TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Surat Wasiat


__ADS_3

Stepan bergeming, mendengar ucapan Bernad tersebut. Memang Stepan akui, jika dia marah terhadap Tuan Thomas dahulu. Semenjak dia di pecat dari pekerjaannya dengan tidak terhormat, namun dia menyadari karena memang dia bersalah telah melakukan penggelapan dana Perusahaan.


Stepan saat itu melakukannya karena terpaksa, terhimpit ekonomi salah satunya. Ibu Stepan yang sedang sakit keras, dia membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan Ibunya. Hutangnya yang banyak, hingga dia nekat memakai cara pintas dengan cara korupsi sedikit-sedikit. Mulai dari menguntit dana operasional Perusahaan dan membobol situs saham keuangan Perusahaan. Namanya korupsi, lambat laun pasti akan ketahuan juga. Akhirnya Stepanpun di keluarkan dengan cara tidak terhormat, dan hukuman pidana 2 tahun lamanya.


"Mengapa Tuan Stepan bungkam? Mengapa Tuan tidak menjawab pertanyaan saya?" Tanya Bernad geram dengan Stepan.


"A.. ku terpaksa melenyapkan Andre Tuan." Jawab Stepan kembali menundukan wajahnya.


"Maksud Tuan, terpaksa menghabisi nyawa sahabat Tuan sendiri dan Papa saya?" Tanya Bernad lagi dengan nada keras.


"B.. bukan seperti i.. itu." Jawab Stepan lirih, pasalnya Stepan tidak bisa berkata jujur. Tadi pagi, Charles mendatangi Stepan dengan wajah marah dan mengancam dirinya, atas nama keluarganya. Jika Stepan berani membocorkan bahwa Charles di balik semua pembunuhan ini, maka Charles tidak akan segan-segan menghabisi keluarga Stepan yaitu istri dan anaknya.


"Lantas seperti apa Tuan Stepan?" Tanya Bernad sedikit lembut, menurunkan tempo suaranya.


"S.. saya awalnya tidak ingin menghabisi Andre, namun karena keadaan terjepit, akhirnya saya melakukan itu." Jawab Stepan gugup.


"Keadaan apa yang membuat Tuan terjepit? Keadaan jika saya sudah tahu, penyebab Papa saya meninggal, bukan?" Tanya Bernad to the point tanpa basa basi.


Stepanpun hanya pasrah dan mengangguk kecil, dia mengakui semua kesalahan yang dia perbuat. Biarlah nasi sudah menjadi bubur, dia tidak akan pernah membocorkan siapa yang sudah menyuruhnya. Dia hanya ingin istri, dan anaknya aman dan tidak celaka. Cukup dia yang menanggung dosa-dosanya, asalkan istri dan anaknya bahagia. Hati terdalamnya begitu sakit, jika mengingat ancaman bossnya itu.


"Dasar kau Breng *sek, bedebah, mati dan membusuk saja kau di penjara." Makian dan umpatan Bernad tersulut emosi kepada Stepan, hingga menahan tangisnya.


Stepan hanya menunduk, tanpa membalas makian Bernad.


"Sudah Tuan Bernad, biar hukuman penjara seumur hidupnya yang akan dia terima." Sela Asisten Ramon, menghentikan kemarahan Bernad. Lalu diapun mengangguk kecil.


Stepan akhirnya kembali ke sel tahanan, tanpa berucap sepatah katapun.


Bernad dan Asisten Ramon hendak meninggalkan kantor polisi, dengan wajah masam dan kesal. Sebelum keluar kantor Polisi, Bernad menyempatkan diri untuk menemui Pak Polisi.


"Pak Polisi, saya mohon beri hukuman yang setimpal untuk perbuatan Stepan Hilton, yang sudah melenyapkan nyawa karyawan saya dan juga Papa saya." Ujar Bernad kepada Pak Polisi yang bertugas menjaga tahanan.


"Siap Tuan, Proses sidang nanti yang akan menentukannya." Ucap Bapak Polisi ramah.

__ADS_1


"Ya Pak Polisi, terima kasih." Ucap Bernad seraya Berjabat tangan, yang di ikuti oleh Asisten Ramon.


"Sama-sama, Tuan." Ucap Pak Polisi ramah seraya menerima jabatan tangan mereka.


Bernad dan Asisten Ramon meninggalkan kantor Polisi. Mereka kembali ke kantor sore hari, setelah mereka mampir ke restoran dahulu untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


Saat kembali, Bernad bertemu dengan Charles yang sengaja membawa Mama Merry ke kantor. Charles ingin Mama Merry jadi pendukung dirinya, untuk menjadikannya sebagai CEO di Perusahaan Papa Thomas.


"Dik... sekarang Kakak sudah menjadi CEO di Perusahaan ini, Mama sendiri tadi yang sudah memberikan wewenang itu. Mau tidak mau Adik harus menerimanya, bukan begitu Mom?" Ucap Charles bernada sinis dan congkak, seraya meminta pembenaran dari Mama Merry.


"Iya... Mama yang sudah memutuskan, jika Charles yang akan menggantikan posisi Papa Thomas di Perusahaan pusat dan cabang. Lalu kamu menjadi wakil dari CEO seperti biasanya." Ujar Mama Merry mantap, seraya meninggalkan Bernad yang masih berdiri tanpa berucap sepatah katapun.


"Mom... " Panggil Bernad, namun mereka sudah meninggalkan ruang kerjanya.


Asisten Ramon tidak kuasa melihat Tuan Bernad yang masih terdiam semenjak kepergian Mama Merry dan Tuan Charles. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf Tuan, jika benar Tuan Charles yang menggantikan posisi Tuan Thomas, Apakah saya masih bisa jadi Asisten Tuan Bernad saja? Biarkan Tuan Charles mencari Asisten baru untuknya, tidak apa-apa kalau gaji saya di potong." Tanya Ramon penuh dengan pengharapan dan tulus.


"Kalau saya tidak bisa mengambil keputusan ini, karena yang berhak menentukan hanya Kakak saya. Maafkan saya Asisten Ramon." Ucap Bernad sendu, seraya menyentuh pundak Ramon lemah.


"Kalau begitu, saya lebih baik mengundurkan diri saja Tuan." Ucap Ramon sungguh-sungguh.


"Jangan seperti itu, anak dan istrimu akan kamu kasih makan apa, jika kamu berhenti bekerja?" Cegah Bernad seraya menanyakan konsekuensinya yang akan di dapat.


"Iya.. Tuan, saya tahu itu, tapi saya bisa mencari kerja di tempat lain dengan experience yang saya kuasai." Jawab Ramon masih dengan tekadnya.


"Ya sudah, kalau begitu." Ucap Bernad pasrah, seraya tersenyum simpul.


Sesampainya Bernad kembali ke rumah kediaman Papa Thomas, Mama Merry dan Charles sedang berkunjung ke sana. Betapa senangnya Bernad mendapati Mamanya yang mau datang kembali dan tinggal di rumahnya.


"Malam Mom, Kak... ! Saya senang kalian datang ke sini. Apakah Mom, akan tinggal di sini kembali? Syukurlah, jika Mom sudah mau tinggal di sini lagi." Ucap Bernad senang mendapati Mama Merry ada di rumahnya.


"Heeem.. " Mama Merry berguman, mengabaikan ucapan Bernad.

__ADS_1


"Bernad... " Panggil Mama Merry.


"Iya.. Mom." Jawab Bernad sopan.


"Sebentar lagi Pengacara Mama datang, untuk membacakan wasiat Papa Thomas kepada kamu dan Charles." Ucap Mama Merry gusar, menatap ke arah Charles, karena sebenarnya Mama Merry tahu yang sebenarnya tentang wasiat Papa Thomas, namun dia merubahnya melalui pengacaranya sendiri.


"Maksud Mom, Pengacara Papa atau Mama?" Tanya Bernad heran dan merasa aneh, masalahnya selama ini Papa Thomas, mempunyai Pengacara pribadi yang selalu setia.


"P... pengacara Papa sudah melimpahkan semua hak kuasanya kepada Pengacara Mama." Ucap Mama gugup, di saat menutupi kebohongannya demi Charles.


"Iya... Mom, saya hendak bersih-bersih dahulu." Ucap Bernad seraya berlalu.


Tidak berselang lama, akhirnya Pengacara Mama Merry datang juga untuk membacakan wasiat Papa Thomas di hadapan mereka. Bernad dan istrinya ikut bergabung bersama mereka, di ruang keluarga dengan menyapa ramah Pengacara tersebut.


"Selamat malam, Tuan Pengacara Leon. Apa kabar anda?" Sapa Bernad ramah, seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan yang di ikuti oleh istrinya.


"Malam juga Tuan Bernad, kabar saya baik, Tuan." Ucap Leon ramah, seraya menerima uluran tangan mereka.


"Sudah waktunya sekarang, Pak Pengacara membacakan wasiat Papa Thomas." Pinta Charles, yang sudah tidak sabar menunggu hasil yang akan di bacakan oleh Pengacara Leon.


"Baiklah kalau begitu, saya ucapkan selamat malam kepada semua yang ada di sini. Saya akan membacakan hasil dari wasiat Tuan Thomas, menyalin dari Pengacara Tuan Thomas sebelumnya yang sudah mempunyai hak penuh dengan di bubuhkan materai, dan tanda tangan asli dari Pengacara Tuan Thomas." Sapa Leon dan penjelasan dia berada di hadapan mereka.


"Malam.." Jawab mereka bersamaan seraya menganggukan kepala sedikit tanda mengerti.


"Isi dari surat wasiat Tuan Thomas adalah Seluruh Aset yang di miliki oleh Tuan Thomas mencakup Perusahaan, rumah, Apartement, mobil mewah. investasi, tanah, dan tabungan deposito akan di bagi menjadi tiga bagian. 50% untuk anak pertama yaitu Charles Dorman. 30% untuk istri Tuan Thomas, yaitu Merry Labella. Lalu 20% lagi untuk anak bungsunya, yaitu Bernad Dorman. Begitulah isi dari surat wasiat Papa Thomas, saya harap tidak ada perselisihan di kemudian hari. untuk itu, terima kasih saya ucapkan." Jelas Leon panjang lebar, membacakan isi surat wasiat tersebut.


"Terima kasih, Tuan Pengacara Leon." Ucap Charles senang seraya tertawa puas. Lalu di ikuti oleh Mama Merry dan Bernad juga istrinya seraya berjabat tangan.


"Sama-sama, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya." Jawab Leon dengan menyambut jabatan tangan mereka.


Happy Reading


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........


__ADS_2