seraya meninggalkan mereka berdua.


"Ha.. ha.. ha.." Alya dan Damarpun ikut tertawa mendengar celotehan Papa Hendra, yang sudah menghilang dibalik pintu.


Tinggalah mereka berdua saat ini, saling tatap, saling pandang dan saling membalas senyum diantara keduanya. Ada sedikit rasa canggung, mengingat kesalahpahaman Damar seminggu ini.


"Alya..." Panggil Damar dengan suara lembut dan merdu.


"Iya.." Sahut Alya, tidak kalah lembut dan merdu.


"Maafkan Aku, seminggu ini sudah berpikir salah tentangmu, aku menyukaimu... Alya Mentari." Ucap Damar serius, seraya Meraih tangan kanan Alya, dengan sedikit membungkuk, lalu mengecup punggung tangannya lembut, dan memberikan sebuket bunga mawar merah.


"I.. iya Damar, aku sudah memaafkanmu. A.. ku juga menyukaimu, Damar Prayoga." Sahut Alya gugup, lalu meraih buket bunga mawar merah itu dari tangan Damar, dengan wajah bersemu merah dan tersipu malu.


"Terima kasih, Alya sayang, sudah mau menyukaiku. Lambat laun seiringnya waktu, kita pasti akan saling mencintai." Ujarnya yakin dengan apa yang diharapkan.


Tanpa aba-aba, Damar langsung memeluk Alya erat lalu mengecup keningnya lembut, tertahan cukup lama, hingga yang mpunya kening merasakan jantungnya berdebar-debar hebat.


"Eeemmm.. D.. damar!" Panggil Alya gugup, dengan mendongakkan kepalanya menatap kearah Damar.


"Iya sayang." Sahut Damar, saat sudah melepaskan bibirnya yang menempel di kening Alya, lalu menunduk menatap Alya. Karena postur tubuh Damar yang tinggi, hingga membuatnya harus menunduk, ketika berbicara dalam jarak intens seperti saat ini.


"Peluknya jangan lama-lama, malu nanti tertangkap basah sama Mama dan Papa, bagaimana?" Tanya Alya dengan menatap Damar menahan malu, karena merasakan jantung mereka yang saling bertalu.


"Eeeheemmm... "

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2