TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Kepulangan Damar


__ADS_3

Di Rumah sakit, kondisi Damar sudah makin membaik. Selama empat hari Damar dirawat, Ibu Nurlaila selalu saja menyempatkan menjenguk Damar. Ibu Nurlaila datang sekitar pukul 08. Pagi, dan pulang sebelum Dzuhur. Lalu malam menjenguk bersama Ayah Bernad, pukul 07 sampai pukul 09. Malam, baru mereka pulang.


Rencananya hari ini kata Dokter, dia sudah boleh pulang. Namun masih harus mengurus Administrasi, dan Ibu Nurlaila, yang mengurus semua Administrasi rawat inap Damar.


Siska datang bersama suaminya Indra Wibowo, seorang Pengusaha muda yang berambisi, dan sangat di takuti oleh para Pesaing Bisnisnya. Namun ada sisi lembut pada diri Indra, yaitu penyayang dan penurut bagi Orang Tua dan Istrinya. Indra tidak akan pernah memberi ampun, kepada siapa saja yang berani mengganggu, apa saja yang menjadi miliknya.


Tok.. tok.. ! Pintu di ketuk.


Jeglek...


"Siang, Tante Nurlaila, Apa kabar?" Perkenalkan ini suami saya Tante! Indra Wibowo." Ucap Siska, seraya menjabat tangan Ibu Nurlaila.


"Iya, nak' Siska! Alhamdullilah baik. Ooh, ini Suami nak' Siska?" Tanya Ibu Nurlaila, seraya menerima jabatan tangan Siska, lalu menoleh ke arah Indra.


"Perkenalkan nama saya Indra Wibowo Tante, suami dari Siska. Ucap Indra, seraya menjabat tangan Ibu Nurlaila.


"Iya, senang bisa kenal dengan Nak' Indra. Saya Ibu Nurlaila." Ucap Ibu Nurlaila, seraya menerima jabatan tangan Indra Wibowo.


"Hai.. Adik ipar apa kabar? Tanya Indra menyapa.


"Baik, Kak' Indra." Jawab Damar singkat.


Siska mendekati Damar yang sudah terlihat segar, karena sudah empat hari dirawat, lukanya sudah sedikit membaik. Kondisi tubuhnyapun sudah lebih segar, dan lengan kanannya sudah tidak di perban. Hanya luka di perutnya yang masih harus diganti perban, dua kali sehari selama perawatan di rumah.


"Apakah adikku ini sudah boleh pulang?" Tanya Siska, yang melihat kondisinya sudah jauh lebih baik.


"Sudah, kata Dokter. Hanya saja masih harus dirawat di rumah, karena luka di perutku belum begitu kering." Jawab Damar, terlihat wajahnya sedikit muram.


"Ooh, Syukurlah kalau sudah boleh pulang." Ucap Siska. "Namun, kenapa wajahmu terlihat galau?" Tanya Siska heran.


Sejujurnya Damar tidak ingin pulang, masih ingin berlama - lama di Rumah Sakit. Jika dirumah dia merasa sendiri, tidak ada perhatian dari Orang Tua yang selalu dia rindukan. Sedang di Rumah Sakit ada Tante Nurlaila, yang menjaga dan memperhatikannya.


Damar bergeming, bingung mau menjawab pertanyaan Siska, yang seperti tahu hatinya sedang merana.


"Kenapa kamu diam saja dik'? bukannya jawab pertanyaan kakak, malah melamun!." Ujar Siska, merasa ada yang disembunyikan Damar.


"Tidak apa kak', aku senang sudah bisa pulang. Namun di rumah akan terasa sepi, tidak ada yang merawatku dan menemaniku, seperti Tante Nurlaila." Jawab Damar jujur, memasang muka sendu.


"Ooh, ternyata seperti itu. He.. he.. he.. " Ucap Siska seraya terkekek yang diikuti oleh Indra dan Tante Nurlaila. Lalu Damarpun ikut tertawa juga.

__ADS_1


Siska menoleh ke arah Tante Nurlaila, lalu dia mengucapkan rasa Terima Kasih, sudah mau merawat Damar adik kesayangannya. Begitupun Damar mengikuti apa yang di lakukan kakaknya Siska.


"Tante, saya ucapkan Terima Kasih atas waktu, tenaga dan perhatian buat saya. Dan saya mohon maaf, sudah merepotkan Tante Nurlaila. Ucap Damar lirih.


"Sama - sama Nak' Damar! " Ucapnya tulus. Kalau tidak ada Nak' Damar, entah apa yang terjadi pada kami malam itu. Tante tidak bisa membayangkan nak'."


"Sudah Tante, jangan di ingat lagi kejadian itu." Saya bahagia, bisa membantu Tante dan keluarga." Ujar Damar, seraya tersenyum.


"Iya, Nak' Damar." Ucap Ibu Nurlaila lirih.


"Sebentar, saya mau mengurus Administrasi dulu, untuk kepulanganmu adikku." Pamit Siska pada semua.


"Sudah Nak' Siska, biaya Administrasi Rawat Inap, sudah beres semua tadi sama Tante." Jelas Ibu Nurlaila.


"Mengapa Tante yang harus bayar? Kami sudah merepotkan Tante, masa biaya Rumah Sakit juga harus Tante yang nanggung! Engga bisa begitu Tante." Protes Siska.


"Saya minta Nomor Rekening Tante, coba sebutkan berapa nomornya Tante? Tanya Siska, seraya mengeluarkan Ponselnya.


"Engga Apa Nak' Siska. Ini Om Bernad yang meminta Tante untuk membayarnya." Tolak Ibu Nurlaila seraya menyentuh pundak Siska.


"Jangan begitu Tante, ini sudah tugas saya untuk membayar tagihan Rumah Sakit. Protes Siska, tidak terima.


"Sudahlah, tidak usah meributkan masalah kecil." Sela Damar di tengah perdebatan antara mereka berdua.


Akhirnya, merekapun berhenti berdebat lalu terdiam.


Damar yang melihat mereka, sudah berhenti berdebat. Dia lalu meminta Kakaknya Siska, untuk membawanya pulang ke Mensionnya. Damarpun ingin mengundang Tante Nurlaila, dan Om Bernad, juga Asyafa, untuk berkunjung ke Mension papa Ardi Prayoga. Sebagai Kolega, mereka pasti akan sangat senang.


"Apakah Tante bersedia berkunjung kemension kami?" Tanya Damar memastikan.


"Insya Allah, Nak' Damar." Jawab Ibu Nurlaila.


"Baiklah, kalau begitu saya tunggu kedatangan Tante dan keluarga." Ujar Damar tegas, lalu dianggukkan oleh Ibu Nurlaila.


Akhirnya, Ibu izin pamit meninggalkan Rumah Sakit terlebih dahulu, sedangkan Damar dan Siska beserta Indra menyusul.


Disepanjang perjalanan, Damar hanya terdiam. Melihat hal itu, Siska jadi heran dengan sikap Damar yang sekarang ini. Lalu Siskapun membuka pembicaraan.


"Kamu kenapa dik, diam saja?" Tanya Siska heran.

__ADS_1


"Pingin saja." Jawab Damar singkat.


"Ada yang di pikirkan?" Tanya Siska lagi.


"Tidak ada." Jawab Damar lagi, irit bicara.


"Masa? Dari tadi muka kamu itu dik, engga bisa bohong." Pungkas Siska geram.


"Heeem... " Damar hanya berdehem.


"Selama dua hari kemarin, apakah Asyafa menjengukmu?" Tanya Siska lagi. Lalu Damar hanya menggelengkan kepalanya sedikit.


"Mengapa dia tidak menjengukmu! Padahal kamu terluka, karena menolong dia." Ujar Siska seraya mengomel.


"Siska sayang sudahlah, biarkan Damar istirahat jangan kamu tanya terus. Kasihan dia!" Ucap Indra menasehati.


"Heem.. ! Siska berdehem.


Perjalananpun berjalan tanpa hambatan, mobil melaju sangat lancar dan tiba di Mension 45 menit kemudian. Mereka memasuki gerbang menjulang tinggi, Pak supir dari keluarga Indra Wibowo, sudah terbiasa mengantarkan Siska ke mension ini. Jadi dia sudah tidak asing, dengan tempat ini sebelumnya.


"Pak Supir, tunggu sebentar yah, saya mengantar adik ipar saya dulu kedalam." Pamit Indra.


"Baik, Tuan Indra." Jawab Pak Supir.


Indarapun mengantar mereka berdua, masuk kedalam mension. Hanya berbincang sebentar, lalu Indrapun izin pergi kembali ke kantornya.


"Mas Indra, bolehkah saya menginap disini?" Tanya Siska.


"Berapa hari?" Tanya Indra. Belum menjawab malah balik bertanya.


"Tiga hari, sampai mama dan papa pulang dari Turki." Jawab Siska ragu.


"Iya, sudah! Nanti Mas pulang kesini saja, selama kamu menginap." Ucap Indra pasti.


"Baiklah, hati - hati di jalan mas." Ucap Siska berdoa seraya mencium punggung tangan suaminya.


"Iya sayang." Jawab Indra seraya mencium kening istrinya.


Happy Reading

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2